
"Dek." ucap Revan.
"Iya Mas." sahut Nisa.
"Kalau besok aku datang ke kontrakan sama nenek gimana?" tanya Revan.
"Kok sama nenek Mas?" kata Nisa bingung.
"Kan mau lamar kamu secara resmi Dek. Sekalian bahas pernikahan kita." kata Revan tersenyum sambil mencolek hidung Nisa.
"Apa ga terlalu cepat Mas kalau besok?" tanya Nisa.
"Lebih cepat lebih baik Dek. Lagian hal baik kan ga boleh ditunda-tunda." sahut Revan.
"Kalau gitu aku tanya sama orang tua angkat aku dulu Mas." kata Nisa.
"Iya ga apa-apa. Nanti kabarin aja." ucap Revan. Nisa hanya mengangguk.
"Mas." ucap Nisa.
"Iya Dek. Ada apa?" tanya Revan.
"Aku udah ga ada keluarga Mas. Aku hanya seorang anak yatim piatu yang kebetulan diangkat anak oleh seorang suami istri. Dan sekarang mereka enggan berurusan denganku. Bahkan saudara-saudaraku tak ada yang mau berhubungan denganku. Apa kamu masih mau nikah sama aku?" tanya Nisa sambil menunduk.
"Aku yang akan menjadi keluarga kamu Dek. Kita akan membina keluarga kecil yang bahagia. Dan perlu kamu tahu bahwa aku juga anak yatim piatu sama seperti kamu. Aku sekarang tinggal berdua sama nenek. Dan nanti akan bertiga sama kamu." kata Revan sembari mengangkat dagu Nisa agar dapat menatapnya.
Nisa menangis teringat dengan orang tuanya yang telah tiada. Revan memeluk Nisa agar lebih tenang. Nisa menangis tersedu-sedu di dalam dekapan Revan.
"Menangislah Dek, kalau memang ini bisa membuat kamu tenang." ucap Revan yang ikut menitikkan air mata. Revan masih ingat kata-kata terakhir yang diucapkan almarhumah ibunya sebelum meninggal.
"Mas Revan nangis?" tanya Nisa saat mendengar isakan tangis Revan.
"Ga kok Dek. Aku cuma keinget sama papa mama aku. Aku belum sempat bahagiain mereka." kata Revan.
"Kita akan membuat mereka bahagia Mas. Meskipun kita tidak dapat melihat mereka tersenyum." ucap Nisa sambil mengusap air mata Revan.
"Makasih Dek. Aku janji akan selalu buat kamu bahagia." kata Revan sembari mengecup kening Nisa. Nisa hanya mengangguk.
"Kita pergi dari sini Dek. Angin nya terlalu kenceng." lanjut Revan.
"Ayo Mas. Tapi makan dulu ya. Aku laper banget. Capek habis foto-foto tadi." kata Nisa bercanda.
"Kamu ada-ada aja. Masa' cuma foto-foto bisa capek. Masih capek aku yang jadi fotografer Dek." ucap Revan tersenyum.
"Ya udah ayo kita makan. Biar siap menghadapi masa depan kita." kata Nisa tersenyum lalu menutup mulutnya.
"Dapet kata-kata dari mana itu tadi Dek. Tumben nih." ucap Revan tersenyum sambil merangkul pinggang Nisa.
"Ga tau juga aku tadi asal ngomong aja. Kayaknya aku udah ketularan kamu deh Mas." kata Nisa.
"Emang aku ada penyakit menular gitu, sampe kamu ketularan?" tanya Revan yang tidak mengerti maksud Nisa.
"Bukan ketularan penyakit Mas. Tapi ketularan kamu yang suka ngegombal." jawab Nisa sambil mencubit pinggang Revan hingga Revan melepaskan tangannya dari pinggang Nisa.
"Aduh. Kok main cubit sih. Aku balas nih ya." kata Revan sembari menggelitik perut Nisa.
"Auw. Mas Revan. Udah dong. Geli nih." ucap Nisa sembari melarikan diri dari Revan. Mereka pun main kejar-kejaran di saksikan bulan dan bintang yang bersinar cerah malam ini. Mungkin orang tua mereka sedang tersenyum melihat anak-anaknya bahagia. Meskipun di alam yang berbeda.
"Nah. Aku tangkap kamu sekarang. Mau lari kemana lagi hayo." ucap Revan yang langsung memeluk Nisa dari belakang. Nafas mereka terengah-engah.
"Ampun Mas. Udah sakit nih perut aku karena kamu gelitikin tadi." kata Nisa sambil memegangi perutnya.
"Lagian kamu usil. Pake cubit segala. Masih untung aku ga gigit kamu. Hehe." sahut Revan sambil mencubit pipi Nisa.
"Ih Mas Revan kok malah cubit aku juga. Sini aku cubit lagi." kata Nisa sambil mengayunkan tangannya hendak mencubit Revan. Tapi Revan segera menggenggam tangan Nisa.
"Daripada dicubit, enakan juga di cium Dek." ucap Revan sambil menunjuk pipinya.
"Mas Revan apaan sih. Malu ah." kata Nisa tersipu malu-malu.
"Kamu gemesin Dek kalau malu-malu gitu." ucap Revan yang langsung mencium pipi Nisa. Nisa membulatkan matanya karena terkejut dengan apa yang dilakukan Revan barusan.
"Mas Revan." teriak Nisa saat melihat Revan berlari agar tidak kena marah Nisa.
"Sini Dek." ucap Revan menggoda Nisa. Nisa mencoba meraih tubuh Revan, namun Revan selalu menghindar.
"Mas Revan nyebelin banget sih." gerutu Nisa sambil menghentakkan kakinya ke pasir. Revan pun segera berhenti menggoda Nisa dan menghampirinya.
"Jangan ngambek dong Dek. Cantik nya ilang lho." kata Revan tersenyum sambil mencolek dagu Nisa.
"Rasain nih. Haha." ucap Nisa sambil menarik hidung Revan.
__ADS_1
"Hidung aku udah mancung Dek. Jangan ditarik lagi. Apa kamu mau punya calon suami Pinokio?" tanya Revan sembari mengusap-usap hidungnya.
"Ga apa-apa Mas. Biar kayak bule." sahut Nisa tergelak.
"Udah ah usilnya. Katanya tadi laper." ucap Revan.
"Oh iya. Sampai lupa aku Mas." kata Nisa.
"Ada-ada aja kamu Dek. Masa' laper bisa lupa. Jangan-jangan nanti kalau kita udah sah, kamu lupa kalau punya suami ganteng." kata Revan berjalan sembari memeluk Nisa.
"Kalau itu beda ceritanya Mas." ucap Nisa.
"Sama aja Dek. Sama-sama lupa juga." kata Revan.
"Ya beda lah Mas. Mana mungkin aku lupa sama suami kayak kamu gini." sahut Nisa.
"Emang aku kayak gimana Dek?" tanya Revan sambil membuka pintu mobil untuk Nisa.
"Ada dech." jawab Nisa sambil masuk kedalam mobil. Revan segera berjalan memutar menuju kemudi.
"AC nya ga usah di nyalain Mas. Masih dingin nih gara-gara kena angin pantai tadi." kata Nisa saat melihat Revan hendak menyalakan AC mobil. Revan pun memutar tubuhnya dan mengambil sesuatu dari jok belakang mobilnya.
"Pake ini Dek biar anget." kata Revan sembari membantu Nisa memakai jaket yang diberikan Revan.
"Makasih Mas." ucap Nisa.
"Sama-sama Dek. Maaf ya tadi kelamaan di pantainya." kata Revan sembari menyentuh pipi Nisa.
"Ga apa-apa lagi Mas. Aku malah seneng kok bisa datang ke sini apalagi bareng sama kamu." ucap Nisa.
"Duh. Sekarang kamu udah pintar ngegombal ya Dek." kata Revan tersenyum.
"Berkat kamu juga Mas." sahut Nisa tersenyum.
Mobil pun segera melaju ke sebuah tempat pemancingan ikan. Setelah tiba di sana Nisa terkejut.
"Kok malah ngajak aku mancing sih Mas. Aku kan laper." kata Nisa memanyunkan bibirnya.
"Kalau kamu laper ya kita ke dalam sekarang." ucap Revan sembari menggenggam tangan Nisa. Nisa mengikuti langkah kaki Revan.
Saat tiba di dalam, Nisa tersenyum sambil melihat ke seluruh sudut ruangan. Diluar memang tempat pemancingan ikan. Tapi di dalam adalah sebuah restoran yang romantis.
"Ayo kita duduk di sana. Katanya udah lapar tapi malah bengong disini." kata Revan sambil menarik tubuh Nisa menuju ke sebuah meja.
"Apa aja Mas. Yang penting enak dan pastinya udah mateng." jawab Nisa.
"Oke kalau gitu. Aku pesenin gurameh bakar ya. Kamu harus coba. Disini makanannya enak-enak semua. Kamu pasti ketagihan." ucap Revan. Revan berjalan menuju meja pesanan untuk memesan makanan. Setelah itu kembali lagi ke meja Nisa.
"Mas Revan sering kesini ya?" tanya Nisa.
"Sering dulu Dek. Tapi sejak papa mama meninggal, baru sekarang aku kesini lagi. Dan itu sama kamu, calon istriku." jawab Revan tersenyum. Tapi kemudian Nisa menunduk mengingat orang tuanya.
"Kamu kenapa Dek?" tanya Revan.
"Ga apa-apa kok Mas. Aku sedih aja kalau ingat orang tua ku. Aku bahkan hanya bisa mengingat sedikit cerita tentang mereka. Karena waktu itu aku masih kecil." kata Nisa sambil menahan air matanya agar tak menetes.
"Udah Dek. Jangan nangis ya. Aku ga kuat liat kamu nangis." ucap Revan sambil menggenggam tangan Nisa.
"Aku ga nangis kok Mas." kata Nisa tersenyum.
"Nah gitu kan cantik." ucap Revan tersenyum.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun sudah datang. Mereka segera menikmati hidangan yang tersedia. Awalnya Nisa terkejut saat melihat hidangan yang terlalu banyak untuk makan berdua. Tapi setelah tahu rasa makanan itu, semua hidangan yang tersedia langsung ludes dimakan berdua.
"Kamu kuat banget makannya Dek?" ucap Revan sembari meminum jus jeruk.
"Kan aku tadi udah bilang kalau aku lapar banget." kata Nisa sambil melahap suapan terakhir.
"Kamu kayak anak kecil Dek. Makan aja belepotan." ucap Revan sembari mengelap bekas kecap di ujung bibir Nisa. Nisa yang diperlakukan seperti itu justru jadi salah tingkah.
"Malu Mas." kata Nisa berbisik sembari mengambil tisu lalu mengelap bibirnya dengan tisu.
"Ngapain malu sih Dek." ucap Revan.
"Itu mereka pada liatin kita. Udah kayak topeng monyet aja kita jadi tontonan." kata Nisa.
"Hahahaha. Emang kamu mau jadi monyet?" tanya Revan tertawa.
"Aku jadi topengnya Mas. Yang jadi monyetnya kamu. Haha." ucap Nisa tersenyum. Revan pun langsung menghentikan tawanya.
"Kamu mau punya suami monyet." tanya Revan menatap tajam kearah Nisa.
__ADS_1
"Eh. Ya jangan dong Mas. Masa' aku jadi istri monyet sih. Apa jadinya nanti anakku." kata Nisa bergidik. Membayangkan saja sudah ngeri.
"Makanya kalau ngomong jangan asal." ucap Revan.
"Iya Mas. Maaf." kata Nisa menunduk.
"Kita pulang sekarang ya. Udah jam segini juga." ucap Revan sembari melihat jam tangannya.
"Iya Mas. Ntar kesenangan itu si Rika. Pacaran mulu sama Mas Bayu." kata Nisa.
"Kita kan juga lagi pacaran Dek. Sama kayak mereka." kata Revan sembari mengulurkan tangannya pada Nisa. Nisa meraih tangan Revan dan mereka pun berjalan bergandengan tangan.
Sesampainya di meja kasir, Revan segera membayar makanan mereka. Nisa heran saat kasir itu memberikan 2 kantung kresek pada Revan.
"Itu apaan Mas?" tanya Nisa penasaran.
"Oh ini ikan bakar buat nenek sama Rika." ucap Revan.
"Rika ga usah di bungkusin juga ga apa-apa Mas. Dia kan udah sama Mas Bayu. Jadi ga bakal kelaparan." kata Nisa.
"Biarin Dek. Anggap aja ini syukuran hubungan kita." ucap Revan yang langsung merangkul pinggang Nisa.
"Jangan gitu Mas. Malu diliatin orang-orang." kata Nisa sembari melepaskan tangan Revan dari pinggangnya.
"Kita bentar lagi resmi lho Dek. Kamu ga usah malu-malu gitu." ucap Revan.
"Tapi kan masih belum resmi Mas." sahut Nisa.
"Ya udah deh. Tapi kalau ditempat sepi mau ya Dek." kata Revan berbisik.
"Tetep ga boleh Mas. Nanti ada setan lho diantara kita." ucap Nisa dengan nada menyeramkan.
"Kamu kalau gitu bukannya menyeramkan Dek. Tapi malah gemesin." kata Revan.
"Gemesin itu kalau aku pake baju badut Mas." gerutu Nisa.
"Kamu ga boleh pake baju badut Dek. Kamu harus pakai baju pengantin. Itu lebih cantik." ucap Revan sembari membuka pintu mobil untuk Nisa. Kemudian berjalan menuju kemudi.
"Besok acara pernikahannya yang sederhana aja ya Mas." kata Nisa saat Revan baru saja duduk di jok mobil.
"Iya sayang. Yang penting aku nikahnya sama kamu." ucap Revan sembari menatap mata Nisa.
"Jalan yuk Mas. Udah malam nih." kata Nisa yang salah tingkah saat Revan menatapnya seperti itu. Revan hanya tersenyum melihat calon istrinya itu.
"Oke sayang." sahut Revan.
Mobil mulai berjalan meninggalkan tempat pemancingan ikan itu. Sepanjang jalan mereka terus mengobrol. Membahas hal-hal lucu yang pernah mereka alami. Revan sangat bahagia melihat Nisa bisa tertawa lepas seperti itu.
"Aku janji sayang, aku ga akan buat kamu nangis lagi. Aku akan selalu buat kamu tersenyum." kata Revan dalam hati.
"Akhirnya sampai rumah juga Mas. Ga terasa ya Mas. Perasaan kita perginya baru sebentar." kata Nisa saat mobil Revan berhenti di depan kontrakan Nisa.
"Kamu masih kangen sama aku ya Dek?" tanya Revan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa.
"Hah. Mana ada Mas aku kangen sama kamu." kata Nisa terbata-bata.
"Jujur deh. Kangen apa ga?" tanya Revan lagi sambil terus menatap wajah Nisa.
"Udah ah aku keluar dulu." ucap Nisa sambil menoleh hendak membuka pintu. Namun pintu mobil itu sudah lebih dulu di kunci Revan. Kemudian Nisa berbalik lagi kearah Revan.
"Bukain dong Mas pintunya. Ini udah malem lho." ucap Nisa.
"Siapa juga yang bilang kalau sekarang siang Dek." kata Revan tersenyum.
"Mas Revan ah." ucap Nisa manja.
"Kamu jujur dulu. Kamu kangen ga sama aku?" tanya Revan.
"Kalau aku jawab jujur kan malu. Tapi kalau ga jujur ga di bukain pintunya." ucap Nisa dalam hati.
"Iya deh. Aku jujur. Aku emang masih kangen sama Mas Revan. Puas?" kata Nisa yang langsung menunduk setelah selesai berbicara. Revan pun tersenyum dengan pengakuan Nisa.
"Aku juga masih kangen sama kamu Dek. Kayaknya kita harus secepatnya nikah deh." ucap Revan sembari memeluk Nisa.
"Mas jangan gini dong. Nanti kita digerebek warga gimana?" kata Nisa sembari melepaskan pelukan Revan.
"Bagus dong Dek. Berarti kita bisa lebih cepat lagi untuk menikah." ucap Revan.
"Eh jangan dong Mas. Emang Mas ga malu apa kalau nikah gara-gara kena gerebek warga?" tanya Nisa.
"Ga Dek. Yang penting kan nikahnya sama kamu. Titik." sahut Revan.
__ADS_1
Tok. Tok. Tok.
•••