
Hati Zoya menjerit mempertanyakan banyak hal kepada sosok ibu yang entah bagaimana hingga dicap sebagai luka oleh Amora hingga akhir hayatnya. Zoya tidak mengutarakan hal itu dengan lisannya, akan tetapi dia berbicara dari lubuk hati yang paling dalam dengan harapan akan sampai kepada wanita yang sudah mengandungnya itu.
Hingga beberapa saat kemudian dia meminta Zayyan untuk memimpin doa padahal agama pria itu benar-benar minim luar biasa, syukur saja tidak dia bacakan doa makan. Ya, sekalian Zayyan meminta maaf karena dia bukan menantu yang sempurna untuk agama.
"Sudah?" tanya Zayyan kemudian menyeka air mata Zoya dengan begitu lembutnya. Meski wanita itu mengatakan dia tidak bersedih, akan tetapi Zayyan bisa menyimpulkan Bagaimana perasaan istrinya.
Zoya mengangguk pasrah, walau memang rasanya sakit sekali tapi ada kelegaan ketika dia berani menerima sosok Naina sebagai ibu kandungnya. Sebelum benar-benar pergi Zoya masih menoleh ke arah mereka sebagai ucapan salam terakhirnya.
Baru saja beberapa saat mereka meninggalkan makam tersebut mata Zayyan tiba-tiba dibuat memanas ketika melihat seseorang yang kini berjalan ke arahnya.
"Pria itu? Kenapa bisa?" Tatapan mereka terkunci, belum apa-apa Zayyan sudah menuduh Zoya melakukan hal macam-macam dan mengira wanita itu mengabari tentang kepergiannya hari ini.
"Kenapa berhenti?" tanya Zoya kala menyadari Zayyan sengaja menghentikan langkahnya.
"Kalian berencana bertemu di sini?" tanya Zayyan dengan rahang yang kini mengeras dan tangan terkepal sementara Zoya sama sekali tidak paham apa maksud Zayyan kali ini.
"Maksud Kakak apa?" Zoya menyipitkan matanya kala melihat sosok pria yang dia kenali berjalan menghampiri mereka dengan membawa mawar putih di tangannya.
"Dikta?" Mata Zoya kini membulat sempurna.
"Zoya? Ya Tuhan ... kenapa bisa kita bertemu di sini," ucap Dikta dengan bibir bergetar bahkan dia menggosok matanya lantaran sempat berpikir jika dia salah lihat.
__ADS_1
"Hem, kebetulan, Dikta."
"Fabian mana? Tidak kalian ajak, Zoya?"
"Ada di rumah, aku khawatir kalau bawa dia," jawab Zoya tanpa sadar jika wajah Zayyan sudah memerah luar biasa.
"Yah, sayang sekali ... padahal aku merindukannya. Kalian sudah selesai?" tanya Dikta dengan senyum kebahagiaan yang tidak dapat didefinisikan lantaran Tuhan izinkan menatap netra indah Azoya setelah sekian lama tidak bertemu.
"Iya ... kami pulang dulu, takut hujan," balas Zoya kemudian mengulas senyum kepada pria itu.
Entah kenapa setelah melihat senyum Dikta, ada secebis kerinduan yang baru saja Zoya sadari detik ini juga.
"Iya ... hati-hati, Zoya, aku kesana dulu ya." Dikta melangkah pergi tanpa menunggu Zayyan dan Zoya berlalu lebih dulu.
Akan tetapi, pria itu justru diam membisu ketika melihat makam siapa yang Dikta kunjungi. Tidak hanya Zayyan, Zoya juga demikian. Air mata Zoya sontak berurai ketika melihat Dikta melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan beberapa saat lalu di Batu Nisan Naina.
Sejuta tanya yang tadinya sudah berkerumun di kepalanya kini semakin banyak lagi kalau melihat Dikta. "Kamu mau ke mana?" Zayyan mencekal tangan Zoya kala sang istri hendak menghampiri Dikta yang tengah fokus di makam mendiang mamanya.
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan, Kak ... tolong diam di sini." Zoya menghempas tangan Zayyan untuk pertama kali dan memilih berlari ke arah Dikta tanpa menunggu sang suami mengizinkan lebih dulu.
"Zoy ... Zoya tunggu!!" teriak Zayan yang ternyata sampai ke telinga Dikta hingga pria itu menoleh dan menyadari Azoya tengah menghampirinya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu merindukanku?" tanya Dikta tersenyum tipis dengan tatapan kosong ke arah wanita mungil yang hanya sebatas dagunya itu.
"Aku rasa kita harus bicara," ungkap Azoya yang kemudian membuat Dikta tertawa sumbang padahal sama sekali tidak ada yang lucu.
"Kenapa? Menyesal tidak pamit atau ingin minta maaf karena pergi tanpa izinku?" tanya Dikta tanpa peduli meski pertanyaannya Ini akan membuat Zayyan panas luar biasa.
"Makam itu ... siapa?" Zoya bingung harus bertanya bagaimana, dia menatap Dikta dengan tatapan kosong dan berharap pria itu mengerti tanpa harus dia jelaskan berulang kali.
"Mama."
"Apa?"
Jawaban Dikta membuat darah Zoya seakan tumpah setengahnya. Benar-benar fakta di luar dugaan yang sama sekali tidak pernah dia kira sejak dulu.
"Kamu bercanda?" tanya Zoya berharap sekali jika Dikta akan menjawab iya agar semua selesai sampai di sini.
"Tidak, dia memang mamaku ... dan pria yang di sampingnya adalah badjingan yang merusak kebahagiaan papaku," jelas Dikta semakin membuat batin Zoya perih seketika dia terdiam dan tidak bisa menjawab apa-apa ketika mendengar penuturan Dikta.
.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -