Hasrat Cinta Asisten Pribadi

Hasrat Cinta Asisten Pribadi
Bab 42


__ADS_3

Sepanjang hari Kanaya mendengus kesal pada suaminya bagaimana tidak Leon seolah tidak ada puasanya, setelah ia menggempurnya semalaman, leon kembali menggempur dirinya pagi ini sampai siang hari, Sampai sampai ia tidak ikut sarapan pagi bersama keluarganya.


"Udah dong sayang cemberutnya." Bujuk Leon saat Kanaya terus cemberut memanyungkan bibirnya


"Om sih,


"Om. Ups... Sayang," Kanaya menutup mulutnya seraya nyengir kuda saat ia kembali salah ucap.


Leon akan menghukum Kanaya jika ia masih memanggilnya Om.


Leon tersenyum, Meskipun masih terasa kaku cara Kanaya memanggilnya dengan sayang, setidaknya Kanaya sudah mau merubah panggilannya.


"Iya." Sahut Leon


"lapar.!" Rengek Kanaya manja.


"Leon menghampiri istri kecilnya yang masih duduk didepan meja riasnya.


"Iya, kita keluar cari makan."


Kanaya mengangguk antusias.


Mereka keluar dari kamar, Ternyata dimeja makan masih Ada Keluarga besarnya menunggunya.


"Lama banget, Ngapain aja sih." Gerutu Razi menatap sinis kearah Leon yang hanya diam tanpa ekspresi didekat Kanaya.


"Om Razi." Rengek Kanaya, Ia tidak ingin jika omnya yang jahil itu, terus memojokkan suaminya


"Sudah sudah, Kalian sarapan dulu jangan berdebat terus." Sely bunda Kanaya menengahi mereka.

__ADS_1


"Ini bukan sarapan lagi namanya, lebih tepatnya sudah makan siang."Ketus Razi kembali melayangkan Tatapan sengit kearah Leon.


Leon tak menanggapi perkataan manusia menyebalkan didepannya ia hanya fokus ke makanannya, Leon sampai menghabiskan 2 piring tanpa ada rasa malu, Leon mempersiapkan tenaganya kembali untuk menggempur istri kecilnya nanti.


****


Jika Leon dan Kanaya tengah berbahagia lain halnya dengan keluarga Refan.


Saat ini Serin bersama baby Aidan menuju kafe milik suaminya, Serin akan membawakan makan siang untuk suaminya.


Ditengah jalan mobil mereka dihadang oleh pria bertubuh tinggi besar, Mereka diseret keluar secara paksa.


Serin memberontak tak ingin pria itu berlaku kasar tehadap putranya


"Kalian siapa.," Tanya Serin menatap satu persatu pria itu yang berjumlah 4 orang.


"Kamu tidak perlu tau siapa kami, Kamu harus ikut kalau tidak, kami akan membunuh putramu itu." Ancam pria bertubuh besar itu


"Baiklah aku akan ikut, Jangan sakiti Anakku."Pinta serin setengah memohon


Mereka membawa serin sementara sang sopir sudah tidak sadarkan diri akibat pukulan yang dilayangkan oleh pria bertubuh tinggi besar itu


Sepanjang perjalanan Serin bertanya dalam hati, Siapa mereka sebenarnya, selama ini ia dan suaminya tidak memiliki musuh.


Serin terus menenangkan Baby Aidan saat Aidan sudah mulai rewel .


"Suruh putramu diam atau kalau tidak akan kulempar dia keluar ," Ancam pria itu


Serin berusaha menenangkan Baby Aidan,Serin takut jika Pria itu benar benar akan melempar putranya.

__ADS_1


"Keluar.! " Bentak Pria itu saat mereka sudah sampai disebuah r bangunan yang sudah tua.


"Serin menatap kearah Bangunan itu, tatapannya tertuju pada pengawal yang sudah berjaga di setiap sudut.


"Ya Allah lindungilah kami, Jangan sampai mereka berbuat jahat kepada kami, " Serin terus berdoa dalam hati


*****


Sudah satu jam semenjak Istrinya mengabarinya akan Membawakan makan siang untuk namun sampai sekarang serin tak kunjung datang bersama putranya.


Refan Uring uringan menunggu kedatangan Istrinya, Sudah puluhan kali ia menelpon namun ponsel serin diluar jangkauan.


"Sial." Umpat Refan saat berusaha menghubungi sopir pribadi nya Namun ponselnya tak juga aktif.


Refan lantas meninggalkan ruangannya menuju parkiran dan siap untuk kembali kerumahnya,


Refan masuk kedalam rumahnya, dengan langkah tergesa-gesa bahkan ia tidak mengucapkan salam, yang ada dipikirannya saat ini adalah istri dan anaknya.


"Bi...Bibi..."Panggil Refan setengah berteriak


"Iya, Tuan."


"Dimana serin ."Tanya Refan terlihat kekhwatiran diwajahnya


Alis Bi Ijah terangkat sebelah, "Bukankah nyonya Serin sudah berangkat ke kafe sejam yang lalu." Pikir Bi Ijah dalam hati


"Nyonya sudah berangkat dari sejam yang lalu tuan bersama Den Aidan.


Refan menarik nafas dalam-dalam kemudian mengusap wajahnya kasar, ia sudah dapat menebak jika Istri dan anaknya saat ini sedang dalam bahaya'.

__ADS_1


"


__ADS_2