
Menelusuri jalan raya yang masih padat dengan pengendara, Refan Mengendarai mobil mewahnya dengan perasaan tak menentu seperti kehilangan Arah.
Berkali kali Refan menghubungi hp istrinya Namun tetap saja masih tidak Aktif.
Sesekali Memukul setir mobil nya untuk melampiaskan kekesalannya pada pengendara lain yang berusaha menghalangi laju mobilnya,
Hingga 45 menit Refan tiba disebuah rumah mewah tempat tinggal Leon, Refan turun dari mobilnya dengan membanting pintu mobilnya melangkah masuk kedalam dengan tergesa-gesa ke rumah mantan bosnya.
langkah Refan berhenti tepat didepan pintu rumah leon. Nampak Leon Berdiri dengan gaya Angkuhnya melipat kedua tangannya ke dada sorot matanya menatap tajam kearah Refan yang saat ini sudah menatapnya tak kalah tajam.
"Kau sembunyikan dimana istriku." Bentak Refan yang sudah tidak peduli lagi dengan siapa dirinya bicara
Leon tersenyum mengejek disana. terlihat santai bahkan ia tak gentar dengan bentakan mantan Asistennya
"Sudah kuduga kamu pasti akan kesini." cibir Leon tersenyum sinis
"katakan dimana kau sembunyikan serin." Teriak Refan merasa geram
"Dia sudah pergi. ! " ucapnya dengan santai Seolah tak peduli dengan kemarahan Refan saat ini
"Kurang ngajar..!!!" umpat Refan melayangkan satu pukulan di wajah Leon membuat mantan bosnya tersungkur kelantai dengan darah keluar dari hidung nya.
Leon mengusap hidungnya yang berdarah dengan jari jempolnya sembari tersenyum mengejek menatap ke arah Refan yang sudah berlalu pergi meninggalkan rumah nya.
*
*
*
*
Sementara ditempat lain serin saat ini duduk termenung didalam sebuah bus besar dengan memangku tas kecilnya berisi pakaiannya, Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
Hingga beberapa jam kemudian. Serin sampai dikediaman Mamanya. Rumah tempat tinggal Alm mamanya yang sudah lama kosong. kini serin akan menempatinya untuk sementara waktu.
Setelah membersihkan kamar yang akan ia tinggali sementara waktu. Serin kembali merenung memikirkan kondisi Suaminya saat ini, serin terus menangis hingga tanpa sadar ia terlelap dengan tenang.
Serin kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang,
Refan kini sudah berada di kediaman sahabatnya Deni ia sudah tak tau kemana lagi akan mencari keberadaan istri nya. wajah prustasi Nampak jelas di wajahnya. Refan kembali mengusap wajahnya kasar.
"Sabar. Aku akan bantu mencari keberadaan istri mu" Deni berusaha menenangkan sahabatnya.
"Aku tau ini karena Leon yang ngancam serin." lirih Refan dengan wajah datarnya.
Refan bangkit dari duduknya setelah meneguk minumannya tanpa sisa. kemudian pamit pada sahabatnya
Refan melangkah keluar dengan wajah lesuh pikirannya terus tertuju kearah Istrinya,
Seriiiiiin.....Aaaaaakh.....!!!!!"teriak Refan sudah berada didalam kamarnya menatap kearah ranjang tempat tidur nya dimana tempat itulah mereka banyak menghabiskan waktunya.
****
Refan memegang kepalanya yang terasa sangat berat, Wajahnya pucat seakan tidak memiliki tenaga lagi. Refan membasuh wajahnya, lalu menarik nafas dalam dalam. Disisa sisa tenaganya Refan Berdiri kemudian melangkah menuju tempat tidurnya, membaringkan tubuh lemahnya.
Rasa rindunya terhadap istrinya seakan ingin membunuhnya. kini tubuh yang biasa terawat sekarang tak terawat lagi rambut sedikit panjang, ia masih sering memikirkan Istrinya yang entah kemana perginya
"Serin..." lirihnya dengan linangan air mata keluar dikelopak matanya. Menatap langit langit kamarnya masih teringat jelas diingatan nya saat serin memanjakannya. selalu membuatnya merasa nyaman setiap kali bersamanya.
Sementara ditempat lain kini serin tengah menikmati kesendirian nya termenung meratapi nasibnya, kini hidupnya benar benar hampa tanpa ada sosok suaminya yang selalu menemaninya.
Kini Ia harus berjuang sendiri dengan keadaan yang tengah Hamil muda. serin Hamil 2 bulan setelah ia cek up ke dokter kandungan. Untung lah serin tak mengalami ngidam seperti ibu hamil pada umumnya, serin hanya mengalami perubahan Nafsu makan yang semakin banyak.
Serin duduk disebuah taman dekat rumah sakit setelah cek up ke dokter kandungan.
Hidup di pelosok Desa serin merasa sangat nyaman karna tak ada lagi yang bisa mengganggu hidupnya termasuk Ayahnya dan Leon
__ADS_1
"Kamu disini rupanya." Sapa seorang dokter laki laki yang kini duduk didekat serin.
" Eh Dokter Dewa." Serin tersenyum manis kearah dokter itu. Dokter yang selalu membantunya selama ini
" Apa kandunganmu baik baik saja.? " Tanya Dokter Dewa.
Serin hanya menganggu kecil, kembali menatap kedepan.
"Apa kamu tidak berniat untuk memberi tahu ayah dari Anak yang kamu kandung itu." pertanyaan Dokter Dewa membuat serin mengalihkan pandangannya kearah nya dengan tatapan sendu nya
"Aku takut jika Aku kembali, dia akan mendapat masalah lagi." lirih serin kini menundukkan kepalanya
"kamu yang sabar. semua akan ada waktunya, semoga kalian dipertemukan kembali dan mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah." Ucap Dokter Dewa tulus.
"Terimakasih Dok.!
Serin kembali kerumahnya, kemudian ia melangkah kearah dapur mencari sesuatu didalam kulkas mencari bahan makanan untuk ia masak.
"Kira kira kak Refan sedang Apa ya." Menolong serin membayangkan bagaimana wajah suaminya saat ia bermanja-manja dengan dirinya.
"Kak Refan..." lirih serin dengan mata berkaca-kaca
****
Ditempat berbeda Leon tengah berdebat dengan Ayahnya.
"Kamu akan menyesal jika mengetahui kebenarannya." sentak Ayahnya menatap tajam kearah Anaknya
"CK..Tidak ada penyesalan didalam kamus ku, gara gara kau dan wanita jalan itu Ibuku harus meninggalkan dengan cara yang sangat menyedihkan
"Leon.! " pekik Ayah Leon merasa geram terhadap putranya itu
" Kenapa, apa kau mau membela perempuan itu lagi.?"
__ADS_1
"kamu sudah salah menilainya." pungkas Ayahnya
Leon tersenyum mengejek menatap kearah Ayahnya merasa sangat marah karna selalu membela ibu serin...