Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 39


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya dirahasiakan Nenek?" tanya Revan dalam hati.


"Mas. Kamu lagi mikirin apa?" tanya Nisa.


"Eh. Aku cuma mikir nanti anak Kita mirip siapa ya." sahut Revan tersenyum.


"Ya pasti mirip kalian lah, Le. Kan kalian yang bikin. Ga mungkin kan mirip tetangga." gurau Nenek.


"Ya jangan mirip tetangga lah, Nek. Masa' Aku yang capek bikin, malah mirip tetangga." sanggah Revan.


"Capek kok tiap hari. Haha." ucap Nenek tergelak.


Nisa menunduk menahan malu. Sementara Revan membelalakkan matanya. Revan tidak menyangka Nenek akan se-vulgar itu.


"Ini lagi makan kok malah pada bahas ranjang sih?" tanya Nisa dalam hati.


Selesai sarapan, Revan dan Nisa segera pergi ke dokter kandungan. Saat di perjalanan, Revan seperti melihat Bella.


"Untuk apa Bella di Jogja? Bukankah dia sudah balik ke Semarang ya? Terus kok dia sama om-om lagi? Kenapa dia berbohong kalau mau pulang? Semoga dia tidak mengganggu Nisa." tanya Revan dalam hati.


Revan segera mengalihkan pandangannya agar Nisa tidak curiga. Revan masih sedikit kesal dengan perlakuan Bella pada Nisa.


Sesampainya di dokter kandungan, Nisa segera duduk di kursi yang disediakan. Sedangkan Revan mengambil nomor antrean.


Nisa memperhatikan beberapa pasien yang sedang menunggu antrean.


"Kenapa mereka tampak segar ya? Ga ada yang pucat atau lemas kayak aku." ucap Nisa dalam hati.


"Sayang. Kita dapat antrean nomor 8. Masih kuat, kan?" tanya Revan.


"Kuat kok, Mas. Kan demi anak Kita." jawab Nisa tersenyum.


"Sini senderan, Dek. Kalau capek." kata Revan sembari mendekatkan tubuhnya.


"Makasih ya, Mas. Nanti habis ini beli es krim ya, Mas." ucap Nisa.


"Kalau soal itu, nanti Kita tanya sama dokter boleh atau ga nya." sahut Revan.


"Pasti boleh, Mas. Kan ga banyak." rengek Nisa.


"Ya udah. Nanti Kita beli es krim. Tapi 1 aja." ucap Revan.


"Makasih ya, Mas." kata Nisa sambil memeluk lengan Revan.


"Tumben manja di tempat umum. Biasanya juga ga mau biarpun Aku peluk." batin Revan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tapi Revan tersenyum senang melihat ekspresi Nisa yang begitu menggemaskan.


Kini tiba giliran Nisa untuk periksa kandungan. Revan menuntun Nisa menuju ke ruangan.


Revan dan Nisa puas dengan hasil pemeriksaan. Semua baik-baik saja. Dan yang pasti Nisa diperbolehkan mengkonsumsi es krim, tapi tidak boleh berlebihan. Karena itu tidak baik untuk kandungan.


Setelah selesai, mereka segera pergi ke minimarket untuk membeli es krim. Revan bingung dengan kebiasaan belanja Nisa. Kalau biasanya wanita lebih suka belanja di mall, lain halnya dengan Nisa. Nisa lebih suka belanja di minimarket atau pasar tradisional.


Karena menurutnya sama saja. Dan kalau belanja di pasar tradisional, kita juga bisa sekaligus membantu perekonomian para pedagang.


"Kamu mau yang rasa apa, Dek?" tanya Revan.


Kini mereka sudah berada di depan kotak es krim disalah satu minimarket yang dekat dengan tempat Nisa periksa kandungan tadi.


"Mau yang stroberi, Mas." jawab Nisa.

__ADS_1


Revan segera mengambil es krim rasa stroberi untuk Nisa.


"Ini, Dek." kata Revan.


Revan memberikan es krim tersebut pada Nisa, namun Nisa menolaknya.


"Jangan yang stroberi deh, Mas. Yang vanilla aja." ucap Nisa.


Revan pun mengembalikan es krim rasa stroberi dan mengambil es krim rasa vanilla.


"Ini es krim rasa vanilla, sayang." kata Revan.


Revan hendak membukakan bungkus es krim tersebut namun segera di cegah oleh Nisa.


"Tunggu, Mas. Yang rasa coklat aja." ucap Nisa.


Revan menghela nafas sambil meletakkan kembali es krim rasa vanilla tersebut. Lalu ia mengambil es krim rasa coklat.


"Sabar. Demi anak istri." ucap Revan dalam hati.


"Ini, Dek. Es krim rasa coklat. Ayo bayar dulu." kata Revan.


Revan menarik tangan Nisa untuk berjalan menuju ke kasir. Tapi Nisa menolak.


"Kenapa lagi, sayang?" tanya Revan.


"Aku mau yang mix rasa stroberi, vanilla, sama coklat aja." kata Nisa tersenyum.


Sedangkan Revan membelalakkan matanya mendengar ucapan Nisa.


"Kenapa ga dari tadi milih yang mix aja sih." gumam Revan.


"Kamu ngomong apa sih, Mas? Aku ga denger." tanya Nisa penasaran.


Nisa hanya mengangguk-angguk. Revan mengusap dadanya.


"Untung aja ga denger." batin Revan.


Saat tiba di mobil, Nisa segera membuka bungkus es krimnya. Dia sudah tidak sabar untuk melahap es krim tersebut.


Satu suap es krim rasa stroberi. Enak. Satu suap es krim rasa vanilla. Enak. Satu suap es krim rasa coklat. Enak.


Nisa segera memberikan kotak es krim tersebut pada Revan.


"Kenapa ga dihabiskan, Dek? Ga enak ya?" tanya Revan bingung.


Nisa hanya menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa ga dihabiskan es krimnya? Ini masih banyak banget lho." tanya Revan lagi.


"Aku udah kenyang, Mas. Kamu aja yang habisin ya." ucap Nisa tanpa rasa bersalah.


"Haa.." Revan terdiam dengan mulut terbuka.


Revan benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan Nisa. Tadi dia merengek minta es krim. Bahkan soal rasa es krim saja sangat ribet untuk memilih.


Dan saat sudah dapat sesuai dengan yang diinginkan, dengan mudahnya menyuruh Revan untuk menghabiskannya.


"Emm.. Nanti dirumah aja, Dek." kata Revan sembari menutup kotak es krim tersebut.


"Harus sekarang makan es krim nya." ucap Nisa.

__ADS_1


"Tapi, sayang__" Revan memelas.


"Aku mau lihat Kamu makan es krim nya sekarang, Mas. Lagipula kalau nunggu sampai di rumah, nanti es krim nya udah leleh." kata Nisa.


Revan menunduk memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan sekarang. Kalau dia makan es krim itu sekarang, bisa-bisa perutnya akan kenyang sebelum waktunya.


Tapi kalau menunggu sampai di rumah, es krim itu akan leleh dan Nisa pasti akan ngambek.


"Demi anak Kita, Mas." ucap Nisa memohon sembari mengusap perutnya.


Revan menghela nafas pasrah. Dia tidak akan mungkin menolak jika menyangkut soal anak.


Revan menatap kotak es krim tersebut. Perlahan ia mulai menikmati es krim. Sedangkan Nisa tampak begitu bahagia saat melihat Revan memakan es krim tersebut.


"Kamu ganteng banget kalau lagi makan es krim, Mas." ucap Nisa tersenyum.


Nisa menatap Revan sambil menopang dagunya. Sementara Revan yang mendapat pujian pun langsung menoleh ke arah Nisa.


"Kamu ya. Bisa banget mujinya." sahut Revan sambil mencolek hidung Nisa.


"Ih. Cepetan makan. Aku suka lihat Kamu lagi makan es krim." kata Nisa menepis tangan Revan.


"Udah ya, sayang. Ini buat nanti di rumah." ucap Revan.


"Ga! Harus habis sekarang. Besok Kita beli lagi." jelas Nisa.


"Tapi, Dek. Perut Aku udah mulai begah ini. Besok-besok ga usah beli lagi, Kamu juga ga makan kok." kata Revan.


"Aku kan udah makan, Mas. Lagian ini maunya anak Kamu juga. Dia pengen lihat ayahnya makan es krim tiap hari." sahut Nisa yang mulai meneteskan air mata.


"Oke, sayang. Aku akan makan es krim tiap hari. Aku rela gendut demi anak Kita. Tapi jangan nangis lagi ya, sayang." ucap Revan yang langsung memeluk Nisa.


"Yang bener, Mas?" tanya nisa.


"Eh. Kenapa tadi ngomong gitu sih? **** banget." gerutu Revan dalam hati.


"Bener, sayang. Apa sih yang ga buat istriku yang cantik. Apalagi buat calon anak Kita. Kamu minta berlian pun aku kasih, Dek." jawab Revan.


"Aku ga akan minta berlian kok, Mas. Aku kemarin udah di kasih ini sama Nenek." ucap Nisa sembari menunjuk kalung di lehernya.


"Kok Aku ga liat ya dari kemarin." sahut Revan sambil melihat-lihat kalung tersebut.


"Gimana mau liat kalau Kamu dari kemarin sibuk liatin perut Aku." sungut Nisa.


"Hehe. Maaf ya, Dek. Harusnya kan yang ngasih perhiasan Kamu itu Aku. Bukan Nenek." ucap Revan.


"Sama aja, Mas. Lagipula Aku sebenarnya juga ga butuh perhiasan. Tapi Aku ga enak sama Nenek. Ga apa-apa kan, Mas?" tanya Nisa.


"Ga apa-apa, sayang. Kamu tambah cantik pake kalung ini. Rasanya pengen ngajakin ke kamar terus. Tapi Aku ga tega liat Kamu pucet kayak gini." jawab Revan.


"Yang sabar ya, sayang. Tadi kata dokter kan kalau usia kandungan sudah lebih dari 3 bulan, boleh olahraga. Dan itu tinggal 2 bulan lagi dari sekarang." kata Nisa.


Nisa menahan tawa melihat Revan yang mukanya kusut karena dia tidak dapat jatah harian lagi.


"Lama sekali itu, Dek. Terus nasib dia gimana?" tanya Revan memelas.


"Ya ga gimana-gimana, Mas. Lagian dulu sebelum ada Aku, dia juga baik-baik aja, kan?" tanya Nisa balik.


"Itu beda, sayang." jawab Revan.


"Mas!" teriak Nisa.

__ADS_1


"Ada apa, sayang?" tanya Revan.


•••


__ADS_2