Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 33


__ADS_3

Tak terasa air mata menetes di pipinya. Dengan segera Revan mengusapnya. Revan kembali menjalankan mobilnya menuju ke hotel.


Saat sampai di hotel, Nisa masih terlelap. Revan segera turun dari mobil lalu menggendong Nisa. Revan tidak tega membangunkan Nisa.


Pelan-pelan Revan membaringkan tubuh Nisa di atas ranjang. Revan ikut berbaring sambil memeluk Nisa. Sesekali ia mengecup kening Nisa. Dan akhirnya ia pun ikut terlelap.


Nisa terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul 17:30.


"Kayaknya tadi aku masih di mobil, kok ini udah di kamar ya?" gumam Nisa.


Nisa menoleh ke arah Revan yang tidur sambil memeluknya.


"Pasti Mas Revan yang udah gendong aku ke kamar." gumam Nisa.


Nisa mengusap pipi Revan pelan. Nisa terus memandangi wajah Revan yang sedang terlelap.


"Maaf ya kalau udah buat kamu marah. Aku janji ga akan kayak gini lagi. Aku ga mau pisah sama kamu, Mas." ucap Nisa pelan.


"Aku juga ga mau pisah dari kamu, sayang." kata Revan tersenyum sambil membuka matanya.


"Eh. Mas. Kok udah bangun?" tanya Nisa.


"Gimana aku ga bangun kalau istriku yang cantik ini meraba-raba muka aku. Dan bukan aku aja yang bangun. Si Dia juga bangun." sahut Revan sambil menunjuk adik kecil di bawah sana.


"Suruh tidur dulu aja, Mas." kata Nisa saat tahu apa yang dimaksud Revan.


"Tapi kamu yang tidurin ya?" tanya Revan menggoda.


"Ga bisa, Mas. Aku mau mandi." jawab Nisa.


"Gini aja. Gimana kalau kamu tidurin Dia, nanti aku mandiin kamu?" tanya Revan tersenyum.


"Kok gitu? Enak di Kamu dong, Mas?" gerutu Nisa.


Nisa hendak bangun namun Revan segera menindih nya. Revan mengunci pergerakan Nisa.


"Kamu tidurin dia dulu baru mandi. Oke?" tanya Revan.


Belum sempat Nisa menjawabnya, Revan sudah mencium bibir Nisa. Nisa memejamkan mata menikmati permainan lidah Revan.


Dan mereka menikmati senja dengan olahraga di atas ranjang. Hingga tanpa mereka sadari bahwa hari sudah gelap.


Mereka berbaring sambil berpelukan erat setelah selesai melakukan olahraga sore ini.


"Maaf ya, Mas." kata Nisa.


"Untuk apa, sayang? Kamu ga pernah salah dimataku." sahut Revan.


"Untuk yang tadi siang." ucap Nisa.


"Jangan bahas itu lagi ya, Dek. Kamu berhak untuk bahagia. Dan aku akan selalu membuat kamu bahagia. Tak ada salahnya jika kamu sesekali egois." kata Revan sambil mencium tangan Nisa.


"Iya, Mas. Makasih ya, Mas. Karena kamu sudah hadir dalam hidup aku." ucap Nisa.


"Justru aku yang harusnya berterimakasih sama kamu. Kamu mau hidup sama aku. Menerima aku apa adanya." sahut Revan.

__ADS_1


"Siapa sih yang ga mau sama kamu, Mas? Semua cewek pasti mau sama cowok ganteng, baik, dan pastinya kaya." kata Nisa tersenyum.


"Mulai matre ya kamu sekarang?" tanya Revan.


"Hehe. Dikit, Mas. Lagian ga masalah kan kalau aku matre? Kan suami aku kaya." sahut Nisa.


"Matre tapi mau beli aja perhitungan. Kamu ga bakat jadi cewek matre, sayang." ucap Revan tertawa.


"Kayaknya aku mesti belajar jadi cewek matre deh, Mas. Biar uang kamu habis." kata Nisa.


"Terus kamu mau ninggalin aku kalau aku udah ga punya uang? Gitu?" tanya Revan sambil menatap tajam wajah Nisa.


"Ya iyalah aku akan pergi. Buat apa aku hidup sama laki-laki yang ga punya uang? Bukannya bahagia, tapi sengsara." jawab Nisa.


Revan membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Nisa.


"Oh. Oke. Sebelum kamu pergi ninggalin aku, lebih baik aku sekarang pergi." kata Revan sambil beranjak pergi.


Melihat Revan yang sudah berada di pinggir ranjang pun Nisa segera memeluk Revan dari belakang. Nisa tidak menyangka kalau perkataannya akan membuat Revan pergi darinya.


"Jangan pergi, Mas." ucap Nisa.


Revan tersenyum penuh kemenangan saat merasakan tubuh telanjang Nisa memeluknya.


"Aku kan tadi cuma bercanda. Aku ga mau kamu pergi. Kalau kamu mau pergi, aku harus ikut. Pokoknya kita harus sama-sama terus." ucap Nisa sesenggukan.


"Lepasin, Dek. Aku mau pergi. Jangan halangi aku. Aku ga bisa kayak gini terus." kata Revan.


"Ga boleh. Kamu ga boleh pergi. Kamu harus tetap disini." ucap Nisa.


Nisa semakin mengeratkan tangannya di perut Revan. Revan meringis menahan sesuatu yang ingin keluar dibawah sana.


Perlahan Nisa melepaskan pelukannya. Dengan cepat Revan segera menggendong tubuh Nisa. Ia berjalan menuju ke kamar mandi.


"Lhooh, Mas? Kok ke kamar mandi?" tanya Nisa bingung.


"Emang kamu pikir aku mau ke mana, Dek?" tanya Revan tersenyum.


"Kirain mau keluar dari kamar hotel." jawab Nisa.


"Hahahaha. Kamu ada-ada aja sih. Masa' aku keluar hotel ga pake baju kayak gini." ucap Revan tertawa.


"Iya juga ya. Kenapa tadi aku ga kepikiran kesitu sih. Bodoh banget." kata Nisa dalam hati.


"Lagian aku itu kebelet pipis sekalian mau mandi. Berhubung kamu mau ikut ya kita barengan aja mandinya." ucap Revan sambil mengecup pipi Nisa.


Nisa memutar bola matanya karena ia tahu bahwa saat ini ia sudah kalah. Niat awal ingin mengerjai suaminya, tapi malah ia yang dikerjai oleh suaminya.


"Kamu kok jadi ga semangat gitu sih, Dek?" tanya Revan menggoda.


Nisa hanya diam tanpa berniat untuk menanggapi. Sementara Revan sudah masuk ke dalam bathub menyusul Nisa.


"Tadi kamu lho yang maksa mau ikut. Kok malah kamu yang cemberut." ucap Revan sambil mengecup bibir Nisa yang manyun.


Nisa segera memundurkan wajahnya menjauh dari Revan.

__ADS_1


"Ga boleh cium cium." kata Nisa sambil menutup bibirnya dengan tangan.


"Ya udah kalau ga boleh cium. Aku peluk aja ya." ucap Revan dan langsung memeluk Nisa.


Berhubung kedua tangan Nisa sedang memegangi bibirnya, jadi ia tidak dapat memberontak saat Revan memeluknya. Tidak hanya sekedar memeluk, kini Revan sudah mencium bagian leher Nisa.


"Emm, Mas." ucap Nisa melenguh.


Revan semakin gencar melakukan aksinya. Kini bibirnya sudah bersatu dengan bibir Nisa. Sementara tangannya tidak berhenti berjalan-jalan di tubuh Nisa.


Dan mereka melakukan hal yang seharusnya terjadi sebelum akhirnya mereka mandi dalam arti mandi yang sebenarnya.(Tahu kan maksudnya? Hehe)


"Mas." kata Nisa saat selesai memakai bajunya.


"Iya, sayang." sahut Revan.


"Laper." ucap Nisa sambil memeluk Revan yang sedang mengeringkan rambut.


Revan tersenyum melihat tingkah manja istrinya.


"Kamu mau makan di kamar atau di restoran hotel? Atau kita makan diluar hotel aja?" tanya Revan.


"Terserah kamu aja, Mas. Yang penting makannya sama kamu." jawab Nisa.


"Udah pinter ngegombal ya sekarang. Sini cium dulu." ucap Revan.


Revan segera memeluk dan mencium seluruh wajah Nisa.


"Udah, Mas. Untung aja aku ga pake makeup, Mas. Kalau pake makeup pasti udah rusak gara-gara kamu cium kayak gini." kata Nisa manyun.


"Kamu ga usah pake makeup, Dek. Polos gini aja kamu udah cantik banget. Gimana kalau pake makeup? Bisa-bisa semua mata laki-laki yang liat kamu jadi copot gara-gara terpesona." kata Revan.


"Apaan sih, Mas?" tanya Nisa tersipu malu.


Nisa mencubit pinggang Revan karena gemas. Namun Revan segera memeluknya erat.


"Ga usah dicubitin, Dek. Di peluk aja biar mesra. Kalau dicubitin terus, bisa-bisa badan ku tinggal tulang belulang. Kamu mau punya suami kurus?" tanya Revan.


"Jangan kurus dong, Mas. Ayo kita makan sekarang, Mas. Aku ga mau ya kamu kurus gara-gara telat makan." ucap Nisa.


"Ayo sayangku. Kita makan di restoran hotel aja ya, Dek?" tanya Revan.


"Iya, Mas." jawab Nisa.


Revan tak melepaskan tangannya dari pinggang Nisa. Hingga semua orang yang melihatnya tersenyum. Mereka seperti melihat sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.


Saat sudah sampai di restoran hotel, ternyata kursi sudah penuh. Karena saat ini memang waktunya untuk makan malam.


Tiba-tiba pandangan Revan terhenti saat melihat sepasang kekasih beda generasi. Revan segera menarik tangan Nisa agar pergi dari restoran tersebut.


"Kita cari makan di luar aja ya, Dek? Disini udah penuh." ucap Revan.


"Ya udah ga apa-apa, Mas. Yang penting aku bisa makan. Udah laper banget ini." sahut Nisa.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap kebersamaan mereka dengan hati yang amat kesal.

__ADS_1


"Nikmatilah waktu bersama kalian. Karena sebentar lagi kalian akan berpisah." ucap orang tersebut sambil tersenyum sinis.


•••


__ADS_2