Hasrat Cinta Asisten Pribadi

Hasrat Cinta Asisten Pribadi
Bab 43


__ADS_3

Refan sudah menghubungi Leon. Ia meminta bantuan Leon untuk bisa melacak keberadaan istrinya saat ini.


Tidak hanya Leon, Om Kanaya pun ikut membantu Refan dalam mencari keberadaan istri nya.


"Leon menatap layar ponselnya saat Anak buahnya sudah mengetahui tempat dimana Serin ditahan bersama Putranya.


Sementara Razi sudah bergerak Menyuruh anak buahnya ketempat kejadian.


Refan mengusap wajahnya kasar kemudian melangkah menuju mobilnya, Mobil Refan melaju dengan kecepatan tinggi menuju tempat istrinya berada. Ada perasaan takut didalam dirinya, Takut jika istri dan anaknya terluka.


"Bagaimana, " Leon berbicara dengan Razi lewat sambungan telpon


"Mereka baik baik saja, hanya saja tempat itu sudah dikepung oleh pengawal yang banyak.


"Kita akan susah menerobos masuk, kecuali..." Razi memotong perkataannya terlihat ia ragu untuk mengutarakan, menjadikan Refan sasaran mereka, Kerena Razi yakin Target nya bukan istrinya Namun Refan lah yang menjadi target mereka.


"Kecuali apa.!" Leon dan Refan saling menatap menunggu jawaban dari Razi.


"Kecuali Refan mau menyerahkan dirinya karna, Refan lah yang menjadi target mereka. " Tutur Razi


"Aku bersedia, tunggu aku disana " Ucap Refan dengan cepat.


Refan bersedia melakukan apa saja demi istri dan anaknya termasuk nyawanya asal istri dan anaknya bisa selamat


"Suasana semakin sepi hari mulai gelap, Mereka tidak ingin gegabah dalam bertindak, Razi melarang Refan untuk masuk karna ia ingin tau siapa dalang dibalik penculikan ini, Begitu Razi tau barulah Refan diperbolehkan masuk.


Mereka masih menunggu kedatangan bos besar mereka.

__ADS_1


"Sampai jam 8 malam tak ada tanda tanda kedatangan bos mereka membuat Refan merasa gelisah memikirkan putranya, .


"Aku akan masuk, Aku tidak bisa hanya duduk diam disini sementara istri dan anakku ada didalam sana.


"Bersabarlah, kamu harus percaya, Mereka akan baik baik saja karna Aku sudah menyuruh anak buah ku untuk masuk kedalam. " kata Razi yang menyodorkan Ponsel miliknya sebuah video serin dan putranya sedang baik baik saja.


Refan sudah bernafas lega melihat keadaan Istrinya saat ini sedang baik baik saja, Termasuk Aidan yang masih enteng di gendongan bundanya


****


Refan mengepalkan kedua tangannya Rahangnya mengeras menahan amarahnya melihat perempuan yang sangat ia kenal masuk ke gedung tua itu.


Ya, Mantan istri ayahnya yang selama ini selalu mengincar harta ayahnya.


Apa kau mengenal dia.? "Tanya Leon Melihat gelagat Refan yang menahan amarahnya melihat wanita paruh baya itu masuk ke gedung tua itu


" Sekarang lah saatnya kamu masuk kedalam, kamu tidak perlu takut karna kami ada dibelakang kamu." ujar Razi terus memantau anak buahnya yang sudah menyamar didalam sana.


Refan mengangguk mengerti.


Sementara Leon sejak tadi menyingkir menjauh dari mereka karna ponselnya sedari tadi bergetar, Melihat nama pemanggil my wife senyumnya mengembang.


"Hallo, AssalamuAlaikum, sayang." Sapa Leon lembut


"Walaikusalam,


"Ada apa hm.." Tanya Leon saat melihat wajah istrinya terlihat malu malu

__ADS_1


Saat ini mereka sedang melakukan panggilan video call


"Kangen." Ucap Kanaya manja dengan wajah terlihat malu malu.


Leon tersenyum bahagia, Kanaya sudah dapat mengutarakan perasaannya, Ia pikir jika menikahi gadis kecil ini ia akan kerepotan untuk membujuk jika menginginkan nya ,Namun ternyata tidak Kanaya lebih agresif jika mereka berada di dalam kamar.


Bahagia, Tentu saja Leon sangat bahagia, terlebih Kanaya sudah mengutarakan perasaannya, Itu artinya cinta Leon tidak bertepuk sebelah tangan lagi


"Tunggu sayang, Sebentar lagi aku pulang .


Kanaya mengangguk.


Setelah selesai melakukan panggilan video call dengan istri nya, Leon kembali menghampiri Om Kanaya yang menyebalkan menurutnya.


Tatapan mata Razi yang seolah ingin menguliti Leon saat ini juga, Bisa bisanya disaat seperti ini ia dengan santainya telponan dengan Istri nya."Pikir Razi


"Biasa aja kali natapnya gak usah seperti itu juga, seperti tuh mata mau keluar saja ." Cibir Leon


Razi melempari Leon dengan batu kecil yang langsung kena kepalanya.


"Yak, aku aduin ke Kanaya kalau om nya yang rese sudah memyakitiku." Leon menatap sengit kearah Razi. Namun yang di tatap hanya cuek saja


"Mengadu saja, kamu pikir Kanaya akan memarahiku? Tidak!, Kanaya sangat menyayangiku dia itu tidak bisa jauh jauh dariku karena sejak kecil aku yang merawatnya." ketus Razi


Leon menghirup udara dalam dalam entah kenapa emosinya selalu naik turun jika berhadapan dengan manusia menyebalkan didepannya


Memang benar yang dikatakan Razi, Kanaya sangat menghormati dan menyayangi omnya,

__ADS_1


__ADS_2