
"Pelan-pelan, Kak ... tidak ada yang akan rebut piringnya," ucap Zoya tertawa sumbang kemudian beranjak dari sana untuk menuangkan air pada sang suami, apa mungkin Zayyan selapar itu, pikir Zoya bingung sendiri.
"Kamu mau juga?"
"Tidak, aku kenyang."
Zoya kembali duduk di sisi sang suami dan menyentuh sudut bibir Zayyan dengan jemarinya. Entah memang karena lapar atau sengaja, akan tetapi biasanya Zayyan tidak pernah makan berantakan begini.
"Belepotan," ucap Zoya menunjukkan jemarinya, sementara Zayyan yang mendapat tindakan spontan dari Zoya mendadak bingung padahal seharusnya dia bahagia.
"Tumben, kerasukan?"
"Kerasukan apanya? Aku cuma risih Kakak makannya berantakan," ungkap Zoya tiba-tiba memerah dan mendadak salah tingkah, jemarinya juga kenapa seberani itu melakukan hal yang sama sekali tidak pernah dia duga.
"Oh ya? Tapi sayang pakai jari, tidak romantis sama sekali," ungkap Zayyan kembali meneruskan makannya karena pada faktanya dia memang lapar.
"Seharusnya pakai apa? Aku bersihin pakai centong nasi mau?" tanya Zoya membuat Zayyan menatapnya datar secara tiba-tiba, di antara banyak pilihan kenapa Zoya harus menyebutkan benda itu.
"Minimal lidah atau bibirmu, Zoya ... gunakan otakmu ini sesekali, Sayang. Punya istri datar sekali hidupnya, kamu pacaran tidak dapat pengalamam apa-apa?" tanya Zayyan memang bingung karena Zoya sekaku itu dalam hubungan.
"Tidak, mungkin aku tidak menarik," jawab Zoya santai seakan lupa bagaimana cara Zayyan mengusik hubungannya. Bagaimana mungkin pasangan Zoya berani bertindak ketika mengetahui jika wanita mereka adalah adik dari Zayyan.
"Menarik sebenarnya, kamu tahu apa yang menarik darimu?"
"Tidak, apa memangnya?"
__ADS_1
"Entahlah, sampai sekarang aku juga bingung dimana titik menariknya seorang Zoya," ungkapnya tanpa dosa dan berhasil mematahkan kebahagiaan seorang Zoya yang sudah berharap akan mendapatkan ungkapan cinta dari sang suami.
"Kalau memang tidak menarik kenapa maksa aku nikah."
"Kamu menantang, milikku tidak bisa berdiri jika bukan di dekatmu," ungkap Zayyan membuat Zoya mengerutkan dahinya, dia sesantai itu dia bicara hingga membuat Zoya menjaga jarak
"Ngarang, Kakak berhubungan sama banyak wanita buktinya bisa."
"Beda, Zoya ... tanpa kamu usaha memang reaksinya sebaik itu, aku juga bingung kenapa, padahal dulu tubuhmu persis botol kecap."
IQ jongkok, botol kecap dan masih banyak lagi sebutan yang Zoya terima dari pria ini tapi sepertinya tidak masalah. Zoya akui semua itu benar, bahkan dia sebenarnya sempat ragu jika kakaknya itu memiliki perasaan sesungguhnya.
"Bullshit, bohong."
"Serius, beberapa minggu setelah kamu pergi Rosa mencoba menggodaku ... tapi anehnya, sekalipun dia sudah usaha menjamahku dia tidak bangun sedikitpun," ungkap Zayyan kembali mengingat kejadian yang berakhir perceraian malam itu.
"Iya, dia menuntut nafkah tapi aku tidak mau."
Zoya sama sekali tidak bertanya kemarin, sungguh dia dibuat terkejut dengan fakta ini. Wanita itu menelan salivanya, "Kakak tidak pernah menyentuhnya?"
"Tidak, dan tidak pernah berpikir ingin meyentuhnya ... sekalipun dia juga istri sah, aku merasa tengah berkhianat saja jika sampai menyentuhnya," ucapnya pelan kemudian menepikan rambut Zoya yang tampak mengganggu wajahnya.
Sesulit itu Zayyan menjaga diri, walau sebenarnya bisa saja dia mencari hiburan kesana kemari. Akan tetapi, setelah berstatus sebagai suami Zoya, dia bahkan tidak sudi menyentuh wanita yang saat itu juga berstatus sebagai istri sahnya. "Jangan dipikirkan, itu masa lalu ... sekar_"
"Zayan!! Yuhu ... aku datang."
__ADS_1
Ya Tuhan, suara pria itu terdengar samar di depan. Menyesal sekali passcode apartementnya tidak disetting ulang sejak dulu. Bisa dipastikan Zico yang datang, sejak Zoya pergi memang pria itu berusaha untuk selalu ada dalam kehidupan kakaknya.
"Zay_ Haaaah?!"
"Usahakan hargai yang punya, jangan sembarangan masuk jika belum kuizinkan, Zico."
"Zoya? Woah ternyata benar gendutan."
"Dia tidak gendut, tapi berisi," sentak Zayan khawatir istrinya tersinggung karena memang wanita sensitif perkara berat badan.
"Ya apa saja sebutannya, kau sudah makan? Aku baru bawa makanan untuk kalian berdua."
"Berdua? Kau tahu dari mana aku pulang bersamanya?" tanya Zayan sedikit bingung kenapa Zico seakan tidak terkejut dengan kehadiran Zoya.
"Clay."
"Ah iya ... tetap tutup mulutmu, Zico. Aku tidak ingin kehidupan istriku kacau lagi karena keluarga kalian," ucap Zayyan seakan dia bukan bagian dari mereka, Zico bahkan mengerjapkan matanya mendengar pernyataan Zayyan.
"Keluargamu juga boddoh, andai Papa masih ada pasti sudah dicoret dari KK," batin Zico akan tetapi dia enggan berdebat bersama pria ini.
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -