
"Abis kamu gemesin, Dek." kata Revan tersenyum.
"Sudah jangan gombal mulu. Cepat ah kita ke toko cincin. Sudah ga sabar nih mau lihat cincinnya." kata Nisa.
15 menit kemudian, mereka tiba di toko cincin. Revan mengajak Nisa untuk segera masuk ke dalam toko. Semua cincin terlihat bagus di mata Nisa. Tapi ada satu yang membuatnya jatuh hati.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya pegawai toko.
"Saya mau lihat yang ini, Mbak." sahut Nisa sambil menunjuk ke arah sepasang cincin yang ada di etalase.
"Ini, Mbak." kata pegawai toko sembari memberikan cincin tersebut pada Nisa.
"Yang ini gimana, Mas?" tanya Nisa pada Revan.
"Bagus, Dek. Terlihat sederhana tapi cantik. Kayak kamu." ucap Revan tersenyum.
"Aku serius, Mas." kata Nisa manyun.
"Aku juga serius, Dek. Kalau kamu suka yang itu, kita ambil." ucap Revan sambil merangkul pundak Nisa.
"Boleh, Mas?" tanya Nisa.
"Ya boleh lah, Dek. Ini nanti kan kamu juga yang pakai. Jadi terserah kamu mau pilih yang mana." sahut Revan.
"Oke. Kalau begitu kita beli yang ini. Harganya berapa ya, Mas?" tanya Nisa berbisik.
"Untuk itu biar jadi urusan aku, Dek." kata Revan.
"Kalau mahal kita ga jadi ambil yang ini ya, Mas. Sayang uangnya. Baju pengantin saja tadi pasti sudah mahal. Jadi cincinnya ga usah yang mahal ya." kata Nisa sambil merangkul lengan Revan.
"Baju tadi kan nenek yang beliin. Kalau cincin, aku yang beliin. Jadi biarpun mahal, pasti aku beli buat kamu." ucap Revan tersenyum.
"Tapi, Mas." kata Nisa.
"Sudah, ga ada tapi tapian. Sekarang kamu duduk di kursi dulu ya. Biar aku bayar cincin ini di kasir." ucap Revan sambil melangkah ke arah kasir.
Nisa pun duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Mas Revan." sapa seorang wanita pada Revan.
Revan yang merasa dipanggil pun segera menoleh ke arah sumber suara.
"Dania?" tanya Revan sedikit terkejut.
"Mas Revan masih ingat aku? Syukurlah kalau begitu. Mas Revan ngapain di sini sendiri?" tanya Dania.
"Eh. Ini aku habis beli cincin." ucap Revan sembari memperlihatkan cincin yang dia beli.
"Mas Revan mau nikah? Kok cincinnya sepasang?" tanya Dania sedikit berteriak karena terkejut.
"Iya. Aku akan menikah lusa. Kamu datang ya." ucap Revan.
"Iya, Mas. Nanti aku usahakan." kata Dania menunduk.
Tidak ada senyum lagi di bibirnya setelah mendengar bahwa Revan akan segera menikah.
"Oke. Aku tunggu ya. Oh iya, aku pergi dulu ya. Sudah di tunggu sama calon istriku." ucap Revan sambil melangkah pergi menuju tempat Nisa sedang duduk menunggunya.
"Maaf ya, Dek. Kamu kelamaan nunggunya." kata Revan tersenyum dan langsung duduk di samping Nisa.
"Ga apa-apa kali, Mas. Aku belum jamuran kok di sini." sahut Nisa tersenyum.
"Bisa saja kamu, Dek. Oh iya, kita makan siang dulu, Dek. Sudah lewat jam makan siang ini." kata Revan sambil melirik jam tangannya.
"Pantas saja dari tadi aku kayak dengar suara ayam di perut kamu, Mas." ucap Nisa.
"Kamu dengar, Dek? Haha. Jadi malu aku." kata Revan.
"Kita impas ya, Mas. Tadi pagi yang bunyi perut aku. Sekarang perut kamu." ucap Nisa tertawa.
"Hehe. Impas kok hanya masalah perut, Dek. Ada-ada saja kamu." kata Revan sambil mencolek dagu Nisa.
"Jangan kayak gini di tempat umum, Mas. Malu." ucap Nisa cemberut.
"Oke deh. Maaf ya. Sekarang kita mau makan di mana nih?" tanya Revan.
"Tongseng kambing mau ga, Mas?" tanya Nisa.
"Sebenarnya aku ga begitu suka daging kambing, Dek. Tapi okelah kita makan tongseng kambing." sahut Revan.
"Kalau kamu ga suka, kita makan yang lain saja, Mas." ucap Nisa.
"Ga apa-apa, Dek. Aku akan belajar menyukai apa yang kamu sukai. Anggap saja ini cara aku menunjukkan rasa cinta ku padamu." jelas Revan.
__ADS_1
"Apaan sih, Mas. Kita lagi ngomongin soal kambing. Bukan cinta." sahut Nisa.
"Hehe. Sudah ah. Ayo kita makan sekarang. Keburu aku makan kamu ini kalau kelamaan." ucap Revan yang langsung merangkul tubuh Nisa dan mengajaknya untuk segera ke mobil.
"Pelan-pelan saja, Mas." kata Nisa.
"Ga bisa pelan kalau urusan perut mah." ucap Revan.
"Oke. Oke. Ayo kita jalan." kata Nisa sambil masuk ke dalam mobil.
Revan pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan toko perhiasan tersebut.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi mereka.
"Jadi calon istri kamu itu adalah Nisa. Bagaimana mungkin kamu menolak aku, hanya untuk menikah dengan dia? Apa lebihnya dia di banding aku sampai kamu lebih memilih dia untuk jadi istri kamu? Bahkan semua orang tahu kalau aku lebih cantik dan kaya di banding dia." gumam Dania sambil menatap kepergian Revan dan Nisa.
20 menit kemudian, Revan dan Nisa sudah tiba di sebuah warung makan yang menyediakan makanan khusus berbahan dasar dari daging kambing. Tempat itu adalah tempat favorit Nisa dan Rika. Selain karena rasanya yang memang enak, pemiliknya pun sangat ramah. Bahkan sudah sangat hafal dengan Nisa dan Rika.
"Ayo kita turun, Mas. Disini makanannya enak banget. Kamu pasti suka." kata Nisa tersenyum senang.
"Iya, Dek. Pelan-pelan saja. Lagian juga sudah agak sepi. Mungkin karena sudah lewat jam makan siang." ucap Revan.
"Keburu kehabisan, Mas. Ayo cepetan." kata Nisa sambil menarik lengan Revan.
"Kamu kayak anak kecil yang takut kehabisan es krim, Dek. Hehe." ucap Revan tersenyum.
"Ini lebih dari es krim, Mas." ujar Nisa.
"Iya, iya deh. Nih aku sudah jalan cepat." kata Revan.
"Bu Sumi." sapa Nisa pada pemilik warung.
Pemilik warung itu pun segera menoleh ke arah Nisa lalu tersenyum.
"Eh. Nisa. Kok sendiri, Nduk? Rika mana?" tanya Bu Sumi.
"Rika di rumah, Bu Sumi. Dia lagi nemenin Bapak sama Ibuk." sahut Nisa.
"Oalah. Ibuk kangen banget sama kalian. Sudah lama sekali kalian tidak kesini." kata Bu Sumi.
"Iya, Buk. Akhir-akhir ini kami memang agak sibuk." ucap Nisa.
"Kamu sendirian saja, Nduk?" tanya Bu Sumi.
"Eh, ga kok Buk. Ini sama calon suami Nisa. Kenalin, Buk. Ini Mas Revan. Mas Revan, kenalin ini Bu Sumi, pemilik warung makan ini." jelas Nisa.
"Saya Bu Sumi. Oh iya, kamu beruntung banget bisa menikah sama Nisa, Nisa ini banyak sekali penggemarnya. Sering banget kalau Nisa kesini pasti ada yang ngikutin." ucap Bu Sumi sambil menjabat tangan Revan.
"Oh, ya?" tanya Revan yang sudah melepaskan tangannya.
"Bu Sumi ini hanya mengarang saja, Mas." ucap Nisa menunduk.
Nisa takut kalau nanti Revan akan marah padanya.
"Ibuk ga ngarang cerita kok, Le. Memang benar Nisa ini banyak penggemarnya, tapi dia hanya diam tanpa menanggapi. Jadi ya mereka akhirnya pergi. Lagipula kalau di lihat-lihat, Mas Revan ini jauh lebih ganteng dari pada laki-laki yang ngejar Nisa. Jadi Mas Revan tenang saja." jelas Bu Sumi.
"Bu Sumi jangan puji Mas Revan kayak begitu. Nanti bisa besar kepala dia." ucap Nisa.
"Ga apa-apa lah, Nduk. Emang calon suami kamu ini ganteng banget kok. Kalau Ibuk masih muda, Ibuk juga mau punya suami seganteng Mas Revan ini." kata Bu Sumi.
"Ehm. Ehm. Bapak kurang ganteng ya?" tanya Pak Seno, suami Bu Sumi.
"Gantengnya sih sudah cukup, Pak. Tapi tingginya yang kurang. Hehe." gurau Bu Sumi.
"Kalau mau yang tinggi ya nikah saja sama tiang listrik." kata Pak Seno kesal.
"Ibuk mending sama Bapak saja daripada sama tiang listrik. Nanti kalau Ibuk ngomel kan ada yang dengerin." ucap Bu Sumi tersenyum.
"Nasib dah. Jadi suami hanya dapat omelan terus." gumam Pak Seno.
"Eh ayo kalian masuk dulu. Masa' ngobrol di luar. Kalian mau pesan apa?" tanya Pak Seno.
"Oalah. Ibuk sampai lupa suruh masuk kalian." sahut Bu Sumi.
"Ga apa-apa kok, Buk. Kita pesan tongseng daging kambing 2 porsi, sama es teh manis 2." kata Nisa.
"Baiklah kalau begitu Ibuk buatkan dulu. Kalian tunggu di dalam." ucap Bu Sumi.
"Iya, Buk." kata Nisa yang mengajak Revan untuk masuk ke dalam warung makan.
Mereka pun duduk di kursi pojok belakang warung tersebut. Hanya mereka berdua pengunjung warung tersebut.
"Benar kan dugaan ku, Dek." ucap Revan tiba-tiba.
__ADS_1
"Maksud kamu ucapan yang mana, Mas?" tanya Nisa bingung.
"Itu lho. Pasti banyak laki-laki yang ngejar kamu. Padahal aku belum sempat tanya sama Rika. Tapi ada orang lain yang ngasih tahu." sahut Revan.
"Oh itu. Yang di bilang Bu Sumi tadi ga benar, Mas. Ga ada kok yang ngejar-ngejar aku. Capek dong kalau di kejar-kejar." gurau Nisa.
"Ga apa-apa kali, Dek. Yang penting kan ga ada yang kamu tanggapi. Justru aku senang." kata Revan tersenyum.
"Kok bisa malah senang, Mas?" tanya Nisa heran sambil mengernyitkan dahi.
"Ya pasti aku senang lah, Dek. Banyak yang ngejar kamu, tapi aku yang akan jadi suami kamu." sahut Revan sambil merangkul pundak Nisa.
"Bisa saja kamu, Mas." ucap Nisa.
"Pasti bisa, Dek." kata Revan mengecup pipi Nisa.
"Oh iya, Mas. Aku boleh tanya sesuatu ga?" ucap Nisa ragu-ragu.
"Kamu mau tanya apa memangya? Tanya saja, ga usah minta izin. Masa' sama calon suami sendiri, mau tanya saja pakai izin segala." sahut Revan.
"Wanita yang ngobrol sama kamu di toko perhiasan tadi siapa?" tanya Nisa menunduk.
"Kamu cemburu ya, Dek?" tanya Revan tersenyum.
"Bukan begitu, Mas. Maksudnya gini loh, aku cuma mau tahu saja kok." kata Nisa tergagap.
"Ga apa-apa lagi kalau memang kamu cemburu. Aku senang kok." ucap Revan.
"Wanita yang tadi itu namanya Dania. Kayaknya dia satu angkatan sama kamu deh. Dulunya memang dia pernah menyatakan cinta sama aku. Tapi aku tolak." kata Revan.
"Kenapa di tolak, Mas? Dia cantik lho." ucap Nisa.
"Dia memang cantik. Tapi cantiknya polesan. Lagipula selama hidupnya, dia hanya tahu cara menghabiskan uang orang tuanya. Bahkan semua orang juga tahu kalau dia itu cewek nakal. Dan yang paling penting, kamu lebih cantik daripada Dania. Makanya aku pilih kamu, Dek." jelas Revan.
"Aku ga mungkin bilang yang sesungguhnya sama kamu sekarang, Dek. Aku ga mau buat kamu menangis lagi seperti hari ini. Akan ada waktunya untuk kamu tahu semuanya." ucap Revan dalam hati.
"Tapi kayaknya dia masih suka sama kamu, Mas. Bisa di lihat dari cara dia menatap kamu tadi." kata Nisa.
"Itu urusan dia, Dek. Yang penting aku sudah jujur tentang perasaanku sama dia. Dan sekarang kan aku sudah punya kamu. Buat apa lagi aku mikirin wanita lain. Sementara wanita di sampingku ini jauh lebih cantik." kata Revan tersenyum lalu mengecup kening Nisa.
"Jangan gini, Mas. Malu ah." ucap Nisa tersipu malu.
"Malu sama siapa coba? Disini hanya ada kita berdua lho, Dek." kata Revan.
"Ya tetap saja malu, Mas. Ini kan tempat umum." sahut Nisa.
"Kalau begitu kita lanjut di mobil saja ya nanti?" kata Revan tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih, Mas? Genit banget." ucap Nisa salah tingkah.
"Kita mau jalan-jalan ke mana habis ini, Dek?" tanya Revan.
"Pulang saja lah, Mas." ucap Nisa.
"Kok pulang sih, Dek? Besok kan kita ga ketemu seharian." kata Revan.
"Hanya sehari lho, Mas. Lagian kan lusa kita udah sah. Nanti bakalan tiap hari, tiap jam, bahkan tiap detik kita ketemu. Anggap saja ini perjuangan, Mas." ucap Nisa tersenyum.
"Tapi, Dek. Aku sudah terbiasa ketemu kamu." kata Revan memelas.
"Kita kan bisa teleponan, Mas. Sudah modern lho sekarang." sahut Nisa.
"Tetap ga puas kalau ga lihat kamu secara langsung." kata Revan sambil memeluk pinggang Nisa.
"Lepasin, Mas. Geli ah." ucap Nisa sambil mencoba melepaskan tangan Revan dari pinggangnya.
"Aku pengen kayak gini, Dek. Besok kan kita ga ketemu. Pokoknya nanti aku mau kita jalan-jalan dulu sebelum pulang." kata Nisa.
"Astaga, Mas. Kayak kita ga akan ketemu selama setahun saja deh. Ini hanya sehari lho, Mas. Kamu kayak anak kecil saja." ucap Nisa sambil menggelengkan kepalanya.
"Biarin. Yang penting aku bisa sama kamu." kata Revan yang masih terus memeluk pinggang Nisa.
"Terserah kamu saja lah, Mas. Aku nurut." ucap Nisa pasrah.
"Kenapa ga dari tadi saja nurutnya, Dek?" tanya Revan.
"Ya, aku mau lihat perjuangan kamu dulu dong. Masa' langsung iyain saja." sahut Nisa tersenyum.
"Usil ya calon istriku ini. Kayaknya aku juga harus balas keusilan kamu ini, Dek." ucap Revan tersenyum sambil menatap wajah Nisa.
"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Nisa sedikit ketakutan.
"Ya, kamu juga harus terima keusilanku." kata Revan.
__ADS_1
Revan pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa. Nisa bergerak mundur untuk menghindari Revan. Sampai akhirnya punggung Nisa terbentur pada dinding. Nisa tidak bisa menghindar lagi. Revan tersenyum penuh kemenangan karena kini Nisa tidak bisa menghindar lagi darinya.
•••