
Leon terbangun saat terdengar rintihan kesakitan dari istrinya, Leon lantas bangkit dan melihat keadaan istrinya yang sudah meringkuk menahan rasa sakit diperutnya.
"Sayang,Kau tidak apa apa.?" Tanya Leon dengan rasa khawatirnya
"Sakit...
Leon tak tau harus berbuat apa, melihat istrinya kesakitan membuat nya Leon menjadi orang bodoh
" Mas sakit.." keluh Kanaya sudah tak sanggup menahan rasa sakit diperut nya
"Kita kerumah sakit." Leon yang hendak Mengangkat tubuh istrinya tiba tiba terdiam ditempatnya saat melihat darah segar keluar dipangkal pahanya.
"Astagfirullah., Darah." Pekik Leon, Tangannya yang gemetar terulur meraih tubuh kecil istrinya, Leon sudah tidak peduli dengan darah istrinya yang semakin banyak.
ia mengangkat tubuh Kanaya dan membawanya keluar Sampai diluar kamar Sely bunda Kanaya menghampiri mereka dengan wajah tak kala paniknya melihat putrinya meringis kesakitan
"Ya Allah, Seli membekap mulutnya dengan kedua tangannya, Ia sudah bisa menebak jika putrinya mengalami pendarahan.
"Ayah..." Panggil Sely dengan Suara keras membuat Daiyan berlari keluar dari kamarnya.
"Ada apa sayang." Tanya Daiyan belum menyadari keadaan putrinya.
"Kanaya." Sely sudah tak sanggup berkata apa-apa lagi
Seketika Daiyan terpaku ditempatnya melihat putrinya yang meringis menahan Sakit
"Kita kerumah sakit sekarang." Daiyanpun tak kala paniknya
Sampai dirumah sakit milik Daiyan, Kanaya langsung ditangani oleh dokter terbaik atas perintah dari Daiyan,
Setengah jam Leon berdiri mondar mandir tak jelas menunggu Istrinya.
"Razi yang baru saja datang tak kala paniknya, mendengar Kanaya masuk rumah sakit ia sampai meninggalkan rapat penting nya.
"Ada apa dengan Kanaya." Tanya Razi menatap kearah Leon.
Aku tidak tau, Begitu aku bangun Kanaya sudah Meringis kesakitan."Lirih Leon berusaha menahan Air matanya yang ingin keluar dari kelopak matanya.
__ADS_1
Razi dapat melihat ketakutan Leon diwajahnya."Kamu yang sabar Kanaya gadis yang kuat,Aku yakin dia akan melawan rasa sakit nya.
Leon hanya mengangguk tanpa berniat untuk menyahut.
"Suami pasien,"
Leon dengan cepat menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan istrinya
"Iya dok, saya suaminya." Ucap Leon dengan suara serak menahan Air matanya
mereka kini sudah berada dalam ruangan dokter setelah dokter mengatakan jika ia ingin mejelaskan kondisi nona Kanaya
"Nona Kanaya mengalami kehamilan ektopik." Tutur dokter itu
"Ha- hamil dok.? Istri saya hamil.?" Leon tak bisa menahan rasa bahagianya hingga tanpa sadar air mata yang ia tahan sedari tadi kini jatuh begitu saja saat mendengar istrinya hamil,
Namun seketika senyum itu hilang saat dokter menjelaskan kehamilan yang dialami Kanaya saat ini akan bahayakan nyawy Kanaya jika ia mempertahankan kehamilan tersebut.
"Kehamilan ektopik atau biasa disebut kehamilan diluar kandungan, Jika kita pertahankan kehamilan ini maka akan mengancam nyawa nona Kanaya. maka kami harus secepatnya mengambil tindakan, pendarahan yang dialami nona Kanaya akan semakin parah jika terlalu lama. " Dokter kembali mejelaskan kondisi Kanaya saat ini
Seketika tubuh Leon lemas seiring tangisnya terdengar. Mendengar penjelasan dari dokter didepannya, tak peduli dengan keluarga istrinya yang berada disamping ia tak dapat membendung air matanya. Tak jauh beda dengan Bunda Kanaya yang sudah menangis histeris di pelukan suaminya.
Leon mengusap wajahnya kasar, Menghirup udara dalam dalam untuk mengumpulkan kembali oksigen didalam tubuhnya yang seakan hilang
"Lakukan yang tebaik untuk istri ku, selamatkan nyawa nya meskipun kami harus kehilangan calon Bayi kami." Leon kembali menangis hingga tepukan lembut di bahunya menyadarkannya, Razi melihat kesedihan begitu dalam terhadap leon , Leon tak menyangka jika harus kehilangan calon bayinya,
***
Dengan langkah pelan Leon menghampiri istrinya yang masih terbaring di tempat tidur.
"Sayang. Maafkan aku.," Lirih Leon dengan mencium tangan Kanaya berkali kali
Kanaya menggeliat membuka matanya, ia tersenyum melihat suaminya sudah berada disampingnya.
"Sayang kamu sudah bangun.?"
Kanaya tersenyum mengangguk kearah suaminya.
__ADS_1
Leon tak sanggup melihat reaksi istrinya jika mengetahui dirinya saat ini tengah hamil dan harus segera diangkat.
Leon mencari kata yang tepat untuk menjelaskan ke Kanaya tentang kondisinya saat ini.
"Sayang. Leon menjedah ucapanya kemudian menarik nafas berat,
Sunggu Leon tak sanggup menyampaikan kepada istrinya, Sekuat tenaga Leon menahan air matanya agar Istrinya tidak melihatnya.
"Sayang. Didalam sini sudah ada buah cinta kita tapi kita harus merelakannya karna posisinya tidak pada tempatnya dan itu akan membahayakan kesehatan kamu." Lirih Leon pelan berharap istrinya bisa mengerti dengan keadaannya
"maksud mas, Saya hamil?" Tanya Kanaya menatap serius kearah suaminya yang kini hanya menunduk tak berani menatap kearah ya
Leon mengangguk pelan
"Sayang. Aku tidak mau kehilangan bayi ini, " Kanaya menangis histeris, melihat itu Leon membawa Kanaya kedalam pelukannya untuk memberikan sedikit ketenangan
"Maafkan aku sayang. Aku sudah gagal menjagamu dengan calon bayi kita
Kanaya tak menyahut ia hanya menangis diperlukan suami nya.
Hingga pintu terbuka dan masuklah bunda bersama Ayahnya
"Bunda.." Panggil Kanaya dengan suara Isak tangisnya
"Kamu yang sabar sayang, "Sely berusaha menenangkan putrinya.
Razi yang hanya berdiri diambang pintu tak kuasa menahan Air matanya melihat keponakan kesayangannya saat ini terlihat rapuh.
***
Setelah penuh pertimbangan Akhirnya Kanaya melakukan operasi, Leon duduk dibangku ruang tunggu dengan meremas kedua tangannya menunggu Istrinya selesai dioperasi.
Leon bangkit dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Kedua mertua serta Razi yang sedari tadi menemani nya menunggu Istrinya.
Leon lantas menuju musholla Yang ada di rumah sakit itu
Leon berwudhu sebelum melaksanakan sholat Dhuhur.
__ADS_1
Setelah selesai sholat Leon berdoa untuk keselamatan istrinya.
"