Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 45


__ADS_3

Bella dan Bu Endang segera keluar dari ruangan itu dan tak lupa mengunci pintunya.


"Bapak. Gimana keadaan bapak sekarang? Nisa kangen sama bapak. Semoga bapak baik-baik aja." gumam Nisa.


Nisa menangis membayangkan keadaan Pak Harto yang sedang sakit tapi tidak ada keluarga yang menjaganya. Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu pada Pak Harto?


Tiba-tiba Nisa merasakan perutnya sakit. Bukan rasa lapar yang Ia rasakan. Rasanya seperti orang yang sedang menstruasi, tapi sekarang kan dia lagi hamil.


Rasa sakit di perut Nisa semakin menjadi. Nisa mencoba untuk memanggil Bella.


"Bella! Tolong! Sakit!" teriak Nisa.


Tidak ada sahutan dari luar ruangan itu. Rasa sakitnya semakin bertambah.


"Ibuk! Tolong Nisa, Buk! Perut Nisa sakit!" teriak Nisa lagi.


Sementara di luar ruangan, Bella dan Bu Endang sedang menikmati makanannya.


"Gimana, Nduk? Dia kesakitan itu. Kayaknya gara-gara kecapekan. Itu bisa berbahaya buat kandungannya, Nduk." ucap Bu Endang.


"Biarin aja, Buk. Itu malah lebih bagus. Dengan tidak adanya janin itu, akan lebih mudah untuk mendapatkan Mas Revan. Aku juga bisa memberinya anak nantinya." sahut Bella.


"Tapi, Nduk__"


"Ibuk sebenarnya sayang sama Bella ga sih?!" tanya Bella membentak ibunya.


"Ibuk sayang sama Kamu, Nduk. Ya udah kalau begitu dilanjut makannya. Baru Kita pikirkan langkah selanjutnya." kata Bu Endang.


Mereka pun melanjutkan acara makan mereka tanpa sepatah katapun.


Sedangkan di dalam ruangan, Nisa sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya. Pandangan Nisa mulai gelap. Nisa jatuh pingsan.


Sementara di luar rumah itu, Revan dan Adit baru saja tiba. Bersama dengan beberapa polisi yang bersembunyi agar Bella dan Bu Endang tidak curiga.


Sebenarnya beberapa hari yang lalu, Bella menelepon Revan untuk mengajaknya bertemu. Namun Revan tidak bersedia. Lalu Bella menyatakan jika Ia ingin menjadi istri Revan. Biarpun istri kedua juga tak apa.


Dan itu akan menjadi senjata Revan untuk menjebak Bella. Dan selanjutnya akan melepaskan Nisa.


"Kamu tunggu di depan aja ya, Dit. Biar mereka ga curiga." kata Revan pada Adit.


Adit hanya mengangguk. Revan pun segera membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci. Dilihatnya Bella dan Bu Endang sedang menyantap makanan.


Bella dan Bu Endang segera berdiri karena terkejut.


"Untung aja wanita itu udah ga teriak-teriak lagi." kata Bella dalam hati.


"Mas. Kamu kok di sini? Mau jemput Aku ya?" tanya Bella tersenyum.


Bella berjalan mendekati Revan lalu bergelayut manja di lengan Revan.


"Iya. Aku kesini mau jemput Kamu sama Ibuk. Maaf kemarin Aku ga bisa ketemu sama Kamu." jawab Revan tersenyum.


"Ga apa-apa, Mas. Yang penting sekarang Kamu udah di sini. Aku senang banget Kamu jemput Aku." ucap Bella.


"Sebaiknya Kita pergi sekarang." kata Revan.


"Memangnya Kita mau kemana, Le?" tanya Bu Endang penasaran.

__ADS_1


Bagaimana tidak penasaran coba? Mereka sedang menyekap istrinya dan sekarang Ia akan menjemputnya mereka.


"Kita akan ke hotel, Buk. Lebih baik Kita cepat. Agar tidak kemalaman." ucap Revan.


"Ayo, Buk. Aku udah ga sabar nunggu hari esok, Mas. Akhirnya Kita akan bersama." kata Revan.


"Aku juga ga sabar untuk itu." sahut Revan.


"Kita memang akan bersama, Bel. Tapi hanya dalam mimpi kamu." ucap Revan dalam hati.


Mereka pun segera keluar dari rumah itu. Tapi baru saja berjalan 1 langkah, Bella dan Bu Endang hendak masuk lagi ke dalam rumah.


Dengan cepat Revan menahan mereka. Polisi pun segera mengambil alih untuk memborgol tangan Bella dan Bu Endang.


"Mas. Kenapa Kamu tega menjebak Aku?" tanya Bella menangis.


"Dan kenapa Kamu tega merusak rumah tangga ku?" tanya Revan balik.


"Itu karena Aku cinta sama Kamu, Mas. Aku sayang sama Kamu. Bahkan rasa sayangku ke Kamu melebihi istri Kamu." jawab Bella.


"Sayangnya Aku ga merasakan itu. Dan yang paling penting, Aku tidak suka orang lain menyakiti seseorang yang paling Aku sayang. Aku harap Kamu betah di hotel yang sudah Aku pesan buat Kamu." jelas Revan.


"Ga, Mas. Aku ga mau. Lepasin Aku." ucap Bella terus menangis.


"Tolong lepaskan Kami, Van. Kami menyesal. Apa Kamu tega melihat mertuamu di penjara?" Bu Endang memohon.


"Haha. Saya hanya mengikuti permainan Ibuk. Ibuk saja tega menyakiti anak Ibuk. Meskipun Dia hanya anak angkat. Kenapa saya tidak boleh tega dengan kalian?" tanya Revan sinis.


Bella dan Bu Endang terus memohon, namun tak dihiraukan oleh Revan. Bahkan suara mereka sudah sangat serak hampir tak ada suara yang keluar dari mulut mereka.


"Bawa mereka, Pak." ucap Revan sambil melangkah masuk ke dalam rumah untuk mencari Nisa.


"Lepaskan Ibuk, Van. Ibuk mohon." ucap Bu Endang memelas.


Revan tak menggubris perkataan mereka. Saat ini Ia fokus untuk mencari Nisa. Bahkan saat mobil polisi sudah berjalan pun mereka masih terus berteriak.


"Kita berpencar aja, Dit. Biar Nisa cepat ketemu." ucap Revan.


"Oke, Bos." sahut Adit.


Mereka mulai mencari keberadaan Nisa. Terlalu banyak ruangan yang ada di dalam rumah tersebut. Membuat mereka sedikit kesulitan menemukan Nisa.


"Bos!" teriak Adit tiba-tiba.


"Ada apa, Dit? Apa Kamu menemukan Nisa?" tanya Revan.


Adit mengarahkan pandangannya ke seorang wanita yang sedang duduk di sebuah kursi dengan posisi menunduk. Revan terkejut saat melihat Nisa dalam keadaan yang sangat tidak baik.


Tubuhnya lunglai. Badannya seperti tidak memiliki tulang. Hampir saja Revan terhuyung jika Adit tidak menahannya.


"Nisa!" teriak Revan.


Revan segera berlari mendekati Nisa. Tangisnya pecah saat melihat wajah Nisa yang lebam. Adit membantu Revan untuk melepaskan ikatan Nisa.


Setelah selesai, Revan segera mengangkat tubuh Nisa dan membawanya ke mobil.


"Jalannya cepat, Dit. Aku ga mau Nisa kenapa-napa." ucap Revan.

__ADS_1


Adit hanya mengangguk. Ia pun segera menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, Revan tak melepaskan pelukannya pada Nisa. Berkali-kali Ia menciumi istrinya penuh haru. Ia merasa tidak tega melihat penderitaan Nisa yang tiada henti.


"Kamu harus bertahan, sayang. Kamu pasti kuat. Demi anak Kita." ucap Revan.


Nisa masih belum sadarkan diri. Dan itu semakin membuat Revan khawatir.


Sesampainya di rumah sakit, Nisa langsung di bawa ke UGD. Karena tadi saat dalam perjalanan, Adit sudah menelepon pihak rumah sakit. Jadi Nisa bisa langsung di tangani.


Revan hanya mondar-mandir di depan ruang UGD. Sementara Adit menghubungi Nenek agar ke rumah sakit.


Tak lama kemudian, Nenek sudah datang ke rumah sakit. Mata Nenek terlihat sembab. Bagaimana tidak? Seharian ini Nenek terus menangis karena kehilangan Nisa.


"Nisa bagaimana, Le?" tanya Nenek.


"Belum tau, Nek. Nisa masih di periksa." jawab Revan.


"Kita duduk dulu, Le." ucap Nenek.


"Revan mau nungguin Nisa, Nek." sahut Revan.


"Nunggunya bisa sambil duduk. Kamu kelihatan sangat lesu. Apa Kamu belum makan?" tanya Nenek.


"Revan tidak bisa makan, Nek. Lagipula Revan juga tidak lapar." jawab Revan.


"Tapi Kamu harus makan, Le. Gimana Kamu mau jagain Nisa kalau Kamu aja ga bisa jaga diri sendiri." jelas Nenek.


Nenek melambaikan tangan pada Adit, mengisyaratkan untuk membeli makanan. Adit pun melangkah pergi ke kantin rumah sakit.


15 menit kemudian, Adit sudah kembali dengan kantung plastik berisi makanan. Kemudian Ia menyerahkan makanan itu pada Nenek.


"Ayo makan dulu. Biar kuat jagain Nisa." ucap Nenek.


"Tapi Revan ga laper, Nek." sahut Revan.


"Kamu harus makan, Le. Bagaimana Kamu mau jagain Nisa kalau nanti Kamu sakit." kata Nenek.


Revan pun berpikir sejenak. Akhirnya Ia mau makan. Meskipun sulit untuk menelan makanan itu, tapi Ia tetap berusaha demi Nisa.


Nenek tersenyum senang saat melihat Revan mau makan. Meskipun dengan sedikit paksaan.


Akhirnya Revan pun menghabiskan makanannya. Ia kembali mondar-mandir di depan ruang UGD.


Sementara Nenek mendengarkan cerita dari Adit tentang penculikan yang terjadi pada Nisa.


"Sudah Aku duga pelakunya Dia." ucap Nenek.


"Maksud Nenek?" tanya Adit.


"Gadis itu pernah tinggal di rumah bersama Kami. Dan terlihat kalau Dia menyukai Revan, tapi sangat membenci Nisa. Karena itulah Nenek memasang GPS di cincin Nisa. Awalnya untuk jaga-jaga aja. Dan ternyata itu berguna." jelas Nenek.


"Sangat berguna, Nek. Nenek memang yang terhebat." puji Adit.


"Hanya saja, Nenek tidak percaya jika Endang ikut dalam penculikan ini." ucap Nenek.


"Kalau Adit lihat, Bu Endang melakukan itu karena sangat sayang pada putri kandungnya. Tapi caranya salah." sahut Adit.

__ADS_1


Cukup lama mereka berbincang-bincang. Hingga akhirnya terdengar suara pintu terbuka.


•••


__ADS_2