
Revan segera menjalankan mobilnya. Revan dan Nisa hanya menyusuri jalan raya tanpa tujuan.
"Kita kayak orang galau saja, Mas. Haha." ucap Nisa tertawa.
"Kok bisa?" tanya Revan sambil menoleh ke arah Nisa.
"Ya bisa lah. Kita jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas. Bisa di bilang hanya habisin bensin." jelas Nisa.
"Ya ga apa-apa lah, Dek? Yang penting aku bisa berduaan sama kamu. Sebelum kita sah jadi suami istri nanti." sahut Revan tersenyum.
"Terserah kamu saja lah, Mas. Lagian yang beli bensin kan kamu. Haha," ujar Nisa.
Mereka terus saja mengobrol di sepanjang jalan. Sampai mereka tidak menyadari bahwa kini hari sudah mulai gelap.
Revan segera menjalankan mobilnya ke arah kontrakan Nisa. Itu juga karena di paksa oleh Nisa agar cepat pulang.
Nisa tidak mau jika Pak Sugi dan Bu Ani khawatir pada mereka. Apalagi sebentar lagi mereka akan melaksanakan pernikahan.
Sebenarnya Revan masih ingin berdua dengan Nisa. Namun dia harus bersabar terlebih dahulu. Akan ada saatnya dimana ia dan Nisa tak akan terpisahkan.
Revan dan Nisa tiba di kontrakan saat waktu menunjukkan pukul 19:00. Pak Sugi dan Bu Ani sudah menunggu di teras rumah.
Mereka segera masuk ke dalam kontrakan dan makan malam.
"Lama banget kalian perginya?" tanya Rika yang baru saja muncul dari dalam kamar.
"Iya, Rik. Kebetulan tadi agak macet." jawab Revan tersenyum.
"Yakin macet?" tanya Rika tersenyum sambil mencolek pipi Nisa.
Rika mencoba menggoda Nisa. Namun Nisa yang sudah terbiasa dengan kelakuan Rika pun tak menanggapi.
Nisa hanya tersenyum dan terus melahap makanan yang ada di depannya.
"Daripada kamu gangguin Nisa makan, mending kamu ikut duduk terus makan. Biar kenyang." kata Bu Ani pada Rika.
Rika cemberut saat mendapat teguran dari ibunya. Dia pun segera duduk di samping Nisa.
"Rika kan cuma tanya sama Nisa, Buk. Bukan gangguin Nisa makan. Dia aja diem kayak gitu. Ga sopan banget di ajak bicara sama orang malah diem." gerutu Rika.
Rika segera mengambil nasi dan lauk pauk.
"Kamu yang ga sopan, Nduk. Orang lagi makan kok malah diajak ngobrol." sahut Bu Ani.
Pak Sugi yang melihat perdebatan anak dan istrinya itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Kalian ini sama-sama tidak sopan. Lagi makan kok berisik banget." kata Pak Sugi.
Rika dan Bu Ani pun terdiam dan saling pandang saat mendengar ucapan Pak Sugi. Akhirnya mereka melanjutkan acara makan malam bersama itu.
Setelah selesai makan, Revan dan Pak Sugi pergi ke ruang tamu. Sedangkan Rika dan Nisa membantu Bu Ani membereskan meja makan.
"Gimana hari ini, Le? Lancar kan?" tanya Pak Sugi pada Revan saat mereka baru saja duduk di kursi ruang tamu.
"Alhamdulillah lancar, Pak." jawab Revan.
"Syukurlah kalau begitu. Tadi Bapak kira kalian ada masalah. Soalnya sampai hari sudah petang, kalian belum juga pulang." ucap Pak Sugi.
Revan terkejut dengan pernyataan Pak Sugi yang mengkhawatirkan keadaan mereka.
"Maafkan kami yang sudah membuat Bapak khawatir. Tadi kami jalan-jalan sebentar. Karena besok kan kita tidak bertemu." kata Revan menunduk.
"Ga apa-apa, Le. Bapak maklum. Kalian kan masih muda. Jadi ya masih hangat-hangatnya." sahut Pak Sugi tersenyum.
Pak Sugi jadi teringat masa mudanya bersama Bu Ani. Dulu ia sering mengajak Bu Ani jalan-jalan.
Bahkan seringkali mereka jalan-jalan tanpa tujuan hanya untuk bisa bersama Bu Ani. Seperti yang dilakukan Revan dan Nisa hari ini.
"Lhooh. Mas Revan kok belum pulang?" tanya Nisa yang baru saja muncul di ruang tamu.
Revan dan Pak Sugi segera menoleh ke arah Nisa.
"Kamu ngagetin aja, Nduk." kata Pak Sugi sambil mengusap-usap dadanya.
Pak Sugi terkejut saat melihat kedatangan Nisa yang tiba-tiba membuyarkan lamunan nya.
"Ya maaf, Pak. Lagian Bapak ngelamun. Jadi ya kaget." sahut Nisa.
Nisa menoleh ke arah Revan seolah mencari bantuan. Namun Revan hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya.
Nisa menghela nafas melihat respon dari Revan yang di luar dugaan.
__ADS_1
"Alasan aja kamu itu. Untung aja Bapak tidak punya penyakit jantung. Bisa gawat kalau kamu kagetin terus kayak begini." kata Pak Sugi kesal.
"Lagian Bapak lagi ngelamunin apa, sih? Sampai Nisa dateng aja bapak kaget begitu?" tanya Nisa sambil duduk di samping Revan.
"Bapak lagi bayangin masa muda Bapak sama Ibuk dulu. Kita sering banget jalan-jalan. Tapi sekarang sudah tidak pernah lagi. Bapak pengen ajak Ibuk jalan-jalan kemana gitu. Pasti Ibuk senang." jelas Pak Sugi tersenyum sambil membayangkan ia sedang bersama Bu Ani.
Revan dan Nisa saling berpandangan. Lalu Revan tersenyum.
"Gimana kalau habis nikah, kita jalan-jalan bareng. Biar Bapak juga bisa punya waktu bareng Ibuk. Kalau rame-rame kan seru." kata Revan pada Pak Sugi.
Pak Sugi diam memikirkan apa yang dikatakan oleh Revan barusan. Sedangkan Nisa terkejut dengan ucapan Revan.
"Aku ikut, ya?" tanya Rika yang baru saja muncul bersama Bu Ani.
Bu Ani segera duduk di samping Pak Sugi. Sedangkan Rika duduk di samping Nisa.
"Kamu ga diajak juga pasti maksa mau ikut, Rik." sahut Nisa tersenyum.
"Ya harus ikut lah. Kalau aku ga ikut, kamu pasti kesepian." kata Rika sambil merangkul pundak Nisa.
Nisa segera memindahkan tangan Rika dari pundaknya. Lalu menggeser duduknya agar menjauh dari Rika.
"Siapa bilang aku kesepian? Kita kan perginya setelah aku dan Mas Revan menikah. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa aku tidak akan kesepian karena ada Mas Revan di samping aku. Kayaknya kamu deh yang bakal kesepian." kata Nisa sambil tersenyum ke arah Revan.
"Kalau begitu aku ajak Mas Bayu aja. Ya kali aku cuma nonton kalian mesra-mesraan? Ogah banget. Apalagi lihat kamu manja sama Mas Revan. Geli aku." sahut Rika sambil bergidik ngeri.
Nisa pun segera menoleh ke arah Rika dengan wajah kesal. Rika yang menyadari bahwa Nisa kesal pun segera berpindah tempat duduk di samping Bu Ani.
"Aku ga manja ya, Rik." ucap Nisa kesal sambil menatap tajam ke arah Rika.
"Kalau bukan manja apa namanya coba?" tanya Rika pada Nisa.
"Ini bentuk perhatian aku buat Nisa." ucap Revan sambil merangkul pundak Nisa.
Nisa menoleh ke arah Revan yang sedang tersenyum. Dia sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Revan padanya.
"Eh. Lepasin itu tangannya. Apa ga malu sama orang tua?" tanya Pak Sugi sambil menunjuk tangan Revan.
Revan segera melepaskan tangannya dari pundak Nisa. Nisa tersenyum saat melihat wajah Revan yang gugup karena teguran dari Pak Sugi.
"Maaf, Pak. Cuma dikit kok." ucap Revan menunduk.
"Hahahaha. Kayak maling ketangkep basah kamu, Mas." kata Rika sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kamu apaan sih, Rik? Ga sopan banget sama calon suami aku." tanya Nisa kesal.
"Eh. Si Mbak calon istri ga terima kalau calon suami nya di gituin. Haha." kata Rika tertawa terbahak-bahak.
Nisa menatap tajam ke arah Rika. Rika yang tahu bahwa Nisa kini sedang marah pun segera berlari menuju kamar dan mengunci pintunya.
"Maafin Rika ya, Mas." kata Nisa sambil memegang tangan Revan.
Revan pun menoleh ke arah Nisa dan tersenyum. Untuk beberapa saat, mata mereka saling pandang.
"Ehm. Ehm. Kita masih di sini lho ya." kata Bu Ani tersenyum.
Nisa dan Revan segera melepaskan tangan mereka. Secara bersamaan mereka membenarkan posisi duduknya.
Pak Sugi dan Bu Ani yang melihat Revan dan Nisa salah tingkah pun tersenyum.
"Kalian ini lucu sekali." gumam Bu Ani.
"Revan pamit pulang dulu ya, Pak, Buk. Kita ketemu pas hari akad nanti." ucap Revan.
"Kamu hati-hati ya, Le. Jaga kesehatan. Jangan sampai pas hari akad nanti kamu malah sakit. Gagal malam pertama dong. Hehe." kata Pak Sugi tertawa menggoda Revan.
"Eh. Bapak ngomong apa sih?" tanya Bu Ani sambil memukul lengan Pak Sugi.
Pak Sugi yang mendapat serangan tiba-tiba pun langsung terdiam sambil mengusap-usap lengannya yang sakit.
"Bercanda lho, Buk," ujar Pak Sugi.
"Dasar laki-laki. Yang dipikirkan hanya malam pertama saja. Malam selanjutnya lupa." gerutu Bu Ani.
"Bapak ga pernah lupa, Buk. Lagian kan Ibuk yang nolak. Masa' Bapak mau maksa. Bapak kan ga mau melakukan itu kalau Ibuk terpaksa." jelas Pak Sugi sambil memegang tangan Bu Ani.
Nisa yang melihat tingkah Pak Sugi dan Bu Ani pun heran.
"Memangnya Ibuk menolak melakukan apa, Pak?" tanya Nisa polos.
Pak Sugi dan Bu Ani pun segera menoleh ke arah Nisa karena terkejut mendengar pertanyaan Nisa. Lalu mereka saling pandang sama lain.
__ADS_1
"Bukan apa-apa kok, Nduk. Oh, iya. Nak Revan jadi pulang sekarang, kan?" tanya Pak Sugi mengalihkan pembicaraan.
Revan yang mengerti maksud Pak Sugi pun mengangguk. Akhirnya Revan segera pergi dari kontrakan Nisa.
Nisa berjalan menuju ke kamarnya. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Nisa merasakan kesegaran saat tubuhnya terguyur air dingin.
Untuk beberapa saat, Nisa menikmati guyuran air dingin di tubuhnya yang mampu menghapus lelah. Hampir 1 jam Nisa berada di dalam kamar mandi.
Setelah selesai Nisa keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya. Nisa berjalan menuju lemari pakaian. Dipilihnya kaos tanpa lengan serta celana pendek.
Nisa segera memakai pakaian santainya. Kini ia sudah berbaring di kasur sambil memainkan ponselnya.
Nisa mulai membuka aplikasi YouTube. Nisa melihat apa yang sedang jadi trending topik saat ini.
'Seorang pengusaha muda bernama Revan yang tampan, sedang jadi idola di kalangan kaum hawa'
Nisa mengernyitkan dahi melihat judul video YouTube tersebut. Nisa mencoba menontonnya. Namun sayang tidak ada wajah orang yang di maksud.
Lalu Nisa membaca beberapa komentar yang sebagian besar adalah wanita. Banyak sekali yang memuji Revan.
"Duh. Pengen deh jadi istrinya. Istri ke-lima juga ga apa-apa." komentar pertama.
"Dia kayaknya anak malaikat deh. Aslinya ganteng banget, aku pernah ketemu pas di minimarket." komentar ke-dua.
"Body-nya parah gaes. Bagus banget." komentar ke-tiga.
"Apa mungkin dia Mas Revan, ya? Apa Mas Revan sekaya itu?" tanya Nisa dalam hati.
Nisa melanjutkan membaca komentar-komentar lain.
"Kapan ya dia datang ke rumah buat lamar aku?" komentar ke-empat.
"Berondong manis ini mah. Aku juga mau punya suami kayak gini." komentar ke-lima.
Nisa terus membaca komentar lain yang ada di bawahnya. Tak ada yang mencela Revan. Ada satu komentar yang membuatnya menghentikan gerakan tangannya.
"Sayangnya dia dingin banget. Aku mah malas punya suami dingin. Mending cari yang hangat meskipun uang dikit." ucap netizen tersebut.
"Sudah pasti ini bukan Mas Revan calon suami aku. Mas Revan kan murah senyum. Dan yang ini dingin banget." gumam Nisa.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Itu telepon dari Revan. Nisa bingung mau menanyakan hal yang di YouTube tadi atau tidak.
Karena Nisa terlalu lama berpikir, akhirnya Revan mengakhiri teleponnya. Namun tidak lama kemudian, Revan kembali menghubunginya. Dan kali ini video call.
Nisa segera memencet tombol hijau di ponselnya.
"Halo, Dek. Tadi kok ga angkat teleponnya?" tanya Revan sambil tersenyum.
"Maaf, Mas. Tadi aku lagi di kamar mandi. Baru mau di angkat tapi udah mati." jawab Nisa mencari alasan.
"Masa' sih, Dek? Kok wajah kamu kayak gelisah gitu, Dek?" tanya Revan khawatir.
"Gelisah gimana, Mas? Aku biasa saja kok. Perasaan kamu aja kali." sahut Nisa berpura-pura baik saja.
"Cerita aja kali, Dek. Aku siap dengerin kok." kata Revan sambil tersenyum menggoda Nisa.
Nisa mulai bimbang? Dia tidak yakin jika orang yang di YouTube tadi adalah Revan calon suaminya. Tapi Nisa juga penasaran dengan semua itu.
"Dek." kata Revan sedikit teriak.
Nisa terkejut saat mendengar teriakan Revan. Lalu ia teringat jika saat ini sedang video call dengan Revan.
"Eh. Ada apa, Mas? Ga usah teriak-teriak lho. Aku kan masih denger." ucap Nisa manyun.
"Lagian dari tadi aku panggil kamu ga jawab. Malah sibuk melamun. Kamu mikirin apa sih, Dek?" tanya Revan.
"Ga mikirin apa-apa kok, Mas." jawab Nisa gugup.
"Tapi kok jawabnya gugup gitu? Hayoo. Kamu lagi mikirin apa? Jujur deh." tanya Revan sambil tersenyum.
"Ga mikirin apa-apa, Mas. Beneran deh. Udah jujur ini." sahut Nisa sembari memasang wajah memelas.
"Aku tanya besok kalau ketemu sama Mas Revan aja lah." kata Nisa dalam hati.
"Jangan-jangan kamu lagi mikirin malam pertama kita ya, Dek?" tanya Revan yang langsung tertawa.
Sementara Nisa membulatkan matanya mendengar ucapan Revan.
"Emang ada apaan di malam pertama, Mas? Sampai harus di pikirin dari sekarang?" tanya Nisa polos.
Mendengar pertanyaan Nisa, Revan segera menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Nanti akan terjadi sesuatu hal yang baru buat kamu. Hal yang membuat kamu merasa lebih bahagia dan semangat untuk menjalani hidup." kata Revan tersenyum penuh arti.
•••