
"Ga akan, Dek. Buat apa aku main sama yang lain kalau main sama kamu aja aku udah puas." kata Revan tersenyum.
"Ih. Mas Revan mesum banget. Lagi bahas apa, jawabnya apa." gerutu Nisa.
"Tapi kamu suka, kan?" tanya Revan menggoda.
"Apaan sih? Udah ah." jawab Nisa yang langsung menatap keluar jendela mobil.
Nisa tersenyum sambil melihat kendaraan yang melintas.
"Liat sini lho, sayang. Masa' suami ganteng gini dianggurin." ucap Revan.
"Bukan suami ganteng. Kamu mah suami mesum." sahut Nisa.
"Ya ga apa-apa lah, Dek. Yang penting mesumnya cuma sama istri tercinta." kata Revan sambil mengecup tangan Nisa.
"Udah, Mas. Fokus nyetir aja. Ini udah mau sampai belum?" tanya Nisa.
"Bentar lagi, Dek. Tinggal belok kiri. Udah sampai." jawab Revan sambil mengarahkan mobilnya ke sebuah rumah mewah.
Revan membunyikan klakson mobil, tak lama kemudian keluarlah seorang laki-laki paruh baya yang membuka pintu gerbang rumah tersebut.
"Ini rumah siapa, Mas?" tanya Nisa kagum.
"Rumah nenek, Dek. Kita akan tinggal di sini. Kamu mau kan, sayang?" tanya Revan balik.
"Rumahnya besar banget, Mas. Nanti kalau kamu udah ada uang kita beli yang kecil aja ya, Mas. Biar ga repot bersihinnya." ucap Nisa polos.
Revan tersenyum mendengar ucapan Nisa.
"Bukannya kamu mau tinggal sama nenek ya?" tanya Revan.
"Oh iya, ya. Tapi kalau sebesar ini, aku capek beres-beres nya, Mas." sahut Nisa.
"Kamu ga usah beres-beres, Dek. Rumah ini sudah ada yang beres-beres. Kamu cukup jadi istri aku aja." ucap Revan.
"Tapi, Mas," ujar Nisa.
"Kita masuk ya, Dek. Nenek pasti udah nungguin kita dari tadi." ajak Revan.
Nisa hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Mereka segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam rumah mewah tersebut. Sementara barang-barang Nisa diangkat oleh sopir dan satpam yang ada di rumah itu menuju ke kamar Revan.
"Nisa! Akhirnya kamu datang, sayang. Nenek kangen banget sama kamu. Gimana kabar kamu setelah menikah, Nduk?" tanya Nenek yang langsung memeluk Nisa.
"Nisa juga kangen sama Nenek. Kabar Nisa baik kok, Nek. Kabar Nenek gimana? Baik juga kan?" tanya Nisa balik.
"Nenek sangat baik, sayang. Apalagi setelah kalian menikah, Nenek merasa lega sekali. Kita duduk dulu ya, Nduk." ajak Nenek sambil menarik tangan Nisa.
"Revan ga ditanyain kabar, Nek?" tanya Revan.
"Nenek tau kamu baik-baik aja, Le. Hanya dengan melihat raut wajah kamu." sahut Nenek.
Revan hanya menghela nafas. Sementara Nenek serta istrinya justru tertawa melihat respon Revan.
"Kita istirahat di kamar dulu ya, Nek. Capek dari tadi belum istirahat." ucap Revan sambil menarik tangan Nisa.
"Tapi, Mas. Aku kan masih kangen sama Nenek." sahut Nisa.
"Nanti masih ketemu lagi, Dek." kata Revan.
Nisa akhirnya menurut perkataan suaminya.
"Nek. Nisa ikut Mas Revan dulu ya. Nanti Nisa kesini lagi." ucap Nisa.
"Iya, sayang. Kamu hati-hati ya sama Revan." sahut Nenek tersenyum menggoda.
Revan mengajak Nisa menaiki tangga menuju ke kamarnya. Nisa melihat-lihat sekeliling ruangan. Saat tiba di depan kamar, Nisa terdiam.
"Ayo masuk, Dek. Kita istirahat dulu." ucap Revan.
"Iya, Mas." sahut Nisa yang langsung masuk ke dalam kamar tersebut.
Nisa melihat ke sekeliling kamar Revan. Nisa kagum dengan penataannya.
"Mas. Kamar kamu bagus banget. Luas lagi." kata Nisa.
"Kamar kita, sayang." sahut Revan yang langsung memeluk Nisa dari belakang.
Revan meletakkan dagunya di pundak Nisa. Bahkan Nisa dapat merasakan hembusan nafas Revan.
"Mas. Jangan kayak gini dong. Geli ah." kata Nisa sambil mencoba melepaskan tangan Revan.
"Biarkan seperti ini sebentar, Dek." ucap Revan.
Nisa pun akhirnya diam. Lama-kelamaan, Revan mengarahkan bibirnya ke leher Nisa. Nisa merasakan sensasi yang berbeda saat Revan melakukan itu. Geli tapi nikmat.
Akhirnya mereka bermain-main hingga kelelahan. Bahkan Nisa yang tidak kuasa menahan kantuk pun langsung terlelap.
Nisa bangun saat waktu sudah menunjukkan pukul 16:50. Nisa melihat ke sekeliling kamar, tidak ada Revan disana. Nisa segera berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, Nisa melihat Revan sedang duduk di sofa sambil memainkan laptopnya.
"Kamu sudah selesai mandi, Dek?" tanya Revan tanpa menoleh.
"Sudah, Mas. Kamu tadi kemana? Kok pas aku bangun udah ga ada?" tanya Nisa.
"Tadi aku keluar nemuin asisten ku. Dia kesini buat nganter berkas yang harus aku tandatangani." jawab Revan.
Nisa menghampiri Revan dan duduk di sebelahnya.
"Katanya cuti sebulan?" tanya Nisa tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Maunya gitu, Dek. Tapi ya gimana lagi. Yang pasti aku akan tetap dirumah buat nemenin kamu. Oh, Iya. Kamu siap-siap ya. Besok pagi kita akan jalan-jalan." kata Revan sambil mengecup pipi Nisa.
"Jalan-jalan kemana, Mas?" tanya Nisa.
Nisa tersenyum sambil memegang lengan Revan karena begitu antusias.
"Nanti kamu akan tau, Dek. Sekarang cium aku dulu." kata Revan.
Revan segera meletakkan laptopnya. Lalu ia menghadap ke arah Nisa sambil memajukan bibirnya. Lalu ia menutup matanya.
Cup.
"Kok bibir kamu rasanya beda, Dek?" tanya Revan.
Nisa tersenyum geli.
"Masa' sih, Mas?" tanya Nisa menahan tawa.
"Beneran, Dek. Biasanya ga kayak gini rasanya." jawab Revan.
Revan membuka matanya perlahan dan terlihat Nisa yang sedang menahan tawa sambil menunduk.
"Kamu ngerjain aku, ya?" tanya Revan curiga.
Nisa segera menoleh ke arah Revan yang sedang menatapnya tajam.
"Eh. Siapa yang ngerjain kamu? Kamu ada-ada aja." sahut Nisa dengan senyum terpaksa.
"Jangan bohong, Dek. Kamu itu paling ga bisa bohong sama aku." kata Revan sambil bergerak mendekat ke arah Nisa.
"Beneran, Mas. Mana berani aku bohongin kamu." ucap Nisa.
"Kamu yakin?" tanya Revan.
"Yakin, Mas." jawab Nisa.
"Tapi aku ga percaya. Kalau kamu ga jujur, kita ga jadi jalan-jalan." kata Revan.
"Eh. Ya ga bisa gitu dong, Mas. Oke. Aku jujur." ucap Nisa sambil menghela nafas.
"Apa?" tanya Revan.
"Tadi kamu cuma cium tangan aku. Hehe." jawab Nisa tersenyum.
"Tuh, kan. Kamu udah mulai nakal sekarang." ucap Revan.
"Maaf, Mas. Abis ekspresi wajah kamu tadi lucu banget." kata Nisa yang langsung tertawa terbahak-bahak.
"Huh. Berhubung kamu udah ngerjain aku, sekarang gantian aku yang ngerjain kamu." ucap Revan sambil menghimpit tubuh Nisa.
"Eh. Kamu mau ngapain, Mas?" tanya Nisa panik.
"Ya mau ngerjain kamu lah, Dek. Memangnya mau apalagi?" tanya Revan sambil tersenyum.
"Biarin. Ini hukuman buat kamu karena udah berani ngerjain aku." sahut Revan.
"Tapi, Mas. Ini kan udah hampir jam makan malam. Kita pasti ditungguin sama Nenek di bawah." kata Nisa gemetaran.
"Biarin aja. Nenek akan mengerti." sahut Revan.
"Tapi, Mas. Aku kan baru aja selesai mandi." ucap Nisa.
"Terus kenapa?" tanya Revan.
"Ya, masa' mau mandi lagi?" sahut Nisa.
"Lagian siapa juga yang suruh kamu mandi? Ga mandi juga ga apa-apa kok." kata Revan.
"Tapi kan ga enak sama Nenek. Masa' kita lagi makan, bau itu." ucap Nisa.
"Emang itu apaan sih, dek?" tanya Revan tersenyum.
"Itu ya itu, Mas." jawab Nisa salah tingkah.
"Emang kita ngapain, Dek. Orang kita ga ngapa-ngapain kok." sahut Revan.
"Terus Mas Revan mau ngapain ini dekat-dekat aku?" tanya Nisa.
"Emang ga boleh kalau deket sama istri sendiri." ucap Revan.
"Ya boleh sih." sahut Nisa.
"Kamu mikir kalau kita mau nyetak anak ya, Dek?" tanya Revan tersenyum menggoda.
"Hah? Apaan sih, Mas? Siapa juga yang mikir kayak gitu? Itu mah yang ada di kepala kamu." jawab Nisa sambil mendorong tubuh Revan.
Namun tubuh Revan sama sekali tidak berpindah tempat.
"Mikir itu juga ga apa-apa kali, Dek. Aku ga masalah kok kalau kita lanjut nyetak anak sekarang." kata Revan.
"Ih. Minggir, Mas. Aku ga mau. Lagian aku udah mandi bersih wangi kayak gini." ucap Nisa.
"Tuh, kan. Kamu tadi mikirin nyetak anak." kata Revan menggoda.
Nisa yang sadar dengan ucapannya pun langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"Mana ada aku mikirin nyetak anak. Aku cuma mikir enaknya malam ini makan apa ya?" tanya Nisa.
"Haha. Kamu ga bisa bohong sama aku, sayang. Ayo kita lanjut nyetak anak. Biar cepat jadi." kata Revan sambil menarik tengkuk Nisa.
"Tapi, Mas," ujar Nisa.
__ADS_1
Belum sempat Nisa melanjutkan ucapannya, Revan sudah mulai beraksi untuk mencetak anak. Dan entah berapa lama mereka melakukan itu. Yang pasti mereka keluar kamar untuk makan malam saat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Tuh kan gara-gara kamu, kita ga bisa makan malam bareng Nenek." kata Nisa sambil menyantap makanan di piringnya.
"Ya biarin. Lagian Nenek juga ga akan marah kalau kita udah berhasil nyetak anak." ucap Revan.
Nisa tersedak saat mendengar ucapan Revan. Revan segera mengambilkan air minum untuk Nisa.
"Pelan-pelan, Dek. Kamu ga sabar buat lanjut nyetak anak ya?" tanya Revan asal.
"Kamu ngomong apaan sih, Mas?" tanya Nisa sambil memukul lengan Revan.
"Nyetak anak." jawab Revan singkat.
Nisa memutar bola matanya jengah.
"Terserah kamu aja, Mas." sahut Nisa.
Nisa segera menghabiskan makanannya dan berjalan menuju ke kamar. Revan pun berlari mengejar istrinya yang pergi meninggalkannya.
"Dek. Tunggu dong. Kamu cepet amat sih jalannya?" tanya Revan.
"Aku udah ngantuk, Mas. Aku mau tidur." jawab Nisa.
"Yakin kamu mau tidur? Kita ga nyetak anak dulu nih?" tanya Revan.
"Ga! Aku capek. Lagian aku harus nyiapin tenaga buat besok." jawab Nisa.
"Emang besok mau ngapain, sayang?" tanya Revan.
"Kita kan mau jalan-jalan, Mas. Jangan bilang kalau kamu lupa?" tanya Nisa curiga.
"Aku ga lupa, sayang." jawab Revan.
"Ya udah kita tidur." ucap Nisa.
Mereka akhirnya tidur setelah sebelumnya Revan mencium kening Nisa.
Keesokan harinya, saat Revan dan Nisa turun ternyata Nenek sudah menunggu mereka di meja makan.
"Rapi bener pagi ini. Pada mau kemana sih?" tanya Nenek tersenyum.
Nenek bahagia saat melihat senyum tersungging di bibir Revan dan Nisa.
"Mas Revan katanya mau ngajak Nisa jalan-jalan, Nek. Tapi ga tau ini mau diajak kemana." jawab Nisa polos.
"Nenek ga diajak, Le?" tanya Nenek sambil menatap ke arah Revan.
"Ga, Nek. Revan ga mau kalau Nenek kecapekan. Nenek dirumah aja nunggu hasil." sahut Revan.
"Bilang aja kalau kamu ga mau ke ganggu sama Nenek." kata Nenek.
Revan hanya tersenyum. Setelah selesai sarapan, mereka segera pergi meninggalkan rumah itu.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih, Mas?" tanya Nisa penasaran.
"Nanti kamu akan tahu, sayang." jawab Revan.
Nisa akhirnya diam. Percuma bertanya kalau jawabannya seperti itu.
"Lhooh, Mas. Kita mau ngapain ke bandara?" tanya Nisa bingung.
"Jalan-jalan, Dek." jawab Revan singkat.
"Jalan-jalan kok kebandara sih, Mas? Emangnya aku anak kecil di ajak liat pesawat terbang?" tanya Nisa kesal.
"Kita kesini bukan liat pesawat, Dek. Kita naik pesawat." sahut Revan.
Nisa terdiam menghentikan langkahnya. Seolah bibirnya tak mampu bersuara.
"Ayo, sayang." ajak Revan sambil menarik tangan Nisa.
Nisa hanya menurut saja. Percuma dia menanyakan kemana tujuan mereka, pasti Revan tidak akan menjawabnya dengan jelas.
Di dalam pesawat, Nisa masih diam sambil menatap ke arah luar pesawat. Ini adalah pengalaman pertamanya naik pesawat. Dan dia bingung dengan perasaannya. Dia senang karena akhirnya bisa naik pesawat. Dia kesal karena Revan tidak membicarakan hal ini sebelumnya. Dia takut karena ini pengalaman pertama.
Sesekali Revan mengajaknya bicara, namun hanya anggukan dan gelengan kepala yang Revan dapatkan. Revan tahu bahwa Nisa sedikit kesal, tapi Revan harus menahan agar kejutannya berhasil.
Saat pesawat sudah mendarat, Nisa masih saja diam. Namun seketika senyumnya mengembang saat ia melihat Pak Sugi, Bu Ani, Rika, Bayu, serta Nenek ada di bandara tersebut.
Nisa segera menghampiri mereka dan memeluk Rika.
"Kok kalian ada di sini sih? Tau gitu kan tadi aku ada temen di dalam pesawat." tanya Nisa kesal.
"Kamu kan udah ditemenin sama suami kamu. Lagian kita juga ga mau gangguin pengantin baru." jawab Rika.
"Apaan sih, Rik?" tanya Nisa kesal.
"Sebenarnya kita tadi juga duduk dibelakang kamu, Nduk. Tapi kamunya aja yang ga sadar dengan kehadiran kita. Sibuk sama suami kamu." kata Pak Sugi tersenyum menggoda.
"Mana ada, Pak? Sepanjang perjalanan, Nisa cuma diemin aku. Udah kayak punya istri patung aja." sindir Revan.
"Enak aja bilang aku patung. Lagian kamu juga ga kasih tau soal ini. Gimana ga kesel coba?" tanya Nisa sambil mencubit pinggang Revan.
"Ya maaf, Dek. Namanya juga mau kasih kejutan, masa' bilang-bilang." jawab Revan sambil mengusap pinggangnya yang perih.
"Udah, udah. Kok malah jadi berantem di sini. Ayo kita lanjut ke villa aja sekarang. Nenek udah capek pengen istirahat." kata Nenek melerai.
"Iya, Nek." sahut mereka bersamaan.
Mereka pun berjalan menuju ke mobil yang ternyata itu adalah milik Nenek. Ada 2 mobil yang akan membawa mereka menuju ke villa.
__ADS_1
•••