
"Kita akan bahagia saat kita bersama, Dek. Tolong jangan tinggalkan Aku." kata Revan.
"Maaf, Mas. Keputusanku sudah bulat." sahut Nisa.
Nisa melepaskan tangan Revan dan segera membuka pintu kamar. Ternyata Nenek sudah berdiri di depan kamar dengan mata yang sembab.
"Nenek." gumam Nisa.
"Nduk. Nisa. Jika Kamu ingin meninggalkan Revan, Nenek tidak masalah." ucap Nenek.
Nisa dan Revan sama-sama terkejut dengan pernyataan Nenek.
"Maksud Nenek apa? Revan tidak mau berpisah dari Nisa. Revan cinta Nisa, Nek." sahut Revan.
"Nenek tidak masalah Kamu tinggalkan Revan. Tapi tolong jangan tinggalkan Nenek, Nduk." kata Nenek menangis.
Nenek segera memeluk Nisa. Mereka menangis sesenggukan. Sementara Revan hanya bisa melihat kedua wanita yang Ia sayangi menangis.
Tiba-tiba pandangan Nisa gelap. Revan segera meraih tubuh Nisa yang hampir ambruk.
"Kita bawa ke rumah sakit aja, Le. Nenek takut terjadi apa-apa sama Nisa." ucap Nenek.
Revan pun mengangguk dan segera menggendong tubuh Nisa. Nenek memerintahkan sopir untuk menyiapkan mobil.
Mereka kini sudah di depan ruang UGD. Nisa masih berada di dalam sana bersama dokter. Sudah 1 jam lebih Nisa di periksa, namun belum ada tanda-tanda dokter atau perawat yang keluar.
Revan terus memeluk Nenek. Ia menyesal karena tidak menuruti kata-kata neneknya untuk menceritakan semuanya pada Nisa.
"Maafin Revan, Nek." ucap Revan.
"Semua sudah terjadi, Le. Semoga Nisa dan anak kalian baik-baik aja." sahut Nenek sambil mengusap-usap punggung Revan.
"Maaf, Den. Ponselnya tadi ketinggalan di mobil. Tadi ada yang telepon, tapi saya tidak berani angkat." ucap Pak sopir.
Revan melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. Dia pun menoleh ke arah sopir keluarganya.
"Tidak apa-apa, Pak. Makasih udah diantar ke sini ponselnya. Maaf ngerepotin." sahut Revan.
"Tidak apa-apa, Den. Sudah kewajiban saya. Kalau begitu saya permisi dulu, Den. Mari nyonya." kata Pak sopir sambil menundukkan kepala.
Nenek dan Revan mengangguk. Pak sopir pun segera berbalik meninggalkan Nenek dan Revan.
Revan melihat riwayat panggilan masuk. Ada nama Adit disana. Dan ada satu nomor asing yang meneleponnya.
Revan mencoba menghubungi Adit terlebih dahulu.
"Kenapa, Dit? Apa ada masalah di kantor? Maaf Aku harus jagain Nisa dirumah sakit." kata Revan.
"Ga apa-apa, Van. Kantor baik-baik aja. Aku cuma mau ngabarin kalau orang yang mengirim pesan pada Nisa udah ketemu." ucap Adit.
"Bagus. Siapa orang itu?" tanya Revan.
"Bella dan Endang. Apa Kamu ada masalah dengan orang-orang ini?" tanya Adit.
Deg.
Adik ipar dan ibu mertuanya. Astaga. Revan tidak menyangka jika keluarga Nisa akan setega ini padanya.
"Van. Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Adit.
Adit masih sibuk dengan lamunannya.
__ADS_1
"Van!" teriak Adit.
"Ga usah teriak-teriak kali, Dit." ucap Revan terkejut.
"Lagian dari tadi di ajak bicara malah diem aja." kata Adit.
"Ya, maaf." sahut Revan.
"Gimana? Kamu ada masalah apa ga sama orang yang namanya Bella dan Endang tadi? Karena menurutku, tidak mungkin mereka melakukan itu kalau ga ada hubungan sama kalian." ucap Adit.
"Mereka adalah adik ipar dan ibu mertuaku." sahut Revan.
"Oh. Pantas aja Aku kayak ga asing sama yang namanya Endang." kata Adit.
"Terus mereka sekarang di mana?" tanya Revan.
"Mereka melarikan diri. Bahkan tega meninggalkan suaminya saat kritis." jawab Adit.
"Oke. Kalau begitu Kamu cari mereka sampai dapat. Dan satu lagi, berikan perawatan terbaik untuk ayah mertuaku." ucap Revan.
"Baik, bos. Laksanakan." sahut Adit dan langsung memutuskan sambungan telepon.
"Dasar bawahan tidak sopan." gumam Revan.
Revan menghela napas.
"Ada apa, Le?" tanya Nenek.
"Ga apa-apa, Nek. Nisa gimana, Nek?" tanya Revan.
"Nisa baik-baik aja. Sekarang dia sedang istirahat. Tadi kata dokter, sebaiknya Kamu tidak menemui Nisa dulu. Tapi Kamu masih bisa menjaganya dari jauh. Dan jangan khawatir, Nenek yang akan menjaga Nisa." jelas Nenek.
"Kamu sekarang harus sabar dulu. Kamu boleh melihat Nisa sekarang mumpung Nisa masih terlelap." ucap Nenek.
"Iya, Nek." sahut Revan.
Revan berjalan perlahan menuju ke ruang UGD. Revan tertunduk saat melihat wajah pucat Nisa. Revan duduk di samping Nisa.
"Sayang." ucap Revan sambil memegang tangan Nisa.
"Semoga Kamu dan bayi Kita selalu dalam keadaan baik ya, sayang. Maaf untuk sementara ini Kamu akan bersama Nenek dulu. Aku akan urus mereka dulu." ucap Revan.
"Sayang. Jaga bunda saat ayah pergi ya. Secepatnya Kita akan sama-sama lagi. Ayah janji." lanjut Revan sambil mengusap perut Nisa.
Revan mengecup kening Nisa sekilas lalu mengecup perut Nisa yang mulai membuncit. Revan meneteskan air matanya saat mengecup perut Nisa. Terasa begitu berat harus berpisah sementara dengan istri dan calon anaknya.
Revan pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan UGD. Revan segera memeluk neneknya.
"Revan titip istri sama calon anak Revan ya, Nek. Maafkan Revan yang selalu ngerepotin Nenek." ucap Revan.
"Nenek akan berusaha untuk menjaga mereka, Le. Bukan hanya untuk Kamu, tapi untuk Nenek juga." sahut Nenek.
"Revan pamit dulu, Nek. Revan harus segera menemukan orang yang sudah merusak rumah tangga Revan." kata Revan sambil melepaskan pelukannya.
"Kamu hati-hati, Le." ucap Nenek.
Revan mengangguk dan pergi meninggalkan Nenek. Di depan sudah ada taksi online yang sedang menunggunya. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka.
Nenek berjalan masuk ke dalam ruangan dimana Nisa berada. Lama-kelamaan, Nenek tertidur di sofa karena kelelahan.
Tak lama kemudian ada 2 orang perawat masuk. Keduanya memakai masker. Mereka mengangkat tubuh Nisa dan meletakkannya di kursi roda. Nisa yang masih dalam pengaruh obat bius pun memudahkan pergerakan mereka.
__ADS_1
Mereka perlahan-lahan membawa tubuh Nisa keluar ruangan agar tidak membangunkan sang nenek.
15 menit kemudian.
"Nyonya." sapa seorang perawat sambil menepuk pundak Nenek.
"Eh. Iya. Maaf tadi saya ketiduran." sahut Nenek yang langsung terduduk.
"Em, ini pasiennya kemana ya? Dokter mau memeriksa kondisinya." tanya perawat itu.
Nenek hanya melongo sambil menatap perawat itu. Lalu Ia melihat ke arah tempat tidur yang tadi Nisa tempati. Nenek membelalakkan matanya terkejut.
"Lhoh! Nisa kemana? Apa dia ke kamar mandi?" tanya Nenek.
Nenek berjalan ke arah kamar mandi, namun tidak menemukan Nisa. Nenek mulai panik.
"Nisa di mana, Sus? Tadi dia disini. Tidak mungkin kan dia bisa jalan dalam keadaan tidur. Apalagi suaminya juga sedang pergi." ucap Nenek.
Nenek mulai menangis karena takut Nisa kenapa-napa. Nenek bingung akan menjawab apa jika Revan bertanya tentang Nisa padanya.
"Kalau begitu biar Kami cek cctv dulu, nyonya." ucap dokter pada nenek.
Nenek hanya menangis tanpa menyahut ucapan dokter.
"Sus. Kamu temani beliau. Beliau sedang dalam keadaan tidak baik." bisik dokter tersebut pada suster.
Dokter tersebut segera pergi menuju ruangan cctv. Sementara Nenek terus menangis sambil menatap layar ponsel. Ingin sekali Nenek menelepon Revan, tapi Ia takut jika Revan nanti akan marah padanya karena tidak bisa menjaga Nisa dan anaknya.
Diruang cctv, dokter memperhatikan keadaan yang sebenarnya terjadi di ruang UGD. Nasib baik berpihak padanya. Dia pun sering mengkopi file video tersebut, lalu keluar dari ruangan cctv.
Dokter tersebut berjalan ke arah UGD. Dimana Nenek sedang menunggunya di sana. Dokter tersebut segera masuk dan mendekati Nenek. Lalu Ia duduk di samping Nenek.
"Nyonya." sapa dokter itu.
Nenek hanya menoleh dengan tatapan sendu.
"Nyonya. Bolehkah suami dari pasien datang kemari?" tanya dokter.
"Memangnya ada apa? Apa yang terjadi pada cucu saya?" tanya Nenek sambil menarik-narik baju dokter tersebut.
"Nyonya tenang dulu. Cucu nyonya baik-baik saja. Yang penting nyonya harus tenang." kata dokter mencoba untuk tersenyum.
"Bagaimana saya bisa tenang kalau saya saja tidak tahu keberadaan Nisa?" tanya Nenek kesal.
"Saya tahu perasaan nyonya. Tapi saya ingin berbicara dengan suami pasien." sahut dokter.
Nenek segera menghubungi Revan. Tidak sampai 20 menit, Revan sudah berada di rumah sakit lagi. Revan segera menuju ke ruang UGD, tempat di mana Nenek menunggunya.
Revan segera memasuki ruangan tersebut. Namun tidak dilihatnya Nisa di sana. Hanya ada Nenek, seorang suster dan 1 dokter.
"Nek. Kenapa Revan disuruh ke sini lagi?" tanya Revan mendekati Nenek.
Nenek tidak menjawab, tapi Ia langsung menangis.
"Nisa mana, Nek. Apa dia sudah pindah ke ruang perawatan?" tanya Revan lagi.
"Dia tidak ada di sini, Le." jawab Nenek singkat.
"Maksud Nenek apa?" tanya Revan panik.
•••
__ADS_1