
"Ga apa-apa, Pak. Memang benar apa yang dikatakan nak Rika." sahut Pak Harto.
Mereka semua diam mendengar ucapan Pak Harto.
"Memang istri saya yang membuat kami tidak bisa menemani Nisa sampai acara resepsi. Saya tidak bisa kehilangan istri dan anak kandung saya. Jadi saya mohon sekali bantuan dari Pak Sugi dan Bu Ani, serta nak Rika." lanjut Pak Harto.
"Lalu Bapak mengorbankan Nisa yang memang hanya anak tiri Pak Harto begitu?" tanya Rika dengan nada penekanan.
Bu Ani memegang tangan Rika, berusaha menenangkan pikiran Rika. Rika menoleh menatap ibunya. Akhirnya Rika pun menunjukkan kepalanya menahan amarah.
"Saya menyayangi Nisa seperti anak kandung saya sendiri. Tapi istri saya tidak menyukai Nisa sejak anak kandung kami pernah terserempet mobil saat bermain dengan Nisa. Sebenarnya ini semua hanya salah faham, tapi istri saya tetap pada pendiriannya." ucap Pak Harto.
Pak Harto menghela nafasnya.
"Maka dari itu saya mohon bantuan Pak Sugi dan Bu Ani untuk menemani Nisa." lanjut Pak Harto.
"Kami dengan senang hati akan membantu Pak Harto untuk menemani Nisa besok. Karena saya dan istri sudah menganggap Nisa adalah anak kami. Tapi bagaimana dengan Nisa?" tanya Pak Sugi.
Mereka semua pun terdiam menunggu jawaban Pak Harto.
"Saya akan bicara pada Nisa besok. Tapi setelah ijab qobul saja." jawab Pak Harto.
"Baiklah kalau begitu. Semoga Nisa bisa menerima bahwa Pak Harto dan Bu Endang tidak bisa menemaninya sampai acara selesai." ucap Pak Sugi.
"Amin." kata mereka bersama-sama.
Mereka pun mengakhiri pembicaraan malam ini dan pergi ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Rika di kamarnya menangis membayangkan bagaimana rasanya jadi Nisa. Begitu banyak penderitaan yang dialaminya selama hidup.
"Kasihan banget kamu, Nis. Semoga setelah kamu menikah dengan Mas Revan, kamu bisa merasakan kebahagiaan." gumam Rika.
Keesokan harinya, Nisa begitu cantik dengan kebayanya. Rika mencoba tersenyum di depan Nisa.
"Kamu cantik banget, Nis." puji Rika.
"Bisa aja kamu, Rik." ucap Nisa malu-malu.
"Beneran, Nis. Pantas aja Mas Revan mau sama kamu." kata Rika.
"Kok malah pada ngobrol di sini. Ayo keluar sekarang. Acaranya sudah hampir di mulai." ucap Bu Ani yang baru saja muncul.
"Iya, Buk. Ini juga sudah selesai Nisa dandannya." kata Rika.
"Kamu cantik banget, Nduk." ucap Bu Ani.
Tiba-tiba Bu Ani meneteskan air matanya, namun segera diusapnya.
"Ibuk kok nangis?" tanya Nisa.
"Ibuk cuma terharu, Nduk. Ga nyangka kamu akan menikah secepat ini." jawab Bu Ani.
"Sudah waktunya, Buk. Lagian sebentar lagi kan Rika juga akan menikah." ucap Nisa sambil menoleh ke arah.
"Iya, Nduk. Ibuk merasa sudah sangat tua sekarang." kata Bu Ani.
"Ya sudah kita keluar sekarang. Kasihan yang lain sudah menunggu." ajak Nisa.
Mereka pun berjalan keluar menuju ruangan ijab qobul. Nisa berjalan dengan digandeng oleh Bu Ani dan Rika.
Saat masuk ke dalam ruangan ijab qobul, semua mata tertuju pada Nisa. Tidak terkecuali Revan.
Mereka begitu kagum pada kecantikan Nisa yang begitu alami.
"Baiklah. Acara sudah bisa kita mulai sekarang." kata Pak penghulu.
Acara ijab qobul pun sudah di mulai. Acara berjalan dengan khidmat.
Sah.
Seketika air mata Nisa menetes saat mendengar kata itu. Perasaannya begitu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti saat ini Nisa begitu bahagia.
Setelah acara selesai, Nisa kembali ke ruang ganti bersama Revan, suaminya. Tak lama kemudian, Pak Sugi dan Bu Ani muncul. Disusul Rika dan Bayu di belakang mereka.
"Selamat ya, Nduk. Kamu sudah jadi seorang istri sekarang." ucap Bu Ani sambil memeluk Nisa.
"Terima kasih ya, Buk, Pak. Ini semua juga terjadi berkat do'a Ibuk dan Bapak." ucap Nisa.
"Nisa. Kamu tega tinggalin aku sendiri." kata Rika.
Nisa melepaskan pelukannya dari Bu Ani dan beralih memeluk Rika.
"Kamu kan bentar lagi nikah, Rik. Ga bakal sendirian lagi. Iya kan, Mas Bayu?" tanya Nisa sambil tersenyum ke arah Bayu.
"Pasti, Nis. Secepatnya kita juga akan sah kayak kamu dan Revan." jawab Bayu.
Mereka pun berbincang-bincang sejenak sebelum Pak Harto dan Bu Endang akhirnya muncul.
__ADS_1
"Selamat atas pernikahan kamu ya, Nduk. Jaga diri baik-baik. Kamu harus jadi istri yang baik untuk Revan. Bapak sayang sama kamu. Maafkan Bapak hanya bisa menemani kamu sampai di sini." ucap Pak Harto.
Pak Harto memeluk Nisa sambil menangis. Nisa pun ikut menangis.
"Jangan nangis, Pak. Nisa sangat berterima kasih sama Bapak. Bapak yang sudah merawat Nisa sampai saat ini. Nisa tidak tahu apa yang terjadi sama Nisa kalau tidak ada Bapak. Nisa sayang sama Bapak." sahut Nisa.
Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut ikut menangis menyaksikan kejadian haru Pak Harto dan Nisa. Kecuali Bu Endang, ibu angkat Nisa.
"Pak. Sudahlah. Ayo kita pergi sekarang. Ibuk sudah ga betah disini." ucap Bu Endang.
Nisa yang terkejut pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap Pak Harto. Namun tak ada jawaban.
"Maksudnya apa, Buk? Resepsinya kan masih nanti malam?" tanya Nisa pada Bu Endang.
"Kamu belum tahu ya, Nisa? Suami saya belum kasih tahu kamu?" tanya Bu Endang dengan nada sinis.
"Maksudnya kasih tau apa? Ada apa ini, Pak? Apa yang Bapak sembunyikan dari Nisa?" tanya Nisa sambil menatap Pak Harto.
Namun Pak Harto tak kunjung menjawab. Pak Harto diam dan langsung memeluk Nisa kembali.
"Maafkan Bapak, Nisa." bisik Pak Harto.
"Maaf untuk apa, Pak? Tolong jelasin sama Nisa." ucap Nisa.
"Kita akan pulang sekarang, Nisa. Ini terakhir kalinya kamu ketemu dengan kita. Dan kita juga tidak akan menemani kamu di acara resepsi nantinya. Kamu akan ditemani Pak Sugi dan Bu Ani." jelas Bu Endang.
"Apa maksud Ibuk?" tanya Nisa.
"Apa kamu masih belum paham?" tanya Bu Endang.
Bu Endang tersenyum ke arah Nisa dengan wajah sinis.
"Dek. Kamu tenang dulu, ya." kata Revan sambil merangkul pundak Nisa.
"Tenang bagaimana, Mas? Bapak sama Ibuk itu orang tua aku. Harusnya mereka yang menemani aku saat resepsi. Bukan Pak Sugi dan Bu Ani. Meskipun aku sudah menganggap mereka orang tuaku juga." ucap Nisa sambil menatap Revan.
"Tapi kamu bukan anak kami lagi, Nisa. Kami sudah tidak ada perlu lagi dengan kamu. Jadi biarkan kami pergi sekarang. Ayo, Pak." ajak Bu Endang.
Bu Endang menarik tangan Pak Harto agar segera pergi dari tempat itu. Namun Nisa menahannya.
"Pak. Nisa masih anak Bapak, kan?" tanya Nisa sambil menahan Pak Harto agar tidak pergi.
"Maafkan Bapak, nak. Bapak sayang sama kamu. Bapak pergi dulu." kata Pak Harto.
Bu Endang dan Pak Harto pun keluar dari ruangan itu. Seketika itu Nisa pingsan. Beruntung Revan segera memeluknya sebelum Nisa jatuh ke lantai.
"Buk. Bagaimana dengan Nisa?" tanya Rika sesenggukan.
"Nisa pasti baik-baik aja, Nduk. Nisa anak yang kuat." sahut Bu Ani.
1 jam kemudian, Nisa tersadar dari pingsannya. Kini dia sudah ada di dalam kamarnya.
Nisa melihat ke sekeliling ruangan. Dilihatnya Revan yang sedang duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurnya.
"Kamu sudah sadar, sayang?" tanya Revan khawatir.
"Bapak sama Ibuk mana, Mas?" tanya Nisa.
Nisa langsung bangun hendak pergi ke luar kamar. Namun Revan menahannya.
"Kamu tenang ya, Dek. Kamu minum ini dulu." kata Revan sambil membantu Nisa untuk minum teh hangat.
Nisa mengangguk dan minum teh hangat yang diberikan oleh Revan. Nisa merasa sedikit lebih tenang setelah meminumnya.
"Bapak sama Ibuk di mana, Mas?" tanya Nisa.
Nisa memegang tangan Revan dan menatap wajahnya.
"Dek. Maafkan aku yang tak bisa mencegah kepergian orang tua kamu. Kamu harus kuat ya. Disini ada aku. Suami kamu. Ada Rika dan Bayu. Ada Pak Sugi dan Bu Ani. Mereka pasti tidak ingin melihat kamu menangis." kata Revan.
Revan memeluk Nisa erat. Nisa terus menangis sesenggukan. Dadanya terasa begitu sesak dengan keadaan ini.
Revan mengusap-usap lembut ujung kepala Nisa. Revan pun ikut menangis.
"Tapi kenapa mereka tega sama aku, Mas? Salah aku apa? Apa karena aku hanya anak angkat?" tanya Nisa.
"Mereka sayang sama kamu, Dek. Hanya saja mungkin sekarang mereka sedang sibuk." sahut Revan.
"Tapi tadi Ibuk bilang kalau aku bukan anaknya lagi, Mas." ucap Nisa.
"Dek. Kita masih punya orang tua. Kita masih punya Pak Sugi dan Bu Ani. Jangan lupakan mereka. Ada nenek juga." jelas Revan sambil menatap Nisa.
"Tapi, Mas." ucap Nisa.
"Sudah ya, Dek. Aku ga suka lihat kamu yang nangis kayak gini. Kita lewati ini bersama. Jangan nangis lagi. Jangan sampai di acara nanti malam, kamu terlihat kayak panda. Bukan kayak istri aku." kata Revan.
Revan mengusap air mata yang mengalir di pipi Nisa. Lalu mengecup keningnya.
__ADS_1
"Makasih ya, Mas." ucap Nisa.
"Terima kasih untuk apa, Dek?" tanya Revan.
"Untuk semuanya." jawab Nisa.
"Tak perlu berterima kasih, sayang. Kamu sekarang adalah tanggung jawabku. Dan aku harap kamu jangan menangis lagi. Aku tak bisa melihat air mata kamu ini." kata Revan.
Nisa kembali menghambur ke pelukan Revan.
"Dek. Kita makan dulu, ya. Kamu kan sejak pagi belum makan apapun. Jangan sampai kamu pingsan lagi karena kelaparan." kata Revan.
"Tapi Nisa tidak nafsu makan, Mas." ucap Nisa.
"Kalau begitu aku keluar sebentar ya. Kamu tunggu disini. Kamu bisa ganti baju dulu." kata Revan sembari mengecup kening Nisa.
Revan segera keluar dari kamar Nisa. Nisa berjalan menuju lemari pakaiannya. Mengambil satu set pakaian dan segera memakainya.
Tidak berapa lama kemudian, Revan sudah kembali ke kamar Nisa dengan membawa nampan berisi makanan.
"Ayo kita makan, Dek." kata Revan sambil meletakkan tangan di atas meja.
"Banyak banget kamu makannya, Mas? Kayak orang ga makan 2 hari." tanya Nisa heran.
"Ini buat kita berdua, Dek. Kamu juga harus makan." sahut Revan.
"Tapi kan piringnya cuma satu, Mas. Lagian Nisa juga ga pengen makan." ucap Nisa.
"Biar aku suapin kamu. Dan kamu harus mau makan." kata Revan.
"Tapi, Mas," ujar Nisa.
"Tidak ada tapi. Sekarang aku adalah suami kamu. Dan kamu harus nurut apa kata suami." kata Revan.
Nisa pun mengangguk pelan. Dan mereka mulai makan bersama. Sesekali Revan usil pada Nisa agar tersenyum.
Saat malam tiba, Nisa dan Revan bersiap-siap untuk acara resepsi pernikahan mereka. Mereka nampak begitu serasi.
"Kamu cantik sekali, sayang." ucap Revan.
"Mas Revan bisa aja. Mas Revan juga ganteng banget hari ini." kata Nisa.
Revan memeluk pinggang Nisa sambil menatapnya. Sementara saat ini mereka masih di ruang rias.
"Kalian ga sopan banget ya? Kita nungguin diluar, tapi yang ditunggu malah mesra-mesraan di sini." teriak Rika.
Revan yang terkejut pun segera melepaskan tangannya dari pinggang Nisa. Sementara Nisa langsung menunduk malu.
"Kamu juga, Van. Sabar dikit napa. Udah mau nyosor aja kayak bebek." kata Bayu.
"Nyicil dikit kan ga apa-apa." sahut Revan.
"Ga usah pake nyicil kali, Van. Ntar langsung lunas aja. Udah ah. Kok malah jadi ngobrol di sini. Ayo kita keluar sekarang. Acara sudah hampir di mulai. Jangan sampai kalian bikin malu karena terlambat akibat nyicil." kata Bayu tersenyum ke arah Revan.
Mereka segera berjalan menuju ruangan tempat diadakannya resepsi pernikahan Revan dan Nisa.
Nisa takjub dengan dekorasi ruangan tersebut. Sederhana tapi sangat mewah. Semua tamu pun berpakaian mewah.
"Mas. Ini kok mewah banget acaranya?" tanya Nisa berbisik.
"Aku ga tau, Dek. Ini semua ide nenek." jawab Revan.
"Sayang uangnya, Mas. Bisa dipake buat keperluan lain." kata Nisa.
"Biarlah, Dek. Lagipula ini hadiah dari nenek buat kita. Kita nikmati aja. Dan jangan lupa untuk selalu tersenyum. Kamu akan lebih cantik saat tersenyum." ucap Revan.
Nisa pun tersenyum sambil menggandeng tangan Revan. Mereka berjalan menuju pelaminan.
"Wah serasi banget ya mereka. Yang cowok ganteng banget. Yang cewek juga cantik banget." ucap salah satu tamu undangan.
"Iya, betul. Kayak Putri sama Pangeran ya. Seandainya calon mantu ku secantik wanita itu. Pasti akan langsung aku restui." sahut tamu undangan lainnya.
"Yang biasa-biasa aja lah. Percuma kalau cantik kalau ga dibiayai mah. Nanti juga jadi jelek." ucap temannya.
"Iya juga sih. Ya mau gimana lagi. Anakku kan belum kerja. Tapi tiap hari disamperin pacarnya terus. Sampai kesel aku lihatnya." sahut tamu tersebut.
"Ya ga usah lihatin lah. Beres kan? Gitu aja kok repot." ucap temannya.
"Sudah-sudah. Ini kok malah pada curhat. Lihat itu pengantinnya sudah mau jalan didepan kita." ucap tamu lainnya.
"Duh. Semakin dekat kok semakin ganteng aja ya. Pengen deh pegang dikit.
"Beruntung banget deh itu ceweknya. Bisa dapetin seorang Revan. Pengusaha muda yang sukses. Ganteng lagi." ucap salah satu tamu yang diperkirakan berusia 20 tahun.
"Iya, beb. Aku juga mau kali jadi istrinya. Istri kedua juga ga apa-apa." sahut temannya.
•••
__ADS_1