
Tidak lama kemudian terlihat sebuah mobil menuju ke arah mereka. Dan mobil itu berhenti di antara rumah Bu Sari dengan kontrakan Nisa.
"Nisa. Kayaknya itu mobil yang anak Ibuk beli. Kita lihat kesana yuk." ucap Bu Sari sambil menarik Nisa.
"Kayaknya ini mobil Mas Revan deh." kata Nisa dalam hati.
"Bagus banget ya mobilnya. Wah, Ibuk sudah ga sabar pengen coba naik mobil bagus ini." kata Bu Sari tersenyum sumringah.
"Apa Bu Sari yakin kalau itu mobil yang anak Bu Sari beli?" tanya Nisa.
"Yakin lah, Nduk. Soalnya tadi sebelum berangkat ambil mobil, anak Ibuk kasih lihat foto mobilnya dulu. Dan mobil ini mirip dengan foto yang tadi pagi Ibuk lihat." sahut Bu Sari.
"Kalau begitu kita tunggu anak Bu Sari turun dari mobil dulu saja." ucap Nisa.
Bu Sari pun mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari mobil tersebut.
Tiba-tiba pintu mobil terbuka dan terlihat seorang laki-laki turun dari mobil tersebut. Bu Sari dan Nisa memperhatikan penampilan laki-laki itu dari bawah ke atas.
"Tuh kan benar Mas Revan yang datang." kata Nisa dalam hati.
"Lhooh Mas siapa?" tanya Bu Sari sambil mendekati Revan.
"Saya Revan, Buk. Ada apa ya?" tanya Revan pada Bu Sari.
"Anak saya dimana?" tanya Bu Sari lagi.
"Memangnya anak ibu siapa?" tanya Revan balik.
"Nama anak saya Ridwan. Pemilik mobil ini." ucap Bu Sari.
"Maaf ya Buk sebelumnya. Saya tidak kenal dengan anak ibu yang bernama Ridwan. Dan mobil ini adalah mobil saya." jelas Revan.
"Jangan bohong kamu. Mobil ini adalah mobil anak saya. Atau jangan-jangan kamu nyuri mobil anak saya ya?" tanya Bu Sari sambil menatap tajam ke arah Revan.
"Sabar, Buk." kata Nisa sambil mengusap pundak Bu Sari.
"Saya ga bisa sabar kalau laki-laki ini tidak mau mengakui kesalahannya." ucap Bu Sari dengan kemarahan yang menggebu-gebu.
"Saya tidak pernah mencuri mobil anak ibu. Kalau tidak percaya, sekarang ibu bisa telepon anak ibu. Tanyakan dia sekarang dimana." ucap Revan yang masih dalam keadaan bingung.
"Bagaimana mungkin aku di tuduh mencuri mobil, sedangkan mobil ini adalah mobilku sendiri." kata Revan dalam hati.
"Baiklah saya akan telepon anak saya dulu. Kamu tunggu disini, jangan coba-coba untuk kabur. Nisa, tolong jagain dia ya." kata Bu Sari pada Nisa.
"Baik, Buk." sahut Nisa.
Bu Sari pun berjalan menjauh dari Nisa dan Revan. Bu Sari mencoba untuk menelpon anaknya.
"Dek, ini ada apa sih sebenarnya?" tanya Revan pada Nisa.
"Tadi Bu Sari ke rumah ngasih makanan, katanya syukuran karena anaknya beli mobil. Terus tadi pagi anaknya ambil mobil ke tokonya, tapi sampai sekarang belum balik. Pas tadi Mas Revan datang, Bu Sari ngiranya ini adalah mobil anaknya. Karena mobil Mas Revan berhenti di antara kontrakan Nisa dan rumah Bu Sari." jelas Nisa.
Revan pun memperhatikan posisi mobilnya saat ini. Memang benar apa yang dikatakan Nisa. Wajar kalau Bu Sari berpikiran bahwa mobil itu adalah mobil anaknya.
"Terus gimana ini, Dek? Masa' aku di tuduh mencuri mobil? Ini kan mobil aku, atas namaku juga." ucap Revan.
"Apa? Mobil Mas Revan? Bukannya waktu itu Mas Revan bilang ini mobil nenek Mas Revan ya?" tanya Nisa setengah terkejut.
"Duh. Malah keceplosan ngomong kalau ini mobil aku lagi. Mau alasan apa ini?" tanya Revan dalam hati.
"Kok malah bengong, Mas?" tanya Nisa lagi sambil menepuk pundak Revan.
"Eh. Kenapa, Dek?" tanya Revan gugup.
"Nisa." panggil Bu Sari.
"Iya, Buk." sahut Nisa.
"Kesini sebentar." perintah Bu Sari.
Nisa pun segera meninggalkan Revan dan berjalan menuju ke tempat Bu Sari.
"Ada apa, Buk?" tanya Nisa pada Bu Sari.
__ADS_1
"Anak ibu ga bisa dihubungi. Ibu harus bagaimana ini? Atau kita laporkan saja laki-laki itu ke polisi?" tanya Bu Sari pada Nisa.
"Ga bisa langsung lapor, Buk. Harus ada bukti yang kuat. Kalau memang benar mobil itu adalah mobilnya, bukan dia yang di tahan. Tapi Bu Sari yang akan di tahan atas kasus pencemaran nama baik." kata Nisa yang sedikit khawatir dengan Revan.
"Terus sekarang ibu harus bagaimana, Nduk?" tanya Bu Sari.
"Kita minta surat-surat lengkap mobil tersebut. Kalau memang benar mobil itu adalah mobilnya, kita harus mengalah Buk. Tapi kalau memang mobil itu bukan mobilnya, kita akan cari tahu siapa pemilik mobil tersebut." ucap Nisa.
"Baiklah. Ayo sekarang kita minta surat-surat lengkap mobil itu." ajak Bu Sari.
Nisa dan Bu Sari pun berjalan mendekati Revan.
"Siapa nama pemilik mobil ini?" tanya Bu Sari pada Revan.
"Saya Bu. Revan." jawab Revan.
"Saya ingin lihat surat-surat lengkap mobil ini serta identitas kamu untuk memastikan siapa pemilik mobil ini." kata Bu Sari sambil menyodorkan telapak tangannya.
Revan pun berjalan masuk ke dalam mobil. Lalu Revan berjalan kembali menuju ke tempat Nisa dan Bu Sari.
"Ini surat-surat mobil dan ini identitas saya." ucap Revan sembari memberikan beberapa lembar surat mobil serta identitasnya.
Nisa dan Bu Sari mengecek semuanya. Nisa dan Bu Sari sama-sama terkejut saat mengetahui bahwa mobil itu adalah mobil Revan.
Nisa terkejut karena ternyata Revan berbohong padanya. Sedangkan Bu Sari terkejut karena mobil itu bukan mobil anaknya. Bahkan Bu Sari sudah menuduh Revan sebagai pencuri mobil.
Nisa menatap Revan kesal. Revan yang mengerti bahwa Nisa sedang kesal pun bingung harus bagaimana. Nisa menyerahkan surat-surat mobil serta identitas Revan pada pemiliknya.
"Bu Sari, saya pamit ke dalam dulu ya." ucap Nisa sambil melangkah masuk ke dalam kontrakan.
"Maaf ya Mas, tadi saya sudah menuduh kamu telah mencuri mobil anak saya." kata Bu Sari menahan kepergian Revan yang hendak menyusul Nisa ke dalam kontrakan.
"Iya, Buk. Ga apa-apa kok. Saya mengerti. Oh iya, saya permisi dulu. Saya mau nyusul calon istri saya." ucap Revan.
"Siapa calon istri kamu? Apakah dia tinggal di dekat sini?" tanya Bu Sari.
"Calon istri saya adalah Nisa. Dia tinggal di kontrakan ini." jawab Revan.
"Astaga. Jadi kamu calon suami Nisa? Kenapa tidak bilang dari tadi. Saya jadi ga enak ini. Sekali lagi maafkan saya ya, Mas." ucap Bu Sari sambil menangkupkan kedua tangannya di depan Revan.
"Silahkan, mas Revan." sahut Bu Sari.
Revan pun langsung masuk ke dalam kontrakan karena kebetulan pintu tidak di tutup. Namun saat sudah masuk ke dalam, langkah Revan terhenti di ruang tamu. Disana ada Pak Sugi, Bu Ani, serta Rika yang sedang memeluk Nisa.
"Kenapa anak saya menangis?" tanya Pak Sugi pada Revan.
Revan terdiam melihat Nisa yang terus menangis. Bahkan tidak menghiraukan pertanyaan Pak Sugi.
"Kenapa diam? Kamu apakan Nisa sampai menangis?" tanya Pak Sugi lagi dengan emosi. Bu Ani menggenggam tangan Pak Sugi untuk menenangkannya.
"Saya telah berbohong pada Nisa, Pak." kata Revan.
"Apa alasan kamu berbohong pada calon istri kamu?" tanya Pak Sugi.
"Saya hanya tidak mau kalau Nisa mengetahui identitas saya." ucap Revan.
"Alasan macam apa itu? Sudah seharusnya suami istri mengetahui identitas masing-masing. Bagaimana bisa kamu ingin menyembunyikan identitas kamu dari Nisa, calon istri kamu?" tanya Pak Sugi.
"Maaf, Pak. Ini karena semua wanita yang mendekati saya hanya karena uang. Dan saat Nisa pertama kali melihat saya dalam keadaan yang tidak punya apa-apa. Dan ternyata Nisa menerima saya yang tidak punya apa-apa. Jadi saya pikir jika saya jujur, Nisa akan pergi meninggalkan saya. Sementara hati ini sudah di miliki Nisa seutuhnya." kata Revan menunduk.
Nisa terkejut mendengar pengakuan Revan tentang perasaannya. Dia terharu, tapi dia juga kecewa dengan Revan.
"Dek. Maafkan aku yang tidak jujur dari awal sama kamu. Aku rela melakukan apapun asal kamu mau memaafkan aku. Aku ga bisa lihat kamu menangis seperti ini. Tolong maafkan aku, sayang." kata Revan sambil berlutut di depan Nisa.
Nisa memejamkan matanya. Air mata masih mengalir di pipinya. Nisa tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini.
"Aku kecewa sama kamu, Mas. Disaat aku merasakan apa itu cinta, saat itu juga aku di bohongi oleh orang yang aku cinta." ucap Nisa.
"Aku minta maaf, Dek. Aku sadar aku salah. Sebenarnya aku ingin kasih tahu kamu setelah menikah, tapi keadaan memaksaku untuk kasih tahu kamu sekarang. Tolong maafkan aku, Dek." ucap Revan sembari memegangi tangan Nisa lalu mengecupnya.
"Hubungan kita baru saja akan di mulai Mas. Tapi kamu sudah berani berbohong. Bagaimana jika nanti kita menikah?" tanya Nisa.
"Kamu adalah yang pertama dan yang terakhir di hidup aku, Dek. Dan kebohongan ini adalah kebohongan pertama dan terakhir yang aku lakukan sepanjang hidupku." sahut Revan.
__ADS_1
"Oke. Aku maafin kamu sekarang. Aku kasih kamu satu kesempatan lagi, Mas. Kalau sampai kamu membuat aku kecewa lagi, lebih baik kita tidak bertemu lagi." kata Nisa.
"Iya, sayang. Aku akan berusaha membuat kamu bahagia. Aku akan berusaha untuk tidak membuat kamu kecewa. Dan pastinya aku akan berusaha untuk tidak membuat kamu menangis lagi. Kamu hanya akan menangis karena bahagia." sahut Revan.
Nisa hanya mengangguk pelan berusaha untuk tersenyum. Pak Sugi, Bu Ani serta Rika pun ikut tersenyum karena masalah Nisa sudah selesai.
"Rika. Kamu pindah sini, Nduk. Biar nak Revan duduk di samping Nisa." kata Bu Ani pada Rika.
Rika pun segera pindah duduk ke sebelah Bu Ani. Nisa membantu Revan bangun dari posisi berlutut dan kini duduk di sebelahnya.
"Kalian jadi mau beli cincin sama fitting baju atau tidak?" tanya Pak Sugi.
"Jadi, Pak." jawab Revan.
"Aku mau cuci muka sama ambil tas dulu." ucap Nisa sambil melangkah pergi ke kamarnya.
"Nak Revan." kata Pak Sugi.
"Iya, Pak." sahut Revan.
"Tolong jaga anak Bapak, Nisa. Jangan sakiti Nisa. Meskipun Nisa bukan anak kandung kami, tapi kami sudah menganggapnya seperti anak kandung." ucap Pak Sugi.
"Saya berjanji, Pak. Kejadian ini tidak akan terulang lagi. Saya juga tidak bisa melihat Nisa menangis. Saat saya melihat Nisa menangis, dada saya terasa sesak. Hati ini ikut merasakan sakit, Pak." kata Revan menunduk.
"Saya pegang janji kamu." ucap Pak Sugi.
Tidak berapa lama kemudian, Nisa pun sudah kembali ke ruang tamu. Nisa sudah kelihatan lebih segar karena habis cuci muka.
"Sudah siap, Dek?" tanya Revan pada Nisa.
"Sudah, mas. Ayo berangkat sekarang saja." kata Nisa.
"Oke. Bapak, Ibuk, Rika, kami pergi dulu ya. Mohon do'a nya semoga semuanya lancar." ucap Revan berpamitan.
"Amin." kata Pak Sugi, Bu Ani, Rika serta Nisa secara bersamaan.
Setelah selesai berpamitan, mereka segera keluar kontrakan. Di depan kontrakan, ada seorang wanita yang sedang menunggu Nisa dan Revan. Wanita itu adalah Bu Sari.
Mengetahui Nisa dan Revan yang sudah keluar dari kontrakan, Bu Sari pun segera berjalan menghampiri mereka berdua.
"Nisa. Maafkan Ibuk ya tadi sudah menuduh calon suami kamu sebagai pencuri mobil. Ibuk terlalu ga sabar untuk coba mobil baru sampai-sampai Ibuk melakukan hal memalukan itu." ucap Bu Sari sambil memegang tangan Nisa.
"Ga apa-apa kok, Buk. Apa anak Bu Sari sudah pulang dengan mobilnya?" tanya Nisa.
"Sudah, Nduk. Itu mobilnya. Tapi masih bagus mobil calon suami kamu dari pada punya anak Ibuk." ucap Bu Sari menunduk.
"Yang penting itu fungsinya, Buk. Bukan penampilannya." kata Nisa.
"Kamu benar, Nduk. Apa kalian mau mampir ke rumah Ibuk dulu? Kita minum teh atau kopi begitu?" tanya Bu Sari pada Revan dan Nisa.
"Sebenarnya kami mau saja, Buk. Tapi kami sedang buru-buru ini sudah ada janji dengan orang." sahut Revan.
"Ya sudah kalau begitu ga apa-apa. Masih bisa lain kali. Lagi pula kamu masih tinggal di sini kan?" tanya Bu Sari.
"Masih kok, Buk." jawab Nisa.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya, Buk." lanjut Nisa.
"Iya, Nduk. Hati-hati di jalan." ucap Bu Sari. Nisa hanya tersenyum dan mengangguk.
Nisa dan Revan pun segera masuk ke dalam mobil. Namun Revan tidak kunjung menyalakan mobilnya. Nisa yang bingung pun melirik ke arah Revan.
"Kenapa ga jalan, Mas?" tanya Nisa kemudian.
"Maafkan aku ya, Dek." ucap Revan sembari memegangi tangan Nisa.
"Aku sudah maafin kamu, Mas. Mungkin ini adalah ujian sebelum kita menikah. Tapi aku harap ini tidak akan terjadi setelah kita menikah." kata Nisa.
"Terima kasih sayang. Aku akan terus berusaha untuk membuat kamu tersenyum. Aku ga bisa kehilangan kamu. Hati ini milik kamu, jadi jika kamu pergi itu berarti aku akan mati. Karena aku tidak bisa hidup tanpa hatiku yang ada dalam genggaman kamu." ucap Revan sembari mengecup kening Nisa.
Nisa memejamkan mata merasakan kehangatan yang tercipta dari kecupan lembut Revan. Sekian detik Revan mengecup kening Nisa.
Kruk. Kruk. Kruk
__ADS_1
•••