Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 55 - My Enemy


__ADS_3

"Zoya punya anak?"


Zico melongo kala kedua matanya benar-benar mendapatkan fakta Zoya tengah menggendong Fabian dari jarak beberapa meter. Clayton sempat mengatakan jika akan banyak hal yang membuat Zico terkejut, dan kini nyata adanya dia benar-benar terkejut ketika tiba di apartement Zayyan.


"Hm, kenapa memangnya?"


"Kalian benar-benar melakukannya? Bukannya kalian cuma tidur bersama beberapa hari, apa cukup waktunya, Zayyan?" tanya Zico sedikit tak percaya karena bagi dia untuk menjadi seorang individu baru itu butuh waktu cukup lama dan, aneh saja ketika Zayyan mampu membuat istrinya tiba-tiba hamil sementara keadaan waktu itu benar-benar rumit sekali.


"Cukuplah kalau pakai niat," ungkap Zayyan menjawab malas pertanyaan Zico yang menurutnya semakin memperlihatkan jika dia benar-benar bodoh.


"Tapi aneh saja, di saat Papa sedang kritis kalian masih sem_"


"Sempat-sempat saja, sebelum tidur kan bisa. Buat anak tidak perlu rencana khusus ataupun ritual panjang yang butuh beberapa hari, Zico."


Mereka sudah dewasa, harusnya hal semacam itu tidak perlu dibahas karena memang sudah paham dengan sendirinya. Zico mengangguk pelan, salah dia juga bertanya. Seorang Zayyan mana peduli dengan hal semacam itu, dia saja bahkan berani curi-curi kesempatan tidur di kamar Zoya sewaktu belum menikahinya.


"Benar juga ... setelah ini, bagaimana rencanamu? Apa akan tetap diam, Mama juga berhak tahu, Zayyan."


"Mama? Mamamu?"


"Ya Mamamu juga lah, Mama kita ... Mama Zoya juga."


Kebiasaan sekali, jika sudah menyangkut Amora mereka akan begitu seakan tidak ada harga dirinya sama sekali. Semenjak kehadiran Rosa di antara mereka kebencian Zayyan kian menjadi bahkan sama sekali tidak menaruh simpati pada wanita itu sekalipun mendiang papanya memang sangat mencintai wanita itu.


"Ambil saja, Mamaku sudah lama meninggal dunia."

__ADS_1


"Ya sudah terserah kau saja, aku boleh tidur di sini?"


Zico bertanya dan hal itu sontak mendapat penolakan dari Zayyan. Mana mungkin dia izinkan sementara Zayyan berusaha sebaik-baiknya agar mereka hanya berdua saja. "Pulang saja, jangan mengganggu kehidupanku."


"Astaga, pelit sekali."


"Bukan pelit, tapi aku tidak nyaman jika orang lain ada di tempatku, mengganggu," ungkapnya kemudian benar-benar berlalu dan tidak berpikir mungkin saja Zico akan tersinggung dengan perkataannya.


"Kita keluarga, bukan orang lain astaga."


"Tetap saja, kau orang lain dan tidak seharusnya tidur di sini."


Terpaksa, Zico pergi meski niatnya sudah sangat baik hari ini. Tidak mengapa, anggap saja memang harinya Zayyan dan harus diikuti kemauannya. Zayyan tidak ingin diganggu dulu untuk hari ini, bukan hanya karena dia merindukan sang istri saja melainkan dia memang benar-benar merasa keberadaan Zico mengganggu matanya, itu saja.


"Kenapa disuruh pulang? Kak Zico bukannya mau tidur tadi?" tanya Zoya mendekat dan duduk di sisi sang suami, dia belum memiliki keberanian untuk berbincang bersama Zico seperti dulu.


Kehadiran Fabian tidak menghalangi keduanya untuk berdekatan persis pasangan yang belum memiliki anak. Walau terkadang Fabian masih kerap memandangi wajah sang papa karena mungkin sedikit asing dengan pria itu.


"Aku papamu, Sayang ... kenapa lihat-lihat begitu?" tanya Zayyan menyentuh wajah gembul Fabian yang hingga saat ini belum melepaskan asupan utamanya.


"Kamu tidak bosan minum susu terus Bian? Gantian sama Papa dong," pinta Zayyan gemas sendiri karena memang ketika matanya terbuka Fabian seakan tidak bisa lepas dari susu.


"Boleh cicip, Zoya?"


"Ya janganlah, sinting."

__ADS_1


Zayyan biasanya tidak bercanda, itu adalah permintaan nyata dan memang dia pinta. Kali pertama menyusui anak seraya bersandar di pundak suami. Hal ini sungguh Zayyan harapkan sejak dahulu, dia merindukan Zayyan bahkan sejak kehamilannya.


"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Sewaktu hamil, apa pernah minta banyak hal pada laki-laki itu?" tanya Zayyan kemudian, ucapan Dikta benar-benar mengganggunya.


"Tidak ada, sekalipun aku ingin sesuatu biasanya beli sendiri ... Fabian sewaktu dalam kandungan tidak banyak ulah, Kak. Mungkin dia paham keadaan mamanya."


Zoya menjawab apa adanya karena memang sewaktu Fabian dalam kandungan tidak banyak keinginan. Sekalipun sedikit berulah mungkin ketika hendak melahirkan dan memang Dikta berperan sebagai penenangnya.


"Benarkah?"


"Iya."


"Mual-mual tidak?" tanya Zayyan kemudian.


"Tidak, aneh ya ... tapi syukurlah, aku bahkan tidak sadar hamil sebelum perutku sedikit membesar, aku pikir telat datang bulan karena kecapekan dulu," ujar Zoya kemudian dan hal itu sejenak membuat Zayyan mengingat bagaimana dia dibulan kedua Zoya menghilang.


Dia bahkan masuk rumah sakit akibat mual dan sakit kepala berhari-hari hingga Zico sempat berpikir kakaknya menginap penyakit misterius.


Rupanya kamu penyebabnya ya.


Zayyan membantin kala menatap mata bulat Fabian yang seakan mengerti tutur batin papanya. Sepertinya tidak punya rasa bersalah dan dia menepis tangan Zayyan kala pria itu hendak menyeka keringatnya.

__ADS_1


"Papa cuma mau lap keringatmu, Bian ... kasar sekali, kenapa kamu suka menolak begini? Mamamu saja pasrah Papa apa-apain," ungkap Zayyan santai dan lagi-lagi membuat istrinya salah tingkah.


- To Be Continue -


__ADS_2