Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 70 - Tidak Bisa Dibiarkan


__ADS_3

"Tagihan kartu kredit Agatha benar-benar membengkak, selebihnya aman saja."


Zayyan memijat pangkal hidungnya siang ini, laporan Clayton membuatnya ingin sekali menghabisi adik bungsunya itu. Hingga tanpa pikir panjang, Zayyan mendatangi ruangan Agatha saat ini juga.


Bulan lalu juga sama, akan tetapi Zayyan berpikir mungkin saja adiknya perlu bersenang-senang hingga dia biarkan begitu saja. Akan tetapi, kali ini kelewatan dan Zayyan dibuat marah seketika.


Brak


"Agatha!!"


Tidak peduli meski ada beberapa pasang mata yang melihat mereka, Zayyan tetap bersikap seadanya. Dia yang marah benar-benar tidak bisa dikendalikan hingga menarik pergelangan tangan adiknya cukup kasar.


"Kakak kenapa?"


"Kenapa? Jawab aku, tagihanmu sebanyak ini untuk apa, hah?!!"


Sudah terduga, Zayyan akan marah besar masalah ini. Sebelumnya sempat berpikir lihat saja keadaan karena dia tidak ingin juga kartunya diblokir perkara ini, akan tetapi jika sudah benar-benar terjadi lebih baik Agatha mengaku dari kemarin seharusnya.


"Bu-bukan aku yang pakai, tapi Mama."


"Mama? Kenapa bisa kartumu dipakai Mama, Agatha?!!"


Ini adalah masalah pribadi, tapi jadi menyebar dan beberapa telinga karyawannya mendengar dengan jelas. Clayton yang paham Zayyan paling pantang diusik segera meminta para karyawan lain untuk pergi sementara waktu.


"Kenapa tanya aku? Tanya Kakak saja lah, Mama kurang puas karena kakak batasi semenjak Papa pergi, apalagi."


Seharusnya Zayyan tidak perlu bertanya kenapa dan kenapa. Terbukti dengan jelas semua sudah begini dan jelas saja itu sebabnya. Zayyan mengepalkan tangan, dia menatap Agatha kesal dan merasa otak adiknya lebih boddoh dari Zoya.


"Boddoh!! Kakak batasi karena dia tidak berpikir, bisa-bisanya kamu malah memberikan kartumu ... Agatha tollol, mulai hari ini Kakak blokir kartumu, Agatha."


"Yaaah masa diblokir, yang benar saja ... Kakak begini karena ada Zoya pasti, 'kan?" tanya Agatha kemudian, dia yakin betul Zoya menjadi sebab keputusan kakaknya.


"Tidak ada hubungannya dengan Zoya, semua memang kesalahanmu kenapa diberikan pada wanita gila itu," umpat Zayyan kemudian berlalu dari ruangan Agatha.


"Kak!! Ays Mama!!"


Agatha luar biasa frustasi, yang benar saja jika sampai benar-benar diblokir. Hidupnya mana cukup hanya dengan mengandalkan gaji dari Zayyan, cepat-cepat dia ke ruangan Zico untuk mengadukan permasalahannya.

__ADS_1


"Kak Zicoo ...."


"Hm," balas Zico seakan tidak peduli dengan musibah yang menimpa adiknya.


"Kak!!"


"Apa? Aku tidak tuli, Agatha."


Zico yang tadinya lembut kini ikut membentak akibat Agatha meninggikan suaranya. Pria itu berdecak sebal lantaran kesibukannya terganggu oleh kehadiran Agatha.


"Kartuku diblokir," keluhnya kemudian begitu lesu, sementara Zico hanya menatap datar Agatha.


"Lalu?"


"Lalu? Lalu bagaimana? Kak aku tidak bisa apa-apa lagi jika sampai diblokir begini?"


"Biarkan saja, lagipula kamu punya kartu hanya dipakai untuk Mama ... jangan bodoh, Agatha."


"Ck, tapi kan bisa marah sama Mama tanpa harus blokir kartuku, Kak."


Zico sudah menduga hal ini terjadi sejak dia bertemu Amora kala itu. Salah Agatha sendiri, lagipula kenapa mau jadi tameng Amora untuk memenuhi keinginannya yang kerap sakit kepala hanya karena tidak belanja.


"Ck, menyebalkan!! Memang dasar ridak berg_"


"Iya memang, aku tidak berguna ... pergi sana, hus," usir Zico dengan wajah datar seraya mengibaskan tamgannya.


.


.


.


Sementara di sisi lain, Amora yang merasa Agatha sudah tidak dapat diharapkan lagi mendatangi Zoya. Wanita itu siap memainkan drama di hadapan Zoya kali ini, dengan segala alasan dia mendatangi apartement Zayyan dan meminta izin untuk masuk dengan mengatakan jika dia adalah ibu kandung Azoya.


"Kamu pulang, kenapa tidak menemui Mama lebih dulu?" tanya Amora menatap lekat Zoya yang kini bersedekap dada menatapnya.


Memang benar kata Agatha, wanita itu sudah berbeda dan tidak terlihat seperti Zoya yang kerap dia buat menangis beberapa tahun lalu. Zoya semakin cantik, dan dia pandai merawat diri hingga Amora sesaat terdiam kala mata tajam itu menatapnya.

__ADS_1


"Belum saja, aku memang ingin menemui Mama ... tapi, Kak Zayyan belum izinkan," ucap Zoya seadanya dan dia sama sekali tidak menunduk sopan seperti dahulu, Zoya benari menatapnya dan terlihat santai sekali seraya menikmati teh hangat yang tersaji di atas meja.


"Ah iya, Mama percaya kamu tidak akan melupakan Mama. Tapi, Mama ingin tanya satu hal, kenapa berani menikah tanpa restu Mama?"


"Tidak saja, lagipula apa gunanya sebuah restu ... bukankah dulu Mama mengatakan tidak akan peduli padaku dan tidak ingin tahu apapun tentangku?"


Amora terdiam, itu kalimat yang dia ucapkan sudah lama sekali. Bahkan ketika Zoya masih SMP, pada kenyataannya ucapan itu Zoya ingat hingga akhir hayatnya nanti.


"Zoya, kamu kenapa berubah? Mana Zoya anak Ma_"


"Anak siapa? Kak Zico bilang aku bukan anak Mama, lalu anak siapa?" tanya Zoya pada intinya karena jujur saja dia muak menerka-nerka karena hingga saat ini dia tidak megetahui asal usulnya.


"Zoya_"


"Jawab saja, Ma. Aku tidak masalah, kenapa Mama sangat membenciku?"


Niat hati ingin menarik hati Zoya, mendengar pertanyaan ini Amora mendadak panas seketika. Dia berusaha melupakan kisah lama itu, dia sudah berusaha mencari hal yang bisa dijadikan obat atas lukanya, kini Zoya memancing kemarahannya.


"Mama tidak mem_"


"Bohong!! Mama membenciku!!" sentak Zoya sama sekali tidak percaya jika Amora tidak membencinya.


"Iya!! Aku memang membencimu, sangat-sangat membencimu Zoya. Bahkan, ketika kamu lahir pikiranku hanya ingin membunuhmu. Tapi, aku tidak bisa memberikan anak untuk Agam kala itu, terpaksa anak hasil zina sepertimu kurawat meski sakitnya luar biasa."


Tatapan keduanya terkunci, Zoya menatap mata Amora tanpa berkedip sedikitpun. Wanita itu terhenyak ketika candaan dia kemarin benar-benar terbukti dan membuat napasnya bahkan seakan terhenti.


"Kenapa diam? Itu yang ingin kamu ketahui, 'kan?"


"Zi-zina?"


"Yaa, anak yang lahir dari sebuah perselingkuhan pantasnya disebut apa, Azoya Roseva? Hahaha namamu indah sekali, tapi berawal dari sebuah hubungan kotor yang lebih najish dari air liur anjing ... jangan bahagia hanya karena sudah menjadi istri Zayyan, mau semulia apapun kamu sekarang, tetap saja kamu anak haram, Sayang."


"Papa tidak mungkin sejahat itu_"


"Off course! Terserah, Zoya ... Mama tidak memaksa kamu percaya, tapi kamu jangan lupa ketika meninggal Papa kamu minta dikuburkan dimana? Di samping kuburan wanita murahhan bernama Naina, ibumu."


Zoya terdiam kemudian, dia ingin ingin mengetahui fakta ini sejak lama. Akan tetapi ketika mengetahuinya entah kenapa jiwanya mendadak lemas seketika.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2