Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 27


__ADS_3

"Mas! Lepasin!" teriak Nisa.


Nisa mendorong tubuh Revan agar menjauh. Bukannya menjauh, Revan malah mengeratkan pelukannya.


"Apa sih, Dek? Teriak-teriak kayak di hutan aja." ucap Revan yang masih dalam keadaan terpejam.


"Mas Revan yang apaan. Udah dibilangin aku mau istirahat, malah gangguin aja." gerutu Nisa.


"Mana ada aku gangguin kamu. Aku kan juga ikut tidur sama kamu." kata Revan.


"Ini apa kalau ga gangguin?" tanya Nisa sambil menunjuk ke arah tangan Revan yang memeluknya.


"Kenapa sama tangan aku? Aku kan cuma peluk kamu, sayang." sahut Revan tanpa rasa bersalah.


"Gulingnya tadi mana?" tanya Nisa kemudian.


"Udah aku buang, Dek. Abisnya aku ga bisa peluk kamu kalau ada guling itu." jawab Revan.


Nisa menghela nafas panjang. Sulit sekali istirahat kalau ada Revan dikamar.


"Terserah kamu aja, Mas." kata Nisa kemudian.


"Itu berarti aku boleh tidur sambil peluk kamu kan, Dek?" tanya Revan tersenyum.


"Hem. Asal ga kencang-kencang aja. Aku ga bisa nafas kalau kamu peluknya kekencangan." jelas Nisa.


"Oke, sayang." sahut Revan sambil merenggangkan pelukannya.


Mereka pun tertidur pulas. Bahkan tanpa sadar, Nisa membalikkan badannya menghadap Revan.


Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa kini usia pernikahan Revan dan Nisa sudah hampir satu tahun.


Nisa sudah menyelesaikan kuliahnya sebulan yang lalu. Dan kini ingin ia fokus untuk mengurus rumah tangganya.


Nisa dan Revan sangat bahagia dengan pernikahan mereka. Namun ada satu hal yang membuat hati Nisa sedih. Mereka belum diberi kepercayaan untuk memiliki momongan.


Sering kali Nisa menangis, seakan-akan dia tidak berguna untuk suaminya. Revan selalu berusaha menenangkan hati Nisa agar tidak terlalu memikirkan hal itu.


"Sayang. Ga terasa kita menikah udah hampir setahun ya? Waktu cepat banget jalannya." ucap Revan setelah mereka melakukan ritual sebelum tidur.


"Iya, Mas. Aku minta maaf ya, Mas. Sampai saat ini aku belum hamil juga." kata Nisa.


Revan meraih dagu Nisa dan menatap matanya. Sangat terlihat ada rasa bersalah dimata Nisa.


"Sayang. Kita baru setahun nikahnya. Banyak kok yang sampai 20 tahun belum punya anak. Mungkin Allah SWT masih ingin kita pacaran dulu. Lagian kita juga masih muda. Aku ga masalah kok, Dek." jelas Revan yang langsung mengecup kening Nisa.


"Tapi, Mas," ujar Nisa.

__ADS_1


"Udah, Dek. Kita cukup berdoa sama berusaha aja. Selain itu, kita pasrah sama Sang Pencipta." kata Revan.


Nisa akhirnya mengangguk.


"Oh iya, Dek. Gimana kalau nanti kita liburan akhir tahun dirumah Bapak Ibuk?" tanya Revan.


Nisa sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah Revan. Nisa sedikit tidak yakin untuk berkunjung ke sana.


"Gimana, sayang?" tanya Revan lagi.


Revan berusaha agar Nisa tidak terlalu memikirkan untuk memiliki momongan. Bukan maksud Revan tidak menginginkannya, tapi Revan tidak mau Nisa terbebani dengan hal itu.


"Tapi aku takut, Mas. Kamu masih ingat kan bagaimana situasi saat pernikahan kita?" tanya Nisa khawatir.


"Aku masih ingat, Dek. Tapi apa kamu ga kangen sama Bapak?" tanya Revan.


"Aku kangen, Mas. Tapi," ucap Nisa.


Belum sempat Nisa menyelesaikan ucapannya, Revan meletakkan jari telunjuknya di bibir Nisa agar berhenti bicara.


"Kalau kamu takut, kita akan nginep di hotel aja. Gimana? Mau kan?" tanya Revan.


"Iya, Mas. Aku mau." jawab Nisa tersenyum.


"Gitu dong senyum. Tambah cantik istriku ini kalau lagi senyum." ucap Revan sambil mengecup kening Nisa.


"Bisa dong, sayang. Tidur yuk. Besok aku ada meeting pagi." ucap Revan.


Nisa melirik ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 02:30. Nisa segera memperbaiki selimut yang menutupi tubuh mereka.


"Ya udah cepat ayo tidur. Udah hampir pagi ini." sahut Nisa.


Mereka pun tertidur sambil berpelukan. Meskipun belum memiliki momongan, tapi mereka selalu bahagia. Tidak ada masalah yang begitu besar menimpa keluarga kecil itu.


Beruntung sang Nenek juga mengerti dengan kondisi Nisa. Nenek tidak memaksa agar Nisa cepat memiliki keturunan.


Waktu liburan yang mereka rencanakan telah tiba. Sudah beberapa hari yang lalu Nisa mempersiapkan segala keperluan mereka.


"Nenek yakin ga mau ikut kita ke rumah Bapak?" tanya Nisa saat mereka sedang sarapan.


Nisa sangat antusias untuk bertemu dengan keluarga angkatnya. Sudah sekian lama mereka tidak bertemu. Nisa berharap ibu angkatnya sudah tidak membencinya lagi.


"Nenek ga ikut, Nduk. Nenek ga kuat perjalanan jauh, apalagi pakai mobil. Bisa-bisa pinggang Nenek encok." kata Nenek.


"Nenek mau kita bawain apa dari sana?" tanya Nisa kemudian.


"Nenek cuma mau kalian kembali dengan selamat aja, Nduk. Itu udah cukup buat Nenek." jawab Nenek.

__ADS_1


"Insyaallah, Nek." sahut Revan.


Mereka kembali melanjutkan menyantap makanan. Setelah selesai sarapan, Nisa dan Revan segera berangkat ke Semarang. Tempat tinggal orang tua angkat Nisa.


"Mas. Aku seneng banget akhirnya kita bisa liburan setelah sekian lama. Terakhir kita liburan pas honeymoon itu kan? Duh, udah lama banget ya ternyata." kata Nisa.


"Iya, Dek. Kayak baru kemarin aja ya kita nikahnya?" tanya Revan tersenyum.


"Kamu ga bosen kan sama aku selama ini?" tanya Nisa.


Revan sedikit terkejut mendengar pertanyaan Nisa.


"Bosen? Ga ada alasan buat aku untuk bosen sama kamu, Dek. Kamu adalah hal terindah yang ada di hidup aku saat ini selain Nenek." jawab Revan.


Revan memegang tangan Nisa dan mengecupnya.


"Tapi kan aku belum bisa ngasih apa yang kamu harapkan, Mas." ucap Nisa.


Revan mulai mengerti arah pembicaraan Nisa. Revan menepikan mobilnya. Revan menatap wajah Nisa.


"Sayang. Aku memang berharap itu. Tapi aku ga bisa memaksakan kehendak Allah. Tolong jangan pikirkan ini ya. Atau anggap aja kita ini pengantin baru. Dan sekarang kita mau pergi honeymoon. Gimana?" tanya Revan.


"Iya, Mas. Semoga dengan honeymoon kita yang kedua ini, kita dipercaya untuk merawat seorang anak." sahut Nisa.


"Amin." ucap mereka bersamaan sambil meraup wajah masing-masing.


"Kita jalan lagi, ya? Ingat, ga boleh terlalu dipikirkan." kata Revan.


"Iya, Mas." sahut Nisa.


Revan kembali menjalankan mobilnya. Sesekali mereka bersenda gurau agar tidak jenuh saat perjalanan.


"Oh iya, Dek. Nanti kita ke hotel dulu ya. Besok baru kita kerumah Bapak. Ga apa-apa kan?" tanya Revan.


"Ga apa-apa, Mas. Lagian kasian kamu kalau langsung ke sana. Kamu pasti capek nyetirnya." sahut Nisa.


"Capek ku hilang kalau liat senyum kamu, Dek." kata Revan tersenyum.


"Aku bisa diabetes kalau keseringan denger kamu ngomong manis, Mas." ucap Nisa tersipu malu.


Nisa mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Nisa seperti melihat seseorang yang ia kenal.


 


•••


 

__ADS_1


__ADS_2