
Pasca perdebatan di kamar hotel, Zoya benar-benar mengikuti kemauan Zayyan untuk bertemu putranya. Zoya tidak terlalu banyak menunda karena memang Zayyan berhak tahu segalanya.
"Masuklah."
Tiba di basemant Zoya berhasil membuat Zayyan terkejut. Wanita itu menghampiri sebuah mobil yang dia ketahui harganya tidak murah itu. Sementara dia yakini gaji dia tidak akan cukup untuk membeli mobil semewah itu dalam waktu singkat. Sempat berpikir jika Zoya menggunakan kartu-kartu yang dia berikan, akan tetapi sama sekali tidak ada notifikasi di emailnya ataupun tagihan dari sana.
Ingin bertanya, tapi mulut Zayyan masih malas untuk bicara dan dia memilih mengulurkan tangannya, "Aku saja," tutur Zayyan namun Zoya khawatir Zayyan masih dalam suasana hati yang buruk hingga dia memilih mengemudi sendiri.
"Kakak belum hapal jalan di sini, aku saja."
Baiklah, pria itu juga penasaran bagaimana perkembangan sang istri selama jauh darinya. Tampaknya banyak yang berubah dan memang wanita ini bukan Zoya yang dahulu, tidak lagi ada kata manja dalam diri Zoya. Bahkan, rasa takut juga sudah tiada, memang waktu itu sempat diizinkan mengemudi sebelum kakinya patah, jadi wajar saja jika kini dia bisa terlihat santai seolah sudah terlatih sejak lama.
Bukan hanya penampilan yang terlihat kian dewasa, tapi pembawaannya juga. Baru dua tahun berpisah, bayangkan saja jika lebih. Mungkin saja sekali Zoya tidak butuh sosok pria, dalam diamnya Zayyan berpikir jika memang kesalahan terletak padanya yang telalu menganggap Zoya lemah hingga melakukan segala sesuatu tidak bisa.
Selama perjalanan suasana tampak hening, tidak ada pembicaraan sama sekali. Hanya saja lirikan Zayyan selalu tertuju padanya hingga pria itu tanpa sadar menarik sudut bibir kala menyadari adiknya dahulu sudah tumbuh kian dewasa.
"Tidak salah Clayton memilih tempat ini sebagai tujuan," pikir Zayyan dalam hati, pertama kali bertemu dan Zayyan sudah dibuat terkejut dengan perubahan istrinya.
__ADS_1
Hingga tanpa dia dari keduanya sudah tiba di sebuah rumah minimalis modern yang cukup membuat Zayyan takjub. Tapi percayalah, dia sama sekali tidak tenang karena selama ini sepeserpun Zoya tidak mengambil uang dari fasilitas yang dia berikan.
"Sayang tunggu," ujar Zayyan sebelum turun dari mobil, dia ingin memastikan sesuatu lebih dulu.
"Kenapa?"
"Ini rumahmu?" tanya Zayyan dengan manik tajamnya penuh selidik, tidak mungkin jika sang istri mampu mendapatkan semuanya dalam waktu singkat sendirian.
"I-iya, kenapa memangnya?" tanya Zoya tampak paham dengan maksud ucapan Zayyan, pria itu menggeleng dan sejenak mengubur pikiran buruknya.
"Tapi kan rumah ini masih dicicil, Kak."
Sedetik kemudian mata Zoya membeliak kala melihat mobil hitam terparkir di depan rumahnya. Sungguh dia sama sekali tidak berpikir akan hal ini, Zoya yang panik segera turun dan mengikuti langkah sang suami.
"Mobilmu juga? Atau ...."
Zayyan bukan pria boddoh, dia paham kondisi dan mampu menyimpulkan segala sesuatu. Jika dilihat dari bentuknya, akan lebih pantas digunakan oleh pria. Di saat yang sama Zoya menggeleng dan hal itu membuat Zayyan menghela napas panjang.
__ADS_1
"Lalu siap_"
"Non ... Ya Tuhan untung saja sudah pulang."
Suara Zayyan terpotong oleh suara wanita paruh baya yang tiba-tiba muncul dari dalam. Bersamaan dengan itu suara tangisan terdengar hingga membuat Zoya masuk tanpa peduli Zayyan di luar.
"Fabian kenapa, Bi?"
"Cepat masuk, Non ... saya khawatir, dia tidak demam tapi menangis tanpa henti," jelas Mirna seraya melangkah panjang mengikuti Zoya yang masuk tanpa menunggu pertanyaannya dijawab lebih dulu.
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1