
Tidak butuh waktu lama untuk meringkus Amora, dia bukan penjahat terlatih melainkan seekor kucing yang tanpa pikir panjang membuat ulah di kandang macan. Dua hari pencarian, wanita itu kini hanya bisa mengiba pada Zayyan agar tidak tidur di balik jeruji besi setelah ini.
"Begini cara kalian berterima kasih? Apa kalian tidak ingat jasa-jasaku?" tanya Amora menatap sendu wajah Zayyan dan Zico yang kini bersedekap dada di depannya.
"Bukankah pertanyaan itu harusnya untukmu? Sebagai wanita yang dulu hampir kehilangan dunianya lalu masuk kembali menjadi seorang ratu di dalam keluarga Alexander, tidakkah kamu malu meminta kami untuk berterima kasih?" tanya Zayyan kemudian berdecih seakan menganggap wanita itu noda dalam keluarganya.
"Kalian keterlaluan!! Aku bahkan tidak melakukan apa-apa. Lalu kenapa sampai harus melibatkan pihak berwajib begini Apa kalian berpikir aku seorang kriminal?"
Zico mengepalkan tangannya, pria itu ingin sekali mendaratkan pukulan tepat di wajah Amora. Hanya saja Zayyan yang kemudian menghalanginya membuat pria itu mengurungkan niat.
"Kenapa katamu? Cih ... yang kau lakukan bahkan lebih dari kriminal!! Lebih menjijikan dari seorang penjahat yang tidak tahu terima kasih!! Adikku hampir mati di tanganmu dan kau masih bertanya apakah kau termasuk kriminal? Jalas aja iya."
Zayyan berusaha untuk tetap tenang meski dia ingin menghabisi wanita itu saat ini juga. Tidak ada kata ampun untuk seorang Amora, tidak perduli meski memang semenjak menikah dengan papanya wanita itu menempatkan posisi sebagai seorang ibu yang baik.
Akan tetapi, dengan semua yang dia lakukan kala Alexander telah tiada dapat disimpulkan jika yang Amora cari memang hanya kemewahan semata. Tidak peduli dengan teriakan Amora yang masih memohon ampunan pada dua putra sambungnya. Mereka tetap bergegas meninggalkan tempat itu dan menuju rumah sakit untuk menjemput Agatha.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, Zico tengah meratapi kesalahan dan merasa dirinya terlampau bodoh karena dahulu lebih mempercayai ibu sambungnya dibandingkan Zayyan sendiri.
"Zayyan, setelah ini ... apa kau akan kembali ke rumah utama?" tanya Zico pada sang kakak yang saat ini fokus dengan kemudinya.
"Sepertinya tidak, aku lebih nyaman hidup bersama Zoya dan Fabian saja."
Zico terdiam mendengar jawaban Zayyan yang seakan tidak ingin bersatu bersamanya dan Agatha.
"Kenapa begitu?" tanya Zico mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Lebih nyaman saja ... sejak dulu aku selalu memiliki cita-cita untuk membawa Zoya hidup berdua denganku."
"Tapi kenapa harus pergi? Rumah kita besar sekali, Zayyan. Aku dan Agatha tidak akan mencampuri rumah tangga kalian," ungkap Zico yang secara nyata mengisyaratkan jika dia menginginkan mereka berdua tinggal bersama di kediaman utama keluarga Alexander.
"Iya aku tahu ... tapi aku hanya lebih nyaman saja Zico."
Bagi zayyan kehidupan rumah tangga tidak bisa diikut campurkan dengan apapun. Apalagi antara Zoya dan Agatha baru berbaikan dua hari lalu. Dia hanya tidak ingin membuat Zoya tidak nyaman suatu saat nanti.
"Jadi kau lebih suka tinggal di apartemen sempit itu?" tanya Zico bingung sendiri kenapa Zayyan lebih memilih untuk betah di apartemen yang sebenarnya dapat dikatakan cukup kecil jika dibandingkan dengan rumahnya.
"Untuk saat ini masih cukup ... apalagi Fabian masih kecil, kalaupun rumah baru ya nanti saja."
Zico hanya menggangguk beberapa kali. Memang seorang Zayyan adalah pria yang tidak bisa diatur sejak dulu, bahkan ketika papanya melarang Zayyan tidur di luar dia membeli unit apartemen saat itu juga.
"Ah iya ... aku ingin memberitahu sesuatu padamu."
"Bu-bukan itu, aku tidak bercita-cita menghadirkan kejutan untukmu ... Kau kenal pak Widarman?" tanya Zico yang baru saja mengingat hal itu.
"Widarman siapa?" tanya Zayyan mengurutkan dahi, dia pernah mendengar nama itu akan tetapi dia sedikit lupa siapa pria itu.
"Katanya teman Papa, aku pikir kau mengenalnya," jawab Zico kemudian.
"Kenapa memangnya?" tanya Zayyan tanpa menetap ke arah Zico dan dia tetap terus fokus dengan kemudinya.
"Pak widarman berpesan untuk menyampaikan permintaan maaf secara pribadi padamu. Dia berusaha menghubungimu tapi tidak bisa," ungkap Zico yang berpikir jika tidak ada hal aneh yang terjadi pada sang kakak.
__ADS_1
"Minta maaf? Minta maaf untuk apa? Apa dia punya kesalahan terhadap papa?" Zayyan masih bingung siapa yang menghubunginya.
"Entahlah, tapi jika memang kesalahan terhadap Papa, kenapa dia meminta maaf atas nama putranya," ucap Zico yang juga berpikir keras saar ini.
"Siapa putranya?" tanya Zayyan masih dengan penasaran yang semakin besar saja.
"Dikta."
Raut wajah Zayyan mendadak berubah kalau mendengar nama itu. Matanya menatap tajam ke depan seakan menunjukkan bahwa dia membenci pria bernama Dikta tersebut.
"Kenapa emangnya? Apa kau membuat masalah dengan pria itu?" tanya Zico khawatir jika zayyan pergi dan menimbulkan masalah dengan orang yang baru dia kenal.
"Tidak ... aku bahkan tidak mengenalnya," jawab Zayyan yang kemudian kembali melaju bahkan menambah kecepatan hingga membuat Zico meremang dan khawatir jika ini adalah hari terakhir dia hidup di dunia.
Tidak kenal, tapi kenapa dia jadi marah begitu?
.
.
.
- To Be Continue -
Sementara aku up, mampir dulu di karya temanku yang satu ini yaa❤
__ADS_1