
"Aku laper, Dek." kata Revan sambil mengusap perutnya.
Kruuuk. Kruuuk. Kruuuk.
Revan tertawa mendengar suara perut Nisa. Sementara Nisa manyun karena ditertawakan.
"Mas! Aku ngambek lagi nih kalo ga diem." ancam Nisa.
Seketika tawa Revan langsung berhenti. Dia menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tawa.
"Lagian kamu ada-ada aja, Dek. Aku yang ngomong laper, tapi perut kamu yang bunyi." kata Revan sambil menahan tawa.
"Terus aja ketawa." ucap Nisa cemberut.
"Sayang. Kamu mau makan apa?" tanya Revan sambil memeluk Nisa.
"Aku mau bubur ayam, Mas." jawab Nisa manja.
"Ya udah ayo. Tuh di depan ada yang jual." ucap Revan.
"Abis itu Kita makan soto ya, Mas." kata Nisa tersenyum.
Revan membelalakkan matanya karena terkejut.
"Apa perut kamu muat, Dek? Ini kecil lho." tanya Revan sambil mengusap perut Nisa yang rata.
"Kalau ga muat kan bisa di tampung di perut Kamu, Mas. Hehe." jawab Nisa tersenyum.
"Dikira perut Aku tempat pembuangan sampah kali, ya." gumam Revan.
"Ayo, Mas. Keburu kehabisan Kita." kata Nisa sambil menarik tangan Revan.
"Sabar, Dek. Kalau di situ abis kan bisa cari di tempat lain." sahut Revan.
"Tapi aku maunya di sini, Mas. Ayo ah cepetan." rengek Nisa.
Revan segera memesan 2 porsi bubur ayam komplit.
"Enak banget, Mas." ucap Nisa saat mencoba bubur ayam yang ada di tangannya.
"Kalau enak ya habisin. Kalau kamu mau nanti di bungkus buat di hotel." kata Revan.
"Ga ah, Mas. Mending besok Kita kesini lagi aja. Lagian nanti kan mau makan soto." sahut Nisa.
"Ya udah. Apapun itu, yang penting Kamu seneng." ucap Revan.
"Makasih, sayangku." kata Nisa tersenyum sambil menatap wajah Revan.
"Kalau gini aja baru disayang-sayang." gumam Revan.
"Gimana, Mas?" tanya Nisa.
"Ah. Ga ada kok, sayang. Dilanjut gih makannya. Keburu dingin ga enak buburnya." sahut Revan.
Nisa pun mengangguk pelan dan melanjutkan menyantap bubur ayam. Setelah menghabiskan bubur, mereka mengayuh sepeda menuju ke hotel.
Sesampainya di hotel, mereka segera menuju ke kamar.
"Aaah.. Leganya." ucap Nisa sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kamu mau menggoda ku ya, sayang?" tanya Revan tersenyum sambil berjalan mendekati Nisa.
"Aku ga menggodamu, Mas. Aku kan cuma berbaring." jawab Nisa memejamkan matanya.
"Tapi posisi kamu sungguh menggoda, sayang." sahut Revan.
Nisa membuka matanya dan melihat posisi tubuhnya saat ini. Wajar kalau Revan tergoda, posisi kedua tangan Nisa kini ke atas sementara kakinya terbuka.
Nisa segera mengubah posisinya, namun kalah cepat dengan gerakan Revan yang sudah menindihnya.
"Kamu sudah memulainya, Dek. Dan Kamu juga yang harus mengakhirinya." kata Revan tersenyum.
"Tapi, Mas__" belum sempat Nisa menyelesaikan ucapannya, Revan sudah sibuk menikmati bibir Nisa.
__ADS_1
Dan entah kenapa, Nisa ikut menikmati permainan Revan. Ya. Setelah lelah olahraga outdoor, kini mereka lanjutkan olahraga indoor.
1 jak kemudian, mereka terbaring di bawah selimut setelah kelelahan berolahraga. Bahkan nafas mereka masih terengah-engah.
"Capek banget, Mas." ucap Nisa.
"Sama, Dek." sahut Revan.
Mereka pun akhirnya terlelap karena saking lelahnya.
"Uhh. Jam berapa ini?" tanya Nisa sambil menggeliat mencoba membuka matanya.
Revan pun terusik dengan pergerakan Nisa.
"Diem, sayang. Aku masih ngantuk nih." kata Revan masih dengan mata terpejam.
"Astaga, Mas." ucap Nisa sambil membelalakkan matanya.
"Kenapa, sayang?" tanya Revan yang langsung membuka matanya karena terkejut.
"Itu udah jam setengah 2." jawab Nisa enteng.
"Kirain ada apaan, Dek. Terus kenapa kalau udah jam setengah 2?" tanya Revan.
"Pantesan aja Aku laper, Mas." jawab Nisa tersenyum.
"Aku juga laper, Dek. Pengen makan Kamu." goda Revan.
"Issh. Jangan mulai lagi deh." sahut Nisa manyun.
"Jangan manyun, sayang. Aku ga tahan lihatnya." kata Revan.
Seketika Nisa menggigit bibirnya sendiri karena ga kuat dengan ucapan Revan. Sementara Revan semakin tergoda dengan bibir Nisa.
"Aduh, sayangku. Aku ga tahan lihat bibir Kamu." ucap Revan yang langsung meraih bibir Nisa.
Nisa gelagapan mendapat serangan tiba-tiba dari Revan. Namun Ia pun akhirnya terbuai. Dan terjadilah apa yang harusnya terjadi.
"Mas. Aku pengen makan soto. Tapi di kamar aja makannya." ucap Nisa sambil menyisir rambutnya.
"Oke, sayang. Kamu mau apalagi?" tanya Revan yang sudah meraih gagang telepon.
"Apa aja deh, Mas. Yang penting bisa Aku makan." jawab Nisa.
"Siap, Bos." sahut Revan.
Revan pun menelepon seseorang untuk menyiapkan makanan pesanan Nisa. 30 menit kemudian, makanan sudah siap di meja.
"Oh iya, Mas. Kapan Kita pulang? Aku udah kangen sama nenek. Kasihan nenek sendirian." tanya Nisa.
"Gimana kalau 3 hari lagi, sayang?" tanya Revan.
"Emangnya ga apa-apa Kamu ninggalin kerjaan lama-lama?" tanya Nisa.
"Ga apa-apa, sayang. Kan ada Adit." jawab Revan.
"Oke lah kalau begitu. 3 hari buat jalan-jalan sama beli oleh-oleh ya, Mas." ucap Nisa.
"Oleh-olehnya ga usah beli, Dek. Kita bikin aja." kata Revan tersenyum.
"Ya ga bisa lah, Mas. Aku mana bisa bikin sovenir atau apalah yang khas daerah sini." sahut Nisa.
"Kita ga bikin yang khas daerah sini, Dek. Tapi yang khas disini." ucap Revan sambil mengusap perut Nisa.
Nisa segera menepis tangan Revan.
"Itu mah modus mesum Kamu, Mas." gerutu Nisa.
"Hehe. Itu jauh lebih berarti daripada sovenir, sayang." sahut Revan.
"Iya sih, Mas. Tapi kalau keseringan kan capek. Butuh jalan-jalan juga buat jernihin pikiran." kata Nisa yang baru saja selesai makan.
"Ya udah. Besok Kita jalan-jalan. Tapi pake mobil aja ya? Capek kalau pake sepeda." ucap Revan.
__ADS_1
"Kalo pake motor gimana, Mas? Biar romantis." tanya Nisa antusias.
"Romantis itu bukan pake motor, Dek. Tapi pake kolor." jawab Revan tertawa.
"Dasar mesum!" teriak Nisa.
Nisa segera berlari meninggalkan Revan dan bersembunyi di bawah selimut. Revan tersenyum senang karena berhasil mengerjai istrinya. Entah kenapa dia merasa begitu bahagia saat melihat Nisa salah tingkah.
3 hari kemudian, Nisa dan Revan sudah bersiap untuk kembali pulang ke Jogja. Revan menarik koper keluar kamar. Didepan kamar, sudah ada manager hotel yang hendak membantu membawa koper mereka.
"Mari saya bantu, Bos." ucap Pak Budi.
"Oh iya ini, Pak." sahut Revan menunjukkan 2 koper.
Sementara semua oleh-oleh sudah Ia letakkan di mobil.
"Sudah semuanya, Dek? Ga ada yang tertinggal, kan?" tanya Revan sambil memeluk Nisa.
"Ga ada kok, Mas. Sudah beres semua. Tinggal jalan." jawab Nisa tersenyum.
Sementara Pak Budi membelalakkan matanya saat tahu bahwa istri dari bos-nya adalah kakak kekasih gelapnya, Bella.
"Jadi laki-laki yang di maksud Bella waktu itu adalah Bos Revan?" tanya Pak Budi dalam hati.
"Pak Budi!" teriak Revan.
"Eh. Ayam. Ayam." kata Pak Budi terkejut sambil menatap ke bawah seperti mencari ayam.
Nisa dan Revan tertawa melihat ekspresi latah Pak Budi.
"Maaf, Bos." ucap Pak Budi menunduk.
"Pak Budi kenapa ngelamun?" tanya Nisa.
"Eh. Ga ngelamun kok, Mbak." jawab Pak Budi.
"Ya udah ayo jalan. Jangan malah sibuk cari ayam." ucap Revan yang masih tertawa.
"Udah, Mas. Kasihan Pak Budi nya nunduk terus itu." kata Nisa sambil menunjuk ke arah Pak Budi yang berjalan di belakang mereka.
"Ga bisa di tahan, Dek. Biasanya kan latah itu identik sama cewek. Lhaah ini ada cowok latah. Aneh bin ajaib. Dan pastinya lucu banget kalau ingat ekspresi Pak Budi tadi." jelas Revan.
"Terserah kamu aja lah, Mas." gumam Nisa.
Revan tak menghentikan tawanya hingga mereka tiba di mobil. Pak Budi segera memasukkan ke dalam mobil. Nisa pun sudah masuk ke dalam mobil. Sementara Revan masih berbincang dengan Pak Budi di belakang mobil.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya hal yang serius.
"Ayo, Mas!" teriak Nisa.
"Iya, Dek." sahut Revan.
"Ingat ya pesan saya tadi, Pak." ucap Revan sambil menatap wajah Pak Budi.
"Baik, Bos." sahut Pak Budi.
"Ya udah kalau begitu. Saya pergi dulu." kata Revan sembari berjalan meninggalkan Pak Budi.
"Iya, Bos. Hati-hati di jalan." sahut Pak Budi sambil menundukkan kepalanya.
"Udah siap berangkat, sayang?" tanya Revan tersenyum.
"Dari tadi kali, Mas." jawab Nisa kesal.
"Senyum dong, sayang." kata Revan sambil mencolek dagu Nisa.
"Udah cepetan jalan. Aku udah kangen banget sama nenek." ucap Nisa menepis tangan Revan.
"Issh.. Galak banget sih istriku ini." goda Revan.
"Biarin." sahut Nisa yang langsung menjulurkan lidahnya.
•••
__ADS_1