
"Kenapa masih di sini? Balik kantor gih," ujar Zoya kemudian kala menyadari Zayyan masih bertahan dengan posisinya setelah dia menjemput Fabian.
"Nanti saja, aku masih betah di sini ... ada Zico, santai saja."
Zayyan menepuk sisi kosong di sebelahya, meminta Fabian untuk duduk di sana. Mata bulat Fabian sedikit membuatnya tenang, Zayyan hanya tersenyum memandangi putranya yang kini beranjak naik ke atas perutnya.
Bugh
"Aarrggh, Papa belum siap, Bian."
Zayyan meringis kala Fabian tiba-tiba duduk di atas perutnya. Zayyan pikir dia hanya akan berdiri di sisi Zayyan, mana dia tahu jika putranya menjadikan perutnya kursi tunggu begitu.
"Zoya."
"Apa?" tanya Zoya kemudian duduk di sisi Zayyan, kebiasaan Fabian yang duduk di atas perut begitu terbiasa karena Mirna yang menjaganya.
"Dia biasa begini?"
"Iya, duduknya diatas perut. Kalau sudah suka sama orangnya begitu," jawab Zoya apa adanya, Fabian kerap melakukan hal semacam itu hanya pada orang-orang tertentu saja. Termasuklah, Dikta dan Mirna.
"Dia benar-benar terbiasa tanpa kamu ya? Aku ajak keluar tidak pernah menangis," ungkap Zayyan sedikit merasa aneh karena setiap dia membawa Fabian keluar, anak itu seakan tidak ingat ibunya. Akan tetapi, jika sudah didepan mata beda cerita.
"Iya, tapi memang sejak dulu tidak rewel ... mungkin paham yang kucari uang, bukan papa untuknya," jawab Zoya asal hingga terbitlah tatapan super tajam Zayyan yang kini hendak mengulitinya.
__ADS_1
"Hahaha bercanda, Kak. Serius sekali hidupnya," ucap Zoya mengecup punggung tangan sang suami sebagai permintaan maafnya.
"Seriuslah, jangan terlalu banyak bercanda ... nanti kamu menangis."
Zayyan mengacak rambut istrinya pelan-pelan, ingin dia sakiti tapi khawatir akan jadi masalah. Pantang bertemu, jika sudah begini Zayyan benar-benar malas kembali, biarkan saja dia di sini.
"Sesekali, Kak. Hidup kita sudah terlalu serius dari dulu."
Bermain di satu atap dengan Fabian yang menjadikan perutnya tempat duduk adalah kehangatan tidak pernah Zayyan duga. Ya, meski itu sebenarnya sedikit menyakitkan karena Fabian tidak berdiam diri di satu posisi, melainkan terlalu banyak bergerak.
"Aaarrggh, Papa bukan kuda, Fabian."
Entah dalam rangka bermain atau justru balas dendam hingga anak itu benar-benar bergerak bebas di atas perut Zayyan.
"Bian lagi naik apa?" tanya Zoya yang kini berbaring di sisi Zayyan dengan menjadikan lengan sang suami sebagai bantalnya.
"Kudaaaa, Ku-da bukan duda."
"Hahah ya dia bisanya Duda," sela Zoya merasa ucapan Fabian lebih lucu jika salah begitu.
"Jangan dibiasiin dong, ayo belajar bicara sama Papa."
"Ku ..."
__ADS_1
"Uuu." Fabian mengikuti ucapan sang papa tapi memang belum sebaik itu.
"Da."
"Daah."
"Okay. Ku-da."
"Duda."
Zayyan menyerah, mungkin memang belum bisa sekalipun dia paksakan. Sementara Zoya yang kini ada di sisi suaminya hanya tertawa sumbang melihat keseriusan kedua pria ini dalam belajar bicara.
"Kamu terlalu menggemaskan, aku mau satu lagi, Zoya."
Zayyan yang terlampau gemas memeluk erat Fabian hingga putranya merasa tidak nyaman dan berakhir dengan tepukan di wajah Zayyan. Putranya ringan tangan, jika tidak menepis tentu akan memukul.
"Awww, Zoy."
Dia meringis, merasakan sakit lantaran kelopak matanya Fabian cubit. Hanya saja untuk melepaskan pelukannya Zayyan juga tidak mau. Susah payah Zoya melepaskan cubitan Fabian, dia terus berteriak hingga suasana kamar yang tadinya tenang dipenuhi kekacauan antara anak dan papanya.
.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -