Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 29


__ADS_3

Beruntung Revan hanya mengajak Nisa menuju balkon. Saat sudah di balkon, Revan mulai mengatur nafasnya. Tapi ia justru heran melihat Nisa yang bukannya takut karena ada gempa, tapi ini malah tertawa terbahak-bahak.


Tak lama kemudian Revan sadar kalau Nisa mengerjainya. Sudut bibirnya terangkat saat ia ada ide untuk membalas kejahilan istrinya itu.


Revan segera memanggul tubuh Nisa dan membawanya kembali ke dalam kamar mereka. Tawa Nisa langsung berhenti.


"Mas. Turunin aku, Mas." teriak Nisa sambil memukul-mukul punggung Revan.


"Ga mau. Kamu udah berani ngerjain suami. Sekarang giliran aku yang ngerjain kamu." kata Revan sambil menjatuhkan tubuh Nisa keatas ranjang.


"Maafin aku, Mas." ucap Nisa.


Nisa bergerak mundur menjauh dari Revan. Nisa benar-benar takut kalau Revan akan berbuat nekat.


Revan menatapnya tajam, berpura-pura sangat marah. Namun dalam hatinya ia tertawa melihat ekspresi wajah Nisa yang ketakutan.


"Aku ga akan maafin kamu." sahut Revan.


Revan terus bergerak mendekat.


"Ayolah, sayang. Maafin aku ya. Janji deh ga kayak gitu lagi." ucap Nisa memelas.


Revan meraih kedua kaki Nisa secara tiba-tiba dan menguncinya. Nisa tidak bisa menghindar lagi darinya.


"Mas. Kamu mau ngapain?" tanya Nisa gemetar.


Revan tak menjawab. Revan bergerak maju dan meraih bahu Nisa. Nisa hanya memejamkan matanya. Nisa benar-benar takut saat ini. Revan tersenyum dan segera menyambar bibir Nisa.


Nisa yang terkejut pun langsung membelalakkan matanya. Sekarang dia mengerti maksud Revan yang akan mengerjainya.


Nisa kembali memejamkan matanya dan terjadilah Revan mengerjai istrinya.


"Mas. Laper." kata Nisa sambil mengusap-usap pelan dada Revan.


"Kamu mau makan apa, Dek?" tanya Revan.


"Terserah kamu aja. Yang penting bisa bikin aku kenyang." sahut Nisa.


Nisa masih terus mengusap-usap dada Revan.


"Tapi tangan kamu berhenti dulu dong, Dek. Apa masih kurang yang tadi?" tanya Revan menggoda.


"Udah cukup, Mas. Cukup banget malahan." jawab Nisa yang langsung menjauhkan tangannya dari dada Revan.


"Oke. Bentar aku telpon dulu." kata Revan sembari mengambil telepon yang ada di samping ranjang.


Revan mulai berbicara ditelepon. Beberapa menu makanan sudah dipesan. Setelah selesai, segera ia kembalikan telepon tersebut ke tempatnya.


"Hahaha." Nisa tertawa begitu keras.


Revan langsung menatap Nisa yang tertawa tiba-tiba. Revan meletakkan tangannya di dahi Nisa.


"Ga panas kok." ucap Revan.

__ADS_1


"Apaan sih, Mas? Aku ga sakit." kata Nisa yang masih tertawa.


"Kamu kesambet ya, Dek?" tanya Revan khawatir.


"Enak aja." sahut Nisa.


"Terus kenapa kamu tiba-tiba ketawa kayak orang gila aja?" tanya Revan.


"Aku inget kejadian tadi, Mas. Haha. Kamu narik aku ke balkon cuma pake celana dalam. Untung aja ga ke depan kamar. Hahaha." jawab Nisa.


Tawa Nisa semakin keras hingga air matanya keluar. Revan yang melihat itu pun sedikit kesal.


"Kamu mau aku kerjain lagi ya, Dek?" tanya Revan.


Nisa segera menutup mulutnya dengan tangan agar berhenti tertawa.


"Hehe. Jangan dong, Mas. Tenaga aku udah habis ini." sahut Nisa.


"Kalau gitu habis makan ya?" tanya Revan.


"Besok aja ya, Mas. Hehe." sahut Nisa.


"No. Harus malam ini." kata Revan.


Nisa menelan ludahnya sendiri.


Tok. Tok. Tok.


"Itu makanannya udah dateng, Mas. Cepetan keluar sana. Aku mau ke kamar mandi dulu." kata Nisa yang mulai beranjak dari ranjang.


"Jangan lupa untuk nanti ya, sayang." bisik Revan sambil tersenyum.


Nisa bergidik dan langsung berlari menuju ke kamar mandi.


"Hahahaha. Kamu masih kayak dulu ya, sayang." gumam Revan.


Tok. Tok. Tok.


Revan berjalan menuju pintu. Saat membuka pintu, terlihat seorang manajer bersama pelayan yang membawa pesanan makanan.


Tak sampai 10 menit, pintu sudah tertutup kembali tepat saat Nisa keluar dari kamar mandi.


"Mas Revan ngapain masih berdiri di depan pintu?" tanya Nisa heran.


"Ga kenapa-napa, Dek. Tadi manajer hotel dateng bareng sama pelayan yang nganter makanan. Jadi ya ngobrol bentar. Baru aja mereka pergi." jelas Revan.


"Oh." sahut Nisa singkat.


Nisa segera duduk di sofa dan menyiapkan makan untuk suaminya.


"Sini, Mas. Ini makannya." kata Nisa sambil menyodorkan piring berisi nasi serta lauk pada Revan.


"Suapin, Dek." ucap Revan memohon.

__ADS_1


Revan menangkupkan kedua tangannya serta mengedipkan matanya. Nisa memutar bola matanya.


"Hem. Ya udah sini." kata Nisa sambil menepuk-nepuk sofa agar Revan duduk di sebelahnya.


Revan pun segera duduk dan mulai menyantap makan malam sepiring berdua. Ya, meskipun sampai nambah 2 kali. Yang penting makan sepiring berdua.


"Oh iya, Mas. Besok kita mau kerumah Bapak jam berapa?" tanya Nisa.


"Abis sarapan aja gimana, Dek? Biar ga panas banget dijalan." jawab Revan.


"Oke. Nanti aku nyalain alarm biar ga kesiangan." sahut Nisa.


Nisa membereskan bekas makanan. Setelah selesai ia berjalan menuju ke ranjang dan menghempaskannya.


"Huh. Nyaman banget kasurnya." gumam Nisa sambil mengusap-usap kasur.


Nisa memejamkan matanya merasakan kenyamanan kasur tersebut. Tiba-tiba Revan sudah berada di atas tubuhnya.


"Eh, Mas. Kamu gangguin aja. Minggir ah." ucap Nisa sambil berusaha mendorong tubuh Revan agar menjauh.


"Enak kayak gini, sayang. Aku bisa lihat kamu dengan jelas. Kamu cantik banget kalau dilihat dari atas gini. Apalagi kalau kamu merem melek. Tambah cantik lagi." jelas Revan.


"Apaan sih, Mas? Kamu mesum banget." sahut Nisa tersipu malu.


"Aku mau lanjutin yang tadi, Dek." kata Revan.


"Yang mana, Mas?" tanya Nisa pura-pura lupa.


"Kamu pura-pura lupa ya?" tanya Revan tersenyum.


"Kok bisa tau sih kalau aku pura-pura?" tanya Nisa dalam hati.


"Gimana, Dek? Kamu udah siap kan?" tanya Revan lagi.


"Eh. Anu, Mas. Itu, aku mau ini. Em," ujar Nisa mencari alasan.


"Anu, ini, itu apa sih, Dek? Kamu kalau mau bilang siap ya bilang aja. Ga usah muter-muter." kata Revan menggoda.


"Bukan gitu, Mas. Gimana ya bilangnya? Aku mau ke kamar mandi dulu ya. Udah kebelet ini." ucap Nisa kemudian.


"Hahaha. Jangan cari alasan deh. Aku tau kamu mau ngehindar kan dari aku." kata Revan.


"Eh. Ga gitu, Mas. Aku bukannya mau cari alasan. Aku beneran kebelet ini." ucap Nisa.


"Dosa lho kalau ga nurut sama suami." kata Revan.


Nisa diam memikirkan ucapan Revan. Nisa tidak bermaksud untuk menghindari suaminya, tapi ia sudah lelah hari ini.


"Kok malah diem, Dek? Gimana?" tanya Revan lagi.


"Aku mau ke kamar mandi dulu ya, Mas. Aku udah ga tahan ini." sahut Nisa yang langsung berlari menuju ke kamar mandi.


 

__ADS_1


•••


 


__ADS_2