Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 19


__ADS_3

"Aduh." teriak Nisa.


Nisa mengusap-usap pundaknya yang baru saja di pukul Rika.


"Makanya kalau ngomong jangan asal. Sudah pasti enak lah kalau aku yang masak." kata Rika.


Rika berjalan mendahului Nisa dan Bu Ani.


"Rika! Minta maaf dulu sama Nisa. Dia itu besok mau nikah, kamu hari ini harus akur sama Nisa." ucap Bu Ani.


Rika pun segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nisa.


"Oke. Maaf ya, Nis." kata Rika.


"Aku akan maafin kamu kalau makanan yang kamu masak enak. Kalau ga enak, kamu harus masak lagi sampai rasanya enak." jelas Nisa.


Rika membulatkan matanya terkejut dengan ucapan Nisa. Sedangkan Nisa menahan tawa melihat ekspresi wajah Rika saat ini.


"Pasti enaklah. Kalau sampai ga enak, nanti aku buatin kamu telur ceplok." sahut Rika.


"Sudah. Ayo cepat makan. Bapak sudah laper banget ini. Kalian kebanyakan ngobrol." ucap Pak Sugi.


Pak Sugi berjalan menuju ruang makan meninggalkan para perempuan. Di ikuti oleh Bu Ani, Nisa, serta Rika.


Mereka makan siang bersama. Tanpa ada yang bersuara. Hanya ada suara sendok yang bergesekan dengan piring.


Rika tersenyum saat melihat piring Nisa yang sudah hampir bersih. Itu berarti dia tidak perlu memasak telur ceplok yang diminta Nisa.


"Enak kan, Nis?" tanya Rika.


"Biasa aja sih." jawab Nisa.


"Biasa aja tapi piringnya sampai bersih kayak gitu." kata Rika tersenyum menggoda.


"Aku ga mau nanti nasinya nangis kalau ga aku habisin." sahut Nisa tanpa menatap Rika.


"Halah. Bisa banget kamu cari alasan." ucap Rika.


"Sudah lah, Nduk. Masakan kamu enak kok. Lain kali kamu yang masak aja ya. Sekalian belajar jadi istri yang baik." kata Bu Ani.


Nisa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bu Ani.


"Eh. Ya ga bisa gitu dong, Buk. Masa' Rika terus yang masak? Gantian sama Nisa dong, Buk." ucap Rika.


Rika menatap kesal kearah Nisa yang menertawakannya.


"Nisa juga masak, Nduk. Tapi masak untuk suami dan neneknya. Kan besok dia udah sah jadi istri orang." sahut Bu Ani.


Nisa menjulurkan lidahnya saat Rika menatapnya kesal.


"Tapi, Buk." kata Rika memelas.


"Ga ada tapi. Setelah Nisa nikah, kamu juga harus cepat nikah." sahut Bu Ani.


"Ya ga secepat itu juga kali, Buk. Mas Bayu kan juga harus menyiapkan dana buat pernikahan kami." kata Rika.


"Tenang aja kali, Rik. Kalau soal dana mah Mas Bayu selalu siap." ucap Nisa.


"Diam kamu, Nis. Dasar kompor." cibir Rika.


Nisa tertawa dan berlari meninggalkan meja makan. Dia tidak mau kena amukan Rika. Saat Rika hendak mengejar Nisa, Bu Ani menahannya.


"Sudah lah, Nduk. Jangan ganggu Nisa untuk hari ini. Dia lagi sedih nungguin orang tua angkatnya dateng. Kamu hibur dia aja. Jarang-jarang kan kamu hibur dia. Lagian mulai besok, kalian akan jarang ketemu." jelas Bu Ani.


Rika diam mencerna kata-kata ibunya. Memang benar apa yang diucapkan ibunya. Mulai besok mereka akan sulit untuk bertemu. Misal bertemu pun itu di kampus dengan waktu yang terbatas.


"Baiklah, Buk. Sekali-kali aku baik sama anak itu." ucap Rika.


Rika segera beranjak menuju ke kamar Nisa. Pak Sugi dan Bu Ani tersenyum melihat kepergian anaknya.


"Nis. Buka pintunya dong. Tuan Putri mau masuk nih." kata Rika dari depan pintu kamar Nisa.


"Buka aja. Ga dikunci kok." sahut Nisa.


Rika pun membuka pintu kamar Nisa. Dilihatnya Nisa yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Kamu ngapain sih, Nis?" tanya Rika sambil melirik ke arah laptop Nisa.


"Cuma nonton video aja." jawab Nisa tanpa menoleh ke arah Rika.


"Aku ikutan ya. Lagi bosen nih dikamar. Mas Bayu juga lagi sibuk ga bisa teleponan." ucap Rika.


"Ya udah duduk aja. Biasanya juga asal duduk tanpa minta ijin." kata Nisa.


"Sekali-kali ijin kan ga apa-apa, Nis. Video apaan ini? Yang komedi aja, Nis. Kalau yang romantis gini pasti ujung-ujungnya cuma nangis." ucap Rika.


Rika segera mengambil alih laptop Nisa. Dia segera mencari video ber-genre komedi. Nisa yang hendak merebut laptop nya pun tangannya ditepis oleh Rika.


"Udah, kamu diem aja. Kalau nonton komedi kan seru. Bikin awet muda." ucap Rika tersenyum.

__ADS_1


Rika segera meletakkan laptop Nisa setelah mendapatkan video yang di maksud.


"Huh. Berasa aku yang numpang kalau kayak gini." gerutu Nisa.


Rika hanya tersenyum melihat Nisa yang kesal. Namun akhirnya Nisa pun mau menonton video ber-genre komedi tersebut.


Nisa dan Rika tertawa saat ada adegan yang lucu. Bahkan tawa mereka sampai terdengar oleh Pak Sugi dan Bu Ani.


Pak Sugi dan Bu Ani yang penasaran pun mengintip mereka dari celah pintu kamar Nisa yang sedikit terbuka. Mereka tersenyum melihat keduanya tertawa seperti itu.


"Akhirnya mereka akur juga ya, Buk. Meskipun dengan sedikit paksaan." kata Pak Sugi.


"Iya, Pak. Sayangnya mereka akur hanya sebentar. Besok mereka akan berpisah." sahut Bu Ani.


"Tidak apa-apa, Buk. Yang penting mereka akan bahagia nantinya." ucap Pak Sugi sambil merangkul pundak Bu Ani.


"Ibuk seneng, Pak. Nisa sudah tidak terlalu khawatir dengan orang tuanya. Ibuk ga bisa bayangin kalau mereka tidak mau datang ke pernikahan Nisa besok." kata Bu Ani.


"Ibuk jangan bicara kayak gitu. Kita harus optimis. Pak Harto dan Bu Endang pasti datang. Semoga malam ini mereka sudah sampai di sini." ucap Pak Sugi.


"Amin. Iya, Pak. Ayo kita lanjut beres-beres, Pak. Ga enak sama tetangga yang sudah nunggu kita di luar." kata Bu Ani.


Mereka pun segera berjalan ke luar meninggalkan Nisa dan Rika yang sedang asyik di dalam kamar.


Saat hari sudah sore, Rika kembali ke kamarnya. Sedangkan Nisa masuk ke dalam kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, Nisa teringat dengan orang tua angkatnya. Nisa segera memakai pakaian dan berjalan keluar kamar.


Nisa berjalan terburu-buru menuju depan rumah. Namun tidak terlihat kendaraan orang tuanya.


"Ada apa, Nduk? Kok gelisah begitu?" tanya Bu Ani.


Bu Ani berjalan menghampiri Nisa.


"Orang tua Nisa belum dateng ya, Buk?" tanya Nisa.


"Belum, Nduk. Mungkin sebentar lagi. Lagipula ini kan masih sore. Mungkin mereka istirahat dulu di jalan." kata Bu Ani.


"Tapi kok lama banget ya, Buk?" tanya Nisa lagi.


"Sabar, Nduk. Kita masuk dulu aja. Sudah mau Maghrib juga sekarang. Semoga nanti pas waktunya makan malam, orang tua kamu sudah datang." kata Bu Ani sambil merangkul pundak Nisa.


Nisa pun akhirnya mengangguk pelan. Nisa dan Bu Ani berjalan ke dalam rumah.


Saat tiba waktunya makan malam, ternyata Pak Harto dan Bu Endang belum datang. Nisa semakin khawatir kalau mereka tidak mau datang ke pernikahannya.


"Nduk. Makanannya jangan dibuat mainan. Ga baik." ucap Pak Sugi.


"Maaf, Pak. Nisa ga sengaja." kata Nisa menunduk.


"Kamu mikirin apa to, Nduk?" tanya Pak Sugi.


"Ga mikirin apa-apa kok, Pak. Nisa cuma gugup karena besok udah nikah." jawab Nisa.


Nisa mencoba untuk tersenyum agar Pak Sugi dan Bu Ani tidak khawatir.


"Kamu tenang saja, Nduk. Semua pasti akan baik-baik aja. Jangan terlalu dipikirkan." ucap Bu Ani.


Bu Ani sebenarnya tahu apa yang membuat Nisa melamun. Tapi dia tidak ingin membahas itu, karena hanya akan menambah kegelisahan Nisa.


"Sekarang kamu makan saja, Nduk. Serahkan semuanya sama Allah. Semoga semuanya lancar tanpa ada halangan sedikitpun." kata Pak Sugi.


"Amin." ucap mereka bersamaan.


"Kamu makan yang banyak, Nis. Biar enak nanti tidurnya. Kamu kan kalau lapar ga bisa tidur nyenyak." ucap Rika tersenyum.


"Sebenarnya aku juga pengen makan banyak, Rik. Tapi kok ga nafsu makan ya." kata Nisa.


"Kamu harus makan, Nduk. Sedikit juga ga apa-apa. Yang penting ada makanan yang masuk." sahut Bu Ani.


"Iya, Buk." ucap Nisa.


Mereka pun segera menyelesaikan acara makan malam. Saat sedang membereskan meja makan, terdengar suara pintu diketuk.


Tok. Tok. Tok.


"Tolong di buka pintunya ya, Pak. Mungkin tetangga yang bantuin kita tadi siang." kata Bu Ani pada pada suaminya.


"Siap, Buk." ucap Pak Sugi.


Pak Sugi pun segera berjalan menuju ke arah pintu. Saat membuka pintu, senyum tersungging di bibirnya.


"Alhamdulillah. Pak Harto dan Bu Endang akhirnya datang juga. Nisa dari tadi sudah nungguin." kata Pak Sugi.


"Maaf ya, Pak Sugi. Kami datangnya kemalaman. Tadi ada acara mendadak yang tidak bisa ditinggalkan." sahut Pak Harto.


"Ya sudah kalau begitu. Mari masuk, Pak, Buk. Istirahat dulu di dalam." ucap Pak Sugi.


Pak Sugi mempersilakan masuk Pak Harto dan Bu Endang. Lalu dia berjalan ke arah dapur untuk menemui Bu Ani.

__ADS_1


"Buk. Tolong buatkan minuman untuk orang tua angkat Nisa." kata Pak Sugi.


"Oh. Mereka sudah datang, Pak? Baiklah, Ibuk buatkan. Bapak tolong kasih tahu Nisa ya kalau orang tuanya sudah datang. Dia pasti senang sekali. Sejak tadi gelisah mengharap kedatangan kedua orang tuanya." ucap Bu Ani.


Bu Ani mengambil nampan serta beberapa buah cangkir untuk membuat teh hangat.


"Siap, laksanakan!" kata Pak Sugi sambil memberi hormat.


Pak Sugi berjalan menuju ke kamar Nisa.


Tok. Tok. Tok.


"Nduk. Ada yang cari kamu di luar." kata Pak Sugi.


"Siapa, Pak?" tanya Nisa sambil membungkuk pintu kamarnya.


"Kamu habis nangis, Nduk?" tanya Pak Sugi sambil melihat-lihat mata Nisa yang sedikit sembab.


"Eh. Ga kok, Pak. Nisa tadi habis nonton drama Korea. Jadi sedih kayak gini." jawab Nisa.


Nisa mengusap sisa air matanya sambil tersenyum.


"Ya sudah. Nanti jangan nonton itu lagi ya. Kamu kan besok menikah. Masa' matanya kayak panda." ucap Pak Sugi.


"Iya, Pak. Nisa nanti langsung tidur aja. Oh iya, Pak. Yang cariin Nisa siapa?" tanya Nisa.


"Nanti kamu juga tahu, Nduk. Ayo kita ke depan sekarang. Mereka pasti sudah nungguin kamu." kata Pak Sugi.


Nisa dan Pak Sugi berjalan menuju ke ruang tamu. Saat tiba di ruang tamu, Nisa seperti mendapatkan sebuah hadiah yang sangat istimewa.


"Bapak. Ibuk. Nisa seneng banget Bapak sama Ibuk sudah datang." kata Nisa.


Nisa memeluk Pak Harto sebentar, lalu memeluk Bu Endang. Namun belum sempat Nisa memeluknya, Bu Endang sudah menepisnya.


"Awas. Ibuk gerah, jangan peluk peluk." ucap Bu Endang.


Seketika Nisa bergerak mundur menjauhi Bu Endang. Nisa sedih, namun dia menahan air matanya agar tidak mengalir.


"Buk. Nisa kan cuma mau peluk. Dia kangen sama kita." kata Pak Harto.


"Tapi Ibuk tidak kangen sama dia." sahut Bu Endang.


"Sudah, Pak. Ga apa-apa kok." kata Nisa sambil mengusap tangan Pak Harto.


"Maafin Ibuk ya, Nduk." ucap Pak Harto.


Nisa mengangguk pelan dan tersenyum.


"Oh iya, Pak. Adek ga ikut lagi?" tanya Nisa.


"Tidak, Nduk. Dia ada acara yang tidak bisa di tinggal." jawab Pak Harto.


"Ya sudah kalau begitu. Ga apa-apa. Bapak sama Ibuk sudah makan atau belum? Kalau belum biar Nisa siapin." kata Nisa sambil berdiri.


"Ga usah, Nduk. Bapak sama Ibuk tadi sudah makan kok. Kamu istirahat saja. Besok kamu kan harus bangun lebih awal untuk persiapan ijab qobul." ucap Pak Harto.


"Iya, Pak. Bapak sama Ibuk juga harus istirahat. Pasti lelah habis perjalanan jauh." kata Nisa.


"Iya, Nduk. Kamu masuk kamar dulu aja. Bapak masih pengen ngobrol sebentar sama Pak Sugi." ucap Pak Harto.


"Baik, Pak. Nisa pamit ke kamar duluan ya." kata Nisa.


Pak Harto mengangguk sambil tersenyum. Nisa berjalan menuju ke kamarnya dengan perasaan bahagia.


Sedangkan di ruang tamu, Pak Harto sedang berbincang dengan Pak Sugi dan Bu Ani. Bu Endang sudah beristirahat di kamar dengan alasan kelelahan.


"Terima kasih ya, Pak Sugi dan Bu Ani. Sudah mau membantu kami mengurus pernikahan Nisa. Dan maaf, sekali lagi saya akan merepotkan Pak Sugi dan Bu Ani." kata Pak Harto.


"Maksud Pak Harto bagaimana, ya?" tanya Pak Sugi.


Pak Sugi dan Bu Ani saling menatap satu sama lain.


"Besok saya dan istri hanya bisa menemani Nisa saat ijab qobul saja. Dan saya minta tolong bantuan Pak Sugi dan Bu Ani untuk menemani Nisa saat resepsi pernikahan." jelas Pak Harto.


Pak Sugi dan Bu Ani terkejut dengan ucapan Pak Harto. Begitu tega mereka pada anaknya.


"Bukannya saya tidak mau menemani Nisa, Pak. Apa tidak lebih baik kalau yang menemani Nisa adalah Pak Harto dan Bu Endang, orang tuanya?" tanya Pak Sugi menahan amarah.


"Jujur. Saya sangat ingin menemani Nisa, Pak. Tapi saya juga tidak bisa melawan keadaan." jawab Pak Harto.


"Keadaan? Maksud Pak Harto? Bu Endang?" tanya Rika yang tiba-tiba muncul di ruang tamu.


"Nduk. Kamu kok kesini?" tanya Bu Ani.


"Tadi Rika mau ambil minum ke dapur, Buk. Tapi Rika dengar sesuatu yang ganjil di ruang tamu. Makanya Rika kesini." jawab Rika.


Rika pun duduk di samping ibunya.


"Maafkan atas perkataan Rika barusan Pak Harto." ucap Pak Sugi.

__ADS_1


•••


__ADS_2