
Revan sedikit heran dengan sikap Nisa yang tiba-tiba meninggalkannya. Revan menghampiri Nisa yang tengah berdiri menatap ke arah luar restoran.
"Sayang. Ada apa?" tanya Revan yang langsung memeluk Nisa dari belakang.
"Ga apa-apa, Mas. Mungkin aku salah liat aja. Ga mungkin itu Bella." jawab Nisa ragu-ragu.
"Yang mana sih, Dek?" tanya Revan.
"Itu yang lagi sama om-om." jawab Nisa sambil menunjuk ke arah wanita dan pria yang sedang bermesraan.
Pandangan Revan berpindah ke arah yang dimaksud Nisa. Revan memperhatikan pasangan tersebut dengan seksama. Revan mengernyitkan dahi tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Itu Bella adik kamu, Dek. Tapi kok penampilannya beda banget ya? Terlalu berani. Dan itu bukan Bapak. Masa' iya Bella pacaran sama om-om?" tanya Revan.
"Aku juga ga tau, Mas. Bapak sama Ibuk tau ga ya, Mas? Kasian mereka kalau sampe tau Bella kayak gitu." ucap Nisa.
"Permisi Mas, Mbak. Pesanannya sudah siap." kata seorang pelayan restoran.
Revan segera menoleh ke arah sumber suara.
"Oh, iya. Terima kasih, Mbak." sahut Revan tersenyum.
Pelayan restoran tersebut segera meninggalkan Revan dan Nisa. Revan kembali menatap Nisa.
"Kita makan dulu ya, Dek. Jangan sampai hanya gara-gara kamu liatin Bella jadi pingsan karena kelaparan." kata Revan sambil menarik tubuh Nisa ke arah meja makan.
"Iya, Mas." sahut Nisa sembari mengangguk.
Mereka segera menyantap hidangan yang sudah tersedia. Sesekali Nisa menoleh ke arah dimana Bella berada.
"Makannya yang banyak, Dek. Ingat! Nanti kan kita mau olahraga. Kamu harus banyak tenaga." ucap Revan tersenyum.
Revan mengambil ayam goreng dan meletakkannya di piring Nisa.
"Apaan sih, Mas? Lagi makan kok malah bahas olahraga?" tanya Nisa sambil menggelengkan kepalanya.
"Hehe. Abis mau bahas apa lagi, Dek? Aku mau bahas Bella juga ga pantes. Itu kan urusan pribadi masing-masing." sahut Revan.
"Tapi aku kasian sama Bapak dan Ibuk, Mas." kata Nisa.
"Dek. Wajar kalau kamu khawatir sama mereka. Tapi mereka aja ga peduli sama kamu. Jadi tolong kamu jangan terlalu masuk dalam urusan pribadi mereka ya. Aku cuma ga mau kamu semakin sakit hati. Aku ga mau kamu sedih lagi." kata Revan sambil memegang tangan Nisa.
"Mas. Boleh ga kalau aku nanti bicara sama dia? Sebentar aja." tanya Nisa memohon.
Revan tampak berpikir. Dia tidak mungkin menolak keinginan istrinya, tapi dia juga merasa kasian saat istrinya diacuhkan oleh keluarganya.
"Baiklah. Tapi sebentar aja ya. Dan aku hanya tunggu di mobil. Dan janji sama aku, kamu ga boleh nangis lagi." ucap Revan.
Seketika senyum Nisa mengembang.
"Makasih ya, Mas." kata Nisa.
__ADS_1
Nisa menarik tangan Revan yang ada dalam genggamannya lalu menciumnya.
"Sayang. Jangan menggodaku disini." ucap Revan.
"Eh. Bu-bukan gitu, Mas." sahut Nisa gugup dan langsung melepas tangan Revan.
"Udah. Cepet selesaikan makannya. Keburu Bella nya pergi nanti." kata Revan.
"Iya, Mas." ucap Nisa.
Mereka segera menyelesaikan acara makan siang. Nisa melihat ke arah Bella berada dan dia masih di sana.
Setelah selesai membayar, Revan mengantar Nisa untuk menemui Bella. Tapi Revan hanya menunggu di mobil. Dia hanya mengawasi orang-orang tersebut saat berinteraksi dengan istrinya.
"Bella." sapa Nisa yang kini sudah berdiri di belakang Bella.
Merasa ada yang memanggil namanya, Bella pun menoleh. Betapa terkejutnya dia ketika melihat kakaknya disana.
"Ini beneran kamu, Dek?" tanya Nisa memastikan.
"Iya. Emangnya kenapa? Mau ngadu sama Bapak?" tanya Bella sinis.
"Aku ga akan ngadu kok, Dek. Tapi dengan syarat kamu berhenti kayak gini." sahut Nisa menahan air matanya.
"Haha. Siapa kamu? Kamu ga ada hak buat ngelarang aku." ucap Bella.
"Aku kakak kamu, Dek. Aku peduli sama kamu." sahut Nisa.
"Kakak? Kamu bukan siapa-siapa ku. Kalau kamu kakakku, kamu ga akan merebut kebahagiaan aku." ucap Bella.
"Kamu udah ngerebut perhatian Bapak sama Ibuk. Dan sekarang kamu ngerebut laki-laki yang aku suka. Puas kan kamu? Senang kan kamu sekarang?" tanya Bella.
"Aku ga bermaksud merebut perhatian Bapak sama Ibuk, Dek. Dan lagi, emangnya siapa laki-laki yang kamu suka?" tanya Nisa penasaran.
"Suami kakak. Sejak pertama melihatnya aku udah suka. Tapi ternyata udah jadi suami kamu. Aku benci sama kamu." ucap Bella.
Bella mengambil tasnya dan mengajak pria yang bersamanya untuk segera pergi dari tempat itu. Sementara Nisa langsung terduduk lemas sambil menatap kepergian Bella.
"Bagaimana bisa kamu suka sama suami kakak, Dek? Apa kakak harus melepas Mas Revan buat kamu?" tanya Nisa dalam hati.
Seberapa kuat Nisa menahan air matanya akhirnya jatuh juga. Namun Nisa langsung tersadar dan segera mengusap air matanya.
Nisa langsung berdiri dan berjalan menuju ke mobil Revan. Saat Nisa masuk, Revan hanya diam menatap wajah Nisa.
"Udah, Mas. Ayo kita ke hotel." ajak Nisa yang berusaha untuk tersenyum.
Revan menatap wajah Nisa dengan intens.
"Kamu nangis kan?" tanya Revan menelisik.
"Ga kok, Mas." jawab Nisa.
__ADS_1
"Jangan bohong, sayang." kata Revan sambil meraih dagu Nisa.
Nisa segera memeluk Revan. Nisa menangis sesenggukan. Revan terdiam. Namun ia membalas pelukan Nisa untuk memberikannya kenyamanan.
"A-aku jahat, Mas." ucap Nisa terbata-bata.
"Aku bukan kakak yang baik. Aku yang udah buat dia kayak gitu, Mas." kata Nisa.
"Kamu kakak yang baik, Dek. Jangan nyalahin diri sendiri. Dia kayak gitu udah pilihannya. Bukan karena kamu." ucap Revan sambil mengusap-usap punggung Nisa.
"Aku udah ngerebut milik dia, Mas. Aku jahat." sahut Nisa.
"Udah ya, sayang. Jangan ngomong kayak gitu." kata Revan.
"Kita pisah aja ya, Mas." ucap Nisa sambil melepaskan pelukannya.
"Apa maksud kamu, Dek?! Jangan asal ngomong. Pernikahan bukan buat main-main." tanya Revan sedikit berteriak.
Revan tidak menyangka kalau Nisa akan mengatakan hal itu.
"Aku ga bisa bahagia di atas penderitaan orang lain, Mas." jawab Nisa.
"Maksud kamu apa sih?" tanya Revan sambil memukul setir.
"Bella suka sama kamu, Mas." ucap Nisa pelan.
Revan mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Nisa.
"Itu hak dia, Dek. Kita ga bisa melarang. Tapi apakah kamu tega mengorbankan perasaan kamu." kata Revan sambil menunjuk ke arah dada Nisa.
"Perasaan aku." ucap Revan sambil menunjuk ke arah dadanya.
"Perasaan kita hanya untuk kebahagiaan adik kamu itu? Bahkan dia tidak pantas disebut adik. Tidak ada seorang adik yang menyimpan rasa untuk kakak iparnya sendiri. Itu sama aja dengan dia tidak menganggap kamu sebagai kakaknya." ucap Revan dengan nada marah.
"Aku harus gimana biar kamu pikirin hidup kamu, Dek. Sudah terlalu sering kamu sakit hati gara-gara mereka." kata Revan dalam hati.
Sementara Nisa meringkuk ketakutan sambil menunduk. Belum pernah ia melihat kemarahan suaminya. Nisa benar-benar takut saat ini hingga badannya bergetar. Bahkan air matanya tidak berhenti mengalir.
Revan menoleh saat tak ada sahutan dari Nisa. Betapa terkejutnya Revan saat ini melihat kondisi istrinya. Revan segera memeluk tubuh Nisa.
"Maafkan aku, Dek. Aku ga bermaksud untuk buat kamu takut." ucap Revan sambil mengecup puncak kepala Nisa.
Lama mereka berpelukan tanpa ada yang bersuara. Isakan tangis Nisa masih terdengar ditelinga Revan meskipun tidak sehisteris tadi. Revan menyesal sudah membentak Nisa.
"Kita ke hotel sekarang ya, Dek. Kamu harus istirahat." ucap Revan.
Nisa masih diam saja. Nisa tidak berani untuk menatap wajah suaminya. Perlahan Revan melepaskan pelukannya dan membenarkan posisi duduk Nisa. Nisa masih menunduk.
Revan memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Dan membuangnya kasar. Kemudian Revan menjalankan mobilnya menuju ke hotel.
Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan. Saat Revan menoleh, ternyata Nisa sudah terlelap. Revan menghentikan mobilnya. Kemudian ia membenarkan posisi kepala Nisa agar nyaman.
__ADS_1
"Jangan pernah pergi dariku, Dek. Aku ga bisa jauh dari kamu lagi. I love you, sayang." ucap Revan sambil mengecup kening Nisa.
•••