
Nisa memejamkan matanya karena takut bertatapan dengan Revan.
"Nah, ini dia yang mengganggu kecantikan kamu, Dek." ucap Revan.
Nisa segera membuka matanya. Terlihat Revan sedang memegangi bulu mata.
"Ternyata mau ambil bulu mata. Kirain mau ngapain tadi. Malu banget aku sama Mas Revan. Mana sudah tutup mata segala lagi." kata Nisa dalam hati.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Revan tersenyum.
"Eh. Ga apa-apa kok, Mas." ucap Nisa.
"Kita makan yuk. Sudah datang nih makanannya. Kayaknya enak banget." kata Revan.
"Iya, Mas. Ini memang enak banget. Kamu pasti ketagihan." ucap Nisa.
Mereka menikmati hidangan yang ada di depan mereka. Nisa masih diam karena malu dengan kejadian barusan.
"Kamu kok diam saja, Dek?" tanya Revan.
"Kan lagi makan, Mas." jawab Nisa.
"Kamu biasanya kalau lagi makan juga berisik, Dek." ucap Revan tersenyum.
"Eh. Siapa bilang?" tanya Nisa sambil menoleh ke arah Revan.
"Aku lah, Dek. Kamu itu diam kalau pas di marahin sama Pak Sugi dan Bu Ani." sahut Revan.
__ADS_1
"Mas Revan memperhatikan aku banget ya?" tanya Nisa menelisik.
"Pasti lah, Dek. Kamu kan calon istriku. Sudah sewajarnya kalau aku selalu perhatikan kamu. Kamu saja yang ga sadar aku perhatikan." sahut Revan.
"Hehehe." ucap Nisa tersipu malu.
"Lanjut makan, Dek. Jangan ngelamun. Nanti aku makan lho bagian kamu itu." kata Revan sambil menunjuk piring Nisa.
"Eh. Jangan dong. Itu punya Mas Revan kan masih." ucap Nisa.
"Enak, Dek. Kayaknya aku mau nambah saja deh. Hehe." kata Revan sambil nyengir kuda.
"Hah. Mas Revan beneran mau nambah? Memangnya perut kamu muat, Mas?" tanya Nisa terkejut.
"Sebenarnya ga muat juga sih, Dek. Tapi ini enak banget." sahut Revan.
"Besok kesini lagi saja, Mas. Kalau mau nambah takutnya ga habis. Lagian kan kalau kebanyakan makan daging kambing ga baik juga buat tubuh." jelas Nisa.
"Ya sudah kalau begitu. Nunggu habis nikah terus kita kesini lagi." kata Nisa tersenyum.
"Nunggu lagi deh aku." ucap Revan.
"Ga apa-apa kali, Mas. Oh iya, Mas Revan cuti kerja berapa hari?" tanya Nisa.
"Tadinya sih aku mengajukan 1 bulan, Dek. Tapi cuma dapet 20 hari, di mulai dari hari kemarin." sahut Revan.
"Kok bisa banyak banget cutinya, Mas? Biasanya kalau karyawan itu paling mentok juga 1 Minggu saja, Mas. Ini kok bisa 20 hari?" tanya Nisa heran.
__ADS_1
"Hehe. Ya bisa lah, Dek. Aku kan ga pernah ambil masa cuti ku. Dan sekarang saatnya aku cuti panjang. Aku pengen punya waktu lebih bersama istriku nantinya." sahut Revan tersenyum ke arah Nisa.
"Masih calon, Mas." kata Nisa tersipu malu.
"Tinggal sehari lagi, Dek. Waktu kok lambat banget ya jalannya?" tanya Revan sembari menerawang.
"Sabar kali, Mas." sahut Nisa.
"Cepetan di habisin, Mas. Sudah hampir sore ini." lanjut Nisa.
"Ga jadi jalan-jalan nih, Dek?" tanya Revan.
"Memangnya mau jalan kemana sih, Mas?" tanya Nisa.
"Ya asal muter-muter aja, Dek. Yang penting sama kamu." ucap Revan tersenyum menggoda.
"Terserah kamu saja lah, Mas. Tapi jangan kemalaman pulangnya. Nanti sebelum makan malam kita harus sudah di rumah. Gimana?" tanya Nisa pada Revan.
"Beres, Dek." sahut Revan.
Mereka segera menghabiskan makanannya. Setelah habis, Revan segera menuju kasir untuk membayar.
"Sudah siap, Dek?" tanya Revan pada Nisa.
"Sudah, Mas. Ayo kita jalan sekarang. Takutnya nanti ditungguin sama Bapak Ibuk di rumah." sahut Nisa.
__ADS_1
•••