
Serin duduk termenung di temani Gelapnya malam, Sunyi mencekam diruang rumah sakit yang serin tempati saat ini. Dengan ditemani oleh Bik Num yang sudah terlelap dalam tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Serin terus menangis dalam diam matanya mengintari sudut ruangan yang Nampak sepi
Benar benar suaminya melupakan dirinya saat ini hingga panggilan dari ponselnya membuyarkan lamunannya, Serin mengusap kasar Air matanya yang sudah jatuh berulang kali dipipi nya. kemudian melirik sekilas Nama pemanggil yang tertera dilayar ponsel
📞Calling SUAMIKU..
Tangis serin pecah seketika saat melihat suaminya baru mengingat Nya sekarang. Refan terus menghubungi nya Namun serin enggang untuk mengangkatnya, serin sangat kecewa dengan sikap suaminya yang tak mau terbuka dengan dirinya.
Serin bahkan sengaja mematikan ponselnya Lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sementara ditempat berbeda Refan mengusap wajahnya kasar. Ia mengutuk dirinya sendiri, Seharian menjaga Ayahnya membuatnya lupa dengan istrinya sampai tengah malam Refan baru mengingatnya.
Melangkah masuk kerumahnya dengan lesuh tak ada semangat dalam dirinya . Refan hanya memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan ke Istrinya .Mang Ujang datang menghampiri tuannya.
"Maaf tuan. "Mang Ujang Diam beberapa saat menatap wajah lelah majikannya membuatnya tak tega untuk menyampaikan kabar ini kepadanya.
" Ada Apa mang.!" Tanya Refan melihat tingkah mang Ujang seperti menyembunyikan sesuatu darinya
" Itu tuan.! Non serin masuk Rumah sakit. " Mang Ujang menunduk tak berani menatap tuannya.
Duaar...
Bagaikan disambar petir dimalam hati, Seolah ada batu besar menghujam jantung Refan saat ini.
" Serin Masuk rumah sakit?" Ulangnya lagi dengan suara tercekat Dan langsung dibalas Anggukan kecil oleh mang ujang.
Refan kembali masuk kedalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi, Rasa bersalah nya sudah menguasai dirinya saat ini.
"Serin.."Panggilnya lirih
Refan terus memukul setir mobilnya menumpahkan segala kekesalannya pada diri nya.
Refan terus melajukan mobilnya membelah jalan raya hingga 20 Menit Refan sampai ke tujuan.
__ADS_1
Refan turun dengan membanting pintu mobilnya dengan kasar, berlari Mengintari lorong lorong rumah sakit, setelah tadi ia sempat bertanya di bagian resepsionis.
"Refan mengatur nafasnya yang memburu, Menghirup udara dalam dalam untuk mengumpulkan kembali oksigen yang terasa berkurang di dalam tubuhnya.
Suasana sepi, tak ada orang yang berlalu lalang di lorong rumah sakit itu, Refan perlahan-lahan membuka pintu. Bik Num terbangun saat melihat majikannya masuk dengan pelan.
" Tuan..! "
Refan memberinya isyarat dengan menempelkan jari telunjuknya di bibinya agar Bik Num diam .
" Refan melangkah menuju pembaringan serin. Nampak serin membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut.
" Sayang..! " Panggil Refan lembut
Hening tak ada sautan Namun Refan tau jika istrinya belum tertidur, Selimut yang membungkus tubuhnya masih bergetar itu tandanya istrinya sedang menangis.
" Sayang.! " Refan terus memanggil istrinya Namun tak sekalipun serin menyahuti nya
"Pergi.."Teriak serin tanpa ingin melihat wajah suaminya
" Tuan.! "Sebaiknya biarkan Non serin seperti ini, jika tuan paksa maka akan tambah memperburuk keadaannya" Bik Num menyela ucapan tuannya saat Refan ingin membujuk Istrinya lagi.
"Refan menghela nafas berat kemudian keluar ruangan serin dengan sangat berat hati, Terlihat Bik Num mengikutinya dari belakang.
"Serin kenapa bisa sampai masuk rumah sakit Bik.!" Tanya Refan Namun pandangannya terus beralih menatap kearah pintu ruangan serin.
" Kata Dokter yang memeriksa Nona serin td. Nona serin tidak boleh stres tuan. "Mungkin tadi Nona serin terlalu banyak menangis tuan" Lirih Bik Num dengan suara pelan.
*****
Refan merenungi kesalahan nya sepanjang malam. Refan merasa belum bisa memberikan kebahagiaan buat istri nya.
Refan bersandar kebelakang menatap langit langit lorong rumah sakit .
__ADS_1
Hingga pagi tiba Serin masih saja Diam, Meskipun Refan berusaha untuk mendekatinya Namun serin tak bergeming ditempatnya bahkan terkesan mencuekin suaminya menganggapnya tak ada di dalam ruangan itu.Jika butuh sesuatu ia hanya menyuruh Bik Num Tampa peduli dengan keberadaan suaminya yang berusaha untuk mendekatinya.
" Maaf tuan. Saya pamit pulang sebentar mengambil pakaian untuk Non serin." Pamit Bik Num
" Iya Bik.
Refan hanya duduk diam di sofa panjang pojok ruangan sambil memperhatikan istrinya dari jauh, ingin rasanya Refan saat ini menghampiri Istrinya memberinya pelukan hangat dan menyenangkan nya.
Sesaat kemudian dokter masuk dan Memeriksa keadaan serin. Refan bangkit dari duduknya melihat dokter mengecek kondisi janin yang Ada di kandungan serin.
" Bagaimana keadaan istri saya dok" Tanya Refan Nampak mengkhawatirkan Istrinya
Dokter itu tersenyum menatap kearah Refan, Dokter dapat merasakan kekhwatiran pria didepannya itu.
" Tidak apa apa Tuan, ini biasa terjadi jika keadaan ibu hamil sedang banyak pikiran" Tutur dokter paruh baya didepannya
Refan menarik nafasnya merasa legah setelah mendengar perkataan dokter.
Hening kembali tercipta saat dokter itu keluar, Serin masih enggan menatap suaminya meskipun saat ini ia sangat menginginkan pelukan suaminya.
Serin tercengang tak percaya, Matanya membulat sempurna melihat suaminya kini tengah bersimpuh di kakinya.
"Maaf. " Lirih Refan nyaris tak bersuara" Aku salah. Hukum saja Aku, tapi jangan mendiami ku seperti ini" keluh Refan dengan derai air mata yang sudah membanjiri pipinya.
Serin masih dalam diamnya meskipun saat ini Ia tak tega melihat suaminya Namun rasa kecewanya membuatnya jadi seperti ini.
" Aku memang salah, Aku tidak jujur sama kamu tapi bukan maksud Aku mau menyembunyikan mengenai Masalah yang aku hadapi saat ini , Aku cuma tidak ingin membebani mu. cukup aku saja yang menyelesaikannya. Aku tinggal menunggu waktu saja untuk mengajakmu menemui Ayah. Refan terus mengeluarkan keluh kesahnya yang selama ini ia pendam sendiri.
Akhirnya Serin pun luluh merasa tak tega melihat suaminya bersedih. serin lantas meraih tangan suaminya dan menuntun nya untuk berdiri.
Pandangan mereka saling mengunci hingga detik itu juga Refan mendekapnya dengan erat. Refan mengusap kepala dan punggung istrinya dengan Sayang, dan memberinya kecupan berkali kali di kening istrinya.
"Maafkan Aku sayang.!"
__ADS_1
Serin tak menjawab. Serin hanya menangis sejadi jadinya menumpahkan segala nya didalam dekapan suaminya..