
Zoya hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Zayyan yang lagi-lagi menjelaskan bahwa dia memang mencintai Wanita itu secinta-cintanya. Zoya yang merasa memang membutuhkan Zayyan jelas saja tersenyum dengan ungkapan pria itu.
"Zoya, aku ingin aku ingin tanya satu hal." Zayyan bertanya seraya menatapnya penuh damba. Pria itu terlihat begitu serius ketika mengutarakan hal itu pada suami istri.
"Tanya apa memangnya?"
"Tapi sebelumnya kamu harus jawab jujur, jangan pernah ada yang kamu tutup-tutupi."
"Iya, janji."
"Sebenarnya kamu keberatan tidak jadi istriku?" tanya Zayyan tiba-tiba dan hal itu membuat Zoya tertawa sumbang.
Pertanyaan itu terlambat Zayyan lontarkan. Seharusnya sejak awal-awal dia memaksa menikah dan membuat Zoya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jawabannya harus jujur ya?"
"Iya, jawab saja jika memang keberatan," tutur Zayyan yang memiliki firasat buruk Kala Zoya tertawa sumbang usai mendengar pertanyaannya.
"Kalau ditanya keberatan atau tidak, awal-awal dulu jelas aja iya ... sangat keberatan malah, tapi setelah aku pikir-pikir lagi dan dijalani ternyata tidak sesulit itu. Hanya saja mungkin dulu aku salah langkah jadi aku membuat jalan hidupku lebih berat dari yang seharusnya aku alami sebagai istrimu."
__ADS_1
Zoya memperlihatkan sejuta sesal karena berani meninggalkan Zayyan yang kala itu mencintai dia setulusnya.
"Kenapa begitu? Apa alasan yang membuat kamu menjawab keberatan di awal, padahal dulu kuajak nikah sama sekali tidak menolak?" tanya Zayyan kemudian merasa tidak puas dengan jawaban Zoya. Yang dia inginkan adalah ungkapan cinta karena dia yakin saat ini Zoya sama sekali tidak keberatan menjadi istrinya. Akan tetapi, tanpa dia duga jawaban Zoya justru melibatkan perasaan dia ketika awal menikah.
"Berat saja ... menerima kakak sebagai laki-laki bukan hal yang mudah. Bertahun-tahun jadi saudara tiba-tiba jadi suami, ya siapapun akan merasakan hal yang sama, dan aku hanya merasa sulit beradaptasi ketika awal pernikahan kita."
Zoya tidak berbohong, sejak awal memang begitu berat sekali menerima Zayyan sebagai suami. Apalagi kala itu di hadapan keluarganya harus tetap berpura-pura sebagai kakak adik padahal Zayyan telah memiliki dia seutuhnya.
"Oh iya? Tapi aku tidak begitu, ketika kamu menjadi istriku hidupku benar-benar sebahagia itu, kenapa kita berbeda?"
Pertanyaan konyol, jelas saja berbeda. Zayyan mencintai adik tirinya sejak lama, dan hassrat untuk memiliki Zoya seutuhnya juga sudah lama ada. Maka ketika berhasil menjadikan Zoya bagian hidupnya, jelas saja perasaan canggung atau apapun itu hilang begitu saja.
"Tapi itu dulu kan, sekarang aku harap kamu benar-benar mencintaiku sebagai pasangan, Zoya."
"Sebesar apa cintanya?"
"Sebesar dunia mungkin," jawab Zoya selesai berpikir panjang dan merasa itu jawaban paling tepat.
"Andai ... Ini hanya perumpaan ya, aku dan Fabian tenggelam, kamu selamatkan siapa lebih dulu?" tanya Zayyan mulai tidak masuk akal, Zoya mengerti biasanya salah satu pasangan kerap mempertanyalan hal ini untuk mengetes sebesar apa cintanya.
__ADS_1
"Fabian lah," jawab Zoya cepat dan hal itu berhasil membuat Zayyan memasang wajah datar, sedatar-datarnya.
"Kenapa begitu? Jadi kamu rela aku mati?"
"Bukan begitu, tapi setidaknya Kakak bisa berenang ... jadi jelas yang harus aku selamatkan duluan itu Fabian, ah pertanyaannya aneh semua."
Zoya terkekeh dengan perubahan ekspresi Zayyan yang kian sebal. Padahal memang benar ucapan Zoya, logika Zoya bermain meski memang secinta itu pada sang suami.
Cara ini gagal, saran Justin sama sekali tidak berguna.
.
.
.
- To Be Continue -
Tadi hujan, mati lampu dan sinyal ya Allah. Up ku terlambat semua, maaf guys🤗
__ADS_1
Sementara up, mampir dlu di karya temen author ya.