Hasrat Kakak Tiri

Hasrat Kakak Tiri
BAB 56 - Berbagi Tugas


__ADS_3

Menjelang sore, Zoya terpaksa pergi sebentar ke minimarket untuk membeli bahan makanan sementara mereka belanja bulanan sungguhan. Melihat isi kulkas Zayyan sudah seperti duda karatan itu dia benar-benar prihatin, hendak marah tapi memang yang salah di sini adalah Zoya.


Mereka berbagi tugas, tidak mungkin pergi bersama karena saat ini Fabian belum mandi dan Zoya tidak percaya jika meminta Zayyan yang belanja. Ya, meskipun suaminya pintar akan tetapi jika sudah dihadapkan dengan tugas-tugas semacam itu akan percuma juga.


Demi menghindari kericuhan dalam rumah tangga, Zoya memilih pergi sendirian dan mempercayakan Fabian sepenuhnya pada sang suami. Hal itu bukan tanpa alasan, Zayyan sudah menyanggupi dan megatakan jika dia mampu menjaga Fabian.


"Minyak telon ... yang mana telon."


Pada faktanya Zayyan bingung sendiri bahkan sejak tadi putranya masih dalam keadaan polos setelah dia mandikan beberapa saat lalu. Wajar sajanjika dia belum terbiasa, Zayyan mengetahui dia punya anak baru beberapa ini.


"Kenapa banyak sekali, ini apa lagi?" Zayyan frustasi kala menyadari begitu banyak yang sudah dipersiapkan Zoya di atas tempat tidur, sebenarnya Zayyan hanya perlu mengganti pakaiannya tanpa harus susah payah mencari perlengkapan untuk putranya.


"Hair lotion, rambut sedikit untuk apa pakai ini, Bian."


Dia menggerutu tiada habisnya, entah lerasaan Zayyan saja atau memang sebenarnya sangat sulit menjaga balita seumuran Fabian. Pria itu membuka artikel dan mencari tutorial lantaran dia takut salah, walau sebenarnya sudah diberitahu oleh Zoya tetap saja Zayyan bingung.


Sementara Zayyan mencari minyak telon itu, Fabian sudah berpindah tempat di tepian ranjang. Ditinggal sebentar saja dia bisa berpindah, apalagi jika Zayyan lengah. "Astaga, Fabian!! Diam sini ya, Sayang ... Papa cari minyak telon sebentar," pintanya seraya mengangkat tubuh sang putra begitu gemasnya, ingin sekali dia gigit makhluk kecil itu hingga menangis agar diam sejenak.


Baru saja diletakkan kembali, beberapa menit kemudian Fabian sudah berpindah lagi dan hal itu berhasil membuat kepala Zayyan seakan sakit seketika. Pria itu membalut tubuh putranya dengan selimut dengan harapan bisa diam ebentar.


Sayangnya, bukan diam melainkan menangis sekuat-kuatnya karena dia merasa terkekang hingga pada akhirnya Zayyan kebingungan sendiri apa yang harus dia lakukan saat ini. "Shuut iya-iya, Sayang maaf."


Khawatir putranya megamuk Zayyan biarkan saja Fabian bergerak seenaknya. Walau sedikit sebal lantaran dia semakin bingung dan tidak fokus mencari perlengkapan Fabian.


"Ah ini dia, jatuh ternyata."


Kesabaran Zayyan benar-benar diuji, anak tidak bisa diam, istri belum juga pulang padahal hanya pamit beli bahan makanan untuk malam ini dan besok pagi saja. Kini, drama pencarian minyak telon yang luar biasa lama hingga ketika dia kembali duduk ke atas tempat tidur Fabian telah menggigit botol hair lotion yang tadi sempat Zayyan cerca kegunaannya.


"Heh!! Jangan digig_ Astaga, shuut jangan menangis."


Dia terlampau khawatir hingga tidak sadar jika terlalu kasar kala menarik hair lotion di tangan putranya. Fabian terkejut, lagi-lagi menangis dan ini sungguh menunjukkan betapa becusnya Zayyan jadi papa.

__ADS_1


"Ini makan, gigit semaumu."


Zayyan kembali menyerahkan benda ajaib itu, bingung juga kenapa putranya justru lebih tertarik pada benda itu daripada biskuit, pikirnya.


Baru juga setengah jam Zayyan jaga, Fabian sudah dua kali menjerit dan meneteskan air mata. Andai saja Zoya mengetahui betapa pandainya Zayyan menjaga anak, mungkin Zayyan akan kedinginan beberapa malam ke depan.


"Bagaimana caranya, ini bagian depan atau belakang?"


Andai saja Fabian bisa bicara, mungkin dia sudah berteriak sekeras-kerasnya lantaran sang papa tidak juga mengenakan pakaian untuknya. Zoya hanya butuh waktu beberapa menit, sementara Zayyan hampir setengah jam bahkan tanda-tanda Fabian sudah selesai mandi tidak terlihat lagi.


.


.


.


"Huft, akhirnya ... diam di sini, Mamamu belum pulang juga, dia ke minimarket atau kemana sebenarnya?"


Zayyan yang lelah akibat drama memakaikan baju untuk Fabian baru usai beberapa menit lalu, kini terbaring sembari mengawasi sang putra yang sibuk sendiri di sana. Terserahlah, selagi dia tidak akan jatuh maka aman-aman saja bagi Zayyan.


Sembari memantau putranya, Zayyan sempat berkomunikasi dengan salah satu temannya yang dia ketahui memiliki putri seumuran Fabian. Baru dia sadari, padahal dahulu ketika pria itu memberikan kabar baik, Zayyan sempat menangis lantaran mengingat istrinya dan dia berkhayal andai saja istrinya hamil mungkin putranya sebentar lagi lahir juga.


Sebagai manusia yang sangat tahu arti terima kasih, Zayyan jelas tidak akan melupakan mereka. Di saat rekan bisnisnya yang lain memilih pergi dan memutuskan kerja sama hanya Keyvan yang tetap simpati dan menunggunya bangkit lagi.


"Ya Tuhan syukurlah ... selamat, Zayyan. Akhirnya kalian dipertemukan, semoga bahagia selalu dan kedepannya dapat saling menggenggam apapun masalahnya."


Sebuah pesan singkat dari Keyvan sejenak membuat Zayyan yakin bahwa di dunia ini memang masih ada seseorang yang akan peduli tentangnya. Mereka berbincang singkat, jika dahulu Zayyan hanya akan terdiam kala Keyvan membahas putrinya, kini Zayyan bisa menjawab dan ikut menceritakan putranya.


"Sabar saja, jangan dibentak ... baik itu anak maupun istri, dua orang ini pantang dibentak karena biasanya akan jadi masalah besar, Zayyan."


"Aku tidak membentaknya, cuma memang kesabaranku sedikit tipis, Van."

__ADS_1


Zayyan membalas seraya tertawa sumbang dan memang nyata dia tidak sekuat itu untuk mempertebal kesabaran karena biasanya Fabian kerap membuat batin Zayyan menjerit rasanya.


"Santai, Zayyan. Ini baru permulaan, kau belum pernah merasakan batang hidungmu dipukul pakai sendok, 'kan?" tanya Keyvan disertai emoji terbahak hingga menangis di sana, jika Zayyan lihat pasti akan sakit sekali.


Percakapan mereka semakin menyebar, hingga Zayyan baru berhenti ketika menyadari pintu kamar hendak dibuka dari luar. Zoya pulang, tanpa minta dijemput dan dia membawa mobil Zayyan sendiri, bukti jika dia mampu tanpa perlu mengharapkan bantuan siapapun itu.


"Sayang ... hallo anak Mama."


Mendengar suara Zoya, Fabian ingin cepat-cepat keluar dari kandangnya hingga Zayyan merasa seakan tidak Fabian lihat sedikit saja. Pria itu berdecak sebal namun mau bagaimana lagi toh memang Zoya yang Fabian lihat sejak pertama membuka mata.


"Eh-eh, siapa yang ajarin begitu?"


Zayyan panik, dia khawatir putranya kenapa-kenapa. Ilmu dari mana Fabian bisa bergelantung persis monyet begitu, sementara Zoya yang sudah biasa melihat tingkah putranya itu hanya bertepuk tangan berkali-kali seraya merasa bangga dengan kekuatan putranya.


"Kenapa tepuk tangan?"


"Dia biasa begitu, Kak ... Bian kan anak kuat, iya, 'kan Sayang?" Zoya tersenyum begitu lembut sebelum mengecup putranya yang sudah wangi luar biasa, sepertinya Zayyan patut dipercaya karena kini Fabian sudah sangat wangi dan bersih, pikir Zoya.


"Eeum wangi."


Tentu saja wangi, daripada mubazir tumpah di kasur mending aku oleskan ke kepalanya semua.


Zayyan membatin, Fabian yang tidak bisa diam membuat parfumnya tumpah hingga Zayyan mengoleskan semua yang tumpah ke tubuh putranya, dan jelas saja wangi tiada tanding begitu, pikir Zayyan.


.


.


.


Sedang berusaha jadi laki-laki kuat😎

__ADS_1



- To Be Continue -


__ADS_2