
Masih dalam balutan selimut yang sama setelah melakukan kegiatan panasnya. Serin masih mengeratkan pelukannya, Merasa enggang melepas suaminya.
"Kenapa hm...!" Tanya Refan tak kala eratnya mendekap istrinya
Serin menggelengkan kepalanya" Aku masih ingin seperti ini" lirih Serin merasa kelelahan melayani suaminya
"Apa perlu kita mengulanginya lagi.?"
Serin cemberut memanyungkan bibirnya sembari memberi cubitan kecil keperut Suaminya
"Mesum..!
"Aw.." Sakit sayang
" Liat nih badanku begel semua gara gara Kamu." Serin tak habis pikir suaminya benar benar tak ada puasnya jika menyangkut masalah Perkasuran ðŸ¤
" Sekali lagi sayang.! " Pinta Refan setengah memohon
"Nggak.!" Tolak serin
Namun bukan Refan Namanya jika ia akan menyerah begitu saja. Refan kemudian menyibak selimutnya hingga tubuh polos Istrinya masih terpampang indah didepan Matanya.
Entah kenapa jika Refan sudah melihat kedua gundukan bukit kembar serin, Refan seolah kehilangan Akal sehatnya, pikirannya sudah berkelana ke mana mana.
Hingga detik itu juga Refan kembali meraup kedua benda kenyal yang selalu membuatnya melayang. ia menyesapnya seperti Anak bayi, membuat serin menggeliat hebat. Tangannya menuntun kepala Refan untuk menyesapnya lebih dalam lagi
"Aaaakh " Suara serin terdengar sangat indah ditelinga nya, membuat Refan tambah menggila ia terus memainkan ujung bukit kembar Serin.
Lagi lagi Refan terpejam kuat sesaat setelah sudah mulai pelepasannya untuk kesekian kalinya.
Refan mengecup kening serin yang sudah terkulai tak berdaya di dalam dekapannya.
*
*
*
*
Sore itu Refan berencana untuk berkunjung ke rumah sakit, Atas bujukan Dari Ayah Leon Akhirnya Refan pun mengalah. Membuang segala rasa Egonya
Refan perlahan melangkahkan kakinya menuju kamar perawatan Ayahnya . Refan berhenti pas didepan pintu kamar Ayahnya , kemudian duduk dibangku panjang yang ada di luar ruangan itu, Berusaha menormalkan kembali rasa gugupannya yang tengah melandanya saat ini.
Refan menarik Nafas berat, Ia lantas berdiri dan dengan pelan pelan membuka pintu. Terlihat Ayahnya terbaring diatas Ranjang rumah sakit tubuh kurus dengan keriput dipipinnya menggambarkan jika Ayahnya saat ini benar benar dalam keadaan tidak baik baik.
Dengan langkah Tertatih pria itu Menghampiri Ayahnya, tubuh yang sudah tak berdaya terbaring lemah di atas ranjang.
Tangan nya terulur menggenggam tangan keriput Ayahnya, Air matanya tumpah saat itu juga, Refan sudah tidak kuasa menahan Tangisnya. melihat kondisi Ayahnya saat ini membuatnya merasa bersalah karena telah meninggalkan nya waktu itu.
"Ayah..." Panggil Refan dengan suara hampir tak terdengar
Refan terus menggenggam tangan Ayahnya. Dengan lembut ia mengusap tangan yang sudah keriput itu,
Perlahan mata Ayahnya terbuka pandangan mereka saling bersitatap.
"Ayah.."Panggil Refan kembali saat melihat Ayahnya menatap kearah nya.
__ADS_1
"Re-refan..!" Suara Ayahnya tercekat hampir tak bersuara
Refan terus Menggenggam tangan Ayahnya.
"Maafkan Ayah Nak.!" Ucapnya dengan suara lemah
Refan Menggeleng cepat' Ayah harus sembuh. Sebentar lagi Ayah akan jadi Kakek.
Terlihat Ayahnya tersenyum. tidak tau harus bersikap seperti apa , Ia terlalu syok Mendengar perkataan refan. Sebentar lagi akan menjadi seorang Kakek.
"Aku akan jadi seorang kakek..? " Ulangnya dan dibalas Anggukan kepala oleh Refan
Rasa bahagia terpancar di wajah pria tua itu . Seketika Air mata jatuh membasahi pipinya Ada rasa penyesalan didalam dirinya telah menelantarkan Anak semata wayangnya.
Pintu terbuka Nampak seorang gadis cantik tengah berdiri di Ambang pintu dengan senyumnya yang mengembang. Melihat sosok laki laki yang sudah lama ia Rindukan.
"Refan. Kak Refan..!!" Seru gadis itu Antusias membuat Refan merasa jengkel sendiri. pasalnya gadis ini tidak tau tempat mengganggu orang sakit saja" gerutu Refan
"Bisa kecilin sedikit suara kamu tidak." Ketus Refan sedikit malas harus berhadapan perempuan didepannya karna ia tau jika perempuan itu pintar mencari muka didepan Ayahnya.
" Kakak Disini.?" Tanyanya sambil tersenyum manis kearah Refan sembari memperbaiki penampilannya.
" Gak usah teriak. Disini Rumah sakit bukan hutan." Sentak Refan tak suka.
"Maaf. "Ucap perempuan itu dengan gaya centilnya kemudian menghampiri Refan ingin memeluknya Namun Refan menghindar sembari menatap jijik kearah wanita didepannya.
"Kalau tidak ada keperluan lagi kamu boleh pulang. "Usir Refan.
" Aku kesini mau jenguk Ayah Yuda. "Kata Rara
" Kamu tidak tergoda denganku.?" Seru perempuan itu dengan percaya dirinya
" Tidak. Tidak sama sekali,. Timpal Refan
Refan lantas berjalan kearah sofa yang ada didepannya, Perempuan di depannya benar benar tidak tau malu.
"Kita kan sering bersama dulu. " Perempuan itu tak pantang menyerah terus mendekati Refan.
"Tidak. Aku tidak pernah mengenal orang seperti mu. Sekarang keluar Atau saya akan panggilkan sekuriti mengusirmu dari sini.
"Ayah.." Perempuan itu mulai berakting meminta pembelaan terhadap Ayah Refan .
"Hei..Jangan kau ganggu Ayahku. Dia masih butuh istirahat."
"Refan." Suara Ayahnya masih terdengar lemah.
"Ayah . Jangan percaya Omongan mereka lagi, mereka itu seperti ular berbisa. "
Ayah Refan diam tak menyahut lagi, ia tidak mau membuat Anaknya kecewa untuk kedua kalinya , hanya karena membela Anak Tirinya.
Rara Anak dari istri Ayahnya.sejak dulu mereka tidak pernah Akur..
****
Sementara di tempat lain serin kedatangan Tamu, Istri dari Deni bertandang ke kediaman Refan. Dengan membawa buah tangan, Sinta Istri Deni menyapa Serin.
" Bagaimana keadaan kamu !" Tanya sinta Ramah
__ADS_1
"Alhamdulillah baik mba.
Mereka cipika cipiki kemudian duduk di sofa besar yang ada diruang tamu.
" Maaf, baru sekarang bisa menyapa kamu."
"Ah gak usah repot-repot mba." Serin merasa tidak enak
"Mas Deni tadi bilang kalau Refan kerumah sakit jenguk Ayahnya. Makanya dia gak ikut kesini.
Mata serin membulat sempurna, Terkejut mendengar perkataan Sinta Barusan. Suaminya tidak pernah mengungkit masalah Ayahnya. Tadi pagi Refan berangkat dari rumah Alasan ingin mengecek laporan kafenya. Ada perasaan Aneh didalam dirinya saat ini Seolah Suaminya Tak menganggapnya. " Larut dalam pikirannya sendiri Hingga Serin tak mendengar panggilan Sinta
"Ser...Serin..Kamu baik baik saja kan.?" Ucap Sinta khawatir atas diamnya serin.
"I- iya mba. Maaf." Sahut serin terbata
Ingin menangis saat ini juga Namun serin berusaha untuk kuat. Ia tidak ingin jika Sinta Tau Apa yang terjadi padanya.
" Kamu sudah ketemu sama Ayah Refan?" pertanyaan Siska seolah memberi luka baru di hati serin saat ini. Pasalnya ia sama sekali tidak tau Apa apa tentang Ayah Refan.
"Belum mba.! " lirih serin terlihat sendu
***
Malam sudah larut Serin terus Uring uringan menunggu kedatangan suaminya. Sejak kepergian nya tadi pagi sekalipun Refan tak menghubunginya.
Sakit, Itulah yang dirasakan oleh serin saat ini kenapa suaminya seolah melupakan dirinya, Apakah Refan tidak menganggapnya sehingga ia menyembunyikan masalah Ayahnya?" . Pertanyaan itu terus membelenggu dalam pikirannya
Hingga tanpa sadar Air mata nya pun mengalir begitu saja. Serin terus Menangis sampai ia merasakan Kram di perut nya yang semakin lama semakin terasa.
"Aw.." Ringis serin merasa sakit di bagian perutnya
Serin terus Menangis merasakan sakit yang luar biasa sampai Bibik Num datang menghampiri nya Membuka paksa pintu kamarnya, setelah mendengar teriakan serin.
"Nona..!" Pekik bik Num berlari menghampiri serin yang sudah duduk dilantai sembari memegang perutnya.
"Bik. tolong bik. ini sakit banget.! " Keluh serin. sudut Matanya terus mengeluarkan Air mata
"Ya Allah." Bik Num memapah serin duduk diatas Ranjang kemudian ia memanggil mang ujang penjaga rumah yang ada didepan pos.
Mereka membawa serin kerumah sakit. Begitu sampai ke rumah sakit, dokter langsung Memeriksa keadaan serin, sementara Bik Num bersama Mang Ujang Harap harap cemas menunggu diluar.
Sudah beberapa kali mereka menghubungi majikannya Namun tetap saja Refan tak mengangkat telponnya membuat mereka menjadi cemas. mereka sangat mengkhawatirkan keadaan serin saat ini.
" Setengah jam berlalu. dokter keluar dari ruangan pemeriksaan. Bik Num langsung menghampiri dokternya dan langsung memberondong nya pertanyaan
" Bagaimana keadaannya dok." Tanya Bik Num seraya meremas ujung bajunya Ia sangat takut jika majikannya sampai Kenapa kenapa.
"Alhamdulillah Sudah merasa baikan sekarang. perutnya hanya sedikit kram saja, Dokter itu celingukan mencari keberadaan Suami pasien.
" Suami pasien Ada.?" Tanya dokter yang bernama Tag Perdinan itu
" Mm..itu dok. Anu...Bik Num terlihat kebingungan mau menjawab Apa." Sebentar lagi dia akan sampai dok.!" Sahutnya kemudian
" Baiklah.!
Usahakan pasien jangan banyak pikiran. Stress bisa menyebabkan kram diperut nya. Setelah mengatakan itu Dokter itu meninggalkan Bik Num yang sudah merasa legah.
__ADS_1