
"Revan ganteng? Siapa ya? Perasaan ga pernah nulis kontak alay gini deh." gumam Nisa.
"Revan. Revan. Revan. Oh iya, cowok yang tadi sore. Apa mungkin dia yang nyimpan kontaknya ya? Mungkin pas dia pinjam ponsel aku tadi. Duh gimana nih kok jadi gemetaran gini ya." kata Nisa membolak-balikkan ponselnya.
Revan :"Udah tidur ya Dek?"
Nisa :"Belum Mas. Ini baru selesai beres-beres."
Revan :"Duh. Rajin banget nih."
Nisa :"Biasa aja Mas. Itung-itung belajar jadi istri yang baik lah Mas."
Revan :"Memangnya kamu udah siap nikah Dek?"
Nisa :"Siap ga siap Mas. Kalau emang udah jodoh ya pasti nikah."
Revan :"Iya juga sih."
Nisa :"Eh iya, Mas Revan lagi ngapain nih?"
Revan :"Lagi chating sama kamu. Hehe."
Nisa :"Sambil?"
Revan :"Mikirin wajah kamu yang manis banget."
Nisa :"Dasar cowok. Gombal banget."
Revan :"Ga gombal Dek. Beneran deh. Aku kalau liat senyum kamu berasa meleleh. Manis, adem liatnya."
Nisa :"Terserah kamu aja lah Mas. Kita chating gini, Mas Revan Ga takut kalau pacarnya cemburu?"
Revan :"Aku ga punya pacar Dek. Banyak sih yang deketin, tapi aku males sama mereka. Mereka deketin cuma karena uang."
Nisa :"Duh kasian banget yang jomblo. Hahahaha."
Revan :"Ga boleh gitu kalau sesama jomblo."
Nisa :"Oh iya ya. Aku lupa. Hehe."
Revan :"Masih muda masa' pelupa. Jangan-jangan kamu lupa sama wajah ganteng aku nih?"
Nisa :"Ya ga mungkin lupa lah."
Nisa :"Pesan ini telah dihapus."
Revan :"Ngapain dihapus Dek. Aku udah baca kok. Hehe."
"Duh, kok bisa sih aku bales kayak gitu? Malu kan. Udah kebaca lagi." gumam Nisa.
Revan :"Kamu belum tidur kan Dek?"
Nisa :"Belum kok Mas. Emang kenapa?"
Revan :"Ga apa-apa sih. Mau ingetin kamu aja, jangan lupa kita ketemu besok ditempat tadi."
Nisa :"Siap bos."
Revan :"Ya udah gih bobok dulu. Aku kasih kiss nih biar tidur nyenyak. Muach."
Nisa membelalakkan matanya melihat pesan terakhir dari Revan. Lalu dia tersenyum sambil memeluk ponsel itu.
"Kok rasanya aneh gini ya? Dapet pesan gitu aja rasanya seneng banget. Terus kalau lagi di dekat Mas Revan rasanya jantung mau copot. Apa ini yang namanya cinta ya? Masa' aku jatuh cinta sama Mas Revan? Kita kan baru kenal. Lagian aku juga belum tau siapa dia. Orang mana? Sifatnya gimana? Orang tuanya gimana?" kata Nisa sambil menatap langit-langit kamar seolah sedang menerawang.
"Udah ah. Mending tidur daripada mikirin Mas Revan yang belum pasti. Aku ga mau kuliah ku keganggu cuma gara-gara cowok." ucap Nisa sembari meletakkan ponselnya di meja samping kasur.
Nisa memeluk guling dan memejamkan matanya. Namun sayang, bayang-bayang Revan terus berputar dipikirannya. Nisa segera membuka matanya dan mengubah posisi tidurnya menjadi telentang.
"Gimana nih, mata ayo merem dong. Aku besok ada kuliah pagi nih." ucap Nisa mengusap matanya.
"Hitung domba aja lah. 1 domba. 2 domba. 3 domba. 4 domba. 5 domba. 6 domba. 7 domba. 8 domba. 9 domba. 10 domba. 11 domba." gumam Nisa. Akhirnya Nisa bisa terlelap.
Benar saja, Pagi ini Nisa kesiangan gara-gara semalam ga bisa tidur mikirin Revan.
"Nisa. Ayo cepetan." teriak Rika.
"Iya. Dikit lagi beres." sahut Nisa dari dalam kamar.
"Tumben banget sih Nisa kesiangan. Biasanya selalu bangun pagi, bahkan sempat masak juga. Ini boro-boro masak, mandi aja belum kelar." kata Rika sambil memainkan ponselnya.
Tak berapa lama kemudian Nisa keluar kamar. Nisa meletakkan tas, buku, ponsel dan lain-lain dia atas meja tepat didepan Rika.
"Bentar ya aku sisiran dulu." ucap Nisa sembari menyisir rambutnya.
__ADS_1
"Nis, ponsel kamu kok pecah gini?" tanya Rika.
"Ya itu insiden kemarin pas ke apotek. Untung masih bisa di pake." ucap Nisa yang sudah selesai menguncir rambutnya.
"Maaf ya Nis, gara-gara aku ponsel kamu jadi kayak gitu. Aku ganti ya." kata Rika sembari mengambil dompetnya hendak mengganti rugi ponsel Nisa.
"Ga usah kali Rik, kan masih bisa di pake. Sayang uangnya." ucap Nisa.
"Tapi Nis," kata Rika.
"Ga apa-apa. Udah ayo berangkat. Malah ngajak ngobrol." ucap Nisa sambil menarik tangan Rika.
Nisa dan Rika segera keluar rumah. Nisa mengunci pintu dan menyerahkan kuncinya pada Rika. Karena Nisa takut kelupaan kalau bawa kunci. Mereka segera berangkat ke kampus.
Beruntung saat tiba di kampus belum telat. Lebih tepatnya hampir telat. Karena saat mereka baru saja duduk, dosen masuk ke ruangan.
Hari ini adalah hari yang melelahkan untuk Nisa dan Rika. Mereka sampai di kontrakan sudah pukul 16:00.
Nisa meletakkan tasnya di meja lalu membaringkan tubuhnya di kasur sejenak sembari menutup mata.
Namun tiba-tiba matanya terbuka lebar saat mengingat bahwa dia ada janji pada Revan untuk bertemu sore ini. Nisa pun segera beranjak ke kamar mandi. Setelah 15 menit Nisa berada di kamar mandi, akhirnya dia keluar hanya mengenakan handuk diatas lutut serta handuk kecil yang melilit di rambutnya.
"Huuh. Seger banget." ucap Nisa sembari mengeringkan rambutnya.
Nisa berjalan menuju almari pakaian yang ada dipojokan kamarnya. Nisa mengambil 1 celana jeans warna biru tua serta kemeja warna biru laut yang oversized. Nisa memang tidak suka dengan pakaian yang ketat. Semua pakaiannya kelewat longgar.
Selesai memakai pakaian Nisa menyisir rambutnya yang masih sedikit basah. Karena Nisa tidak memiliki pengering rambut, maka Nisa membiarkan rambutnya tergerai.
Nisa mengambil tas kecil lalu berjalan keluar kamar. Diruang tamu ada Rika sedang menemani pacarnya yang sedang berkunjung.
"Ga capek Nis? Udah mau pergi lagi aja." ucap Rika yang bingung dengan tingkah laku Nisa. Memang tidak biasanya Nisa pergi keluar rumah selain ke kampus atau minimarket. Dan seingat Rika, kemarin Nisa baru ke minimarket.
"Biarin aja kali yang. Kayaknya si Nisa lagi jatuh cinta deh." ucap Bayu tersenyum, pacar Rika.
"Haah! Beneran kamu jatuh cinta Nis? Kok bisa? Aku kira kamu selama ini ga doyan sama cowok. Ha-ha-ha." tanya Rika terkejut dan langsung tertawa.
"Enak aja. Kamu kira doyan sesama gitu? Amit-amit Rika." kata Nisa sambil menjitak kepala Rika.
"Aduh. Sakit Nis. Mas bayu, Nisa jahatin aku nih. Sakit tauk." ucap Rika sambil bergelayut manja di lengan Bayu.
"Yang mana sayang? Nanti kalau dia udah resmi punya pacar pasti ga bakal jahatin kamu lagi kok. Udah ya. Do'ain aja biar Nisa cepat resmi." kata Bayu tersenyum sembari memegang kepala Rika.
"Apaan sih kalian. Lebay banget. Nikah aja sana. Tau ga sih kalian, kalau kalian itu sudah menodai mata aku yang masih suci ini." sahut Nisa.
"Udah ah. Capek ngomong sama kalian. Yang ada cuma diledekin terus." kata Nisa yang langsung melangkah pergi keluar rumah.
"Emang bener ya Mas kalau Nisa lagi jatuh cinta?" tanya Rika pada Bayu.
"Bener Dek. Keliatan dari sorot matanya." jelas Bayu.
"Kayaknya bener deh Mas. Soalnya kemarin ponselnya pecah tapi dia ga sedih. Terus tadi pagi dia kesiangan lho. Padahal Nisa ga pernah sekalipun kesiangan. Terus baru dia mau pergi. Padahal Nisa itu kalau pergi ya cuma ke kampus atau minimarket. Sedangkan Nisa baru ke minimarket kemarin." jelas Rika sambil mengingat-ingat kejadian kemarin.
"Alhamdulillah Dek kalau dia nanti punya pacar. Kan kita ga ada yang gangguin lagi." kata Bayu sembari mencolek dagu Rika.
"Apaan sih Mas. Kita kan lagi bahas Nisa." kata Rika tersenyum sambil menunduk karena malu.
"Sekarang giliran bahas tentang kita dong Dek." kata Bayu.
"Emang mau bahas apa Mas?" tanya Rika.
"Gimana kalau kita jalan aja. Kita kan di rumah cuma berdua. Takutnya ada tetangga yang salah sangka." ucap Bayu.
"Oke Mas. Aku ganti baju sama ambil tas dulu ya." kata Rika sembari berlari ke kamarnya. Tak berapa lama kemudian Rika sudah keluar kamar dengan menenteng tas kecil.
"Ayok Mas. Aku udah siap nih." ucap Rika.
"Yuk." sahut Bayu langsung berdiri dan menggandeng tangan Rika. Mereka pun keluar kontrakan dan pergi dengan menggunakan motor Bayu.
Sementara Nisa sudah hampir sampai di tempat dia janjian ketemu dengan Revan. Nisa melirik ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 17:15. Tapi Nisa belum melihat kehadiran Revan.
"Apa Mas Revan lupa ya?" gumam Nisa.
"Capek-capek datang ke sini malah dianya lupa. Pulang aja deh." gerutu Nisa sembari membalikkan badannya hendak kembali pulang. Tapi malah Nisa tidak sengaja menabrak seorang laki-laki berbadan kekar.
"Aduh. Maaf Mas, aku ga sengaja." ucap Nisa menunduk karena takut jika laki-laki itu marah.
"Kamu suka banget ya nabrak aku. Atau mau aku peluk lagi?" kata laki-laki itu. Nisa memberikan diri untuk mengangkat kepalanya.
"Eh. Mas Revan. Maaf ya. Hehe." kata Nisa tersenyum.
"Ga masalah kok dek. Aku malah seneng kalau ditabrak cewek semanis kamu." ucap Revan tersenyum.
"Mas Revan gombal mulu." kata Nisa.
__ADS_1
"Kamu kenapa malu?" goda Revan sembari memegang dagu Nisa agar menatapnya. Saat Nisa dan Revan bertatapan, seolah ada sengatan listrik dalam tubuh Nisa. Nisa segera memalingkan wajahnya malu.
"Cari tempat makan yuk Dek. Aku laper nih." kata Revan sambil memegang tangan Nisa.
"Mau makan dimana Mas. Kalau bisa makan nasi ya. Aku laper banget. Capek banget seharian di kampus." kata Nisa.
"Nasi goreng mau ga. Aku ada tempat favorit nih." ucap Revan.
"Boleh juga Mas." kata Nisa setuju dengan usulan Revan.
"Ya udah. Ayok naik." ucap Revan. Nisa memperhatikan Revan yang menaiki motor sport-nya.
"Keren banget." kata Nisa dalam hati.
"Kok malah bengong Dek. Ayo naik, katanya laper." ucap Revan yang menarik tangan Nisa agar segera naik ke motornya.
"I, iya Mas. Aku naik nih. Bawel banget kayak emak-emak." kata Nisa.
"Pegangan." kata Revan memegang tangan Nisa dan meletakkannya di perutnya. Secara otomatis posisi Nisa saat ini seolah sedang memeluk Revan dari belakang. Saat Nisa hendak menarik tangannya, Revan lebih dulu memegangnya erat.
"Kamu mau selamat apa ga sih? Disuruh pegangan kok ga mau." ucap Revan.
"Tapi aku malu mas?" bisik Nisa.
"Emang kamu malu sama siapa? Kita kan pake baju." kata Revan tersenyum menggoda.
"Udah nurut aja. Keburu kita pingsan disini gara-gara lapar." ucap Revan yang langsung menjalankan motornya.
Sepanjang jalan Nisa hanya menunduk karena malu. Lain halnya dengan Revan, dia tersenyum senang karena bisa dipeluk Nisa meskipun hanya dari belakang.
20 menit kemudian, mereka sudah sampai ditempat tujuan. Nisa merenggangkan tangannya yang terasa kaku. Karena Nisa tak bergerak selama perjalanan.
"Kamu capek naik motor?" tanya Revan.
"Lumayan Mas, apalagi kalau pegangan kayak tadi. Beda kalo pake matic. Ga pegangan juga ga apa-apa." jelas Nisa.
"Mau pake motor apa aja kalo ga pegangan ya bahaya Dek. Kamu ini ada-ada aja. Mau aku pijitin?" tanya Revan menggerakkan jari-jarinya seolah hendak memijit.
"Ga usah Mas. Aku geli kalo dipijitin." sahut Nisa.
"Enak tau Dek. Aku aja mau dipijit kalo ada tukang pijit disini." ucap Revan.
"Mau aku cariin Mas?" tanya Nisa polos.
"Ga usah Dek. Kita kan kesini mau makan. Ayok masuk." kata Revan sembari menggandeng Nisa.
Mereka pun segera masuk kedalam dan memesan makanan serta minuman. Lalu mencari tempat duduk yang kosong. Entah kenapa Nisa merasa bahwa para pengunjung di sana sedang memperhatikan mereka. Nisa menoleh ke sana kemari.
"Kamu kenapa Dek?" tanya Revan yang bingung dengan tingkah Nisa.
"Ga apa-apa Mas. Oh iya, apa ada yang aneh denganku Mas?" tanya Nisa.
"Maksud kamu aneh gimana sih?" sahut Revan.
"Itu lho Mas, kok mereka pada liatin kita gitu?" tanya Nisa agak menunduk.
"Mungkin mereka pikir kita pasangan yang serasi. Kamu cantik. Aku ganteng." kata Revan asal.
"Idih. Pede banget ngaku-ngaku ganteng." kata Nisa.
"Emang aku ganteng kan?" tanya Revan mengedipkan sebelah matanya.
"Haha. Kasian banget Mas Revan ini." kata Nisa.
"Kok malah kasian Dek?" tanya Revan mengernyitkan dahi.
"Gimana ga kasian coba? Gara-gara ga ada yang muji Mas Revan ganteng, jadinya muji diri sendiri. Hahahaha." jelas Nisa tergelak. Revan pun ikut tertawa dengan candaan Nisa.
"Kamu bisa aja Dek. Lagian kan bagus kalau pede daripada minder kayak kamu. Udah dibilang cantik masih aja ga percaya." kata Revan.
"Bukan minder Mas. Aku cuma takut sombong aja." ucap Nisa.
"Pede juga bukan berarti sombong Dek Nisa yang manisnya kebangetan. Sebenarnya aku takut lho kalau keseringan dekat sama kamu." ucap Revan.
"Emang kenapa Mas? Aku kan ga bawa pengaruh buruk buat Mas Revan." sahut Nisa cemberut.
"Karena kamu kan manisnya kebangetan. Aku takut aja nanti aku kena diabetes." ucap Revan tersenyum. Nisa yang terkejut mendengar pernyataan Revan, hanya membelalakkan mata.
"Astaga. Kirain takut apaan gitu Mas." kata Nisa tersenyum lalu menunduk karena malu.
"Nisa!" bentak perempuan itu.
•••
__ADS_1