Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 36 - Kecewa


__ADS_3

Niat awal hanya menuruti kemauan tamunya, Zoya kini terjebak dan memang tidak akan pernah Zayyan izinkan keluar jika tidak bersamanya. Wanita itu masih berada dalam pelukan sang suami, isak tangis juga belum terhenti dan hal itu sukses membuat batin Zayyan tergores.


"Berhenti, Zoya. Bukankah kamu sudah menjadi lebih kuat setelah pergi dariku?"


Demi apapun Zoya tidak sekuat itu pada faktanya. Dua tahun berlalu, dan selama itu Zoya mengalami masa sulit dan kesedihannya dalam kesendirian. Meski ada Dikta yang menjadi pendukung di titik terendahnya tetap saja pemeran utama dalam Zayyan.


Zoya menunduk, dia paham pria itu seakan mengejeknya kini. Akan tetapi, memang dia tidak sekuat itu jika sudah berada di hadapan Zayyan. "Tubuhmu semakin berisi, bahagia ya?" Zayyan bertanya demikian kala dia merasakan beberapa perubahan dalam diri Zoya, terutama bagian dadanya.


"Kamu tahu segila apa aku tanpamu, Zoya? Kalau sampai Zico benar-benar memasukkanku ke rumah sakit jiwa bagaimana?"


Kesal sekali rasanya, sejatuh itu kondisi Zayyan hingga Zico sempat ingin membawanya ke rumah sakit jiwa. Bagaimana tidak, Zayyan bahkan menggali kuburan seorang wanita yang dulunya dikira sebagai Zoya dengan alasan ingin menunjukkan jika wanita itu bukan Zoya.


"Maaf, Kak. A-aku tidak punya pilihan saat itu."


Zoya menyayangi Zayyan, akan tetapi dia lebih patuh pada Alexander yang juga sama berartinya dalam hidup Zoya. Dengan alasan khawatir menyesal hingga akhir, Zoya lebih memilih keinginan sang papa terwujud daripada dirinya. Tidak peduli meski dia akan tersiksa, lagipula perkara cinta Zayyan tentu bisa menerima wanita itu dengan sendirinya.


"Tidak punya pilihan ... pada akhirnya kamu memilih menyakitiku ya, Zoy?" Sakit, pertanyaan itu menusuk batin Zoya hingga dia merasa rasa bersalahnya kian besar saja. Bukan hanya merasa bersalah, akan tetapi malu juga karena pada faktanya dia yang tidak bisa hidup tanpa Zayyan sebenarnya.


Zayyan tidak marah, sama sekali tidak saat ini. Dia bahkan masih tersenyum meski Zoya menorehkan luka bertahun, bingung juga kenapa bisa dia menutup diri serapi ini bahkan Clayton saja tidak mampu mendeteksinya sementara Zoya tidak sama sekali mengganti identitasnya.

__ADS_1


Puas menangis, kepala Zoya pening rasanya. Pria itu merengkuh tubuh sang istri dan kembali mengecupnya berkali-kali, nalurinya sebagai pria tidak dapat dibohongi kala Zoya membalas ciumannya. Pelepasan kerinduan antara keduanya hingga tidak rela paguttan itu terlepas begitu saja.


"Kita tidur di sini ya. Besok kamu tidak perlu lagi bekerja ... kita akan pulang minggu depan."


Zayyan sama sekali tidak berubah, keputusannya masih bersifat memaksa dan tidak pernah mengizinkan Zoya menolak keinginannya. Pria itu menatap lekat wanita yang ada di hadapannya ini, tidak bisa diungkapkan seberapa bahagia dia saat ini.


"Kak, aku tidak bis_"


"Kenapa? Kamu masih istriku, tidur berdua tidak ada salahnya."


"Bukan begitu, tapi anakku_ maksudnya Fabian butuh aku," jawab Zoya sedikit bergetar, aneh sekali padahal dia tengah bicara pada papa dari anaknya, akan tetapi kenapa jadi segugup ini.


"Anak?"


"Anak kita, 'kan maksudnya?"


Zoya mengangguk, dia paham Zayyan akan marah setelah ini, kecewa sudah pasti tapi memang dia terpaksa tutup mulut karena khawatir mengusik kehidupan Zayyan yang dia duga sudah baik-baik saja bersama Rosa.


"Hm, anak kita."

__ADS_1


Mata Zayyan memanas, batinnya semakin terasa sakit dan benar-benar tidak menduga Zoya akan sejahat ini padanya. Pria itu berteriak dan benar saja dia marah bahkan merusak fasilitas kamar karena kekecewaanya sudah terlampau besar.


"Kamu Arrgghh ... Ya, Tuhan, Zoya!!" bentak Zayyan dengan emosi tertahan, pria itu mencari apapun yang bisa dia jadikan pelampiasan selanjutnya.


"Otak kamu dimana? Hah? Sampai hati kamu tetap diam dengan kelahiran putraku?"


Sesuai dugaan, Zayyan marah meski sempat bersikap lembut padanya. Pria itu mencengkram dagu Zoya dan mendorongnya ke tempat tidur, keringat kini membasah di keningnya. Sungguh untuk pertama kesekian kali Zoya kembali menyakitinya.


"Aku tidak peduli perasaanmu, sekalipun memang benar tidak mencintaiku ... Tapi, kalian berdua adalah milikku, dan tidak seharusnya kamu bersembunyi sejauh ini, Azoya!!"


Zayyan belum pernah semarah ini pada Zoya, sekalipun belum menikah. Akan tetapi malam ini dia benar-benar hampir gila, bahkan tidak sadar Zoya kesulitan karena cengkramannya.


"Andai kita tidak bertemu malam ini, sampai kapan kamu akan terus bersembunyi? Lima tahun? Sepuluh tahun? Atau sampai salah satunya mati, iya?!!" bentak Zayyan dan masih terus mencengkram dagunya hingga Zoya tidak lagi bisa menahan sakitnya.


"Lepas, Kak!! Sakit!!" pekik Zoya karena posisi dia yang begini benar-benar sulit.


Mendengar jeritan Zoya, Zayyan sontak tersadar dan melepas cengkramannya. Dia tidak sadar jika menyakiti istrinya, secepat mungkin Zayyan melepas cengkramannya dan turun dari tempat tidur.


"Antar aku padanya, ak-aku ... aku ingin bertemu putraku, Zoya." Dia mengepalkan tangan, pria itu meneteskan air mata tepat di hadapan Zoya.

__ADS_1


Matanya yang kini memerah adalah perpaduan antara kemarahan dan tangis penuh kecewa. Zayyan berlalu dan kembali meraih kemeja yang tadi sempat Zoya lepaskan. Dia memilih diam hingga Zoya bangkit dan hendak keluar dari kamar, bisa dipastikan Zoya akan dia abaikan selama diperjalanan nanti.


- To Be Continue -


__ADS_2