Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 46


__ADS_3

Revan, Nenek serta Adit segera mengalihkan pandangannya mereka ke pintu UGD. Dokter Andra sudah berdiri di depan pintu dengan wajah lesu. Revan bergegas menghampiri dokter Andra.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Revan khawatir.


"Alhamdulillah, baik. Beruntung segera di bawa ke rumah sakit. Karena kalau telat 5 menit saja, hasilnya sudah berbeda lagi." jawab dokter Andra.


Revan langsung bersujud syukur setelah mendengar ucapan dokter Andra. Sementara Nenek menangis bahagia sambil memeluk Adit.


Revan kembali berdiri dan menghapus air matanya.


"Anak saya bagaimana, Dok?" tanya Revan.


"Baik, Mas. Tadinya memang sempat detak jantungnya lemah, tapi sekarang sudah kembali normal." jawab dokter Andra.


"Apa saya boleh masuk?" tanya Revan lagi.


"Boleh. Tapi jangan mengajak pasien bicara dulu. Biarkan dia istirahat." sahut dokter Andra.


"Terima kasih, Dok." ucap Revan sambil menjabat tangan dokter Andra.


Dokter Andra mengangguk pelan dan tersenyum. Kemudian Ia beranjak ke ruangannya.


"Dit. Tolong anterin Nenek pulang ya." ucap Revan.


"Tapi Nenek mau ikut jagain Nisa, Le." sahut Nenek.


"Ini udah malem, Nek. Lebih baik Nenek pulang dulu. Besok pagi bisa kesini buat jagain Nisa." kata Revan.


"Ya udah kalau gitu. Nenek pulang dulu." sahut Nenek.


"Ayo Kita pulang, Dit." ajak Nenek.


Adit pun mengangguk dan berjalan di belakang Nenek. Sementara Revan perlahan membuka pintu dan masuk ke dalam menyusul Nisa.


Revan menarik kursi dan duduk di samping ranjang Nisa. Revan meraih tangan Nisa dan menciumnya.


"Maaf ya, Dek. Karena kelalaian ku, Kamu jadi kayak gini." ucap Revan.


Revan mengusap pelan wajah Nisa yang lebam akibat tamparan keras dari Bella.


"Ini pasti sakit banget ya, sayang. Seandainya Aku dapat menggantikan posisi Kamu, Aku rela merasakan sakit Kamu alami sekarang." kata Revan.


Kini tangan Revan berpindah ke perut Nisa yang buncit.


"Makasih ya, sayang. Anak ayah udah mau jagain bunda. Udah mau bertahan buat ayah sama bunda. Ayah janji, ayah akan jaga kalian dengan baik. Maaf karena ayah sudah hampir mencelakakan Kamu dan bunda." ucap Revan.


Revan terus berbicara hingga akhirnya Ia pun terlelap.


Keesokan paginya, Revan memandikan tubuh Nisa. Dengan hati-hati Revan membersihkan tubuh istrinya.


Tepat saat Revan selesai memandikan Nisa, dokter Andra datang untuk memeriksa Nisa.


"Selamat pagi, Mas Revan." ucap dokter Andra.


"Selamat pagi, Dok." sahut Revan.


"Saya periksa Mbak Nisa nya dulu ya." kata dokter Andra.


Dokter Andra pun mulai melakukan tugasnya di bantu oleh suster. Tak lama kemudian, Nisa sudah selesai di periksa.


"Gimana keadaan istri saya, Dok? Kenapa belum sadar juga?" tanya Revan.


"Semua baik-baik aja, Mas. Mbak Nisa sekarang lagi tidur. Jadi tinggal nunggu bangun aja." jawab dokter Andra.

__ADS_1


Revan hanya mengangguk pelan tanda mengerti.


"Kalau begitu saya pergi dulu. Nanti kalau Mbak Nisa sadar, bisa panggil saya." kata dokter Andra.


Dokter Andra pun meninggalkan Revan dan Nisa dalam ruangan itu.


Revan pun berjalan ke kamar mandi untuk membereskan peralatan mandi Nisa. Saat keluar, Revan membelalakkan matanya karena terkejut.


"Sayang!" teriak Revan.


Revan pun segera berlari menuju ke arah Nisa. Ia segera memeluk Nisa. Tangisnya pun pecah.


Nisa membalas pelukan Revan dan ikut menangis. Mereka berpelukan seolah-olah tidak bertemu 1 tahun.


"Maafin Aku, Dek. Maaf. Akhirnya Kamu sadar juga. Aku takut kehilangan Kamu. Rasanya detak jantungku berhenti berdetak saat tahu Kamu di culik." ucap Revan tanpa melepas pelukannya.


"Aku juga minta maaf, Mas. Aku udah ga percaya sama ucapan Kamu. Ga mau dengerin penjelasan Kamu. Bahkan karena Aku juga, anak Kita dalam bahaya." sahut Nisa.


"Sudah ya, sayang. Kita ga usah ingat kejadian kemarin lagi. Yang penting sekarang Kamu baik-baik aja. Itu udah cukup buat Aku." kata Revan.


"Lepas dulu, Mas. Itu ada dokter yang mau periksa Aku." bisik Nisa.


Revan pun segera melepaskan pelukannya. Ia berpura-pura merapikan penampilannya.


"Di lanjut nanti ya, Mas. Sekarang saya mau pinjam Mbak Nisa nya dulu." ucap dokter Andra tersenyum menggoda.


Revan pun bergerak menjauh dari tempat Nisa agar mempermudah dokter Andra dalam pemeriksaan.


Tak lama kemudian, dokter Andra sudah selesai memeriksa kondisi Nisa. Dokter Andra pun pergi bersamaan dengan datangnya Nenek dan Adit.


"Nduk. Akhirnya Kamu sudah sadar. Mana yang sakit, sayang? Nenek khawatir sekali sama Kamu. Maafkan Nenek yang ga bisa jagain kamu ya, sayang." ucap Nenek sambil memeluk Nisa.


Nenek menangis bahagia di pelukan Nisa.


Nenek pun melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Nenek terkejut saat melihat wajah Nisa yang lebam.


"Lhooh. Wajah Kamu kok jadi gini, Nduk?" tanya Nenek.


Nenek menatap seluruh wajah Nisa. Tiba-tiba wajah Nenek berubah jadi murung.


"Maafin Nenek ya, Nduk. Gara-gara Nenek ga bisa jagain Kamu, wajah Kamu jadi kayak gini." ucap Nenek menunduk.


"Ga apa-apa, Nek. Yang penting Nisa sekarang udah di sini. Kita bisa kumpul lagi sekarang." sahut Nisa.


"Terus keadaan cicit Nenek gimana?" tanya Nenek.


"Cicit Nenek juga baik. Cicit Nenek kan kuat." jawab Nisa mencoba tersenyum.


Nisa menahan perih di wajahnya agar tidak membuat Nenek khawatir. Nenek terus saja berbicara dan Nisa hanya menanggapinya dengan senyum dan anggukan kepala.


Sementara di luar ruangan, Revan dan Adit sedang membicarakan tentang Bella dan Bu Endang.


"Gimana dengan mereka, Dit?" tanya Revan.


"Aman, Van. Dan Bella juga sedang di tangani psikolog." jawab Adit.


"Maksud Kamu Bella gila?" tanya Revan terkejut.


"Belum gila. Tapi hampir. Dan itu semua gara-gara Kamu." sahut Adit.


"Ya. Ketampanan ku memang membuat semua wanita tergila-gila, Dit." ucap Revan tersenyum bangga.


Adit hanya memutar bola matanya jengah dengan ucapan Revan.

__ADS_1


"Terus gimana dengan bapak mertuaku?" tanya Revan lagi.


"Aman. Sekarang udah ga kritis lagi. Dan yang paling penting, sekarang beliau sudah dalam perjalanan ke rumah sakit ini. Beliau akan melanjutkan perawatan di sini. Untuk memudahkan Kita dalam memantaunya." jelas Adit.


"Good job." ucap Revan.


Mereka pun ber-tos ria.


Kini Nisa sudah berada di ruang perawatan. Nenek sudah pulang. Sementara Adit sudah kembali ke kantor sejak tadi. Dan tinggallah Nisa dan Revan di ruangan itu.


Saat ini kondisi Nisa harus bedrest total. Dan Revan pun dengan cekatan merawat Nisa.


"Mas. Maafin Aku ya, Aku jadi nyusahin kayak gini." ucap Nisa.


"Sssst." sahut Revan sambil meletakkan telunjuknya ke bibir Nisa.


"Jangan bicara kayak gitu, Dek. Ini udah kewajiban Aku sebagai suami Kamu." lanjut Revan.


"Mas." ucap Nisa.


"Ya, sayang." sahut Revan.


"Aku kangen sama bapak. Aku khawatir sama bapak. Kata Ibuk, kemarin mereka ninggalin bapak dalam keadaan sakit." jelas Nisa.


Revan tersenyum dan mendekati Nisa. Revan memeluk Nisa penuh kasih.


"Kalau Kamu kangen sama bapak, Kamu harus sembuh dulu. Nanti pas udah sembuh, Aku akan ajak Kamu buat ketemu sama bapak." kata Revan.


"Yang bener, Mas?" tanya Nisa memastikan.


Revan mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Makasih ya, Mas." ucap Nisa tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.


"Jangan kenceng kenceng, Dek. Nanti Dia bangun." kata Revan sambil menunjuk ke arah adik kecilnya.


Nisa hanya tersenyum lalu mengendurkan pelukannya.


"Aku kangen banget sama Kamu, Dek." ucap Revan sembari mengecup kening Nisa.


"Nisa kan hilangnya cuma 1 hari, Mas. Masa' udah kangen." sahut Nisa tersenyum.


"Tapi kan sebelum itu Kamu cuekin Aku. Jadi ya lama banget rasanya. Kalau boleh pilih, Aku lebih milih buat Kamu pukulin dari pada Kamu diemin." jelas Revan.


"Maaf ya, Mas." ucap Nisa.


Hanya kata itu yang dapat Nisa ucapkan. Nisa pun kembali menangis.


"Sayang. Kok malah nangis?" tanya Revan khawatir.


Nisa tak menyahut. Nisa terus menangis di pelukan Revan. Hingga akhirnya Ia pun terlelap.


Dengan perlahan Revan membenarkan posisi tidur Nisa. Revan ikut tertidur di sofa yang ada dalam ruangan tersebut. Ingin rasanya Revan tidur di samping Nisa, tapi itu hanya akan membuat Nisa tidak nyaman.


Kini keadaan Nisa sudah lebih baik. Bahkan Nisa sudah tidak bedrest lagi. Beberapa kali Nisa meminta untuk pulang, tapi tidak diperbolehkan Revan.


Revan kekeuh mengijinkan Nisa pulang jika sudah benar-benar sehat. Revan tidak mau terjadi apa-apa pada Nisa. Dan akhirnya Nisa pun menurut.


Dan hari ini adalah hari bahagia Nisa. Nisa sudah diijinkan untuk pulang.


"Akhirnya Aku bisa pulang, Mas. Udah ga sabar pengen sampai rumah." ucap Nisa tersenyum bahagia.


"Sebelum pulang, Aku mau kasih Kamu kejutan dulu, sayang." kata Revan sambil membereskan barang-barang Nisa.

__ADS_1


•••


__ADS_2