Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 18


__ADS_3

Nisa mengernyitkan dahi tidak mengerti apa yang di maksud Revan.


"Maksud kamu apa sih, Mas? Aku kok ga paham, ya?" tanya Nisa kemudian.


"Haha. Aku kasih tahu nanti aja, Dek. Yang penting sekarang kamu siap-siap aja. Jaga kesehatan." kata Revan.


Revan tersenyum membayangkan bagaimana malam pertamanya nanti bersama Nisa. Nisa menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kamu kesambet ya, Mas?" tanya Nisa kemudian.


"Hush. Kamu ngomong apa sih, Dek? Aku baik-baik aja, kok." sahut Revan.


"Tapi kamu tadi senyum-senyum sendiri, Mas. Kayak orang kesurupan, eh bukan. Kayak orang gila. Haha." ucap Nisa tertawa.


"Tega banget ngatain calon suaminya sendiri orang gila. Memangnya kamu mau punya suami orang gila?" tanya Revan.


Revan sedikit kesal dengan Nisa. Namun ia juga senang saat melihat Nisa bisa tertawa.


"Ya ga mau lah, Mas. Ntar aku ikutan gila dong." kata Nisa menghentikan tawanya.


"Kan enak kalau jadi orang gila, Dek. Ga perlu mikirin pakai baju, cari uang, dan masih banyak lagi." ucap Revan.


"Ya ga gitu juga kali, Mas. Kalau kita jadi orang gila, mana bisa hati kita berfungsi." sahut Nisa.


"Oh iya, ya. Kalau aku gila ga mungkin bisa jatuh cinta sama kamu." ucap Revan tersenyum.


"Bisa banget ya gombalnya." kata Nisa tersipu malu.


"Bisa dong. Oh iya, Dek. Ngomong-ngomong kamu cantik kalau pakai baju kayak gitu. Tapi pas di depan aku aja ya." ucap Revan.


Nisa segera melihat bajunya setelah mendengar perkataan Revan. Lalu Nisa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Ga usah di tutup selimut, Dek." kata Revan.


Namun Nisa tetap menutup tubuhnya dengan selimut. Nisa malu jika orang lain melihatnya sedang memakai baju terbuka. Bahkan jika orang itu adalah Revan, calon suaminya sendiri.


"Malu, Mas." ucap Nisa menunduk malu.


"Ngapain malu, Dek? Kita kan bentar lagi sah jadi suami istri." tanya Revan.


"Tetap saja malu, Mas. Kan sekarang masih calon." kata Nisa.


"Ya ga apa-apa kali, Dek. Lihat dikit." ucap Revan tersenyum.


"Tadi malah udah lihat banyak, Mas." sahut Nisa manyun.


"Haha. Kamu kalau manyun gitu jadi lucu, Dek." ucap Revan.


Revan berusaha menggoda Nisa agar tersenyum. Sayangnya Nisa masih menundukkan kepala. Nisa menahan agar tidak tergoda dengan rayuan Revan.


"Senyum lah, Dek. Kamu cantik banget kalau senyum. Bahkan bidadari saja kalah sama kecantikan kamu." ucap Revan.


Tut.


Tiba-tiba ponsel Nisa mati. Dan ia baru teringat kalau seharian ini belum mengisi baterai ponselnya.


Akhirnya Nisa memilih tidur setelah mengisi baterai ponselnya yang mati. Tanpa mempedulikan Revan.


Berbeda dengan Nisa yang tertidur pulas, Revan justru tidak bisa tidur. Revan kepikiran dengan Nisa yang tiba-tiba mematikan teleponnya. Bahkan saat Revan mencoba menghubunginya lagi, ponselnya mati.


"Apa Nisa marah sama aku, ya?" gumam Revan.


"Oh iya. Aku telepon Rika aja. Biar dia lihat keadaan Nisa gimana." kata Revan.


Revan mulai mencari kontak Rika, lalu segera meneleponnya.


"Halo, Rik. Kamu sudah tidur belum?" tanya Revan.


"Sudah, Mas. Ada apa? Tumben telepon aku malam-malam gini?" tanya Rika sambil mengucek matanya.


"Bisa tolong lihat Nisa ga, Rik? Aku khawatir sama dia. Tadi dia tiba-tiba matiin teleponnya. Pas aku coba telepon lagi, ga nyambung. Kayaknya dia marah sama aku deh." jelas Revan.


Rika tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Revan.


"Kamu telepon aku malam-malam begini hanya untuk lihat Nisa marah atau tidak sama kamu, Mas?" tanya Rika.


"Iya, Rik." jawab Revan.


Rika kembali tertawa. Rika tidak menyangka seorang Revan bisa mempunyai sifat selembut itu.


Dengan malas Rika mulai beranjak dari tempat tidurnya. Rika berjalan menuju ke kamar Nisa. Saat tiba di depan pintu kamar Nisa, Rika berhenti.


"Video call aja, Mas. Biar kamu bisa lihat sendiri." ucap Rika.


Akhirnya mereka mengganti telepon menjadi video call. Rika segera membuka pintu kamar Nisa.


Dilihatnya Nisa yang sudah terlelap. Sedangkan ponselnya memang dalam keadaan mati karena sedang mengisi baterai.


"Sudah puas belum, Mas?" tanya Rika.


"Sudah, Rik. Besok aku telepon Nisa aja. Kamu udah bisa kembali ke kamar, Rik. Makasih ya. Aku matiin teleponnya sekarang ya, Rik." kata Revan.


Revan mematikan teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Rika. Rika sedikit kesal karena Revan mematikan telepon secara sepihak.


Rika pun segera kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.


Sedangkan Revan masih memikirkan Nisa.

__ADS_1


"Apa yang terjadi nanti setelah aku menikah dengan Nisa, aku harus siap menghadapinya." gumam Revan sambil melihat foto Nisa yang ada di ponselnya.


Keesokan paginya saat sarapan, tiba-tiba Rika muncul dari belakang dan mengagetkan Nisa.


"Rika! Kalau aku mati sebelum nikah sama Mas Revan gimana?" tanya Nisa kesal.


Nisa pun berpindah tempat duduk di dekat Bu Ani. Bu Ani hanya geleng-geleng kepala melihat anak-anaknya yang sudah bertengkar meskipun hari masih pagi.


"Kalau sampai kamu mati sebelum nikah, Mas Revan pasti akan senang. Karena dia bisa mencari wanita yang jauh lebih cantik dari kamu. Haha." sahut Rika tertawa.


Rika segera duduk di kursi lalu mengisi piringnya dengan nasi dan lauk yang ada di meja.


"Ga boleh ngomong kayak gitu, Nduk. Ucapan itu do'a lho." ucap Bu Ani.


"Iya, Buk. Maaf." kata Rika.


"Maafnya sama Nisa dong. Masa' sama Ibuk?" tanya Bu Ani.


"Maaf y, Nis." ucap Rika tanpa menatap Nisa.


"Hem." kata Nisa singkat.


Mereka pun kembali makan dengan tenang. Sebelum akhirnya Rika kembali bersuara.


"Oh iya, Nis. Ponsel kamu sudah nyala belum. Katanya Mas Revan mau telepon kamu pagi ini." kata Rika.


"Aku lupa, Rik. Nanti lah setelah selesai makan aku nyalain ponsel. Mas Revan tadi telepon kamu ya, Rik?" tanya Nisa.


"Bukan tadi teleponnya. Tapi tadi malam." jawab Rika.


"Tadi malam? Kok bisa? Kalian ga macam-macam di belakang aku kan?" tanya Nisa.


"Ya ga lah, Nis. Lagian aku kan punya Mas Bayu. Yang sudah pasti cinta dan sayang sama aku." jawab Rika.


"Terus ngapain kamu teleponan sama Mas Revan malam-malam?" tanya Nisa.


"Dia itu telepon buat nanyain kamu. Katanya kamu marah sama dia. Terus matiin telepon tanpa bicara apa-apa. Ditelepon lagi katanya ga bisa. Dia itu khawatir sama kamu." jelas Rika.


"Eh. Kok jadi ribet gini, ya. Ntar aku telepon Mas Revan deh. Aku habiskan makannya dulu." ucap Nisa.


Nisa segera menghabiskan makanannya. Setelah itu ia berlari menuju ke kamarnya.


Nisa segera menyalakan ponselnya lalu menelepon Revan. Sayangnya belum bisa tersambung. Nisa mencoba kembali dan masih belum bisa tersambung.


Nisa mulai khawatir pada Revan. Tidak biasanya Revan sulit di hubungi. Nisa kembali mencoba untuk menghubungi Revan.


Dan akhirnya sekarang bisa tersambung.


"Halo, Dek." sapa Revan.


"Halo, Mas. Kamu lama banget angkat teleponnya, Mas?" tanya Nisa.


"Oh, ya? Ngobrol apaan emangnya?" tanya Nisa.


"Tadi nenek tanya kita mau bulan madu kemana, gitu." sahut Revan.


"Terus kamu jawab kemana, Mas?" tanya Nisa.


"Ada deh. Masih rahasia, Dek." kata Revan.


"Huh. Ya sudah aku matiin aja teleponnya." ucap Nisa.


Nisa segera mematikan teleponnya. Dan melemparkan ponselnya ke atas kasur. Nisa membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Udah capek lari-lari buat telepon, tapi jawabannya bikin kesel kayak gitu." gerutu Nisa.


Nisa pun memilih untuk membuka laptopnya. Nisa mengerjakan tugas kuliahnya yang terbengkalai.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Saat Nisa melirik ponselnya, ternyata Revan yang menghubunginya. Nisa masih malas untuk mengangkatnya.


Akhirnya Nisa memilih untuk sibuk dengan laptopnya. Nisa mematikan ponselnya agar tidak mengganggu.


Tidak berapa lama kemudian, Rika masuk ke kamar Nisa dengan tergesa-gesa.


"Nisa!" teriak Rika.


"Apaan sih, Rik?" tanya Nisa.


"Nyalain itu ponsel kamu sekarang." ucap Rika dengan wajah marah.


"Emang kenapa? Aku lagi fokus sama laptop ini. Jangan ganggu deh." kata Nisa.


Nisa tak sedikitpun menoleh ke arah Rika, karena Nisa tahu kedatangan Rika itu pasti karena Revan.


"Nis. Please, deh. Jangan buat aku pusing. Capek tahu ga dari tadi di telepon Mas Revan. Sampai ga bisa chating sama Mas Bayu." kata Rika memelas.


"Itu mah derita kamu, Rik. Haha." ucap Nisa tertawa.


"Oh. Begitu ya. Oke kalau begitu. Sini ponsel kamu." sahut Rika.


Rika langsung mengambil ponsel Nisa dan menyalakannya. Lalu ia menelepon Revan.


"Kamu mau apain ponselku sih, Rik? Kembaliin sini." kata Nisa.


Nisa mencoba merebut ponselnya dari Rika. Namun Nisa kesulitan dengan postur tubuhnya yang kecil. Sedangkan Rika jauh lebih tinggi darinya.


"Rika! Kembaliin ponselku!" teriak Nisa.

__ADS_1


"Tolong kasih ke Nisa ponselnya, Rik." kata Revan.


Nisa dan Rika seketika terdiam. Mereka jadi salah tingkah karena Revan mendengar pasti sudah mendengar pertengkaran mereka.


Rika segera memberikan ponsel itu pada Nisa. Lalu ia berlari ke luar kamar meninggalkan Nisa sendirian.


Nisa bingung mau bicara apa pada Revan. Saat melihat ponselnya, ada wajah Revan disana.


"Argh." kata Nisa.


Nisa melemparkan ponselnya ke atas kasur karena terkejut melihat wajah Revan. Saat ini mereka sedang video call.


Nisa pelan-pelan mengambil ponselnya. Dan melihat teleponnya masih terhubung dengan Revan.


"Kamu marah sama aku ya, Dek?" tanya Revan.


"Ga kok, Mas." jawab Nisa gugup.


"Tapi kenapa kamu matikan ponselnya?" tanya Revan lagi.


Nisa menoleh ke sana kemari untuk mencari alasan. Saat melihat laptop, Nisa menemukan jawabannya.


"Aku lagi ngerjain tugas kuliah, Mas. Makanya aku matikan ponselnya. Biar ga keganggu." jawab Nisa sambil memperlihatkan laptopnya.


"Biar ga keganggu sama aku ya?" tanya Revan.


"Eh. Bukan gitu, Mas." sahut Nisa.


"Terus gimana? Aku calon suami kamu lho, Dek." ucap Revan dengan nada marah.


"Maaf ya, Mas." kata Nisa menunduk.


"Lihat aku, Dek." ucap Revan.


Seketika Nisa langsung mengangkat wajahnya dan melihat wajah Revan di ponselnya.


"Jangan matikan ponsel lagi hanya karena kamu mau menghindari aku. Aku khawatir sama kamu, Dek. Aku ga bisa tenang." jelas Revan.


"Iya, Mas." ucap Nisa.


"Rika tadi marah sama kamu ya?" tanya Revan.


"Sedikit, Mas. Tapi ga apa-apa kok, Mas. Lagian dia marah juga gara-gara aku." sahut Nisa.


"Pokoknya lain kali jangan menghindar dari aku lagi ya, Dek. Aku ga bisa kalau ga dapet kabar dari kamu." kata Revan.


Mereka pun akhirnya berbaikan kembali. Entah berapa lama mereka video call. Bahkan Nisa sampai lupa dengan tugas kuliahnya.


Setelah puas mengobrol, Nisa memutus teleponnya. Saat melihat jam yang ada di ponsel, Nisa terkejut karena sudah menunjukkan pukul 12:15.


Nisa segera keluar kamar. Nisa menunggu orang tuanya datang siang ini. Namun saat tiba di ruang tamu, hanya ada Pak Sugi disana. Wajah Nisa jadi lesu.


"Cari apa, Nduk? Kok sampai lari-lari begitu?" tanya Pak Sugi.


"Nisa cari orang tua Nisa, Pak. Katanya mereka akan sampai siang ini." sahut Nisa.


Nisa duduk di samping Pak Sugi. Nisa melihat ponselnya. Tidak ada pesan dari orang tuanya.


"Mungkin mereka kena macet, Nduk. Kamu sabar aja. Mereka pasti dateng di acara pernikahan kamu." kata Pak Sugi.


Pak Sugi mengusap kepala Nisa pelan, agar pikiran Nisa bisa lebih tenang.


"Kalau mereka ga mau dateng gimana, Pak?" tanya Nisa.


Mata Nisa mulai berkaca-kaca saat menatap Pak Sugi. Pak Sugi merasa tidak tega pada Nisa.


"Kalau mereka tidak mau datang, biar Bapak yang jadi wali nikah kamu." kata Pak Sugi.


Pak Sugi merangkul pundak Nisa. Nisa menangis membayangkan bagaimana jika orang tuanya tidak datang saat ijab qobul nya nanti.


"Kamu tenang saja, Nduk. Mereka pasti akan datang. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa agar mereka mau datang ke pernikahan kamu." ucap Pak Sugi.


"Kamu kok nangis, Nduk?" tanya Bu Ani.


Bu Ani segera meletakkan barang-barang belanjaannya dan menghampiri Nisa yang menangis. Lalu ia memeluk Nisa.


Tangis Nisa semakin menjadi saat dipeluk Bu Ani. Bu Ani mengusap-usap punggung Nisa untuk menenangkan hatinya.


"Nisa takut orang tua Nisa tidak akan datang ke pernikahan Nisa, Buk." kata Nisa sesenggukan.


"Kamu harus yakin, Nduk. Mereka pasti datang. Sekarang kan masih banyak waktu. lagipula calon pengantin tidak boleh nangis. Nanti tidak cantik pas di rias." ucap Bu Ani.


Bu Ani mengusap air mata Nisa yang masih terus mengalir.


"Senyum lah, Nduk. Besok adalah hari bahagia kamu. Jangan ada air mata kesedihan nanti." kata Bu Ani.


Nisa menunduk mendengarkan kata-kata Bu Ani. Memang benar apa yang diucapkan Bu Ani.


"Nisa akan mencoba untuk senyum, Buk. Nisa akan menunggu orang tua Nisa datang. Nisa yakin mereka pasti akan datang ke pernikahan Nisa." ucap Nisa.


Nisa mengusap air matanya dan mencoba untuk tersenyum.


"Bagus, Nduk. Sekarang kita makan siang aja. Rika tadi juga udah masak." ajak Bu Ani.


"Iya, Nis. Ayo kita makan. Bapak udah laper banget." kata Pak Sugi yang langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Memangnya Rika masak apa, Buk? Kok Nisa ga yakin ya, kalau masakannya enak." kata Nisa.

__ADS_1


Bukk.


•••


__ADS_2