Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 60 - Hidup Bertiga


__ADS_3

Seharian penuh Zayyan menghabiskan waktu bersama Fabian, sengaja dia buat putranya tidak tidur siang. Menurut sumber yang dia dapat jika anak lelah di siang hari maka dia akan tidur lebih awal, demi Fabian bisa tidur lebih awal dan nyenyak di malam harinya Zayyan bahkan rela mengajak putranya jalan-jalan sore.


Zoya pikir dia mengajak Fabian keluar karena murni ingin dekat-dekat dengan putranya. Sungguh, Zoya tidak berpikir jika sang suami tengah menginginkan dia hingga bersikap semanis itu pada putranya.


Sementara Zayyan pulang, wanita itu memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kepala Zoya dibuat sedikit sakit melihat cara Zayyan menata pakaiannya, persis anak kost.


"Dulu tidak sekacau ini."


Lemari tempat menyimpan pakaiannya memang sangat rapi, mungkin karena tidak pernah tersentuh. Lain halnya dengan Zayyan sendiri, entah kenapa pria itu sudah jauh dari kata rapi. Pria sempurna yang dulunya cerewet jika Zoya tidak rapi kini seakan hilang begitu saja, sungguh Zoya dibuat bingung sesaaat dengan ulah sang suami.


Tenang, merapikan ini tidak sesulit menata hidup, pikir Zoya. Wanita itu mulai mengeluarkan seluruh pakaian Zayyan untuk kemudian dia tata ulang. Tidak butuh waktu lama bagi Zoya untuk menyelesaikan ini, dia cukup terlatih karena sejak dulu sudah terbiasa.


Hingga ketika hampir selesai semua, Zayyan baru kembali dengan membawa Fabian yang kini tengah fokus dengan sepotong mangga di tangannya. Jelas mereka ke dapur lebih dulu sebelum masuk kamar, pikir Zoya.


"Baru pulang, Kakak ajak dia kemana?"


"Supermarket, beli buah ya, 'kan, Bian?" Jauh sekali, padahal sudah Zoya katakan jangan terlalu jauh tapi tetap saja pria itu membangkang.


"Dia tidak tidur siang hari ini, Kakak juga ... tadi katanya pusing," ungkap Zoya membuat Zayyan sejenak terdiam.


"Kata siapa?"


"Kak Zico."


"Dia kemari?" tanya Zayyan mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Iya, Kakak bohong atau gimana? Dia pikir sakit beneran, tadi dia malah bawa susu sama madu ... ada di kulkas, katanya kasih jahe kalau mau minum." Zoya mengatakan apa yang dia dengar dari Zico, tidak dilebih-lebihkan dan tidak juga dikurang-kurangi.


"Bukannya telur?"


"Kata Kak Zico jahe, jangan buat ramuan sendiri."


Pembicaraan mereka berbeda, Zayyan memang benar-benar tidak biasa diajak serius sedikit saja. Dia terkekeh kala melihat ekspresi Zoya yang paham namun berusaha pura-pura tidak tahu lantaran merasa malu, aneh padahal Zayyan adalah suaminya sendiri.


"Zico datang cuma kasih itu?" tanya Zayyan menduga ada maksud lain karena tidak mungkin dia sepeduli itu, apalagi dia ketahui saat ini Zoya sudah kembali.


"Tidak, Kak ... tapi dia minta aku menemui Mama," ucap Zoya ragu dan dia tidak memiliki keberanian untuk itu.


"Kamu mau?"


"Terserah Kakak saja, tapi rasanya jangan dulu ... Mama juga tidak mengharapkan aku pulang," ungkap Zoya merasa untuk saat ini dia lebih baik bersama Zayyan dan Fabian saja.


"Nanti saja, untuk saat ini aku hanya ingin kita hidup bertiga ... apa yang ada sudah cukup, Zoya. Lagipula dia bukan orang tua kandungmu," tambah Zayyan yang kemudian membuat Zoya tertunduk lesu, dia juga sudah menduga hal itu sejak lama.


.


.


.


Meninggalkan kehidupan Zayyan dan Zoya yang kini perlahan membaik, ada hati yang hancur lebur bahkan kehilangan dirinya. Pria itu lagi-lagi menjadi tawanan papanya meski usia sudah dewasa.

__ADS_1


"Berani kau temui wanita itu, aku pastikan kau tidak dapat apa-apa dariku, Dikta."


Ancaman mutlak yang dilontarkan sang papa sesaat membuat Dikta mengerutkan dahi. Dia baru saja berencana pergi menemui Zoya, pria itu kini dihadang dan bahkan tidak diperbolehkan keluar kamar.


"Ancaman kuno, Papa gilla ya? Aku sudah dewasa, sudah berhak menentukan pilihanku sendiri."


"Papa selalu mendukung keputusanmu selagi itu baik, Zayyan adalah putra sulung Alexander, jika Papa tahu wanita yang kamu incar adalah menantu Alexander sejak awal Papa larang kamu, Dikta."


Dikta menghela napasnya kasar, mulut siapa yang kini menyampaikan fakta itu pada papanya. Jika sudah begini semakin sulit bagi Dikta untuk bergerak, papanya ada dipihak Zayyan dan jelas akan sulit bagi dia untuk melakukan segala sesuatu.


"Pa?"


"Mulai hari ini, semua fasilitas kamu Papa blokir ... jangan kamu pikir meski sudah mandiri Papa tidak dapat bertindak, Dikta."


Merasa tidak punya cara dan khawatir putranya benar-benar melakukan hal sehina itu, Widarman bertindak cepat dan hanya dengan cara itu Dikta tidak bisa banyak bertindak.


"Papa? Yang benar saja, aku mencari uang dengan usahaku sendiri dan Papa tidak seharusnya ikut campur begini!!" pekik Dikta berontak dan jelas dia tidak terima dengan perlakuan sang papa yang menganggapnya seakan anak kecil.


"Tetap saja tidak!! Kamu tahu serendah apa orang-orang yang merebut kebahagiaan orang lain itu seperti apa, Dikta? Lebih hina dari sampah, mereka tidak punya tempat di dunia ini."


"Tapi jika itu jalannya bahagia bagaimana? Aku butuh Zoya, Pa ... hanya Zoya yang membuatku merasa berharga," ungkap Dikta memanas dengan lidah yang terasa kelu luar biasa.


"Tidak akan selamanya, Dikta. Kamu ingat bagaimana keluarga kita? Hancur karena orang ketiga, kamu adalah korban dari keegoisan seorang pria yang merebut Mama dari Papa ... Papa tidak ingin kamu menjadi pelakunya, Dikta."


Pria itu naik pitam, barulah Dikta tampak diam dan tidak punya jawaban yang dia lontarkan. Perdebatan mereka terhenti ketika Widarman menyadarkan Dikta tentang kenangan pahit yang memang jangan sampai terulang kedua kali.

__ADS_1


"Pikirkan lagi, jangan bodoh jadi manusia ... ada begitu banyak wanita yang bisa kamu jadikan istri, rendah sekali derajatmu jika harus merebut istri orang."


- To Be Continue -


__ADS_2