
Terdengar suara ketukan di kaca mobil. Seketika Nisa dan Revan menoleh kearah suara.
"Keluar. Kalian mau digerebek warga ya." ucap Rika.
Revan segera membuka kaca mobilnya. Revan dan Nisa pun tersenyum bersamaan.
"Maaf Rika. Lagian kita juga baru sampai 5 menit yang lalu." kata Revan tersenyum.
"Iya Rik. Kamu nih ganggu aja." kata Nisa pura-pura kesal.
"Apa? Aku ganggu kalian?" tanya Rika sedikit teriak.
"Iya. Kamu udah ganggu kita. Kamu udah jadi orang ketiga di antara kita." jelas Nisa.
"Orang ketiga? Maksud kamu aku setan gitu? Enak aja kamu kalau ngomong. Cepetan keluar. Kalau ga keluar, aku kunci pintu rumah biar kamu tidur di teras aja." ucap Rika kesal sambil berjalan cepat masuk ke kontrakan.
"Ayo turun Mas. Rika udah kesal tuh." kata Nisa sembari membuka pintu mobil.
"Lagian kamu juga sih ngomong gitu sama Rika. Jelas dia ngambek lah." sahut Revan.
"Lhooh emang aku ngomong apaan? Perasaan biasa aja deh." ucap Nisa.
"Itu yang tentang setan." kata Revan sembari menutup pintu mobil lalu menggandeng tangan Nisa.
"Kan dia sendiri yang ngomong gitu. Aku kan cuma ngomong orang ketiga." ucap Nisa sambil terus berjalan masuk rumah.
"Rika jangan ngambek gitu dong. Jelek tau." kata Nisa saat melihat Rika sahabatnya itu sedang duduk di sofa sambil memegang ponselnya dengan bibir yang manyun. Rika masih tidak menghiraukan perkataan Nisa.
"Rika sayang. Aku ada oleh-oleh lho buat kamu." ucap Nisa tersenyum menggoda.
Dalam hati Rika sebenarnya tidak marah pada Nisa, tapi hanya dengan cara ini Nisa keluar dari mobil. Rika masih mendiamkan Nisa, meskipun dalam hatinya menginginkan oleh-oleh yang dibawakan oleh Nisa.
"Yakin nih ga mau? Ya udah kalau kamu mau. Biar aku sama Mas Revan aja yang makan ikan bakarnya. Kamu pasti nyesel nolak ini. Ikan bakarnya uenaaak banget. Iya kan Mas?" tanya Nisa sambil melirik Revan. Revan yang mengerti maksud Nisa pun ikut memainkan perannya.
"Iya Dek enak banget. Kalau Rika ga mau kita makan aja." sahut Revan menahan tawa.
"Aku ambil piring dulu ya Mas." ucap Nisa sembari berjalan menuju dapur untuk mengambil piring.
Tak lama kemudian Nisa kembali dengan membawa piring di tangannya. Nisa melihat Rika masih sibuk dengan ponselnya.
"Ayo Mas kita makan lagi. Kita makan sepiring berdua ya." kata Nisa.
"Kalian kan tadi udah makan. Yang ini buat aku. Katanya oleh-oleh buat aku? Kok malah kalian makan? Ntar matanya bintitan baru tau rasa kalian." ucap Rika sembari mengambil piring yang ada di tangan Nisa.
Nisa menoleh ke arah Revan lalu tertawa terbahak-bahak bersama. Rika yang ngambek cukup dikasih makan udah hilang ngambek nya.
"Haha. Tadi sok-sokan nolak. Sekarang makannya kayak ga makan 2 hari aja." kata Nisa yang masih terus tertawa.
"Biarin. Kalau ga gini kalian ga bakal keluar dari mobil. Keburu warga pada dateng terus gerebek kalian. Baru tau rasa." kata Rika sambil melahap makanannya.
"Lagian kita juga ga ngapa-ngapain kok tadi di mobil. Cuma ngobrol. Soalnya kalau ngobrol di sini kan pasti kamu gangguin terus." kata Nisa.
"Helooo. Siapa yang selama ini gangguin orang pacaran? Kamu Nisa. Baru ngerasain pacaran sekali aja udah ga tau diri gitu." ucap Rika.
"Kita ga pacaran kok Rika." kata Revan.
"Ga pacaran? Terus kenapa dari tadi itu tangan nyangkut ga bisa dilepas? Apa ada lemnya?" tanya Rika sembari menunjuk ke arah tangan Nisa dan Revan yang bergandengan.
"Hehe." senyum Revan dan Nisa berbarengan.
"Kita mau nikah Rik." ucap Nisa kemudian.
Uhukk. Uhukk. Uhukk.
Nisa segera berlari menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Lalu dia kembali ke ruang tamu dan menyerahkan air minum itu pada Rika. Rika segera menenggaknya sampai habis.
"Pelan-pelan aja kali Rik. Kita ga minta kok. Kita kan udah kenyang ya Dek." kata Revan sambil menoleh ke arah Nisa.
"Iya betul Rik kata Mas Revan. Kita udah kenyang banget tadi makan banyak." ucap Nisa sembari mengusap-usap perutnya.
Rika memandangi wajah Revan dan Nisa secara bergantian. Dia terkejut dengan perkataan Nisa barusan.
"Nis." ucap Rika.
"Iya Rik." sahut Nisa.
__ADS_1
"Kamu beneran mau nikah sama Mas Revan?" tanya Rika sembari menatap tajam ke arah Nisa.
"Yakin Rik. Mungkin Mas Revan adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuk aku." kata Nisa lalu menoleh ke arah Revan dari sampingnya.
"Kamu yakin Nis?" tanya Rika lagi.
"Yakin Rik." kata Nisa.
"Terus orang tua kamu gimana? Kuliah kamu gimana?" tanya Rika penasaran.
"Setelah menikah, Nisa akan menjadi tanggung jawabku. Dalam hal apapun. Termasuk biaya kuliah." sahut Revan lalu menatap wajah Nisa sambil tersenyum.
Rika hanya membulatkan matanya melihat kejadian besar yang terjadi dihadapannya.
"Apa ini mimpi?" ucap Rika sambil memegangi kepalanya.
Nisa menoleh ke arah Revan lalu berbisik kepadanya.
"Kamu pulang dulu aja Mas. Biar aku bicara 4 mata sama Rika." ucap Nisa berbisik.
"Ya udah Dek ga apa-apa. Aku pulang dulu ya. Kamu hati-hati. Jangan berantem sama Rika." kata Revan tersenyum sambil mengusap kepala Nisa lembut lalu mengecup keningnya.
"Iya Mas. Mas jangan khawatir soal itu." sahut Nisa tersenyum.
"Rika. Aku pulang dulu ya. Udah malem banget nih. Takutnya nanti di gerebek warga." kata Revan pada Rika yang masih memegangi kepalanya.
"Oh iya Mas Revan. Hati-hati kalau mau pulang. Dan terima kasih atas ikan bakarnya. Asli ini enak banget." ucap Rika sambil menunjuk ikan bakar didepannya.
"Iya sama-sama Rik. Aku nitip Nisa ya Rik." kata Revan sembari berdiri dari duduknya.
"Iya Mas. Beres." sahut Rika tersenyum.
"Aku antar keluar Mas." ucap Nisa tersenyum.
Revan hanya mengangguk dan tersenyum pada Nisa. Revan dan Nisa pun berjalan bergandengan tangan menuju depan rumah.
"Aku pergi dulu ya Dek. Besok aku kesini lagi. Jaga diri baik-baik. Jelasin sama Rika pelan-pelan. Jangan pake emosi." kata Revan sambil menatap wajah Nisa.
"Iya Mas. Santai aja lagi. Rika itu baik. Dia ga akan jahatin aku." ucap Nisa.
Sementara Nisa masih menunggu mobil Revan hingga tidak terlihat lagi. Setelah mobil Revan tidak terlihat lagi, Nisa segera melangkah masuk ke dalam rumah.
Saat sudah masuk ke dalam rumah, Nisa segera mengunci pintu lalu duduk di hadapan Rika. Nisa merasa akan menghadapi sidang. Rika masih sibuk dengan ponselnya.
"Rika." ucap Nisa kemudian.
"Hemm." sahut Rika.
"Besok Mas Revan mau kesini buat lamar aku." kata Nisa gemetaran.
"Apa kamu udah benar-benar yakin Nis? Ini pernikahan lho, bukan hal yang main-main." tanya Rika sembari meletakkan ponselnya.
"Aku udah yakin Rika. Aku udah memikirkannya semalam. Dan semoga ini keputusan yang tepat." kata Nisa.
"Apa kamu sudah kasih tau orang tua kamu kalau Mas Revan mau kesini buat lamar kamu?" tanya Rika lagi.
"Belum. Nanti aku akan memberitahu mereka. Semoga mereka mau datang." ucap Nisa sembari menunjukkan kepala.
"Kalau memang kamu sudah yakin dengan keputusan ini, aku dukung kamu. Dan pastinya semoga kamu bahagia. Aku hanya takut kamu akan tersakiti nantinya. Kalian baru saja saling mengenal. Bahkan belum genap satu minggu. Kamu belum mengetahui bagaimana dia sesungguhnya." kata Rika.
"Insyaallah aku tidak akan tersakiti Rika. Tuhan pasti menjagaku." ucap Nisa.
"Nisa. Aku nanti tinggal sama siapa kalau kamu nikah?" ucap Rika yang langsung memeluk Nisa dan menangis tersedu-sedu.
"Kamu nanti nikah aja sama Mas Bayu. Lagian dia kan juga udah ngebet nikah sama kamu. Ntar di ambil orang baru nyesel lho kamu." ucap Nisa yang ikut menangis.
"Aku belum siap nikah Nis. Apalagi sekarang Mas Bayu kan lagi memulai karirnya. Kasian kalau dia harus ribet dengan pekerjaan dan aku." kata Rika sambil melepaskan pelukannya.
"Siap ga siap kalau udah jodoh ya pasti bakalan nikah Rik." ucap Nisa.
"Oh iya Nis. Aku mau lanjutin makan dulu. Tadi belum kelar gara-gara kamu ngasih tau mau nikah, aku jadi keselek kan." kata Rika sembari mengambil piring yang ada dimeja kemudian ia melanjutkan makan ikan goreng.
"Rika. Rika. Lagi keadaan kayak gini aja kamu masih mikirin makanan." ucap Nisa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ga apa-apa lah Nis. Dari pada nanti ga bisa tidur gara-gara masih lapar. Lagian kan sayang kalau makanan di buang." kata Rika yang terus melahap makanannya.
__ADS_1
"Dasar perut bagor." ucap Nisa.
"Kayak kamu ga aja Nis. Kita kan masih satu spesies." kata Rika.
"Enak aja. Ogah aku satu spesies sama kamu. Badan kurang gizi gitu." sahut Nisa.
"Gini-gini kan yang penting laku Nis. Haha." kata Rika tertawa terbahak-bahak hingga dia tersedak lagi.
Uhukk. Uhukk. Uhukk.
"Makanya kalau lagi makan jangan banyak ngomong. Keselek lagi kan." kata Nisa sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum untuk Rika. Tak lama kemudian Nisa sudah kembali dengan sebotol air putih.
"Nih aku ambilkan banyak sekalian. Biar nanti kalau keselek lagi tinggal minum. Aku ga perlu repot-repot ambil buat kamu." ucap Nisa sembari memberikan botol air minum tersebut. Rika segera meminumnya.
"Jahat kamu Nis do'ain aku biar keselek lagi. Ini kayaknya kalian ga ikhlas ya kasih aku makanan? Dari tadi keselek mulu." kata Rika yang kembali melahap makanannya.
"Sedikit sih Rik. Hehe." ucap Nisa tersenyum.
"Tuh kan bener dugaan aku kalau kalian ga ikhlas ngasih aku makanan." kata Rika.
"Cuma dikit Rika ga ikhlas nya. Beneran deh. Sebenarnya sih kita tadinya ikhlas. Tapi gara-gara kamu gangguin kita tadi jadi ya sedikit ga ikhlas deh. Jadi kamu sendiri yang buat kita ga ikhlas ngasih makanan itu buat kamu." jelas Nisa.
"Bisa banget ya kamu memutarbalikkan fakta. Kalau tadi aku ga gangguin kalian, mungkin sekarang kalian udah diarak warga keliling kampung. Mau kamu? Ga malu?" kata Nisa sembari menatap tajam ke arah Nisa.
"Ya ga lah. Tadinya aku juga udah mau turun Rik. Tapi Mas Revan ngunciin aku. Katanya masih mau berduaan sama aku." ucap Nisa menjelaskan apa yang terjadi.
"Itu mah akal-akalan kamu aja kayaknya. Kan kamu yang kegenitan sama Mas Revan. Makanya Mas Revan nahan kamu biar ga keluar." kata Rika.
"Beneran Rik." ucap Nisa.
"Ga yakin aku." kata Rika.
"Ya udah kalau kamu ga yakin. Sini makanannya biar aku makan aja." ucap Nisa mencoba mengancam Rika.
"Ya silahkan kalau mau makan duri ikan. Sekalian di buang ya sampahnya." kata Rika sambil melangkah pergi meninggalkan Nisa sendiri di tempat itu. Lalu Nisa melihat piring yang ada dimeja. Benar saja tinggal duri ikan.
"Rika!" teriak Nisa.
Rika tak menyahut. Kini dia sudah bersembunyi di dalam kamarnya. Nisa menghampiri kamar Rika. Nisa mencoba membuka pintu kamar Rika namun di kunci dari dalam. Lalu Nisa mengetuk pintu namun tak ada sahutan. Terakhir dia menggedor-gedor pintu kamar Rika.
"Rika! Keluar! Ga sopan kamu ya. Udah dikasih makan malah ga mau beresin itu sampahnya." teriak Nisa dari luar kamar Rika sambil terus menggedor-gedor pintu kamar.
"Kan tadi kamu bilang mau makan Nis. Ya kamu makan dulu itu duri ikannya. Kalau udah nanti aku beresin deh sampahnya." kata Rika dari dalam kamar.
"Kamu kira aku ini kucing disuruh makan duri ikan?" tanya Nisa yang mulai kesal.
"Kan kamu yang mau." sahut Rika.
"Rika! Awas ya kamu besok pagi. Aku makan kamu sampai habis." kata Nisa sambil berjalan meninggalkan kamar Rika menuju kamarnya sendiri.
Nisa berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sungguh lelah hari ini. Nisa mengganti pakaiannya dengan sebuah daster pendek. Itu adalah baju favoritnya yang diberikan oleh sahabatnya, Rika.
Selesai mengganti pakaiannya, Nisa merebahkan badannya di atas kasur sembari menatap langit-langit kamar.
"Terima kasih atas semua yang Kau berikan padaku ya Allah. Semoga ini yang terbaik untuk semuanya." gumam Nisa.
Nisa memakai selimutnya dan mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian Nisa sudah terlelap.
Keesokan harinya Nisa sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Dia berdiri di depan pintu kamar Rika. Ya. Pagi ini dia akan meneruskan omelannya semalam yang tertunda.
"Baa!" teriak Nisa saat melihat Rika keluar dari kamarnya.
"Aaa!" teriak Rika terkejut melihat Nisa sudah berada di depan kamarnya. Rika mengusap-usap dadanya karena terkejut.
"Kamu ngapain sih pagi-pagi ada di depan kamar aku? Mau numpang mandi ya?" tanya Rika tanpa merasa bersalah.
"Ga lah. Aku kesini kan mau makan kamu. Tadi malam kan aku gagal makan kamu. Haha." ucap Nisa tertawa.
Tok. Tok. Tok.
•••
__ADS_1