Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 41


__ADS_3

Nisa kembali teringat dengan orang tuanya yang sudah lama meninggalkannya.


"Kenapa luka lama harus tergores kembali?" tanya Nisa dalam hati.


Revan yang melihat Nisa menangis pun segera pamit meninggalkan meeting lebih dulu. Beruntung meeting memang sudah selesai.


Revan segera memeluk Nisa. Mencoba untuk menenangkannya. Meskipun Dia tidak tahu apa yang menyebabkan Nisa menangis.


Nisa terisak di dada Revan. Perasaan Nisa memang lebih tenang saat Revan memeluknya. Tapi ada satu pertanyaan yang sulit untuk Ia ucapkan di hadapan Revan.


"Haruskah Kamu?"


Kini suara isakan tangis Nisa sudah tidak terdengar, tapi air matanya masih terus membasahi pipinya.


"Sayang. Kamu kenapa tiba-tiba menangis?" tanya Revan tanpa melepas pelukannya.


Nisa meraih ponselnya dan menyerahkannya pada Revan. Revan menerima ponsel itu dan membaca pesan yang dikirim oleh nomor asing.


📩085123456789


"Suamimu adalah penyebab kematian orang tuamu."


Revan terkejut saat membaca pesan tersebut. Dadanya terasa sesak. Tangannya pun bergetar. Sebelum ponsel Nisa jatuh, Revan segera meletakkan kembali ke atas meja. Revan memeluk erat Nisa.


Revan melambaikan tangannya pada Adit agar mendekat. Adit pun segera berjalan menuju ke arah Revan dan Nisa.


"Ada apa, Bos?" tanya Adit.


"Cari tahu siapa pemilik nomor itu. Secepatnya." ucap Revan.


Adit segera meraih ponsel Nisa dan segera menjalankan tugasnya. Sementara Revan masih memeluk Nisa.


Tak terasa air matanya mulai mengalir. Semakin erat Ia memeluk Nisa. Revan sangat takut jika nantinya Nisa akan pergi meninggalkannya.


"Kenapa harus sekarang? Aku belum siap." batin Revan.


"Kita pulang saja ya, sayang." ajak Revan.


Nisa hanya mengangguk pelan. Revan membantu Nisa berjalan menuju ke mobil. Nisa sangat lemah saat ini. Ia harus beristirahat.


Sesampainya di rumah, Revan mengangkat tubuh Nisa dari mobil ke kamar mereka. Namun saat diruang tamu, Nenek melihat Nisa di gendong menjadi khawatir.


Nenek berjalan cepat menghampiri Revan. Namun Revan hanya menggelengkan kepalanya. Nenek pun mengerti. Nenek kembali duduk dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


Revan membaringkan tubuh Nisa perlahan-lahan. Lalu Ia menemani Nisa hingga Nisa terlelap.


Saat dirasa Nisa sudah tidur nyenyak, Revan perlahan-lahan keluar dari kamar tersebut. Revan menghampiri Nenek diruang tamu yang sedang menunggunya.


"Ada apa, Le? Kenapa dengan Nisa? Bayinya baik-baik aja, kan?" tanya Nenek.


"Nisa baik, Nek. Anak Kami juga baik. Hanya saja__" Revan menjeda ucapannya.


"Hanya saja kenapa, Le? Jangan buat Nenek khawatir." tanya Nenek mulai panik.


"Hati dan pikiran Nisa sedang tidak baik, Nek. Nisa tadi mendapat pesan dari nomor asing. Yang isinya menyatakan kalau Revan adalah penyebab kematian orang tua Nisa." jelas Revan.


Nenek menutup mulutnya karena terkejut. Tiba-tiba Nenek menangis.


"Kenapa kamu ga cari tahu siapa yang ngirim pesan itu?" tanya Nenek.

__ADS_1


"Adit sedang mencari tahu, Nek. Revan sedang menunggu kabar dari Adit." jawab Revan.


"Siapa sebenarnya yang berani membuka luka lama Nisa? Lagian Kamu juga, kenapa ga Kamu jelasin semuanya sama Nisa. Agar Nisa tidak salah paham sama Kamu." cecar Nenek.


"Maaf, Nek. Revan ga mau Nisa pergi ninggalin Revan lagi. Revan takut." sahut Revan menunjukkan kepalanya.


"Tapi sekarang bagaimana? Bisa jadi Nisa akan tinggalin Kamu." kata Nenek.


"Revan belum siap untuk cerita, Nek." ucap Revan.


"Kalau begitu biar Nenek aja yang cerita." sahut Nenek yang sudah berdiri.


"Jangan, Nek." kata Revan.


Revan berlutut di hadapan Nenek sambil memeluk kaki Nenek. Nenek mendongakkan kepalanya menahan air mata yang akan mengalir.


"Biar Revan aja yang bicara sama Nisa. Tapi tidak sekarang. Revan butuh waktu." lanjut Revan.


"Kamu butuh waktu sampai kapan? Sampai Nisa pergi dari sini? Atau nunggu Nisa benci sama Kamu dulu?" tanya Nenek.


"Revan akan memikirkannya. Secepatnya Revan akan cerita sama Nisa, Nek." jawab Revan.


"Ya udah kalau begitu. Cepat bangun. Temani Nisa. Sekarang dia butuh Kamu. Dan ingat, jangan sampai Nisa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan." ucap Nenek.


"Iya, Nek." sahut Revan.


Revan berdiri lalu memeluk Nenek sebentar.


"Makasih, Nek. Revan mau nyusul Nisa dulu." ucap Revan.


Nenek hanya mengangguk pelan. Ia kembali duduk dan menangis.


Sesampainya Revan di kamar, Nisa masih terbaring dengan posisi yang sama. Revan duduk di samping ranjang sambil menatap wajah Nisa yang sembab karena menangis.


Revan meraih tangan Nisa lalu mengecupnya.


"Maafkan Aku, Dek. Belum bisa jujur sama Kamu." gumam Revan.


Tak terasa Revan ikut terlelap dalam keadaan masih duduk dan memegangi tangan Nisa.


Nisa terbangun lebih dulu karena panggilan alam. Namun saat hendak bangun, tangannya seperti mati rasa. Ternyata tangannya dijadikan bantal oleh Revan.


Nisa menatap wajah Revan lamat-lamat. Wajah itu terlihat lelah dan sendu.


"Mungkin pesan tadi hanya orang iseng. Tidak mungkin orang sebaik Mas Revan yang menyebabkan Aku menjadi anak yatim piatu." batin Nisa.


Nisa mengusap pelan pipi Revan. Saat terlihat ada pergerakan dari Revan, Nisa segera menjauhkan tangannya.


"Kok sudah bangun, Dek?" tanya Revan.


"Aku mau ke kamar mandi, Mas." jawab Nisa.


Revan tersenyum lalu menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya. Kemudian Revan mengangkat tubuh Nisa dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Kini Nisa sudah duduk di sofa kamarnya.


"Aku ambil makan buat Kamu dulu ya, Dek." ucap Revan.


Nisa hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Bagaimana jika pesan tadi itu benar? Apa yang harus Aku lakukan?" gumam Nisa.


Tiba-tiba Revan sudah masuk ke dalam kamar mereka.


"Sayang. Aku suapin Kamu ya." kata Revan.


"Aku bisa sendiri, Mas." ucap Nisa.


"Ayah. Bunda makannya disuapin Ayah ya." sahut Revan sambil meletakkan wajahnya di depan perut Nisa.


Revan berbicara dengan suara anak kecil, seolah-olah yang berbicara adalah anaknya yang masih di dalam perut.


"Oke, sayang. Ayah pasti suapin bunda kok." ucap Revan dengan suara aslinya.


"Makasih, Yah. I love you, Ayah." kata Revan dengan suara anak kecil.


"Sama-sama jagoanku. I love you too." lanjut Revan dengan suara dewasa.


Revan kembali duduk dan menatap wajah Nisa.


"Yang mau anak Kita lho." ucap Revan.


"Itu maunya Kamu, Mas." sahut Nisa tersenyum dan meninju pelan dada Revan.


"Auh. Sakit, Dek." rintih Revan sembari memegangi dadanya.


"Masa' sih, Mas? Kayaknya tadi cuma pelan deh." ucap Nisa sambil mengusap-usap dada Revan yang tadi Ia tinju.


"Emang pelan, Dek. Tapi langsung kena di hati Aku panah asmara dari Kamu." kata Revan tersenyum.


"Ish. Dasar gombal." ucap Nisa tersipu malu.


"Hehe. Kalau senyum kan cantik. Ayo makan dulu. Kasihan jagoan Ayah kelaparan." kata Revan.


Mereka pun makan sepiring berdua dengan Revan yang memegang sendok. Ia sengaja hanya membawa satu sendok, agar tidak ada alasan Nisa untuk makan sendiri.


Nisa mencoba untuk melupakan kejadian tadi. Dia pun berharap isi pesan itu hanya salah kirim. Karena tidak ada nama dalam pesan tersebut. Mungkin hanya kebetulan jika yang di bahas adalah orang tua yang meninggal.


Nisa percaya bahwa suaminya tidak mungkin menyebabkan orang tuanya meninggal. Revan adalah orang baik.


2 minggu berlalu, Nisa sudah melupakan tentang pesan yang pernah Ia dapat dari nomor asing itu. Nisa lebih fokus pada kondisi anak yang dikandungnya.


Nisa selalu mencoba untuk berpikir positif. Namun tidak dengan hari ini. Ia kembali mendapatkan pesan dari nomor asing. Dan nomor ini berbeda dari nomor yang sebelumnya.


Nisa berjalan cepat menuju ke ruang kerja Revan yang letaknya berada di ujung lorong rumah tersebut. Nisa sangat jarang masuk ke dalam ruangan tersebut. Masuk pun hanya untuk menyapa atau mengantar minuman untuk Revan.


Tapi kali ini, Ia akan masuk ke dalam ruangan tersebut dengan maksud tertentu. Nisa menahan segala rasa di dalam hatinya.


Dia merasa seperti pencuri saat ini. Masuk ke ruangan suaminya di saat suaminya sedang pergi bekerja. Tapi ini adalah haknya.


Nisa perlahan membuka pintu tersebut. Nisa berusaha meyakinkan dirinya bahwa pesan tadi salah. Nisa mulai melihat-lihat isi ruangan tersebut. Sesekali Ia mengusap air matanya.


Nisa melihat sebuah pigura yang ada di meja kerja Revan. Foto Revan bersama dengan orang tuanya. Lalu Ia melihat pigura disebelahnya, foto Revan bersama Nenek.


Disebelahnya lagi, foto pernikahannya dengan Revan. Tapi ada satu pigura lagi yang Nisa tidak ketahui. Nisa mengambil pigura tersebut.


Nisa membolak-balikkan pigura tersebut. Dan terlihat ada tulisan tangan dibelakangnya.


Nisa terduduk lemas di lantai. Air matanya terus mengalir. Bahkan isakan tangisnya terdengar memilukan. Nisa merasa dia adalah wanita terbodoh yang ada di muka bumi ini.

__ADS_1


•••


__ADS_2