Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 61 - Memang Sulit


__ADS_3

Rendah sekali derajatmu jika harus merebut istri orang.


Kalimat itu terngiang-ngiang dalam benak Dikta. Sejak tadi sore dia hanya berdiam diri di dalam kamar, diam dan menatap langit-langit dalam kesendirian. .


Entah siapa yang terlambat, Zoya atau cintanya. Dikta terpejam sesaat, jika saja dulu dia nekat mungkin takkan seberat ini. Tapi mau bagaimana, sekuat apapun Dikta mengajaknya menikah jawaban Zoya tetap sama.


"Aku punya suami, dia mencintaku dan aku mencintainya ... aku hanya pergi, bukan meninggalkan dia, Dikta."


Ucapan Zoya ketika Fabian berusia satu bulan kembali terngiang dalam batin Dikta. Saat itu, Dikta kembali mencoba mengutarakan niat baiknya karena dia pikir alasan Zoya menolaknya sudah tidak ada. Akan tetapi, setelah Fabian lahir Zoya justru semakin mencintai suaminya.


"Lalu apa gunanya? Kamu betah berstatus istri kalian terpisah, Zoya?"


"Hm, aku betah ... aku mencintainya, aku tidak mungkin menerima kamu, Dikta. Kita berteman saja sudah cukup, jika memang tidak bisa maka tidak masalah, aku bisa pergi. Tanpa kak Zayyan saja aku bisa, apalagi tanpa kamu," jawabnya sedikit menyakitkan tapi itu benar-benar fakta yang harus Zoya terima.


Setiap Dikta memaksa menikah, maka Zoya mengatakan hal yang sama. Pergi, pergi dan pergi. Hingga, kali ini Dikta kembali melamarnya dan wanita itu benar-benar pergi.


"Bercandamu keterlaluan Zoya."

__ADS_1


Dikta tersenyum getir, jika memang obsesi lantas kenapa dia sesakit ini. Pria itu menghela napas perlahan, mengapa sesulit itu dia ikhlas. Padahal, dahulu Zoya sempat mengatakan alasan dia pergi karena menginginkan kebahagiaan Zayyan bersama wanita selain dirinya.


Pikiran Dikta kembali terbang melayang, beberapa bulan lalu mereka pernah membicarakan hal serius. Zoya yang menjaga diri selama jauh dari Zayyan sebenarnya menjadi tanda ranya bagi seorang Dikta.


"Kamu aneh, aku jadi penasaran dia sesempurna apa sampai kamu tidak pernah memberikan ruang sedikitpun untuku, Zoya," ungkap Dikta menatapnya teliti, bianya seorang wanita hanya mampu bertahan beberapa bulan saja. Sementara Zoya mampu bertahan hlama tanpa kabar apapun itu.


"Bukan masalah sempurna atau tidaknya. Hanya saja dia suamiku, Dikta ... selama kak Zayyan belum menjatuhkan talak, aku masih miliknya."


Zaya tersenyum tipis kala itu, senyum yang selamanya akan Dikta ingat dan tanam dalam benaknya. Sekuat itu pendirian Zoya, bahkan berkali-kali dia mengancam akan pergi lebih jauh lagi jika Dikta tetap nekat ingin menjadikannya istri.


Bukan salah Zoya juga sebenarnya, sejak awal Dikta sudah megetahui status wanita itu. Ya, sudah jelas memiliki suami dan tidak seharusnya Dikta berharap lebih.


Hanya saja, dia berpikir bahwa seorang wanita akan luluh dengan seseorang yang ada di dekatnya. Sayang sekali dugaan Dikta meleset dan Zoya tidak seperti wanita lainnya.


"Aarrggh, Papa mendukungnya ... Heru juga pasti dipihak papa, ya Tuhan sulit sekali ... terserahlah, lebih baik tidur jika sudah begini."


Dikta menyerah, matanya sudah memerah lantaran begadang hingga jam satu pagi. Demi apa? Istri orang tentu saja, otak Dikta seakan kacau dan kini dia mengacak rambutnya sebelum kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Maklum saja, Dikta tidak mungkin ke club malam tanpa uang sepeserpun. Siapa yang menginginkan dia jika keadaan pria itu sudah begini, papanya tidak pernah bercanda dan biasanya jika semua fasilitas Dikta dibatasi tidak hanya satu atau dua hari saja, melainkan lama.

__ADS_1


.


.


.


"Pastikan dia tidak keluar dari kamar, dan kau jangan coba-coba membantunya lag."


"Baik, Tuan, kedepannya saya tidak akan mengikuti perintah Dikta."


Maaf sekali Dikta, tapi untuk kali ini Heru memilih jadi pengkhianat. Mau sebesar apapun uang yang dia terima dari Dikta, jika Widarman sudah bergerak begini lebih baik Heru patuh pada perintah raja yang berkuasa saja, pikirnya.


"Bagus, Alexander orang baik ... jangan pernah berpikir mengusik kehidupan keturunannya, jika saja dulu dia tidak membantuku mungkin sekarang kami tidak akan tidur di rumah ini, melainkan kolong jembatan."


Jasa Alexander yang dahulu menyelamatkan Widarman yang terlilit hutang pasca kehancuran rumah tangganya ternyata membekas dan kini berdampak baik pada putranya sendiri.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2