Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 83 - Memulai


__ADS_3

Drama panjang membangunkan Zayyan membuat mereka baru siap tepat 10 pagi. Dengan perjalanan yang kira-kira bisa mereka tempuh selama 3 jam ke depan Zoya hanya berharap mereka bisa kembali ke rumah nanti malam.


Belum apa-apa Zoya sudah mengomel lantaran pria itu seakan sengaja menunda-nunda kepergian mereka entah apa sebabnya. Padahal sebenarnya sudah sejak minggu lalu Zoya meminta ditemani untuk mengunjungi makam Papanya sekaligus Naina, wanita yang Amora katakan sebagai ibu kandung dari Zoya.


"Kita hanya berdua?" tanya Zayyan dengan wajah sumringah. Padahal, memang sejak kemarin-kemarin dia sudah mengetahui bahwa mereka hanya akan berdua saja. Sementara Fabian akan ditinggal bersama Agatha dan juga Zico.


"Iya ... kenapa memangnya?" Zoya bertanya dengan wajah yang serius dan tidak mengerti maksud senyuman sang suami yang terlihat bahagia saat ini.


"Memastikan saja, kita sudah lama tidak pergi berdua ... sekalian jalan-jalan ya," ungkapnya kemudian tersenyum simpul sebelum meninggalkan kediaman nya.


"Ziarah!! Jalan-jalan apanya, Kakak tidak lihat seragam kita hitam semua begini?"


"Sekalian, Zoya ... kamu marah terus kenapa? Hamil atau apa?" tanya Zayyan bingung sendiri lantaran sang istri memang kerap marah akibat tingkahnya.


"Hamil apanya? Bian masih nyusu, Kakak jangan becanda," ungkap Zoya benar-benar menanggapinya serius padahal hanya bercanda semata.

__ADS_1


"Iyayaya, paham, Sayang."


Di posisi hidup yang sekarang Zayyan benar-benar bersyukur karena kehangatan keluarga Alexander yang dahulu selalu Papanya utamakan kini dapat terwujud nyata. Belum lagi Fabian yang ternyata seakan paham kondisi dan begitu lengket dengan Agatha hingga dia tidak perlu susah payah berebut Zoya setiap harinya.


Bukan berarti Zayyan tidak sayang anak, dia sangat-sangat menyayangi Fabian Sebagai sebagian dari jiwa raganya. Akan tetapi, dia yang masih merasa waktunya bersama Zoya benar-benar sedikit membuat pria itu bahagia jika ada ruang yang membuat dia dan Zoya bersama tanpa ada gangguan pihak manapun.


"Kamu yakin tempatnya sudah benar?" tanya Zayyan kembali memastikan, khawatir jika nanti mereka salah lokasi dan justru membuat keduanya hanya membuang-buang waktu belaka.


"Yakin, Kak."


Zayyan hanya mengangguk pelan kemudian mulai mempercepat laju kendaraan usai memastikan lalu lintas yang cukup aman. "Kalau ngantuk, tidur saja nanti aku bangunkan." Mengingat tujuan mereka tidak akan sampai hanya dalam waktu setengah jam Zayyan mengerti jika istrinya mungkin saja lelah hingga meminta wanita itu untuk tidur di perjalanan.


"Tidak perlu, aku mau temani Kakak saja." Zoya bersandar seraya menatap fokus ke depan karena tidak ingin Zayyan merasa kesepian Selama perjalanan.


"Baiklah kalau begitu, kebetulan ada sesuatu yang ingin aku ceritakan." Selain pandai cari uang, Zayyan juga pandai mengunjingkan seseorang, dan jika sudah mendengar kalimat pembukaan seperti itu bisa dipastikan Zayyan akan membahas informasi yang hangat untuk dibicarakan.

__ADS_1


"Apa?"


"Kamu ingat Amran? Sahabatku dulu."


Zayyan memulai pembicaraan agar perjalanan tidak membosankan. "Iya ingat, Kenapa memangnya dengan mas Amran?" Zoya memang benar-benar penasaran dengan kabar sahabat Zayyan yang menjadi saksi perjalanan mereka sedari awal hingga status pernikahan mereka jelas baik di mata agama maupun hukum negara.


"Tapi kamu jangan kaget, dan cukup dengarkan aku saja."


"Ya buruan apa?!"


.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2