
Stigma orang sekitar tentangnya luar biasa lemah, tidak mampu pergi sendiri bahkan sama menatap dunia seakan tidak mungkin baginya. Hanya saja, hal itu cukup sudah dan takdir mengharuskan dia untuk hidup sendiri.
Mejauh dari Zayyan, melupakan apa yang terjadi dan benar-benar hidup sebagai Zoya. Kebebasan yang dia inginkan sejak dahulu mungkin baru saja Tuhan berikan saat ini, meski caranya sedikit sakit dan cukup berhasil membuatnya menangis.
Mataram, Nusa Tenggara Barat, adalah tujuan terjauh dalam hidup Zoya. Tidak ada siapa-siapa di sana, Zoya meraba masa depannya dan hanya bermodalkan keberanian serta keinginan untuk dapat menikmati kehidupan sesungguhnya. Dia membawa uang tunai dalam jumlah yang tidak begitu banyak, hanya cukup untuk tiket pesawat dan biaya penginapan beberapa hari kedepan. Itu pun sisa dari uang jajan yang Zayyan berikan secara tunai padanya.
Sadar betul jika tujuannya bukanlah untuk liburan, Zoya tidak serta merta istirahat ketika tiba di sana. Melainkan mencari pekerjaan, dia langkahkan kaki yang kerap menjadi alasan Zayyan melindunginya dengan alasan lemah. Ya, meski sudah sembuh sejak lama bagi Zayyan dia adalah wanjta lumpuh yang tidak bisa lergi kemanapun tanpa bantuan.
Dengan wajah cantik dan komunikasi yang begitu baik, dalam waktu kurang dari satu bulan Zoya mampu menyesuaikan diri. Hingga saat ini dia diterima dengan baik bekerja di salah satu hotel bintang lima di pusat kota atas bantuan seseorang yang telah berperan penting untuknya.
"Ternyata tidak sesulit itu."
Sejenak dia bisa mematahkan opini Zayyan tentang kerasnya dunia luar, karena pada faktanya jika mampu membawa diri serta memiliki skill maka dimanapun akan tetap bisa menjalani peran sebabai manusia, pikirnya.
Meski gaji yang dia terima tidak sebesar uang jajan dari Zayyan, bagi Zoya ini lebih baik daripada terus bergantung pada pria itu. Beruntungnya lagi, Zoya dikenalkan dengan orang-orang baik yang setulus itu berbagi kasih meski tidak ada ikatan keluarga sama sekali.
"Zoya ... hampir satu bulan dan kamu masih lanjut kerja? Aku pikir dulu hanya bercanda, jadi kamu benar-benar bukan calon istri pak Dikta?"
Sejak awal kedatangannya para rekan kerjanya sudah berpikir sama. Apalagi orang yang membawa Zoya kala itu adalah putra pemilik hotel tersebut, Dikta.
"Masih dong, tujuan aku datang ke sini sama seperti kamu, Alya ... kerja," tutur Zoya di sela makan siangnya, hingga saat ini dia masih merasa lucu jika mengingat bagaimana teman-temannya sampai khawatir memanggil namanya.
"Aku pikir kamu calon istri pak Dikta, syukurlah harapanku belum pupus ternyata."
Alya bercanda, tapi memang sedikit harapan untuk menjadi nyata terselip di sana. Pesona seorang Dikta memang tidak bisa dibohongi, pria tampan yang begitu lembut pada siapapun meski dirinya adalah seorang putra keluarga bangsawan membuat siapapun berharap lebih.
__ADS_1
"Bangun, Al ... masih siang, mimpimu ketinggian," celetuk Barata mengena sampai ke ulu hati, sungguh pria itu bicara tidak dipikir lebih dulu.
"Ck, sapi satu ini mengganggu aja. Apa salahnya berharap, lagipula hidup itu bukan hanya tentang hari ini ... tapi juga hari esok, dan nanti," balas Alya dan hal ini sudah biasa menjadi pemandangan di hadapan Zoya, kedua insan yang bila jauh selalu mencari dan ketika dekat akan mencaci.
"Sapi? Dimana ada sapi setampan aku? Padahal jelas-jelas lebih tampan aku daripada pak Dikta, matamu saja tertutup dosa," ucap Barata hingga membuat Zoya yang kini menjadi penengah di antara mereka hanya tertawa sumbang bahkan perutnya terasa sedikit sakit.
"Kalian manis sekali, kenapa tidak pacaran saja? Lucu tahu."
"Aku jadi pacar dia? Mending nunggu lamaran pak Dikta, Zoy."
"Ini nih, kalau pas di perut ngidamnya kecubung ... mana mungkin pak Dikta lamar kamu Alya, kalau Zoya baru wajar," ungkapnya tanpa memikirkan perasaan Alya yang kini tercabik-cabik karena dianggap tidak pantas mendapatkan pria sesempurna Dikta.
"Barata jahat banget sumpah, aku sakit hati loh awas saja, kusumpahin tidak laku seumur hidup!!"
"Oho tidak bisa, jodohku sudah ada di depan mata begini," ucapnya dengan sengaja menyentuh dagu Alya hingga wanita itu refleks melemparkan kotak tisue tepat di wajah Barata.
"Coba deh kalian tu sekali saja akurnya, nanti jodoh beneran loh."
"Aamiin."
"Tidak Aamiin!!"
"Aamiin!!"
"Tidak Aamiin!!"
__ADS_1
"Aamiin titik!!"
"Tidak Aamiin titik!!"
Keduanya kembali adu mulut dengan satu kalimat itu, Zoya benar-benar tidak kuat rasanya. Ini terlalu lucu dan hal semacam ini tidak dia temukan di lingkungannya dahulu. Hal itu jelas tidak lepas dari peran Zayyan yang bahkan ikut campur masalah pertemanan Zoya, dia hanya diperbolehkan berteman dengan beberapa orang saja. Itu pun dari kelas atas dan bahkan mungkin tidak akan pernah tertawa hanya karena hal sederhana seperti Barata dan juga Alya.
.
.
.
"Zoy, saya antar pulang ya," tutur pria yang tadi siang menjadi bahan pembicaraan Alya. Ya, dia adalah Dikta yang memang sejak awal sudah kerap melakukan hal semacam itu untuk Zoya.
"Tidak per_"
"Perlu, kamu belum lama di sini. Ayo saya antar, ini sudah malam ... di luar sana tidak sebaik yang kamu kira," ujar Dikta lembut, pria itu bicara pada Zoya tapi Alya yang seakan sesak napas hingga Barata menahan tubuhnya dari belakang. Khawatir wanita itu pingsan lantaran tersihir ketampanan seorang Dikta yang menurut dia tidak seberapa itu.
Sebuah penawaran yang memang tidak bisa dia tolak. Selain karena pria itu memang tidak menerima penolakan, Zoya berpikir ada baiknya dia diantar pulang dan dipastikan dengan selamat bersama Dikta daripada harus nekat pulang sendiri dan dicekam ketakutan akibat beberapa pria yang menggodanya seperti kemarin.
"Tidak sekalian sama saya, Pak? Saya pulangnya searah loh sama Zoya," ujar Alya dengan keberanian di atas rata-rata, sontak hal itu membuat Barata mual seketika.
"Ah maaf sekali, mobil saya hanya cukup untuk dua orang, Alya."
Barata terkekeh dan sepertinya akan terbahak sejadi-jadinya setelah ini. Ingin kembali merayu tapi tidak bisa lantaran ucapan Dikta benar adanya. "Ah ya sudah kalau begitu, lain kali saya juga diajak ya, Pak"
__ADS_1
- To Be Continue -