Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 10


__ADS_3

"Bisa aja kamu Rik." ucap Nisa tersenyum malu.


"Kamu cantik sekali Nduk." ucap Bu Ani.


"Tuh kan Nis. Ibuk aja juga bilang kalau kamu cantik." sahut Rika.


"Udah ah jangan muji aku terus. Bisa-bisa kepala aku jadi segede rice cooker." ucap Nisa menunduk malu.


"Oh iya Rika. Kamu ganti baju sama dandan sana. Itu Bayu udah dateng." kata Bu Ani.


"Kok Ibuk ga kasih tahu dari tadi sih. Tahu gitu kan aku langsung keluar." sahut Rika.


"Habisnya Ibuk terpesona lihat kecantikan Nisa hari ini. Jadi lupa kalau tujuan Ibuk kesini buat kasih tahu kamu kalau Bayu udah dateng." jelas Bu Ani.


"Kalau gitu aku mau dandan dulu. Biar semua orang terpesona sama aku." kata Rika sambil melangkah pergi menuju ke kamarnya.


"Ada-ada saja anak itu. Oh iya Nduk, apa calon suami kamu sudah dalam perjalanan kesini?" tanya Bu Ani pada Nisa.


"Sudah Buk. Sebentar lagi mungkin sudah sampai." kata Nisa.


"Bagaimana perasaan kamu Nduk? Ibuk ga nyangka kamu udah mau nikah aja." ucap Bu Ani meneteskan air mata.


"Nisa deg-degan Buk. Ibuk kok nangis?" tanya Nisa saat melihat Bu Ani menangis.


"Ibuk cuma terharu sayang. Kamu sudah Ibuk anggap seperti anak kandung Ibuk. Rasanya senang, sedih, haru menjadi satu dalam hati Ibuk." kata Bu Ani memeluk Nisa.


"Terima kasih ya Buk. Atas sayang yang Bapak Ibuk kasih buat aku." ucap Nisa.


"Nisa. Itu calon suami kamu sudah datang. Ayo kita keluar untuk menemui mereka." kata Rika sambil meraih tangan Nisa.


"Santai saja Nduk. Semua pasti akan berjalan dengan lancar." ucap Bu Ani mencoba menenangkan Nisa. Nisa tersenyum sambil mengangguk pelan.


Nisa berjalan menuju ke ruang tamu dengan digandeng oleh Rika dan Bu Ani.


Saat sampai di ruang tamu, semua mata tertuju pada Nisa. Senyum tersungging di bibir mereka. Hanya Bu Endang yang tersenyum.


"Nisa?" sapa seorang wanita.


Nisa pun menoleh kearah sumber suara. Nisa terkejut melihat siapa yang menyapanya.


"Nenek? Nenek kok ada di kontrakan Nisa? Ada perlu apa Nek?" tanya Nisa heran.


"Nenek mau melamar kamu untuk Revan Nduk." kata Nenek Rusmini.


"Nenek udah kenal sama Nisa?" tanya Revan.


"Iya nak. Nisa ini perempuan yang waktu itu pernah bantuin nenek saat kecopetan. Waktu itu nenek pengen kenalin kamu sama Nisa, tapi kamu bilang udah ada calon. Tapi ternyata calon kamu itu Nisa yang nenek mau kenalkan sama kamu." kata Nenek Rusmini pada Revan.


"Dunia memang sempit ya." kata Pak Harto. Dan langsung membuat mereka tertawa.


"Kamu cantik sekali Nduk? Ga salah Revan pilih kamu." ucap Nenek Rusmini.


"Makasih Nek. Nenek bisa aja." sahut Nisa tersipu malu.


Acara lamaran pun segera dimulai. Dimulai dengan membaca do'a. Tukar cincin. Sampai dengan pembahasan tentang pernikahan.


Sepanjang acara, pandangan Revan tidak lepas dari Nisa. Revan begitu mengagumi kecantikan Nisa. Cantik yang alami.


Nisa yang merasa dipandang pun terus menunduk malu. Tidak hanya Revan yang memandangnya, hampir semua orang di ruangan itu memandang Nisa.


Hingga akhirnya acara pun selesai. Dan sudah diputuskan bahwa pernikahan akan diadakan 3 hari lagi. Awalnya pihak Nisa menolak karena itu terlalu cepat. Namun Nenek Rusmini meyakinkan pihak Nisa agar setuju. Dan pihak Nisa pun setuju jika pernikahan diadakan 3 hari lagi.


Pernikahan akan diadakan di masjid dekat dengan kontrakan Nisa. Sedangkan resepsi pernikahan akan diadakan di gedung sesuai dengan permintaan Nenek Rusmini.


"Ya Allah Nis. Secepat ini kamu ninggalin aku. Hiks. Hiks. Hiks." kata Rika menangis sambil memeluk Nisa saat Revan sudah pergi dari kontrakan.


"Kamu lebay banget Rik. Aku kan mau nikah bukan mau nyusul orang tua ku. Lagian aku juga masih tinggal di Jogja. Kita masih bisa ketemu kapanpun kamu mau." sahut Nisa yang ikut meneteskan air mata.


"Tetep aja kita ga bisa sering-sering berantem." ucap Rika.


"Heleeeeh. Kalau kamu kangen kan tinggal dateng kerumah Nis. Gitu aja kok repot." kata Nisa.

__ADS_1


"Calon suami kamu ganteng banget Nduk. Kayak artis. Kalau aja Ibuk masih muda, Ibuk juga mau nikah sama nak Revan. Duh. Idola banget." kata Bu Ani tersenyum sambil menatap ke atas seolah sedang membayangkan.


"Ibuk jangan ngomong kayak gitu. Lihat itu yang duduk di sebelah Ibuk sudah cemberut." ucap Rika sambil menunjuk Pak Sugi yang duduk di sebelah Bu Ani.


"Tenang aja Nduk. Bapak mu ini tetap paling ganteng di hati Ibuk." kata Bu Ani tersenyum sambil bergelayut manja di lengan Pak Sugi. Namun Pak Sugi hanya diam tidak menanggapi istrinya.


"Bapak cemburu ya?" tanya Bu Ani sambil menatap suaminya.


"Ga." kata Pak Sugi singkat.


"Kok cemberut?" tanya Bu Ani.


"Bapak ngantuk. Bapak mau istirahat dulu." sahut Pak Sugi sembari berdiri dan berjalan menuju ke kamar. Bu Ani hanya terdiam melihat sikap suaminya itu.


"Tidak biasanya Bapak kayak gitu?" tanya Bu Ani dalam hati.


"Ibuk kok malah diem disini? Ga ikutin Bapak ke kamar? Bapak kayaknya marah sama Ibuk." ucap Rika.


Bu Ani pun segera menyusul suaminya ke kamar. Pak Sugi terlihat berbaring membelakangi nya.


"Bapak marah ya sama Ibuk?" tanya Bu Ani sambil menyentuh bahu suaminya. Pak Sugi hanya diam.


"Maafin Ibuk ya Pak. Ibuk kan cuma bercanda tadi. Biar ga tegang aja suasananya." jelas Bu Ani.


"Ibuk berisik banget sih. Bapak mau istirahat nih. Pegal semua badan Bapak." kata Pak Sugi sembari memegangi pinggangnya.


"Sini Ibuk pijitin Pak." ucap Bu Ani yang langsung mulai memijat suaminya.


"Emang Ibuk ga capek?" tanya Pak Sugi.


"Capek ga capek Pak. Ini udah tugas Ibuk sebagai istri Bapak." sahut Bu Ani.


"Makasih ya Buk." kata Pak Sugi kemudian.


"Sama-sama Pak." ucap Bu Ani.


Dan mereka pun sudah berbaikan lagi. Setelah lelah memijat Pak Sugi, Bu Ani pun terlelap dalam pelukan suaminya itu. Sungguh pasangan yang unik.


"Pokoknya Ibuk mau pulang besok pagi Pak. Ibuk ga mau lama-lama disini." kata Bu Endang.


"Tapi pernikahan Nisa 3 hari lagi Buk. Nanggung kalau mau pulang. Lagian kita juga harus bantu-bantu persiapan buat pernikahan Nisa." ucap Pak Harto.


"Kemarin kan Ibuk sudah bilang kalau kita tidak akan bantu apapun termasuk biaya dan tenaga. Kita datang sebagai wali. Itu saja." bantah Bu Endang.


"Tapi Nisa anak kita Buk. Kalau memang kita tidak membantu dalam bentuk biaya, paling tidak kita bantu dengan tenaga kita." sahut Pak Harto.


"Ga Pak. Sekali ga tetap ga. Lagian dia cuma anak angkat." ucap Bu Endang.


"Tapi Buk." kata Pak Harto.


"Ga ada tapi. Kita akan pulang besok pagi. Dan datang ke sini saat ijab qobul nanti. Titik." ucap Bu Endang yang langsung berbaring membelakangi suaminya.


Pak Harto hanya menghela nafas panjang melihat tingkah istrinya itu. Dia tidak menyangka jika kebencian Bu Endang terhadap Nisa akan sejauh ini. Hanya karena salah paham di masa lalu.


Keesokan paginya, Pak Harto dan Bu Endang sudah bersiap-siap untuk pulang.


"Lhooh, Bapak sama Ibuk mau kemana?" tanya Nisa saat melihat Pak Harto menenteng tas.


"Bapak sama Ibuk mau pulang dulu ya Nduk. Maafkan Bapak ga bisa bantu persiapan pernikahan kamu. Bapak janji akan secepatnya kesini lagi sebelum kamu menikah." kata Pak Harto sambil memeluk Nisa.


"Kenapa ga tinggal di sini aja Pak. Kasihan Bapak kalau harus bolak-balik nyetir." kata Nisa yang mulai meneteskan air matanya. Sebenarnya Nisa masih rindu dengan bapaknya.


"Jangan nangis Nduk. Masa' calon pengantin nangis." ucap Pak Harto sambil mengusap air mata Nisa.


"Pak Harto sama Bu Endang mau kemana kok bawa tas segala?" tanya Pak Sugi yang baru saja muncul dari dapur bersama istrinya.


"Kami mau pulang dulu Pak. Titip Nisa ya. Maafkan kami tidak bisa membantu persiapan pernikahan Nisa." ucap Pak Harto menunduk.


"Woalah. Ga apa-apa Pak. Nisa juga sudah kami anggap anak sendiri." sahut Pak Sugi.


"Terima kasih Pak telah menjaga Nisa selama ini." bisik Pak Harto sambil memeluk Pak Sugi.

__ADS_1


"Sebaiknya sebelum Pak Harto dan Bu Endang pergi, lebih baik kita sarapan dulu. Ga baik kalau melakukan perjalanan jauh dalam keadaan perut kosong.


Akhirnya Pak Harto dan Bu Endang pun sarapan bersama keluarga Pak Sugi serta Nisa. Suasana meja makan pagi ini sungguh hening. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang bergesekan dengan piring. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing.


"Kenapa mereka tega sekali dengan Nisa. Meskipun Nisa hanya anak angkat, tapi kan tetap saja Nisa itu anak mereka. Bahkan karena Nisa lah mereka bisa punya anak kandung." kata Rika dalam hati.


"Segitu benci nya kah mereka pada Nisa? Bahkan mereka tidak mau lama-lama tinggal dalam satu rumah dengan Nisa. Kalau memang benci, untuk apa mereka mengangkat Nisa menjadi anak?" batin Bu Ani.


Tidak lama kemudian, mereka semua sudah selesai sarapan. Keluarga Pak Sugi serta Nisa mengantarkan Pak Harto dan Bu Endang ke depan rumah. Pak Harto dan Bu Endang pun berpamitan kepada mereka. Akhirnya mereka berdua pergi dari kontrakan.


"Kamu yang sabar Nis, orang tua kamu cuma sebentar perginya. Kita ke dalam yuk buat siap-siap. Bentar lagi pasti Mas Revan udah dateng buat jemput kamu. Kamu jadi foto pre-wed kan?" tanya Rika mengalihkan pembicaraan agar Nisa tidak terus bersedih karena kepergian orang tuanya.


"Jadi Rik. Tadi Mas Revan bilang kalau sudah di jalan menuju ke sini." kata Nisa.


"Ya udah ayo siap-siap. Jangan sampai nanti Mas Revan kelamaan nunggu kamu dandan." ucap Rika sambil menarik tangan Nisa dan berjalan beriringan menuju kamar.


"Memangnya kamu kalau dandan lama. Aku mah ga sampai 10 menit udah beres." sahut Nisa.


"Udah jangan banyak bicara. Cepat sana ganti baju. Atau aku yang gantiin kamu buat pergi pre-wed sama Mas Revan." kata Rika.


"Iya, iya Rik. Kamu berisik banget sih." sahut Nisa.


Akhirnya Nisa pun segera mengganti baju dan memakai makeup tipis. Lalu dia mengambil tas kecil di atas meja.


"Udah siap nih. Ayo kita keluar sekarang." ucap Nisa sambil menarik tangan Rika yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Apaan sih kamu Nis. Pakai tarik-tarik segala. Aku kan lagi balas chat dari Mas Bayu." gerutu Rika.


"Lagian tadi suruh aku cepat-cepat. Sekarang malah kamu yang lambat." kata Nisa yang masih terus menggenggam tangan Rika.


"Kalian ini lho, tiap hari kok berantem terus. Apa ga capek to?" tanya Pak Sugi saat melihat Nisa dan Rika berdebat pagi ini.


"Hehe. Sebenarnya capek Pak. Tapi Rika ini yang selalu mancing-mancing Nisa Pak." sahut Nisa.


"Kok jadi aku yang disalahkan sih. Kamu aja yang susah di bilangin." kata Rika sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nisa.


"Enak aja. Kamu yang salah masih sempat nyalahin aku." ucap Nisa sambil melengos.


"Kok malah jadi pada ngobrol disini to. Itu kasihan nak Revan udah nungguin. Ini lagi si Bapak. Bukannya bilangin kalau nak Revan udah dateng malah ikut-ikutan ngobrol di sini." kata Bu Ani kesal sambil menatap suaminya. Yang ditatap justru menunduk.


"Maaf Buk. Tadinya Bapak mau melerai mereka yang berantem. Tapi Bapak ga sanggup." kata Pak Sugi masih dengan posisi menunduk.


"Kalian ini lho. Udah besar kok berantem terus." ucap Bu Ani yang langsung menatap tajam wajah Nisa dan Rika bergantian.


"Maaf Buk." sahut Nisa dan Rika bersamaan.


"Udah sekarang kita keluar. Kasihan nak Revan sudah menunggu sejak tadi." kata Bu Ani.


Mereka pun segera berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Revan.


"Maaf ya nak Revan, kelamaan nunggunya." kata Bu Ani tersenyum.


"Ga apa-apa Buk. Ga buru-buru juga kok." ucap Revan tersenyum.


"Lihat tuh gara-gara kalian kelamaan, minuman nak Revan sampai habis." bisik Bu Ani pada Nisa dan Rika.


"Berhubung Nisa nya udah siap, kalian berangkat sekarang aja. mumpung masih pagi." kata Pak Sugi.


"Iya Pak. Kalau gitu kami permisi dulu Pak, Buk, Rika. Ayo Dek." ucap Revan sambil menggandeng tangan Nisa.


"Nisa pergi dulu ya Pak, Buk. Daa Rika." kata Nisa sembari melambaikan tangannya pada Rika. Pak Sugi dan Bu Ani tersenyum melihat tingkah Nisa. Berbeda dengan Rika yang cemberut.


Nisa dan Revan kini sudah berada di dalam mobil. Revan meraih tangan Nisa lalu mengecupnya. Nisa yang diperlakukan seperti itu, hanya tersenyum malu.


"Kita berangkat sekarang Mas. Mereka masih nungguin kita pergi." kata Nisa sambil menunjuk Pak Sugi, Bu Ani serta Rika yang masih berdiri di depan pintu. Revan pun menoleh dan tersenyum.


"Mungkin mereka takut kamu diapa-apain di dalam mobil." ucap Revan tersenyum.


"Emang udah diapa-apain kan Mas. Nih tangan aku udah jadi korban." sahut Nisa sambil menunjuk tangannya yang habis di kecup oleh Revan barusan.


•••

__ADS_1


__ADS_2