
Nisa segera menutup pintu kamar mandi.
"Duh. Gimana ini? Mau nolak kok dosa. Kalau mau lanjut kok capek banget. Huh." gumam Nisa.
"Sayang. Jangan lama-lama ya." ucap Revan.
"Iya, Mas." sahut Nisa.
Nisa mondar-mandir di dalam kamar mandi. Nisa benar-benar bingung saat ini.
"Dek. Kamu ga apa-apa kan di dalem?" tanya Revan.
Nisa tak menyahut. Revan mulai khawatir.
"Sayang. Aku dobrak pintunya ya?" tanya Revan.
Nisa mulai panik akhirnya ia segera membuka pintu. Nisa menunduk takut menatap wajah Revan.
"Sayang. Aku khawatir banget sama kamu." ucap Revan yang langsung memeluk Nisa erat.
Nisa merasa bersalah karena telah membuat Revan begitu khawatir padanya.
"Maaf ya, Mas. Aku udah buat kamu khawatir." kata Nisa pelan.
"Kita istirahat yuk. Besok kan mau kerumah Bapak." ajak Revan.
"Emang ga jadi dilanjutin yang tadi?" tanya Nisa sambil mengangkat kepalanya.
"Ga jadi. Aku ga mau besok kita kesiangan gara-gara lembur." jawab Revan sambil mengecup kening Nisa.
Nisa tersenyum saat mendengar ucapan Revan.
"Akhirnya ga dosa gara-gara nolak suami." kata Nisa dalam hati.
"Padahal tadi aku cuma iseng, Dek. Tapi kamu ternyata mikir beneran. Sampe senyum-senyum gini saat aku bilang ga jadi." batin Revan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Revan pun segera mengangkat tubuh Nisa. Nisa langsung mengalungkan tangannya di leher Revan.
"Aku bisa jalan sendiri, Mas." ucap Nisa.
"Tapi aku pengen gendong kamu, sayang." sahut Revan.
Nisa pun terdiam. Revan membaringkan tubuh Nisa dan tubuhnya ke ranjang. Mereka terlelap tanpa melepaskan pelukan.
Hari ini Nisa bisa bangun pagi, karena tidak ada gangguan dari suaminya. Nisa segera mandi dan bersiap-siap. Setelah siap, barulah ia membangunkan suaminya.
"Mas. Bangun, Mas. Jadi kerumah Bapak ga nih?" tanya Nisa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Revan.
__ADS_1
"Emm." sahut Revan sambil menggeliat tanpa membuka matanya.
Revan membenarkan selimut yang tersingkap lalu menutupi seluruh tubuhnya.
"Mas. Kok malah tidur lagi sih? Ntar keburu siang." kata Nisa.
Nisa kembali menggoyang-goyangkan tubuh Revan lagi. Namun tidak ada respon. Akhirnya Nisa menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Revan.
"Sayang. Sini selimutnya. 10 menit lagi aku bangun deh." ucap Revan yang sedikit membuka matanya.
"Ga. Bangun sekarang terus mandi." kata Nisa.
"Kiss dulu ya kalau gitu." ucap Revan.
"Ga mau, Mas. Kamu bau belum mandi." sahut Nisa.
"Kamu juga bau belum mandi." kata Revan sambil meraih selimut yang ada di tangan Nisa.
"Enak aja. Aku udah mandi tau. Udah wangi." ucap Nisa tersenyum sambil mendekatkan tubuhnya ke arah wajah Revan.
"Aku ga percaya. Coba sini aku cium. Kalau wangi berarti benar kamu udah mandi." kata Revan tersenyum penuh arti.
"Nih, cium nih. Dah wangi gini kok di bilang belum mandi." gerutu Nisa.
Nisa mendekatkan wajahnya ke arah Revan untuk membuktikan bahwa dia sudah mandi. Revan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Revan segera menyambar bibir Nisa dan mulai bermain-main di dalam sana. Nisa terkejut dengan serangan Revan yang tiba-tiba. Nisa berusaha melepaskannya namun dengan cepat Revan meraih pinggang Nisa dan menahannya.
"Emm.." terdengar lenguhan Nisa.
Revan yang merasa mendapat lampu hijau pun melanjutkan aksinya. Tangan Revan mulai memasuki dress yang di pakai Nisa.
Perlahan-lahan Revan membaringkan tubuh Nisa. Kini Revan sudah berada di atas Nisa. Revan melepaskan bibirnya sejenak. Ia memandang wajah Nisa yang masih saja malu-malu. Nisa tersenyum.
Revan kembali meraih bibir manis itu tanpa menghentikan aksi tangan nakalnya di dalam dress Nisa.
Revan mengalihkan bibirnya ke leher Nisa. Menyapu seluruh bagian itu tanpa ada yang terlewat. Sementara Nisa memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang diberikan Revan.
Nisa merasa ada sengatan listrik saat Revan menyentuh bagian intimnya.
"Ahh.. Mas. Uhh.. Sayang." desah Nisa sambil menggerak-gerakkan pinggulnya.
Hal itu membuat Revan semakin bersemangat untuk segera menindih Nisa.
Revan melepaskan semua kain yang menempel di tubuh Nisa. Setelah semua terlepas, ia melepaskan pakaiannya. Revan tersenyum saat melihat Nisa yang tersipu malu hingga pipinya terlihat merah.
"Kamu siap, sayang?" tanya Revan.
__ADS_1
Nisa mengangguk pelan. Revan tersenyum dan langsung ******* bibir Nisa. Tak lupa tangannya terus bergerak kesana-kemari. Bibir Revan pun menjamah seluruh tubuh Nisa.
Akhirnya mereka pun melakukan penyatuan di pagi yang cerah ini. Entah berapa lama mereka bermain pagi ini. (author juga ga tau.. hehe).
"Jam berapa sekarang, Dek?" tanya Revan setelah ia membaringkan tubuhnya di samping Nisa.
"Udah jam 8 pagi tuh." jawab Nisa sambil menunjuk ke arah jam dinding.
"Lhooh. Kok udah siang aja sih? Bukannya kita mau berangkat ke rumah Bapak pagi-pagi ya?" tanya Revan tanpa rasa bersalah.
"Yang bikin kita kesiangan kan kamu, Mas? Aku jadi mandi 2 kali deh." gerutu Nisa.
"Hehe. Ya udah ayo kita mandi sekarang." ucap Revan yang langsung bangun.
"Kamu duluan aja, Mas." sahut Nisa.
"Bareng aja, sayang. Biar hemat waktu. Ntar tambah siang lagi kalau mandinya gantian." kata Revan.
Nisa diam memikirkan ucapan Revan. Ada benarnya juga ucapan Revan.
"Tapi murni mandi bareng ya, Mas. Ga boleh ada aktifitas lain." ucap Nisa.
"Iya, sayangku." sahut Revan.
Dan akhirnya mereka mandi bersama. Memang tidak ada aktifitas lain yang menghabiskan waktu banyak. Tapi tangan Revan tidak bisa berhenti bermain-main dengan tubuh Nisa. Berkali-kali Nisa menepisnya, berkali-kali pula Revan mengulanginya.
Saat memakai pakaian pun tangan Revan tak berhenti menjahili nisa.
"Mas. Udah dong. Kapan kita kerumah Bapak kalau dari tadi ga selesai ganti baju." ucap Nisa.
"Kamu sensitif banget sih, Dek?" tanya Revan heran.
"Lagian dari tadi kamu usil banget, Mas." jawab Nisa.
"Ya udah. Maaf ya, sayang. Ayo berangkat sekarang." ucap Revan sambil memeluk Nisa.
Mereka segera menuju ke mobil dan pergi ke rumah Pak Harto. Nisa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarga angkatnya. Rindu yang selama ini ia rasakan sebentar lagi akan segera terobati.
30 menit kemudian, mereka sudah tiba di rumah Pak Harto. Rumah itu nampak tidak banyak perubahan. Hanya cat nya saja yang diganti.
Nisa dan Revan kini sudah berdiri di depan pintu. Tangan Nisa berkeringat karena gugup. Saat yang sudah di nantinya sejak lama akan terwujud.
Tok. Tok. Tok.
Nisa mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam rumah. Nisa mulai khawatir jika tidak ada orang di rumah.
Ceklek.
__ADS_1
Terdengar suara pintu yang terbuka.
•••