
Refan keluar dari kamar dengan senyum mengembang bagaimana tidak Ayah satu Anak itu berhasil membuat Istrinya tak bisa bergerak lagi setelah melakukan kegiatan panasnya disiang hari.
Senyum tak pernah lepas bahkan saat Refan sudah sampai diruang keluarga dan ikut bergabung bersama Leon dan putranya, Senyum itu tak pernah hilang
"Gak usah senyum senyum kek gitu." Ketus Leon yang sudah tau jika mantan Asisten pribadinya itu habis iya iya bersama istrinya.
"Makanya cepat Nikah biar kamu bisa tau bagaimana mana rasanya melakukan bersama pasangan yang sudah SAH. " Ucap Refan dengan menekan kata Sah seolah menyindir pria dihadapannya
Leon yang masih Asik bermain dengan Aidan seketika berhenti dari kegiatannya saat Indra pendengaran nya menangkap kata Refan yang seolah menyindirnya. Leon lantas melayangkan tatapan tajam kearah Refan sementara Ayah Aidan hanya cengengesan melihat raut wajah mantan bosnya itu.
"Kamu Nyindir Aku.?" Leon seolah tak terima Ia kemudian bangkit dengan menggendong baby Aidan kemudian melangkah Menghampiri Refan yang masih senyum senyum bnsendiri.
"Sayang. kamu sama Ayah ya, Paman Ada urusan sebentar. Besok paman kesini lagi Okey..??" Leon pamit seakan Baby Aidan mengerti dengan perkataannya
Leon memberikan sebuah kecupan manis dikening baby Aidan kemudian ia memberikan Baby Aidan kegendongan Ayahnya, sembari membisikkan sesuatu ketelinga Refan.
"Aidan sedang BAB kamu harus gantiin popoknya, ingat istrimu lagi kecapean setelah melayani hasrat mu jadi kau harus berusaha sendiri. Semangat! " Leon tersenyum menyeringai kearah Refan kemudian berlalu begitu saja tak peduli dengan Mantan Asistennya yang msh mematung ditempatnya ia tidak tau harus berbuat apa dengan putranya karna ia sendiri belum pernah mengganti popok putranya.
"Ya Allah. Ini gimana caranya "Gumam Refan perlahan meletakkan baby Aidan diatas karpet bulu yang ada di ruang keluarga nya lalu ia mulai membuka popok Aidan. Seketika Refan terdiam saat semburan air kencingnya mengenai wajahnya.
"Astaga Boy. kamu Nakal ya.! " Gerutu Refan Ia lantas meraih tissue lalu melap wajahnya, Sementara baby Aidan seolah mengejek sang Ayah ia tersenyum senang dengan suara khas Anak bayi
Baby sitter Aidan menghampiri tuannya di ruang keluarga. " Maaf tuan Ada yang bisa saya bantu.?" Tanya baby sitter Aidan
Refan menoleh sebentar kemudian kembali menatap putranya yang masih dengan tingkahnya yang menggemaskan. "
"Ah iya kamu gantiin popok baby Aidan ya, Saya mau ke kamar sebentar. " Setelah mengatakan itu Refan meninggalkan putranya bersama baby sitter nya.
__ADS_1
*
*
*
*
Leon tersenyum puas saat berhasil menggoda calon istri nya yang sedang melakukan Fitting baju pengantin.
"Sayang. Setelah Nikah aku pengen langsung punya Momongan kaya Baby Aidan "perkataan Leon membuat gadis yang masih remaja itu merona merah, ia terlalu malu jika sudah membahas tentang Anak.
Kanaya menunduk malu kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Leon yang tersenyum Menatap kearah Kanaya
"Sayang. "panggil Leon dengan manjanya. Namun Kanaya seolah tak menghiraukan panggilan Leon
"Maaf kak. saya tidak sengaja" sesal Kanaya
wanita itu diam tak menanggapi perkataan Syila ia hanya menatap kearah Leon yang berdiri didekat Kanaya
"kamu gak apa apa.?" tanya Leon khawatir terhadap Kanaya
"Gak apa apa Om. ! " sahut Kanaya.
"Leon..?" panggil wanita itu dengan mata berbinar saat penglihatan nya menangkap pria yang sangat ia kenal
Alis Leon terangkat menatap kearah wanita itu, ia merasa tidak mengenal wanita didepannya.
__ADS_1
"Kamu masih ingatkan dengan saya.?' Tanya wanita itu
Leon tak menghiraukan wanita itu ia lantas menarik tangan Kanaya untuk meninggalkan wanita itu, Namun langkahnya terhenti mana kala Indra pendengarannya mendengar perkataan dari mulut wanita itu.
"Kita pernah menghabiskan malam yang indah bersama." kata wanita itu membuat seluruh tubuh Leon membeku ditempat, Melirik sekilas kearah Kanaya yang sudah terlihat sangat penasaran akan perkataan wanita itu.
"Malam yang indah? Apa maksudmu, dengan malam yang indah," Tanya Kanaya dengan suara terbata. dibenak Kanaya sudah menyimpulkan jika mereka memiliki hubungan.
"Sayang. Bukan Apa apa." timpal Leon sedikit takut jika wanita didepannya mengatakan semuanya kalau mereka pernah menghabiskan malam bersama. ya Leon sudah mengenal perempuan itu, perempuan yang pernah menjadi pe.uas Nafsunya
"Sayang.? Jangan katakan jika gadis ini adalah sasaran selanjutnya untuk menuntaskan hasrat mu. "Wanita itu tersenyum mengejek kearah Leon seolah menyimpan dendam yang mendalam terhadap Leon.
"Tutup mulut mu. " Sentak Leon merasa geram terhadap Sintia wanita yang pernah tidur dengannya.
Sintia tersenyum masam, ia tau bagaimana kelakuan Leon selama ini bergonta-ganti pasangan demi menuntaskan hasratnya.
"Om." lirih Kanaya sudah tak maupun berkata apa apa lagi ia cukup mengerti maksud wanita itu.
"Sayang.percaya sama Aku." Leon terus menyakinkan Kanaya Namun Sintia seolah terus menyudutkan leon.
Kanaya sudah berkaca-kaca, perkataan wanita itu membuat dirinya merasa dibohongi selama ini oleh Leon. perlahan Kanaya mundur menatap kearah Leon dengan mata berkaca-kaca.
"Om. jahat..Aku benci sama Om Leon" Teriak Kanaya tanpa sengaja Air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Sayang. tolong dengarkan aku dulu." Pinta Leon dengan Nada memohon.
"Om sudah membohongiku, Kanaya benci sm om." pekik Kanaya kemudian berlari meninggalkan Leon begitu saja.
__ADS_1