Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 42


__ADS_3

"Papa.... Mama...." ucap Nisa lirih.


"Kenapa semua ini terjadi sama aku? Kenapa harus Mas Revan? Kenapa harus suamiku? Haruskah Kamu yang membuat hidupku hancur? Haruskah Kamu yang membuat Aku menjadi yatim piatu? Apa karena ini Kamu menikahi Aku?" gumam Nisa.


Nisa menangis sesenggukan, sesekali Ia mencium foto orang tuanya. Dia begitu merindukan orang tuanya.


"Disaat Aku sudah berhasil melupakan kejadian itu, kenapa sekarang Aku baru mengetahui penyebab kejadian itu? Ini sungguh tidak adil. Papa. Mama. Nisa mau ikut kalian aja. Nisa sakit sendirian di sini. Kenapa kalian ninggalin Nisa?" ucap Nisa sesenggukan.


Di kantor, Revan sejak pagi hanya uring-uringan. Bahkan saat meeting, Revan terlihat sangat emosi hanya karena kesalahan kecil yang di buat. Pikiran Revan hanya tertuju pada Nisa.


Akhirnya setelah selesai meeting, Revan memutuskan untuk pulang lebih awal. Bahkan belum waktunya makan siang. Revan mengemudi dengan kecepatan tinggi.


"Kok sudah pulang, Le?" tanya Nenek saat melihat Revan sudah ada di depannya.


Nenek sedang berbincang dengan tetangga di teras rumah.


"Ga apa-apa, Nek. Lagi pengen pulang cepet aja." sahut Revan tersenyum.


Revan mencoba menutupi kegelisahannya. Namun Nenek sudah tahu dari raut wajah Revan yang panik.


"Revan ke dalam dulu ya, Nek." lanjut Revan.


Nenek mengangguk. Revan pun segera masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Nisa. Revan berjalan menuju ke kamar, namun Ia tidak menemukan Nisa.


Revan mencoba mencari Nisa keseluruh ruangan yang ada di rumah itu. Namun dia belum juga bertemu dengan Nisa. Lalu Revan teringat dengan ruangan kerjanya.


Ruangan yang sangat jarang untuk Nisa masuki. Langkah kaki Revan menuju ke ruangan kerjanya.


Revan terdiam sejenak di depan ruangan itu saat melihat pintu ruangan kerjanya sedikit terbuka.


"Kenapa pintu ini terbuka? Seingatku pintu ini selalu tertutup. Apa mungkin Nisa ada di dalam?" gumam Revan.


Revan perlahan membuka pintu tersebut dan melihat Nisa yang tergeletak di lantai. Revan segera berlari menghampiri Nisa.


"Sayang. Kamu kenapa jadi kayak gini?" tanya Revan pelan.


Lalu pandangan Revan tertuju pada


pigura yang di peluk Nisa. Revan mengambil pigura tersebut.


Deg.


"Apa Nisa pingsan karena melihat foto ini ya?" tanya Revan dalam hati.


Revan segera mengangkat tubuh Nisa dan membawanya ke kamar. Perlahan Revan membaringkan tubuh Nisa di atas ranjang. Setelah itu, Ia menelpon dokter Sarah dan memanggil Nenek untuk menjaga Nisa.


Setelah Nenek sudah datang ke dalam kamar untuk menjaga Nisa, Revan segera berjalan menuju ke ruangan kerjanya untuk mencari tahu penyebab Nisa pingsan.


Revan kini sudah berada di dalam ruangan kerjanya. Ia mengambil pigura yang di peluk Nisa tadi. Tidak ada yang aneh saat Revan mengamati foto itu.


Foto itu adalah foto Nisa bersama orang tuanya saat kecil. Revan membawa foto itu saat mereka pindah ke Jogja.


Dibelakang pigura tersebut, Nisa menuliskan masa depannya.


Calon istriku Siti Annisa bersama calon mertuaku


Semoga saat Aku dewasa nanti bisa menikah dengan Ica, agar Aku bisa menjaganya


Revan Arya Irawan

__ADS_1


Revan meletakkan pigura tersebut di atas meja. Lalu meraih ponsel Nisa yang ada di atas meja kerjanya. Revan membuka pesan masuk di ponsel tersebut.


Revan membelalakkan matanya saat melihat isi pesan tersebut. Pesan yang telah membuat istrinya pingsan. Revan membaca ulang pesan itu.


Apa Kamu tidak percaya jika suami yang Kamu cintai adalah pembunuh orang tuamu? Jika masih tidak percaya, lihat di ruangan kerjanya. Disana Ia menyimpan foto Kamu dan orang tuamu sebelum orang tuamu meninggal. Bahkan Ia merencanakan pernikahan kalian sejak lama.


Kamu akan menyesal jika mengabaikan pesan ini.


Revan menggeram kesal.


"Siapa sebenarnya orang ini?" gumam Revan.


Revan segera meraih ponselnya dan menelpon Adit.


"Tolong selidiki nomor yang mengirim pesan pada istriku. Nanti Aku kirim nomornya." kata Revan.


Revan segera mematikan ponselnya. Ia segera mengirim nomor asing itu pada Adit sebelum meletakkan ponselnya di meja.


Tok. Tok. Tok.


Revan segera membuka pintu. Dilihatnya wajah Nenek yang terlihat panik.


"Ada apa, Nek?" tanya Revan.


"Nisa, Le." jawab Nenek menangis.


Revan segera berlari menuju ke kamarnya. Saat Ia masuk ke dalam kamar, terlihat Nisa histeris.


"Pergi! Aku benci kalian! Kalian pembohong! Kalian penjahat!" teriak Nisa.


Nisa terus berteriak histeris saat dokter Sarah hendak menyuntikkan obat penenang. Dengan dibantu suster, akhirnya Nisa bisa lebih tenang setelah obat penenang masuk ke dalam tubuhnya.


"Van. Tolong jaga psikis Nisa. Jangan sampai Nisa stres. Itu berbahaya bagi bayi kalian." kata dokter Sarah sambil menepuk pundak Revan.


"Terima kasih." sahut Revan.


Dokter Sarah meninggalkan Revan dan Nisa di dalam kamar. Mereka butuh waktu untuk berdua.


Revan memegang tangan Nisa yang terlihat lemah dari biasanya. Revan menciumi tangan itu. Tangan itu sudah basah karena air matanya.


"Sayang. Maafkan Aku." ucap Revan.


Revan tak sanggup berkata-kata lagi. Hatinya ikut sakit saat melihat Nisa menangis karena Dia.


"Tolong jangan tinggalkan Aku, Dek. Aku janji setelah Kamu sadar nanti Aku akan cerita semuanya sama Kamu. Sudah saatnya Kamu tahu, meskipun sebenarnya sudah terlambat." kata Revan.


Tanpa sadar, Revan sudah terlelap dengan posisi duduk di samping ranjang sambil memegangi tangan Nisa. Nenek yang mengintip Revan dari celah pintu yang terbuka pun meneteskan air matanya.


"Yang sabar ya, Le. Kamu pasti bisa menyelesaikannya. Semoga Nisa mau menerima alasan Kamu yang tidak jujur dari awal. Dan semoga kalian selalu bahagia." ucap Nenek.


Nenek segera menutup pintu dan pergi ke kamarnya sendiri.


"Lepaskan!" teriak Nisa.


Nisa menepis tangan Revan yang menggenggam tangannya. Nisa benar-benar marah dan takut saat melihat Revan di dekatnya. Nisa bergerak menjauhi Revan.


Sementara Revan yang terkejut mendengar teriakan Nisa, Ia langsung mendekati Nisa. Revan berusaha untuk menenangkan Nisa.


"Sayang. Aku mau peluk Kamu." kata Revan.

__ADS_1


"Stop! Jangan sentuh Aku. Aku tidak mau di sentuh oleh orang yang sudah menyebabkan orang tuaku meninggal." ucap Nisa menangis.


"Sayang. Percayalah. Aku tidak seperti itu. Ini hanya salah paham." sahut Revan.


"Salah paham? Bahkan Kamu menyimpan foto keluargaku sebelum mereka meninggal. Dan Kamu sudah merencanakan untuk menikah denganku, supaya Kamu dapat melenyapkan Aku perlahan." ucap Nisa.


Revan meneteskan air matanya mendengar tuduhan yang diucapkan Nisa.


"Sayang. Itu tidak benar." kata Revan.


"Lalu buat apa Kamu menyimpan foto keluargaku?" tanya Nisa dengan penuh amarah.


"Karena Aku mencintaimu, sayang." jawab Revan.


"Hahaha. Alasan klasik." sahut Nisa.


"Ini benar, sayang. Aku mencintaimu. Sejak dulu. Sejak Kita main bersama. Apa Kamu tidak ingat dengan Kak Epan?" tanya Revan.


Nisa tidak menyahut.


"Apa Kamu masih ingat saat Kak Epan bilang bahwa Kak Epan akan menikahi Kamu setelah dewasa?" tanya Revan lagi.


Nisa terdiam seolah sedang mengingat sesuatu.


"Apa Kamu lupa saat Kak Epan mencium bibir Ica kecil?" tanya Revan lagi.


"Aku tidak ingat dan tidak mau mengingatnya." sahut Nisa.


Revan menghela nafasnya. Ia mencoba untuk lebih bersabar.


"Lagipula Aku sedang tidak membahas mereka. Aku sedang membahas Kamu. Kamu seenaknya mempermainkan sebuah ikatan pernikahan." ucap Nisa.


"Aku tidak mempermainkan pernikahan, Dek. Apalagi mempermainkan Kamu. Aku menikah dengan Kamu karena Aku sangat mencintai Kamu." sahut Revan.


"Sayangnya Aku tidak percaya." kata Nisa.


Nisa hendak beranjak pergi dari kamar itu.


"Kamu mau kemana, Dek?" tanya Revan khawatir.


"Aku akan pergi dari sini. Tidak mungkin Aku tinggal dengan orang yang sudah membuat Aku menjadi yatim piatu." jawab Nisa.


"Tolong jangan pergi, Dek. Kamu sangat lemah saat ini. Tolong pikirkan anak Kita." ucap Revan.


"Ini anakku. Bukan anak Kita. Dan jangan pernah mendekati ku. Aku tidak mau bernasib sama dengan orang tuaku." kata Nisa yang sudah sampai di depan pintu.


"Dek. Aku mohon. Tolong jangan pergi. Maafkan Aku yang tidak jujur dari awal tentang masalah ini. Aku tidak jujur karena Aku takut Kamu akan pergi meninggalkan Aku karena kesalahpahaman ini." jelas Revan.


"Dan Aku akan pergi meninggalkan Kamu sekarang." kata Nisa.


Nisa segera membuka pintu hendak pergi. Namun Revan dengan cepat memeluk Nisa dari belakang. Revan menangis di pundak Nisa.


"Lepaskan Aku." ucap Nisa.


"Tidak, Dek. Aku akan melepaskan Kamu kalau Kamu janji untuk tidak pergi dari sini." sahut Revan.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Hati ini sudah terlalu sakit. Sudah terlalu banyak hal menyakitkan yang Aku alami. Jadi tolong ijinkan Aku untuk bahagia bersama anakku." kata Nisa.


"Kita akan bahagia saat__"

__ADS_1


•••


__ADS_2