
Selan beberapa jam kemudian, Serin tetap dalam metode diamnya. bahkan saat mereka sedang Makan malam pun tak ada kata terlontar dari mulut Serin Membuat Refan merasa sedih karna sedari tadi Istrinya tak mau bertegur sapa dengan nya.
Serin melewati begitu saja Suaminya saat akan menidurkan Putranya diatas Ranjang nya.
Refan masih mematung ditempatnya menatap kearah Istrinya yang masih sibuk menidurkan Putranya. Timbul rasa bersalah di dalam hatinya.
Hingga Refan sudah tak sanggup lagi melihat sikap Istrinya yang terkesan Cuek dengan dirinya. Ia lantas menghampiri istrinya yang kini sudah duduk didepan meja riasnya setelah selesai Menidurkan baby Aidan.
"Sayang. " Panggil Refan sembari memeluk istrinya dari belakang, Refan tak bisa jika Istrinya terus mendiaminya seperti ini.
Serin masih dalam diamnya, Hingga detik kemudian Refan sudah membalikkan tubuh istrinya menghadap kearah nya.
"Maaf." lirih Refan Langsung memeluk istrinya seraya bertumpu pada bahu serin.
Serin menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nafasnya kembali, ia menatap lekat kearah suaminya.
"Maafkan aku kak." ucap serin pelan sambil menundukkan kepalanya.
Refan Menangkup kedua pipi istrinya perlahan-lahan Refan mendekatkan kepalanya hingga menyisakan beberapa senti saja.
Detik itu juga bibir Mereka sudah menempel sempurna, Refan mencium bibir serin dengan penuh gairah, suara decakan menggema di dalam kamar saling bersahutan .
"Aku akan pergi jika kamu mengizinkan ku. Dan tidak akan pergi jika kamu tidak mengizinkan ku. Seakan
Refan tak tega melihat istrinya bersedih.
"Bukan tidak ingin membawamu dan Aidan. Namun Aidan belum bisa dibawa kemana-mana masih terlalu kecil untuk melakukan perjalanan jauh." Tambah Refan berusaha menenangkan istrinya.
"Maafkan Aku sayang. Serin menjedah ucapannya kemudian tersenyum manis kearah suaminya. membuat Refan merasa senang Istrinya sudah tersenyum kembali.
"Pergilah. Aku dan Aidan Akan Menunggu mu disini." Ucap serin masih terlalu berat memberi izin suami nya.
"Kamu yakin.?" Tanya Refan untuk meyakinkan kembali.
__ADS_1
Serin hanya mengangguk kan kepalanya dan Refan langsung mendekap istrinya begitu erat. Iapun merasa sangat berat meninggalkan istrinya.
*
*
*
*
*
Ditempat yang berbeda Leon banyak diam Akhir-akhir ini Semenjak kehadiran ibunya yang tiba tiba. Sampai sekarang pun ia belum percaya jika ibu yang selama ini ia Anggap sudah meninggal masih hidup dan dengan mudahnya datang begitu saja kepadanya meminta bantuan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Sudah beberapa hari terakhir ini, Leon tak pernah menemui Kanaya pujaan hati nya. Apalagi menghubunginya melalui sambungan telepon.
Dengan perasaan yang tidak menentu saat ini Leon bangkit dari tidurnya kemudian berjalan ke luar kamarnya menuju Dapur dan mencari sesuatu yang bisa menyegarkan tenggorokan nya saat ini. Hampir tiap hati Leon hanya bemalas malasan di rumahnya tanpa berniat ingin bekerja.
Leon Meneguk minumannya tanpa sisa. lalu ia kembali duduk di meja makan, tak ada satupun pelayan dirumahnya yang berani untuk mendekati majikannya jika sudah melihat Raut wajah tuannya tidak seperti biasanya.
"Maaf tuan. Didepan ada seorang gadis remaja mencari tuan."Kata pelayan itu pelan ia sangat takut melihat raut wajah tuannya yang tak seperti biasanya.
Alis Leon terangkat sebelah Namun detik itu juga bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman ia sudah bisa menebak jika gadis yang di maksud pelayan dirumahnya adalah Kanaya.
Leon melangkah kearah ruang tamu dari jauh ia sudah melihat Kanaya yang duduk di sofa panjang dengan pandangan meneliti setiap sudut ruangan.
"Sayang. Panggilnya saat sampai di hadapan Kanaya yang masih saja sibuk melihat foto berukuran besar di depannya.
"Eh Om...,Kanaya gelagapan saat menyadari Leon sudah berdiri di hadapannya.
"kamu Merindukanku.?" Pertanyaan Leon langsung membuat wajah Gadis remaja itu memerah karna jujur saja Apa yang dikatakan Leon saat ini adalah benar Kanaya sangat merindukan sosok Leon yang selalu mengejarnya dan tiba tiba Leon memghilan begitu saja membuat Kanaya merasa kehilangan maka dari itu Kanaya memberanikan diri untuk menemui Leon di kediamannya karna Kanaya yakin Leon pasti Dia di kediamannya saat ini karna hari ini hari Sabtu Leon libur.
Hanya dengan melihat ekspresi wajah gadis didepannya Leon sudah bisa menyimpulkan jika gadis itu merindukannya, Senyumnya mengembang menatap kearah Kanaya yang terus menundukkan kepalanya. hingga tanpa sadar Leon sudah duduk didekat nya membuat Kanaya terkejut. Jantung nya berdetak sangat kencang seakan ingin melompat keluar sekujur tubuhnya sudah dipenuhi oleh keringat dingin saat Leon sudah menggenggam tangannya hingga tatapan mereka bertemu.
__ADS_1
"Om.."Lirih Kanaya berusaha melepaskan genggaman tangan nya Namun Leon semakin menggenggamnya dengan erat.
"Sayang. sudah ya main kucing kucingnya, Leon menatap penuh cinta kearah Kanaya, Ia akan berkata serius dengan gadis didepannya itu, Tak ingin bermain main lagi, ia ingin meresmikan hubungannya baik didepan keluarga besarnya maupun dikeluarga besar Kanaya karna ia juga yakin jika gadis didepannya memiliki perasaan yang sama.
"Aku ingin menikahi mu secepatnya tidak peduli Status kamu belum lulus sekolah. Kamu mau kan.? "Tanya Leon penuh harap, Meskipun lamaran yang terkesan mendadak Namun Leon akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Kanaya kelak.
Kanaya Menatap pria didepannya itu entah sejak kapan Kanaya jatuh dari pesona pria dewasa didepannya. Kanaya pun sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini jika ia pun sangat mencintai pria dewasa didepannya.
"Tapi Om. Ayah gak akan ngizinin Kanaya menikah muda. Apa lagi Kanaya masih sekolah.
Leon tersenyum Akhirnya gadis pujaan hatinya sudah bisa menerimanya."Kamu tenang saja sayang, biar Aku yang akan mengatur semuanya. "Kata Leon berusaha meyakinkan gadisnya itu. Bagi dirinya sangat gampang meminta restu pada Ayah Kanaya. yang terpenting saat ini Kanaya sudah menyetujuinya.
Dengan malu malu Kanaya membalas senyuman manis pria itu sembari menundukkan kepalanya.
"Sayang. Boleh ya Aku peluk dikiiiit aja "Pinta Leon dengan menekan kan kata Dikit dan dibalas Anggukan kepala Kanaya. Jangan ditanya jantung Kanaya saat ini serasa ingin melompat keluar, selain dengan Ayahnya dan Om Razi ia tidak pernah sedekat ini dengan laki laki lain.
Leon pun merasakan hal yang sama rasa gugup yang tak pernah ia rasakan sebelumnya saat berdekatan dengan perempuan dan saat ini ia bisa rasakan berada didekat gadis nya, membuat jantungnya berdetak tak karuan.
Leon mendekap tubuh kecil Kanaya, Leon terpejam sangat kuat Merasakan sensasi yang berbeda saat berdekatan dengan gadis didepannya, perasaan yang berbeda saat bersentuhan dengan perempuan lain . Hasrat nya kian minta untuk disalurkan mana kala kedua tonjolan didepan Kanaya menyentuh dada Leon saat ini.
"Kita menikah secepatnya ya.?" pinta Leon masih dalam dekapan Kanaya
Kanaya kembali mengangguk membuat Leon tersenyum bahagia Namun senyum itu tiba tiba hilang saat Kanaya mengatakan sesuatu yang membuat nya diam tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tapi Om harus pintar sholat dan mengaji dulu. Kanaya pengen memiliki suami yang bisa membimbing Aku dan Anak anak ku kelak. Seperti Ayah dan Bunda mereka selalu mengajariku tentang Agama . Perkataan Kanaya membuat Hati Leon merasa ter Remas saat itu juga. seketika pikirannya kembali mengingat perbuatan keji nya saat masih menjadi laki laki brengsek yang selalu berbuat zina dengan beberapa perempuan.
Penyesalan pun kini ia rasakan dan ia sangat beruntung bisa di pertemukan dengan gadis remaja yang selalu menjaga dirinya.
Kanaya melepas dekapan Leon karna sedari tadi ia melihat Leon hanya diam tak berkata Apa apa lagi.
"Maaf. jika om merasa tersinggung dengan kata kata Kanaya tadi" Sesal Kanaya merasa tidak enak
Leon menggeleng cepat sembari tersenyum. tangan Leon terangkat untuk menyentuh wajah gadis yang sudah mencuri sepenuh hatinya saat ini.
__ADS_1
"Aku akan berusaha menjadi Suami dan Ayah yang Baik untuk kamu dan Anak anak kita Nanti" Ucap Leon dengan senyum mengembang membuat Kanaya tersipu malu Rona merah terkuras di wajah nya saat ini.