Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 26


__ADS_3

"Maaf ya, Dek. Aku udah ga jujur sama kamu." ucap Revan saat mobil sudah mulai berjalan.


Revan meminta maaf sambil memegang tangan Nisa.


"Kali ini aku maafin karena kamu mau ngasih kejutan buat aku. Tapi kalau untuk urusan lain, aku akan sangat marah sama kamu, Mas." kata Nisa.


"Makasih ya, sayang. Kamu memang istri terbaik." sahut Revan.


Revan segera memeluk dan mencium pipi Nisa. Nisa justru salah tingkah karena dalam mobil itu ada sopir dan Nenek.


Nenek yang melihat Revan dan Nisa sudah berbaikan pun tersenyum.


"Udah, Mas. Malu sama Nenek." ucap Nisa.


"Nenek ga masalah kok, Dek. Iya kan, Nek?" tanya Revan sambil menoleh ke arah Nenek yang duduk di samping kemudi.


"Nenek maklum kok, Nduk. Kalian kan pengantin baru. Wajar kalau mesra-mesraan di sembarang tempat. Hehe." jawab Nenek.


"Tuh, Nenek aja ga apa-apa." kata Revan.


"Tapi kan ada Pak sopir juga, Mas." ucap Nisa.


"Saya ga apa-apa kok, Mbak. Santai aja." sahut Pak sopir.


"Denger tuh. Semua ga ada masalah, Dek." kata Revan sambil memeluk erat tubuh Nisa.


"Terserah kamu aja, Mas. Percuma debat sama kamu." ucap Nisa.


30 menit kemudian, mereka sudah tiba di villa milik Nenek. Nisa memperhatikan kondisi villa tersebut. Sungguh bersih dan terawat. Dengan beberapa pohon yang besar yang ada di halaman, menambah kesan sejuk villa tersebut.


"Ayo masuk, Nduk. Kamu pasti capek dari tadi kesel sama Revan." kata Nenek sambil menarik tangan Nisa.


"Iya, Nek. Ditambah lagi tadi pas di pesawat, Mas Revan berisik banget." ucap Nisa tersenyum.


"Kamu berani ngatain aku berisik, Dek?" tanya Revan sambil merangkul pundak Nisa.


"Emang kenyataannya gitu kan?" tanya Nisa balik.


"Lagian kamu diajak ngobrol malah diem aja." sahut Revan.


"Namanya juga lagi kesel, Mas. Masih mending aku cuma diem. Daripada aku banting barang. Bisa habis peralatan masak dirumah Nenek." ucap Nisa asal.


"Abis kan tinggal beli lagi. Gitu aja kok repot." kata Revan.


"Sayang kalau masih bisa dipakai harus beli lagi gara-gara rusak aku banting. Buang-buang uang aja." ucap Nisa.


Nenek kagum dengan pemikiran Nisa yang sedewasa itu dalam menggunakan uang.


"Tapi kan aku ada uang kalau cuma ganti peralatan dapur." kata Revan.


"Uangnya bisa di pakai untuk hal yang lain, Mas." sahut Nisa.


"Oke. Terserah kamu aja. Aku serahin semua keperluan rumah sama kamu aja nanti." ucap Revan.


"Jangan, Mas. Kan masih ada Nenek." kata Nisa.


"Nenek setuju dengan Revan, Nduk. Nenek juga udah pusing ngurusin keperluan rumah. Apalagi Revan yang banyak maunya itu." sindir Nenek.


"Eh. Aku ga kayak gitu ya, Nek. Jangan bicara buruk sama istriku dong, Nek." kata Revan.


"Emang kamu kayak gitu, Le. Nenek bicara gini kan biar Nisa ga kaget nantinya." sahut Nenek.


"Tapi itu kan ga bener, Nek." ucap Revan.


"Benar atau tidak nanti Nisa juga akan tau. Sekarang kita ke kamar dulu aja. Capek kan, Nduk?" tanya Nenek pada Nisa.


"Capek banget, Nek." jawab Nisa lemas.


"Ya udah, kamu sama Revan kekamar aja. Nanti turun pas makan malam. Jangan lupa ya." kata Nenek.


"Iya, Nek." ucap Revan dan Nisa bersamaan.


Nisa dan Revan pun berjalan menuju ke kamarnya. Revan segera mengunci kamar tersebut. Sementara Nisa langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Kamu udah ga sabar ya, Dek?" tanya Revan yang langsung menindih tubuh Nisa.


"Iya, Mas. Aku udah ga sabar pengen tidur." jawab Nisa.


"Kok tidur, Dek? Kita kan mau nyetak anak." ucap Revan.


"Astaga. Otak kamu kayaknya harus dicuci, Mas. Isinya cuma nyetak anak aja." kata Nisa sambil mendorong tubuh Revan.


Tapi Revan tak bergerak dari atas tubuhnya. Nisa yang lelah mulai kesal dengan suaminya.


"Mas! Turun dong, kamu itu berat banget. Ga kasian apa sama istrinya yang capek. Malah di tindih kayak gini." gerutu Nisa.


"Aku pijitin mau ga, Dek?" tanya Revan.


Dia merasa kasihan melihat wajah Nisa yang lelah.


"Ga usah, Mas. Kamu cukup peluk aku aja. Kita tidur bareng. Oke?" tanya Nisa.


"Oke. Yuk kita tidur aja. Aku juga sebenarnya capek." ucap Revan.


Revan pun turun dari tubuh Nisa dan langsung memeluknya. Mereka akhirnya tertidur bersama.


Mereka bangun saat matahari sudah tenggelam. Seketika mereka langsung mandi dan turun ke bawah untuk makan malam.


"Cieee. Pengantin baru. Tangannya ga lepas dari tadi." goda Rika.

__ADS_1


Nisa langsung menatap tangannya yang terus digenggam oleh Revan.


"Bilang aja kalau kamu pengen. Mas Bayu, cepet nikahin tuh Rika. Biar ga iri liat kita mesra-mesraan kayak gini." ucap Nisa sambil tersenyum ke arah Bayu.


"Apaan sih, Nis? Aku kan lagi bahas kamu." kata Rika kesal.


"Tenang aja, Nis. Pulang dari sini nanti kita akan menikah kok. Iya kan, Dek?" tanya Bayu.


"Yang bener, Mas?" tanya Nisa.


Bayu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Selamat ya, Rik. Aku seneng banget akhirnya kamu nyusul nikah. Jadi kan kamu ga kesepian." kata Nisa tersenyum.


"Semoga semua lancar ya, Rika. Nenek bakal punya cicit banyak nih." ucap Nenek.


Nisa dan Rika membelalakkan matanya karena terkejut. Lain halnya dengan Revan dan Bayu, mereka justru senyum sumringah.


"Tenang aja, Nek. Kita pasti akan kasih cicit yang banyak buat Nenek. Nenek mau berapa?" tanya Revan bersemangat.


"Kamu ini, 1 aja belum jadi udah menjanjikan banyak." sahut Nenek.


Semua yang ada dalam ruangan itu tertawa kecuali Nisa. Nisa sangat malu mendengar ucapan Revan.


"Ini juga lagi proses, Nek." kata Revan.


"Kebut aja, Van. Biar cepat jadi. Jangan kasih kendor." ucap Bayu.


Nisa menundukkan kepalanya karena malu dengan topik yang mereka bahas.


"Udah. Udah. Lebih baik kita makan sekarang. Biar Revan sama Nisa bisa lanjut bikin cicit buat Nenek." ajak Pak Sugi tersenyum.


Semua langsung tertawa dan langsung berjalan menuju ke ruang makan. Diruang makan, tema yang di bahas masih sama. Yaitu cicit buat Nenek.


Selesai makan malam, mereka segera kembali ke kamar masing-masing. Revan bingung melihat Nisa dari tadi hanya diam saja.


"Sayang. Kamu kok dari tadi diem aja?" tanya Revan sambil merangkul pinggang Nisa.


"Aku malu, Mas." jawab Nisa.


"Malu kenapa, Dek? Kamu cantik kok." tanya Revan sambil menatap Nisa.


"Dari tadi semuanya membahas soal bikin cicit. Itu kan urusan ranjang, Mas. Masa' di bahas sama orang banyak gitu. Kan malu, Mas." jelas Nisa.


Revan tersenyum dan langsung mengecup kening Nisa.


"Itu wajar, Dek. Kita kan pengantin baru. Semua pengantin baru juga pasti digituin." kata Revan yang langsung memeluk Nisa erat.


"Apa iya semua pengantin baru akan merasakan malu kayak aku tadi?" tanya Revan.


Revan hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Ya maaf, sayang. Lagian aku kan nanggepinnya ga yang aneh-aneh." jawab Revan.


"Ga aneh apanya? Vulgar banget kayak gitu kok ga aneh. Nyebelin banget." gerutu Nisa sambil melepaskan tangan Revan dari tubuhnya.


Nisa berjalan menuju ke arah ranjang. Nisa pun berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Revan ikut berbaring di sebelah Nisa dan masuk kedalam selimut.


"Maaf ya, Dek. Kalau tadi aku ga nanggepin kan kasian mereka, Dek. Masa' ngobrol sendiri." ucap Revan sambil memeluk tubuh Nisa dari belakang.


Nisa masih tidak menanggapi Revan. Revan mendekatkan wajahnya ke arah pundak Nisa.


"Maaf ya, sayang. Lain kali aku ga gitu lagi deh." bisik Revan ditelinga Nisa.


Nisa bergidik saat mendengar bisikan Revan ditelinga nya.


"Hemm." sahut Nisa singkat.


Revan tersenyum, akhirnya Nisa mau memaafkannya.


"Kita kasih hadiah buat Nenek mau ga, Dek?" tanya Revan.


"Emangnya mau kasih apaan, Mas? Kalau yang mahal aku ga punya uang." ucap Nisa.


" Kita kasih cicit buat Nenek aja, Dek." kata Revan.


Nisa segera membalikkan badannya menghadap Revan.


"Maksud kamu apa, Mas? Tadi baru aja minta maaf dan sekarang udah bahas itu lagi?" tanya Nisa sambil menatap tajam kearah Revan.


"Oke. Aku ganti kalau begitu. Gimana kalau kita nyetak anak aja?" tanya Revan lagi.


Nisa menghela nafas kasar. Nisa benar-benar heran dengan pikiran suaminya.


"Kamu mesum banget, Mas. Terserah kamu kalau nyetak anak. Tapi silahkan nyetak sendiri. Aku ga mau. Aku mau istirahat sekarang." kata Nisa.


Nisa segera membalikkan badannya membelakangi Revan dan membenarkan selimutnya.


"Masa' nyetak anak sendiri, Dek? Mana bisa?" tanya Revan.


"Ya ga tau. Kamu pikir aja sendiri. Yang pasti malam ini aku mau tidur." jawab Nisa.


"Huh. Ga jadi deh nyetak anaknya." gumam Revan.


Nisa tersenyum mendengar ucapan suaminya. Revan pun memeluk Nisa dari belakang dan mulai memejamkan mata.


Mereka akhirnya terlelap tanpa aktivitas cetak anak terlebih dahulu.


Sudah seminggu mereka liburan di Bali. Sudah banyak tempat wisata yang menarik yang mereka kunjungi. Dan hari ini saatnya mereka untuk kembali pulang dan mulai beraktivitas seperti biasa.

__ADS_1


Setelah sampai di bandara, mereka segera naik mobil yang sudah menjemput.


"Akhirnya kita sampai di rumah lagi, Mas." ucap Nisa saat turun dari mobil.


"Iya, Dek. Adit udah kangen banget sama aku." kata Revan sambil merangkul pundak Nisa.


"Eh. Asisten kamu ga normal ya, Mas? Masa' cowok kangen cowok?" tanya Nisa heran.


"Bukan kangen itu, sayang. Dia itu kangen dalam arti kerjaan. Udah lama banget dia ngurus kantor sendirian." jawab Revan.


"Terus kamu hari ini mau kekantor, Le?" tanya Nenek.


"Besok aja, Nek. Aku hari ini pengen dirumah aja. Capek banget ini badan." jawab Revan.


"Ya udah kalau gitu kalian ke kamar aja sana buat istirahat. Nenek juga mau istirahat." ucap Nenek.


"Iya, Nek. Kita ke kamar duluan ya, nek." kata Nisa.


Nenek mengangguk sambil tersenyum.


"Aku mandi duluan ya, Mas. Baru nanti kamu mandi." ucap Nisa sambil berjalan ke arah kamar mandi.


"Bareng aja, Dek. Nanti takutnya aku tidur kalau kelamaan nunggu kamu mandi." sahut Revan yang sudah berjalan dibelakang Nisa.


"Tapi, Mas. Nanti mandinya pasti lama. Aku udah capek banget." kata Nisa menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Revan.


"Ga akan lama, sayang. Paling cuma 1 jam." sahut Revan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ga mau! Pokoknya gantian." ucap Nisa yang langsung berlari ke kamar mandi.


Nisa segera masuk ke dalam kamar mandi. Namun saat akan menutup pintu, tiba-tiba kaki Revan terjepit.


"Aduh. Sakit, Dek. Tolong." kata Revan histeris.


Mendengar Revan yang kesakitan, Nisa segera membuka pintu tersebut dan berjongkok melihat kaki suaminya. Nisa mengusap kaki Revan pelan.


"Masih sakit ga, Mas?" tanya Nisa sambil mengangkat wajahnya.


"Masih, Dek. Tadi kan kamu nutup pintunya keras banget." sahut Revan memelas.


"Masa' sih, Mas? Kayaknya ga parah deh." kata Nisa sambil melihat-lihat kondisi kaki Revan.


"Sok tau kamu. Yang sakit kan aku, Dek." gerutu Revan.


"Lagian kamu juga ada-ada aja, Mas. Udah tau aku mau nutup pintu, malah naruh kaki di pintu. Pas kejepit ribut sakit." kata Nisa yang langsung berdiri.


"Aku kan mau mandi bareng sama kamu, Dek." ucap Revan.


"Tapi aku ga mau mandi bareng kamu, Mas." ucap Nisa.


Nisa berbalik membelakangi Revan.


"Udah ah. Kamu duduk aja sana. Aku mau mandi." kata Nisa.


"Aku ikut ya, Dek?" tanya Revan sambil memeluk Nisa dari belakang.


Nisa menghela nafas panjang.


"Hem." jawab nisa singkat.


Revan tersenyum senang mendengar Nisa mau mandi dengannya.


"Tapi kamu harus ingat. Ga boleh nakal." kata Nisa sambil melepaskan pelukan Revan.


"Oke, aku akan ingat." sahut Revan.


Mereka pun segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Tapi aku ga janji ya, Dek." gumam Revan tersenyum.


Nisa tidak mendengar ucapan Revan yang terakhir. Dan sudah bisa dipastikan apa yang akan terjadi.


Tak cukup 1 jam waktu yang mereka perlukan untuk sekedar mandi. Sebelum mandi, mereka mengerjakan tugas mencetak anak terlebih dahulu.


"Jangan ganggu aku lagi ya, Mas. Aku benar-benar udah capek. Aku mau tidur." ucap Nisa sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Seharusnya Nisa sudah bisa tidur sejak tadi kalau Revan tidak mengganggunya. Nisa merasakan tubuhnya sangat remuk saat ini.


"Iya, sayang. Kita akan tidur kali ini." sahut Revan.


Revan berbaring di sebelah Nisa. Nisa mengambil guling dan meletakkannya di tengah sebagai pembatas.


"Kok gulingnya ditaruh di sini, Dek?" tanya Revan.


"Biar kamu ga ganggu tidur aku, Mas." jawab Nisa.


"Jangan dong, sayang. Aku kan harus peluk kamu sebelum tidur." ucap Revan memelas.


"Ga. Tadi udah cukup peluknya." kata Nisa.


Nisa segera memejamkan matanya. Sementara Revan mendengus kesal. Revan menatap wajah Nisa yang sudah tertidur pulas.


Pelan-pelan ia memindahkan guling pembatas tersebut. Revan menggeser tubuhnya hati-hati agar tidak mengganggu tidur Nisa.


Revan mulai memeluk Nisa. Saat sudah merasa nyaman, Revan pun ikut terlelap.


Nisa merasa dadanya terasa sesak dan tubuhnya sulit untuk bergerak. Perlahan Nisa mulai membuka matanya. Nisa terkejut sekaligus kesal saat melihat Revan sedang memeluknya saat ini.


•••

__ADS_1


__ADS_2