Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 37


__ADS_3

"Mas Revan!" teriak seorang wanita sambil mengetuk pintu mobil Revan.


Seketika Nisa dan Revan mengarahkan pandangan mereka kearah sumber suara. Terlihat Bella disana. Mereka saling menatap tanpa ekspresi.


"Buka aja, Mas. Mungkin ada hal penting yang mau disampaikan Bella sama Kita." ucap Nisa.


Revan mengangguk pelan lalu membuka kaca mobil.


"Ada apa, Bel?" tanya Revan.


"Ga apa-apa, Mas. Aku cuma mau ikut Mas Revan ke Jogja. Boleh ga?" tanya Bella dengan wajah memelas.


Revan menoleh ke arah Nisa. Sementara Nisa hanya menunduk. Nisa tidak tahu harus senang atau sedih saat ini.


"Memangnya Kamu mau berapa hari di Jogja?" tanya Revan.


"Mungkin 3 hari, Mas. Mumpung masih libur semester. Aku pengen liburan ke Jogja. Sekalian Aku mau kenal sama keluarga Mas Revan." jawab Bella dengan semangat.


Revan kembali menoleh ke arah Nisa. Nisa mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Ya udah Kamu masuk kalau mau ikut ke Jogja." ucap Revan.


"Aku ga boleh berpikiran jelek tentang adikku sendiri." kata Nisa dalam hati mencoba mengusir rasa cemasnya.


"Semoga dia ga bikin ulah." ucap Revan dalam hati.


"Misi di mulai." batin Bella sambil tersenyum penuh arti.


Saat sampai di rumah, Nisa langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan Nenek.


"Nenek. Nisa kangen banget sama Nenek. Nenek baik-baik saja, kan?" tanya Nisa khawatir.


Nisa segera memeluk Nenek saat Nenek sedang menonton televisi.


"Nenek juga kangen banget sama Kamu, Nduk. Kamu juga baik-baik aja, kan?" tanya Nenek sambil menciumi wajah Nisa.


"Nisa baik, Nek. Mas Revan juga baik." jawab Nisa.


"Oh iya. Revan nya mana? Kok ga bareng sama Kamu?" tanya Nenek.


"Astaga. Nisa lupa, Nek." sahut Nisa.


Nisa hendak berdiri untuk melihat Revan, namun Revan sudah ada dibelakangnya.


"Sama suami sendiri kok bisa lupa, Dek." kata Revan sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Mas. Abisnya Aku udah kangen banget sama Nenek. Ga sabar mau ketemu Nenek." sahut Nisa sambil bergelayut manja di lengan Revan.


"Hissh. Jijik banget lihatnya." kata Bella dalam hati.


Bella memalingkan wajahnya dari Revan dan Nisa.


"Oh iya, Nek. Nisa sampai lupa. Kenalin ini adik Nisa. Namanya Bella." ucap Nisa sambil menunjuk Bella.


"Bella, kenalin ini neneknya Mas Revan." lanjut Nisa.


Nenek memperhatikan penampilan Bella yang jauh sangat berbeda dengan Nisa.


"Pake baju kok yang kurang bahan kayak gitu." batin Nenek.


"Saya Bella, Nek." ucap Bella tersenyum.

__ADS_1


Bella tahu kalau Nenek tidak suka dengannya, terlihat dari caranya menatap Bella. Dan Nenek juga tidak menyahut ucapan Bella.


"Dia kesini mau liburan, Nek. Boleh kan kalau Bella nginep di sini? Cuma tiga hari kok, Nek. Boleh, ya?" tanya Nisa.


"Boleh, sayang. Apa sih yang ga buat Kamu." jawab Nenek.


Nenek tahu kalau sebenarnya Bella suka dengan Revan, terlihat dari tadi dia terus menatap Revan sambil tersenyum.


"Apa mungkin dia ikut ke sini untuk mendekati Revan?" tanya Nenek dalam hati.


"Nenek kok bengong?" tanya Nisa.


"Eh. Ga kok, Nduk. Nenek ga bengong. Oh iya, kalian sudah makan siang belum?" tanya nenek.


"Belum, Nek. Nisa pengen makan masakan Nenek." jawab Nisa.


"Ya udah ayo makan. Tadi Nenek sengaja masak makanan kesukaan Kamu, karena Nenek tahu hari ini kalian pulang." kata Nenek.


"Dari kemarin Nisa ribut pengen makan masakan Nenek. Makanya Dia ngajakin cepet pulang." ucap Revan.


"Kalau Nisa aja kangen sama nenek, apa Kamu ga kangen sama nenek? Dari tadi belum peluk Nenek lho." tanya Nenek menggoda.


"Ga sempet peluk Nenek. Dari tadi kan Nenek sibuk sama Nisa. Nenek sama Nisa sama aja, sama-sama ga inget sama Aku." kata Revan pura-pura kesal.


Revan berjalan menuju ke ruang makan. Disusul Nisa sambil berlari.


"Maaf, sayang. Gitu aja ngambek. Ntar gantengnya hilang lho." ucap Nisa yang langsung memeluk Revan.


"Hehe. Bisa aja Kamu." sahut Revan tersenyum sambil menarik hidung Nisa.


"Auuuh. Sakit, Mas." kata Nisa menepis tangan Revan.


"Makan yuk, Dek. Habis ini Aku mau makan Kamu." bisik Revan.


"Udah udah. Ayo makan dulu. Habis itu kalian langsung istirahat. Kalian pasti capek habis perjalanan jauh." kata Nenek yang sudah duduk di kursi.


"Iya, Nek." sahut mereka bersamaan.


Nisa duduk diantara Nenek dan Revan. Sementara Bella duduk di samping Bella.


Saat Nisa mau mengambil lauk untuk Revan, Bella mengambil piring dari tangan Nisa.


"Biar Aku aja yang ambil, Kak. Aku yang lebih dekat." ucap Bella tersenyum.


Nisa hanya mengangguk tanpa mau memperpanjang masalah. Meskipun Ia tahu saat ini Bella sedang berusaha mencari perhatian Revan. Tapi Nisa mencoba untuk tetap berpikir positif.


Sementara Revan, dia tidak nyaman dengan kelakuan Bella yang terlalu terang-terangan ingin mendekatinya. Sama halnya dengan Nenek yang dari tadi terus memandangi Bella.


Setelah mengambilkan lauk untuk Revan, Bella meletakkan piring tersebut di depan Revan.


"Silahkan, Mas." ucap Bella tersenyum.


"Terima kasih, Bel." sahut Revan.


Bella tersenyum sambil mengangguk.


Mereka pun makan siang dalam diam. Tak ada obrolan di ruang makan. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.


Nisa yang biasanya berisik saat makan pun hanya menunduk. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya seolah tidak berselera.


Selesai makan siang, mereka pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Nisa masih saja diam saat memasuki kamar.

__ADS_1


"Sayang." kata Revan sambil memeluk Nisa dari belakang.


"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Nisa.


"Aku lapar, Dek." jawab Revan.


"Hah? Kita kan baru aja selesai makan, Mas? Masa' udah laper lagi?" tanya Nisa heran.


"Aku mau makan Kamu, sayang." bisik Revan.


Nisa sebenarnya sedang tidak dalam keadaan baik, tapi dia harus melayani suaminya. Akhirnya dia pun mencoba untuk tersenyum saat Revan membalikkan badannya.


Mereka pun penuh keringat meski pendingin ruangan dalam keadaan menyala.


Sementara di kamar lain, Bella sedang sibuk memikirkan bagaimana caranya agar Ia bisa mendapatkan Revan. Bella mengingat sesuatu yang diucapkan ibunya tentang kematian orang tua Nisa. Dan Ia akan menggunakan itu untuk membuat Nisa berpisah dari Revan.


Bella tersenyum membayangkan kakak tirinya itu berpisah dari suaminya. Dan Ia akan hidup bahagia bersama Revan.


"Aku akan mendapatkan Kamu, Mas. Tunggu Aku." ucap Bella tertawa.


Tanpa Ia ketahui, Nenek mendengar ucapan Bella yang ingin merusak rumah tangga cucunya itu. Nenek segera melangkah pergi agar tidak ketahuan.


Kini Nenek sudah berada di dalam kamarnya. Nenek mondar-mandir memikirkan rencana licik Bella.


"Aku harus menggagalkan rencana Bella untuk memisahkan Revan dan Nisa. Aku juga tidak rela jika Revan memiliki istri seperti Bella. Dia bukan wanita baik-baik. Apalagi melihat bajunya yang kurang bahan itu, sangat menjijikkan." gumam Nenek.


Selama 3 hari Bella tinggal di rumah Nenek, dia terus berusaha untuk mencari perhatian Revan. Berulangkali pula Nenek selalu mengacaukan rencananya.


Revan dan Nisa selalu terlihat harmonis meskipun terkadang terjadi perdebatan kecil. Dan itu semakin membuat Bella geram.


Bella ingin mempercepat aksinya, tapi waktunya belum tepat. Bella harus bersabar untuk bisa mendapatkan Revan.


Hari ini adalah hari di mana Bella akan kembali pulang.


Awalnya Bella meminta Revan untuk mengantarnya pulang, tapi ternyata Revan tidak bisa dengan alasan ada meeting penting di kantor. Hingga akhirnya Nenek meminta sopir untuk mengantarnya. Namun Bella menolak.


Akhirnya Bella pulang dengan naik taksi. Tapi bukan pulang ke rumah. Melainkan ke hotel yang ada di Jogja. Bella akan mulai menjalankan misinya untuk memisahkan Revan dan Nisa.


Hari-hari setelah Bella pergi, mereka jalani seperti biasa. Nenek senang karena sudah tidak ada peganggu dirumahnya. Namun Nenek tetap menyuruh orang untuk mengawasi Bella.


Beruntung Nenek menyuruh orang untuk mengawasi Bella, jadi Ia tahu bahwa Bella kini masih di Jogja. Hati Nenek kembali was-was.


"Nisa." panggil Nenek dari depan kamar Nisa.


"Iya, Nek. Sebentar." sahut Nisa.


"Ada apa, Nek? Maaf Nisa tadi ketiduran, Nek." tanya Nisa menunduk.


Nenek meraih dagu Nisa dan menatapnya.


"Kamu sakit, Nduk? Tumben jam segini tidur?" tanya Nenek khawatir melihat wajah Nisa pucat.


"Nisa ga sakit kok, Nek. Nisa cuma lemes aja. Oh, iya. Tadi Nenek panggil Nisa ada apa?" tanya Nisa.


"Nenek cuma mau ngasih ini, sayang." jawab Nenek sambil menyerahkan sebuah kotak kecil.


"Ini apa, Nek?" tanya Nisa bingung.


"Kamu buka aja, Nduk." sahut Nenek.


Nisa begitu penasaran dengan isi kotak tersebut. Tapi dia tidak mau membuat Nenek kecewa. Akhirnya dia membuka kotak kecil yang diberikan oleh Nenek.

__ADS_1


•••


__ADS_2