
"Tapi kamu suka kan jadi korban?" tanya Revan yang tersenyum menggoda.
"Ya ga mungkin lah aku suka. Masa' jadi korban malah suka?" kata Nisa.
"Lah itu kamu dari tadi senyum-senyum terus." sahut Revan.
"Senyum kan belum berarti suka Mas. Lagian senyum itu kan bisa ibadah." ucap Nisa memalingkan wajahnya.
"Lihat sini dong Dek. Kan lagi ngobrol." kata Revan sembari memegang dagu Nisa agar dapat menatapnya.
"Kita jalan sekarang ya Mas. Ngobrol terus keburu siang." ucap Nisa sambil menepis pelan tangan Revan. Namun Revan justru menggenggam tangan Nisa dan mengecupnya lagi.
"Oke kita berangkat sekarang." kata Revan tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Nisa bercerita tentang pertemuannya dengan nenek Revan. Revan jadi tahu bahwa orang yang akan dinikahinya benar-benar orang baik.
"Semoga aku tidak akan menyakiti kamu Dek." kata Revan dalam hati.
Mereka pun tiba di tempat pre-wed.
Sebelum sesi foto-foto di mulai, terlebih dahulu Nisa akan dirias. Dan mengenakan gaun yang sangat cantik. Sedangkan Revan memakai jas yang terlihat begitu serasi dengan gaun yang dipakai oleh Nisa.
"Kenapa pilih pantai ini Mas buat pre-wed kita?"tanya Nisa saat mulai melangkah menuju pantai.
Pantai yang pertama kali mereka kunjungi bersama-sama.
"Karena tempat ini berarti buat aku. Dan aku ingin tempat ini juga berarti buat kamu, Dek." sahut Revan sembari memegangi tangan Nisa.
"Tempat ini memang berarti buat aku Mas. Di tempat ini lah aku memulai hidup bahagia ku. Bersama kamu." kata Nisa tersenyum. Revan yang melihat Nisa tersenyum seakan hatinya meleleh.
"Kamu jangan senyum sekarang, Dek. Nanti saja kalau di depan kamera." ucap Revan tiba-tiba yang langsung membuat Nisa manyun.
"Kenapa, Mas? Ga cantik ya? Atau makeup nya ga bagus?" tanya Nisa.
"Cantik sayang. Kamu cantik banget. Tapi aku ga mau pingsan dahulu sebelum acara pre-wed kita selesai hanya karena melihat senyum kamu yang manis ini." ucap Revan tersenyum sambil mencolek dagu Nisa.
"Astaga. Mas Revan. Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu disaat-saat seperti ini." kata Nisa sembari meninju dada Revan perlahan.
"Aduh. Hati aku kena, Dek." ucap Revan meringis kesakitan memegangi dadanya.
"Hatinya sakit ya, Mas? Ayo kita ke rumah sakit Mas." kata Nisa kemudian yang begitu khawatir dengan keadaan Revan.
"Ga begitu sakit kok, Dek. Justru hatiku sangat sehat karena hatiku terkena panah cinta dari kamu." sahut Revan tersenyum sambil menatap wajah Nisa. Nisa tersipu malu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Revan.
"Mas Revan jangan kayak gitu lagi. Aku kan khawatir kalau Mas Revan kenapa-napa." ucap Nisa sambil mengusap pipi Revan.
"Makasih ya sayang sudah khawatir sama aku. Dan maaf sudah membuat kamu khawatir." kata Revan sembari meraih tangan Nisa dan menggenggamnya.
"Ehm. Ehm. Ehm. Bisa kah kita mulai sekarang foto pre-wed nya?" tanya fotografer yang langsung menyadarkan Revan dan Nisa bahwa mereka tidak hanya berdua di sini.
Nisa pun langsung melepaskan tangan Revan lalu menunduk malu.
"Bisa Mas. Kita sudah siap kok. Iya kan, Dek?" tanya Revan pada Nisa.
"Eh, iya. Kita sudah siap kok dari tadi." sahut Nisa mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Oke kalau begitu kita mulai sekarang." ucap fotografer tersebut.
Kini Revan dan Nisa sudah mulai berpose di depan kamera. Berbagai macam gaya yang mereka lakukan. Mereka melakukan foto pre-wed dengan menggunakan 3 jenis pakaian yang berbeda. Awalnya Nisa menolak, tapi dengan segala bujuk rayu Revan akhirnya Nisa pun mau.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul 15:00, pemotretan hari ini baru saja selesai. Fotografer serta penata rias pun segera membereskan pekerjaan mereka dan segera pulang.
"Mau lihat sunset lagi ga, Dek? Sudah jam setengah 5 nih. Sayang banget kalau sudah di sini ga lihat sunset. Mau ya?" tanya Revan dengan memasang wajah memelas pada Nisa.
"Hahaha. Mas Revan mukanya jangan kayak gitu. Ga cocok sama badan yang gede." ucap Nisa tertawa.
"Mau ya sayang?" tanya Revan lagi tanpa merubah ekspresi wajahnya.
"Iya, Mas. Aku mau kok." ucap Nisa tersenyum sambil mencubit pipi Revan.
"Jangan dicubitin kayak gitu, Dek. Nanti tambah gembul gimana?" kata Revan cemberut sambil mengusap pipinya.
"Ga apa-apa kali Mas. Malah ganteng kalau gembul. Kalau kamu kurus jadi kelihatan tua banget." ucap Nisa sembari mengelus-elus pipi Revan yang tadi ia cubit.
__ADS_1
"Bisa banget kamu, Dek." kata Revan.
"Ya bisa lah, Mas. Kalau kamu saja bisa, aku juga harus bisa dong." ucap Nisa tersenyum.
"Kita buat istana pasir yuk, Dek. Seru kayaknya." kata Revan sambil menarik tangan Nisa agar mengikutinya.
"Ga usah tarik-tarik juga kali Mas. Kamu kok jadi kayak anak kecil gini sih?" ucap Nisa heran.
"Hehe. Maaf, Dek. Aku senang banget hari ini bisa seharian sama kamu. Rasanya sudah ga sabar pengen cepat-cepat halalin kamu." sahut Revan sembari merangkul pundak Nisa.
"Bentar lagi juga sudah halal, Mas." ucap Nisa menyandarkan kepalanya di bahu Revan.
"Nanti kamu mau tinggal sama nenek atau mau berdua aja Dek sama aku?" tanya Revan tiba-tiba.
"Kalau aku sih pengennya bareng sama nenek, Mas. Kasihan kan kalau nenek tinggal sendirian." kata Nisa.
"Tapi sehabis kita nikah, kita honeymoon dulu ya, Dek?" ucap Revan.
"Heleeeeh. Kayak orang kaya aja Mas pakai honeymoon segala. Lagian mau honeymoon kemana sih?" tanya Nisa.
"Nanti aku kasih tau kalau sudah halal ya. Biar jadi kejutan. Hehe." kata Revan tersenyum lalu mengecup kening Nisa.
"Jadi ga nih buat istana pasirnya?" tanya Nisa.
"Jadi dong, Dek. Sekarang nyicil dulu buat istana pasir. Nanti kalau kita udah sah baru buat istana keluarga kita." sahut Revan.
"Apaan sih Mas. Dikit-dikit ngomong manis. Bisa diabetes aku kalau tiap hari dengar kamu ngomong manis terus." ucap Nisa.
"Biar imbang Dek. Bibir kamu manis kalau senyum dan bibir aku manis kalau ngomong." kata Revan sambil menyentuh bibir Nisa pelan.
Revan lembut menyentuh bibir Nisa. Seolah ingin mendekati bibir itu. Namun dia urungkan. Revan segera melepaskan tangannya dari bibir Nisa.
"Bibir kamu lembut banget, Dek." kata Revan tersenyum sambil terus menyusun pasir yang ada di depannya.
"Masa' sih, Mas? Aku malah ga pernah perhatiin bibir aku, Mas. Soalnya aku jarang bercermin. Kalau pun bercermin pasti ga lama dan ga sempat lihat bibir secara detail." ucap Nisa yang langsung menyentuh bibirnya sendiri.
"Kamu ga dandan, Dek?" tanya Revan terkejut.
"Aku emang ga suka dandan, Mas. Paling cuma pakai bedak Baby sama pelembab bibir. Itu semua kan bisa dilakukan tanpa cermin. Mungkin karena efek pelembab bibir jadi bibir aku lembut." sahut Nisa.
"Ga lah, Mas. Lagian selama ini juga ga ada yang godain aku." kata Nisa.
"Mungkin kamu aja yang ga sadar, Dek. Masa' cewek secantik kamu ga ada yang godain?" tanya Revan.
"Emang benar kok Mas. Kalau ga percaya tanya aja sama Rika nanti. Pasti jawabannya ga ada yang godain aku." sahut Nisa.
"Oke lah nanti aku tanya sama Rika." ucap Revan.
Mereka pun menyelesaikan pembuatan istana pasir sebelum matahari terbenam. Revan sesekali usil pada calon istrinya itu.
"Akhirnya selesai juga ini buat istana pasirnya. Huh. Capek banget aku." ucap Nisa sambil merentangkan kedua tangannya.
"Duduk sini Dek kalau capek." kata Revan sambil menunjuk sebelahnya. Nisa pun menurut untuk duduk di samping Revan.
"Mau aku pijitin ga, Dek?" tanya Revan.
"Ga usah kali Mas. Bisa lihat matahari terbenam aja sudah bisa bikin hilang semua capek di badan aku." sahut Nisa sambil meluruskan kakinya.
"Sudah mau tenggelam itu mataharinya, Dek." ucap Revan sambil menunjuk matahari.
Revan merangkul pundak Nisa. Tak ada kata yang terucap dari bibir mereka berdua. Mereka sama-sama melihat matahari yang perlahan-lahan mulai tenggelam dan menyisakan warna jingga yang cantik. Sebelum akhirnya benar-benar gelap dan muncullah bulan yang menerangi mereka. Mereka masih menikmati kebersamaan dengan memandang langit.
"Kita mau pulang jam berapa, Mas? Ini udah hampir jam 7 malam lho." tanya Nisa yang memecah keheningan.
"Kamu sudah dingin ya, Dek?" tanya Revan menoleh ke arah Nisa.
"Belum juga sih, Mas. Tapi aku ga mau Bapak sama Ibuk apalagi Rika khawatir." ucap Nisa.
"Ya sudah kita pulang sekarang saja. Maaf ya aku sampai lupa waktu kalau lagi ada di sini." kata Revan yang sudah berdiri.
Revan pun mengulurkan tangannya hendak membantu Nisa untuk berdiri. Namun tubuh Nisa terhuyung ke depan hampir terjatuh. Beruntung Revan segera memeluknya jadi Nisa tidak jatuh ke pasir.
"Bibir kamu bilang pengen pulang. Tapi badan kamu masih pengen di peluk sama aku ini." kata Revan tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Ini mah Mas Revan aja tadi nariknya kencang banget. Makanya aku hampir saja jatuh tadi." ucap Nisa sambil melepaskan pelukannya. Nisa jadi salah tingkah dengan kejadian barusan.
"Kamu masih malu-malu saja, Dek. Tapi aku suka kamu yang kayak gini." kata Revan tersenyum sambil mencolek hidung Nisa.
"Sudah lah Mas. Ayo kita pulang. Takutnya kemalaman nanti pas sampai rumah." ucap Nisa menarik tangan Revan.
"Ga usah di tarik, Dek. Di peluk saja sini. Kan lebih enak jalannya." kata Revan.
"Ga mau. Cepetan, Mas. Aku juga sudah lapar banget ini." ucap Nisa sambil memegangi perutnya.
"Kalau gitu kita makan aja dulu." kata Revan.
"Kita makan di rumah saja ya, Mas." ucap Nisa.
"Oke deh. Aku ngikut kamu aja. Tapi kamu kirim pesan dulu ke Rika kalau kita mau makan di rumah." sahut Revan.
"Beres Mas." ucap Nisa.
Akhirnya Revan mulai menjalankan mobilnya menuju ke kontrakan Nisa. 30 menit kemudian, mereka sudah tiba di depan kontrakan Nisa. Namun mereka tidak langsung turun dari mobil.
"Ayo turun sekarang, Mas." ucap Nisa.
"Aku malu, Dek." kata Revan menunduk.
"Malu kenapa sih, Mas?" tanya Nisa heran.
"Aku kan tadi ngajak kamu pergi. Tapi malah makan di rumah. Aku kan jadi kelihatan ga bertanggung jawab, Dek." ucap Revan menunduk.
"Ga gitu juga Mas. Lagian juga Bapak sama Ibuk yang minta kita makan di rumah. Meskipun mereka bukan orang tua kandung atau orang tua angkat ku, tapi aku sayang sama mereka. Aku ga mau mengecewakan mereka." jelas Nisa.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita turun sekarang. Aku juga sudah lapar ini." ucap Revan tersenyum kemudian.
Revan dan Nisa pun segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Eh, ada Mas Bayu." ucap Nisa sedikit terkejut melihat Bayu sedang duduk di kursi ruang tamu bersama dengan Pak Sugi.
"Iya, Nis. Gimana tadi foto pre-wed nya? Lancar kan?" tanya Bayu.
"Lancar kok Mas. Oh iya, Rika sama Ibuk di mana ya?" tanya Nisa balik.
"Itu ada di dapur lagi siapin makan malam." sahut Pak Sugi.
"Kalau gitu Mas Revan duduk sini sama Bapak dan Mas Bayu dulu ya. Aku mau bantuin Rika sama Ibuk di dapur." kata Rika yang langsung berjalan menuju dapur.
"Rika!" teriak Nisa sambil menepuk pundak Rika.
"Apaan sih kamu Nis? Kalau aku mati gimana? Aku kan belum nikah." ucap Rika kesal.
"Makanya cepetan Bayu suruh lamar kamu." kata Bu Ani tersenyum.
"Ibuk mah yang dibahas lamaran terus dari tadi. Ga capek apa?" tanya Rika dengan wajah cemberut.
"Emang kamu ga pengen kayak Nisa po, Nduk?" tanya Bu Ani pada Rika.
"Ya pasti pengen lah Buk. Tapi kalau sudah waktunya." sahut Rika.
"Kalau gitu nanti biar Ibuk saja yang minta sama Bayu biar cepat lamar kamu." ucap Bu Ani.
"Jangan dong Buk. Malu ah." kata Rika.
"Kalau gitu biar aku saja yang bilang sama Mas Bayu." sahut Nisa.
"Ibuk ga boleh. Nisa juga ga boleh. Biar aku yang ngomong sendiri saja nanti sama Mas Bayu." kata Rika kemudian.
"Nah gitu dong. Ibuk tunggu kabar baiknya lho ini. Jangan lama-lama. Kalau kelamaan, Ibuk ga mau nikahin kamu sama siapapun termasuk Bayu." ucap Bu Ani dengan nada mengancam.
"Eh, kok jadi ribet gini sih cuma masalah lamaran saja." kata Rika meraup mukanya.
"Ribet dikit ga apa-apa lah Rik. Yang penting nikah sama Mas Bayu. Daripada tidak sama sekali. Kan ngenes banget." ucap Nisa tertawa setengah mengejek.
"Senang banget ya kamu, Nis. Mentang-mentang sudah mau nikah terus jadi banyak tingkah kayak gitu." gerutu Rika sembari meletakkan nasi di meja makan.
"Sudah-sudah. Ini kan sudah siap semua. Sekarang kalian panggil Bapak, Bayu sama Revan kemari buat makan malam. Keburu dingin makanannya kalau harus nunggu kalian selesai berantem." kata Bu Ani menyela perdebatan Nisa dan Rika.
__ADS_1
Bahkan perdebatan mereka belum selesai sampai di ruang tamu. Pak Sugi, Bayu serta Revan hanya bengong melihat Nisa dan Rika berdebat.
•••