
Sonya mendengus kesal sudah puluhan kali ia mencoba menelpon Refan Namun pria itu seolah sengaja tidak ingin mengangkat nya. Umpatan demi umpatan terlontar keluar begitu saja dari mulutnya berbagai sumpah serapah yang Sonya ucapkan Namun tak ubah Refan tetap saja tak mau mengangkatnya.
Di gelapnya malam mencekam, Angin berhembus sangat kencang, jalanan raya yang sudah tampak sepi Refan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Alamat rumah Ibu serin yang ia dapat dari ibu panti. Refan tak pernah mengangkat telpon jika sedang serius mengendarai mobilnya, ia hanya melirik Nama pemanggil tidak ada Namanya tertera di layar ponselnya
Hingga dini hari Refan sampai ke tempat tujuan,Desa itu terlihat sangat gelap hanya suara jangkrik melengking indah khas suasana pedesaan pada umumnya.
Sebelum Refan turun, terdengar sudah beberapa kali panggilan kembali masuk ke ponselnya. Dengan sangat malas Refan menggeser tombol hijau.terdengar suara kesal Sonya disebrang telpon.
"Jika kamu masih ingin melihat Istri dan calon Anakmu hidup. Datanglah segera ke Rumah sakit xx " Ketus Sonya disebrang telpon, setelah mengatakan itu Sonya langsung mematikan sambungan telponnya.
Sonya merasa geram terhadap Refan, sudah puluhan panggilannya baru sekarang ia mau mengangkatnya.
Refan tercengang mendengar suara melengking tinggi disebrang telpon, seluruh akal sehat nya mendadak hilang mendengar kata calon Anak disebrang telpon, Refan sudah menyimpulkan jika Serin istrinya saat ini sedang tengah mengandung anak nya. jika memang benar Refan merasa sangat bahagia.
Saat kesadarannya Mulai kembali. Tanpa berpikir panjang Refan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelai kembali jalan raya yang semakin sunyi hanya beberapa pengendara saja yang berlalu lalang.
*
*
*
*
Refan berlari menelusuri lorong lorong rumah sakit mencari tempat perawatan Istrinya, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi ia baru saja sampai setelah melakukan perjalanan yang sangat panjang.
Begitu sampai didepan pintu kamar serin. Refan berhenti sejenak mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karna Habis berlari.
Pintu terbuka dan pandangan Refan tertuju pada Ranjang rumah sakit dimana Istrinya sedang berbaring.
Masih Diam ditempatnya, menatap tubuh kurus istrinya, dengan Selan infus yang melekat dipergelangan tangannya membuat hati Refan merasa sakit.
Pelan pelan ia melangkah kearah Istrinya, Terlihat Sonya duduk disampingnya. Refan berdiri disisi kanan serin yang masih terlelap dalam tidurnya
Setitik air mata membasahi pipinya gadis yang sudah ia rindukan selama 5 bulan lamanya kini terbaring di tempat tidur dengan tubuh lemah tak berdaya.
Sonya bangkit dari duduknya setelah menyadari kehadiran suami serin.
Tampa mengalihkan pandangannya yang terus menatap wajah pucat serin, Sonya mengoceh panjang lebar ia tak tahan jika serin terus menerus hidup dalam penderitaannya.
"Serin selalu memikirkan mu bahkan dia tidak ingin makan, Aku hanya khawatir bayi didalam kandungan nya jika ia terus-menerus bersikap egois seperti ini yang hanya mementingkan diri nya sendiri larut dalam kesedihannya tanpa mau memikirkan janin dikandungan nya. "
Deg..
__ADS_1
Refan membatu ditempatnya menatap lekat perempuan didepannya. Apa benar serin mengandung Anaknya.? Refan berperan dalam pikirannya sendiri.
"Serin Ha-hamil?" Tanya Refan dan dijawab Anggukan kecil oleh Sonya.
"Tolong jaga dia, dan berhentilah saling menyakiti seperti ini, dia sangat tersiksa. Setelah mengucapkan itu Sonya berlalu meninggalkan mereka, ia hanya ingin memberi ruang untuk mereka menyelesaikan masalahnya.
Refan masih belum percaya sepenuhnya, kehamilan serin membuat hatinya merasa senang, sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.
disisa sisa keterkejutannya, dengan tangan gemetar, tangannya terulur untuk mengelus puncak kepala Istrinya dengan penuh sayang.
Serin menggeliat merasakan sentuhan lembut tangan suaminya tanpa membuka matanya. serin masih terlelap dengan tenang.
Hingga satu kecupan mendarat dikening nya Barulah perlahan lahan serin membuka matanya, dan pertama ia lihat wajah suaminya yang Nampak tersenyum lebar kearahnya.
kesadaran serin belum sepenuhnya kembali, serin masih mematung tak bereaksi apa apa, serin terlalu syok sehingga ia menganggap hanya Halusinasi nya saja.
Tangan Refan turun ke perut serin mengelus dengan Sayang, ia tidak dapat membendung rasa bahagianya saat ini mendengar kehamilan istrinya. ini merupakan berita yang sangat membahagiakan buat dirinya
"Kak.." panggilnya dengan suara yang nyaris tak terdengar
"Sayang. Aku merindukanmu" Ucap Refan disertai dengan air mata keluar dari kelopak matanya.
Dengan pelan dan sedikit gemetar tangan serin terulur menyentuh kedua wajah Suaminya, suami yang sudah ia rindukan selama beberapa bulan ini.
Refan membawa istrinya kedalam dekapannya memeluknya erat penuh dengan kasih sayang, Rasanya ia tidak akan sanggup lagi jika berpisah dengan istrinya.
Serin terus menangis dalam dekapan Suaminya menumpahkan segala perasaan yang sangat menyiksanya selama ini.
Mereka sama sama larut dalam perasaan masing masing, Refan berjanji tidak akan membiarkan istrinya pergi lagi dari sisinya.
****
Kini serin sudah merasa tenang setelah selesai diperiksa oleh dokter, serin tak membiarkan suaminya jauh jauh darinya. Ia terus mendekapnya dengan erat tanpa ada niat untuk melepasnya
"Kau tau, Aku hampir saja gila mencari mu kemana mana." Ucap Refan sembari mengelus puncuk kepala serin sesekali memberinya kecupan singkat.
Serin tak menyahut ia hanya mengeratkan pelukannya menghirup aroma tubuh suaminya yang selama ini ia rindukan.
Mereka saling mendekap satu sama lain Baik Refan maupun serin mereka hanya diam dengan posisi berbaring di atas ranjang rumah sakit hingga pintu terbuka membuat mereka terlonjak kaget.
Serin menatap pria yang berdiri diambang pintu. Dokter Dewa masih diam ditempat nya, Ada rasa tak suka melihat kemesraan kedua orang didepannya Namun pandangannya teralih menatap pria yang memeluk serin begitu erat.
" Refan..?"
__ADS_1
" Dewa..!
Alis serin terangkat, melihat kedua orang itu bergantian, sementara Refan melepas pelukannya kemudian bangkit dari pembaringannya,
"Kau disini.? Tanya Refan sedikit heran kenapa bisa dewa keruangan Istrinya.
"Iya. " Jawabnya singkat, Masih terlalu malas meladeni pria didepannya.
" Kau masih kesal denganku.?" Kini Refan duduk ditepi ranjang Sambil tersenyum mengejek kearah pria yang masih mematung ditempatnya
" Yak.!! " Pekik Dewa tak terima jika ia diingatkan kembali kenangan buruk itu.
Refan terkekeh kecil. kemudian membantu Istrinya untuk bangun dari tidurnya. Refan kembali memeluk serin dengan erat sembari memberikan lirikan tajam kearah Dewa seolah tatapan Refan mengatakan jika serin adalah miliknya.
" CK... !! Tak perlu melakukan itu dihadapanku, kau bahkan tak tau jika selama ini serin hidup seperti apa." Cibir Dokter Dewa.
Refan kembali diam kenapa justru orang lain yang harus mengurus istrinya selama ini, Dan bukan dirinya. Refan terus menyalah dirinya sendiri sampai tepukan lembut dari serin di bahunya menyadarkannya dari lamunannya.
Serin tersenyum manis kearah suaminya berusaha menenangkan nya. Refan membalas dengan senyum tak kalah manisnya . Entah kenapa melihat senyum istrinya ia merasa lebih tenang sekarang.
" Bukan urusanmu." ketus Refan kembali menatap tajam kearah dewa sahabat lamanya." Setelah ini tidak akan kubiarkan istriku sendirian lagi." Tambah Refan penuh penekanan seraya menatap wajah istrinya penuh cinta
"Apa kau yakin?" Dewa tersenyum mengejek disana
"Ini hanya kesalah fahaman saja, ya kan sayang.??" ujar Refan seolah mencari pembelaan terhadap istrinya dan dibalas Anggukan kepala oleh serin.
Membuat Dokter Dewa mendengus kesal, melihat kekompakan suami istri didepannya. kini ia melangkah ke sofa panjang dengan gaya Angkuhnya melipat kedua tangannya ke dada jangan lupakan kakinya menyilang dengan bertumpu lelaki satunya
"Jika kau tak bisa menjaga istrimu biar Aku saja yang menjaganya." Dokter dewa seakan ingin memancing emosi pria didepannya.
Namun bukan Refan Namanya jika ia mudah terpancing ia membalas perkataan pria itu tak kala tajamnya.
" Dari pada mengurusi istri orang mending kamu mencari gadis yang bisa membuatmu bahagian. Jangan mengharapkan cinta yang tak pasti, karna ditinggal pergi itu sangat Menyakitkan." Sindir Refan pada sahabatnya. pasalnya Dokter dewa pernah mengalami masalah percintaan ditinggal oleh kekasihnya pas lagi sayang sayang nya...
Sonya masuk dan mengalihkan pandangan mereka. Sonya yang ditatap oleh mereka hanya nyengir kuda, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Maaf jika kedatanganku mengganggu kalian. " Ucap Sonya merasa tak enak, karna melihat dari raut wajah mereka, Sepertinya sedang membicarakan hal serius.
"Ah.. tidak. kau darimana saja" Tanya dokter dewa dengan Nada khawatirnya membuat Refan hanya tersenyum melihat itu.
" Ak- aku habis dari kafe sebelah mencari makanan.," Sonya memperlihatkan bungkusan yang ada ditangannya. Sonya jadi salah tingkah mendengar pertanyaan Dokter dewa
Sonya meletakkan makanan yang ada ditangannya kemudian mengajak mereka sarapan, untuk mencairkan suasana yang berbeda didalam ruangan itu, meskipun ia tidak tau Ada apa diantara mereka.
__ADS_1